Selasa, 11 Oktober 2016

Bercinta dengan Marissa Haque III


Sejak kejadian aku meniduri Marissa Haque dengan bantuan obat perangsang, sikap Marissa Haque memang berubah padaku. Artis lawas nan cantik itu sering salah tingkah jika berpapasan denganku. Aku sendiri tidak berani mengungkit ungkit kejadian saat aku menidurinya di hotel saat presentasi hasil penelitiannya.

Marissa Haque sekanrang sudah pulang ke jakarta. Kudengar dia sudah menjadi seorang Doktor sekarang karena hasil penelitian nya tentang ilegal loging di provinsiku. Sudah 3 bulan aku Marissa Haque tidak bertemu lagi.

Sampai pada suatu saat handphoneku berdering, ada nama “Marissa Haque” call disana, tentu saja aku bergegas mengangkatnya dengan penuh harapan yang menggebu.

“ Hallo, Axel apa kabar..? “ terdengar suara Marissa Haque dari seberang
“ Baik Bu Marissa, Ibu apa khabar juga... senang rasanya mendapat telepon dari seorang artis dan sekarang sudah jadi seorang Doktor lagi” gombalku, aku tahu kalau semua wanita pasti senang dipuji.
“ kamu bisa saja... saya juga sehat.. Xel, kamu sudah dapat pekerjaan belum? “ tanya Marissa Haque.
“ kalau kerjaan tetap belum bu... saya sekarang usaha pembuatan skripsi bu” ujarku.
“ begin Xel.. ehm.. kamu mau tidak ke Jakarta? Kebetulan perusahaan saya membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang kamu? Tawar Marissa Haque.
“ Beneran nih Bu Marissa..? “ ujarku setengah tidak percaya mendengar apa yang disampaikan Marissa Haque barusan.
“ Beneran.. kamu mau nggak? Kalau kamu mau besok langsung urus tiket kamu ke Jakarta , nanti di bandara saya suruh sipir saya jemput kamu dan langsung interview di kantor “ tutur Marissa Haque lagi.
“ Mau Bu.. apalagi bekerja dengan Bu Marissa saya pasti bersemangat Bu..! “ teriak ku.
“ Tapi.. kamu jangan salah paham ya Xel.. saya ini murni bantu kamu jangan fikir yang aneh-aneh ya...” ujar Marissa Haque mengingatkanku. Mungkin dia bisa membaca fikiranku saat itu yang sudah ngeres
“ Ooo.. ng Ngaak Bu.. saya sudah melupakan semua nya kok Bu..” ujar ku malu.
Terdengar suara desahan nafas Marissa Haque dari seberang.
“ Ya sudah.. kalau kamu komitmen kamu saya terima bekerja ya.. besok kalau sebelum landing kamu telepon saya, biar supir saya menjemput kamu di bandara “ tutur Marissa Haque.
“ Baik Bu Marissa... Terimaksih Bu atas kabar baik ini.. “ sahutku girang.
“ ya sama sama Axel.. saya tunggu besok di kantor ya..” ujar Marissa Haque dan menutup telepon.
“ Yess... “ begitu girang bukan kepalang perasaanku menerima telepon dari si cantik Marissa Haque, aku tidak mau berfikiran macam-macam. Namun aku tahu dia pasti rindu juga padaku tapi dengan dia memberi kesempatan bekerja di kantornya maka peluangku untuk bersama dan bercinta dengannya kembali makin terbuka !!!

Aku pun menyiapkan semua keperluan, tiket. Dan tanpa kuduga Marissa Haque kembali meneleponku dan menanyakan nomor rekeningku, katanya biaya pesawat dia yang akan menganggung. Aku pun segera mengirimkan nya via sms

Keesokan harinya aku tiba di Jakarta dengan menumpang penerbangan pagi. Sesampai di bandara ternyata aku sudah ditunggu oleh supir Marissa Haque, seperti yang beiau janjikan sebelumnya. Aku pun naik ke mobil , kata sopir nya Marissa Haque menyuruh untuk langsung mengantarku ke kantor Marissa Haque , sebuah perusahaan yang bergerak di bidang property letaknya lumayan jauh dari bandara, apalagi ditambah dengan kemacetan Jakarta yang luar biasa.

Sesampai di kantor Marissa Haque , aku langsung dibawa si sopir ke ruang kerja Marissa Haque Akhirnya kembali aku bertemu dengan si Ibu cantik Marissa Haque, kami saling bertatapan dan wajah Marissa Haque tak dapat menyembunyikan kegembiraan melihat kedatanganku

Aku dipersilahkan beliau duduk berhadap hadapan dengan beliau , lalu kami saling bercerita mengenai kotaku, kabar dosenku, Pak Yanto dan rekan-rekannya yang membantu hasil disertasinya hingga berhasil. Tidak ada sedikitpun dia bercerita mengenai kejadian di kamar hotel.
Aku pun tidak mau menyinggungnya, karena bagiku kesempatan itu pasti akan datang sendirinya. Aku yakin hanya tinggal menunggu saat nya saja Marissa Haque mengajak ku berbuat demikian. Makanya aku hanya menuruti dan meng iya kan saja setiap ucapan Marissa Haque. Oleh Marissa Haque aku langsung ditempatkan sebagai Supervisor pada bagian Adminsitrasi, yang berarti aku membawahi beberapa orag staff administrasi di kantornya.

Sudah dua bulan aku bekerja di perusahaan swasta milik Marissa Haque ini . Aku bersyukur, karena suasana kerja yang nyaman, ditambah Marissa Haque memang percaya 100% padaku untuk membantunya dalam menjalankan perusahaan.

Aku bangga , di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat pekerjaan dengan posisi strategis lagi. Marissa Haque adalah atasan langsungku. Setiap laporan tentang pekerjaanku langsung keusampaikan pada beliau.

Selama dua bulan ini hubungan ku dan Marissa Haque memang hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Dia begitu pandai menjaga sikap dan perilakunya, seolah olah tidak pernah terjadi hubungan asmara antara aku dan dirinya.

Sebagai seorang bos di kantor, Marissa Haque begitu anggun dan tegas dalam memimpin, sikapnya yang tegas dan kadang terlalu cerewet dengan bawaham. Selama disinipun aku tidak pernah menemani Marissa Haque keluar, atau amka. Karena Marissa Haque jarang jarang di kantor dikarenakan kesibukan nya sebagai dosen dan politikus,


Dari selentingan dan kudengar ada bebarapa karyawan yang kurang menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek pada staff yang lain. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti akan beban yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan setiap dipanggil menghadap Bu Marissa, aku malah selalu berharap untuk dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya untuk sekedar melihat wajah cantik nya.


Sebagai yang diketahui Marissa Haque adalah seorang mantan model yang tentunya memiliki tubuh yang sangatlah bagus, walau beliau sudah menginjak usia kepala empat. Wajahnya yang cantik dan manis tanpa ada garis-garis ketuaan menjadikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya saat bicara berdua dengan beliau. Tak jarang jika aku masuk ke ruangannya Bu Marissa Haque suka memuji penampilan dan caraku berpakaian. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian beliau. Dalam hati aku makin berharap mudah-mudahan beliau mengajaku bercinta kembali...

Sampai suatu ketika, aku dipanggil beliau masuk ke ruangan kerja nya, kulihat raut muka Bu Marissa tegang dan kusut. Melihat gelagat itu aku beranikan diri untuk bertanya,
“Ibu kenapa kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?”, sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.
“Ia nih Xel, aku lagi stres,udah urusan kantor banyak, kamu nggak liat televisi?”, jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.
“ ada apa emang nya bu..? “ ujarku tak mengerti. Karena aku jarang nonton televisi di apartemenku
“ itu tuh.. saya ribut dengan si Kevin anak nya Adie MS di twitter semalam.. kamu gak punya Twitter ya” sahutnya bertanya sambil menghela nafas, tampak raut lelah di wajah cantiknya
“ beneran saya gak tahu Bu..” ujarku makin penasaran
“ Fikiran saya lelah Xel.. gara-gara wanita yang bernama Kartika Dee Jumadi yang mempertanyakan gelar Doktorku hingga menjadi perbincangan di media sosial, ditambah lagi si Adie MS sering membully aku di twitter, lalu si Kevin, anak ingusan itu.. membalas twitter saya hingga masalah pribadi saya jadi heboh dan jadi konsumsi publik sekarang .... aduh. pusing saya Xel..” tuturnya seraya menerawang.
Aku sadar Marissa Haque sedang menumpahkan beban fikirannya. Dan dalam ini aku akan menjadi pendengar yang baik.


“ apa yang bisa saya bantu bu..?” ujarku hati hati,
Marissa Haque menatapku sejenak, lalu tertawa kecil mendegar pertanyaanku
“Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel.....  Kenapa ya ? kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang”, tambahnya menatapku dalam.
Aku terhenyak diam, terpaku. Akhirnya Bu Marissa mulai membutuhkan? Batinku. Tapi aku tetap coba menenangkan diriku, menunggu apa ujung dari pembicaraan ini...

“Axel , kamu ditanya kok malah bengong”, Bu Marissa menyenggol lenganku.
“Eeehh nggak,abisnya saya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Saya nggak nyangka saat dengar Ibu bilang saya bisa nenangin wanita cantik seperti Bu Marissa”, balasku gagap dan menundukan wajahku
Marissa Haque tersenyum tipis dan menatapku dalam dalam.

“Xel, kamu mau temenin saya makan siang di Hotel (***) ?.. Banyak yang mau saya bicarain ke kamu, Cuma sama kamu saya percaya menceritakan permasalahan ini, saya juga butuh susana yang lebih relax dari  kantor ini. Tapi kita jangan pergi bareng ,nggak enak dilihat sama yang lain. kamu duluan aja, nanti kita ketemu disana,, kamu tahu dimana hotel itu kan..?”, kata Bu Marissa.
Aku semakin tergagap, tidak menyangka kesempatan  seperti ini akan terulang.
“Tahu Bu... Baik saya kesana sesuai perintah Bu Marissa”, jawabku, 

Beliau tersenyum manis, lalu mulai membereskan tas nya
" saya langsung kesana ya... cepetan nyusul ya..? " ujarnya padaku
Aku menganggung dan berdiri lalu berjalan keluar dari ruangannya.

Setelah membereskan file-file di meka kerjaku, aku langsung mengemudikan mobil kantor menuju hotel tempat janji makan siang dengan Marissa Haque. Dalam mobil aku coba membayangkan apa yang akan terjadi nantinya di hotel itu. Tapi aku bertekad akan tetap bersikap tenang dan pasif. Sebelum Bu Marissa Haque mendahului atau memintaku, aku tidak akan memulai atau memancing karena takut dia akan marah padaku.

Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa harus makan siang di hotel.? kalau dia lagi “kepengen” kenapa tidak langsung mengajak ku  check in saja? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Marissa cuma butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudahan teman tidur.. upss ... Aku coba kesampingkan pikiran kotor itu.

Akhirnya aku sampai di hotel yang dimaksud Marissa Haque, Aku mengabari Marissa Haque bahwa aku sudah di lobby hotel. Beliau menyuruhku menunggu. Sekitar 10 menit aku menunggu tiba-tiba seorang ada bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Marissa sudah menunggu di kamar itu. 

Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Marissa tersenyum manis dari balik pintu.
“Maaf ya Xel aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar.... Mari masuk... kita ngobrol-ngobrol... Oya kamu mau pesen makanan apa?”, kata Bu Marissa menarik tangan membawaku ke kursi. 

Aku masih gugup. Dadaku deg deg an. Mungkin inilah fantasi seorang Marissa Haque, wanita memang munafik dan tidak mau to the point, malah pakai cara seperti ini segala. Tapi tidak masalah bagiku. Aku coba ikut permainan Marissa Haque.

“Nggak usah gugup gitu dong”, ujar Bu Marissa menegurku 
“Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .... aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini. Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?”, ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan.
Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.

“Ahh kamu Xel... bisa aja..... ,emangnya aku masih cantik ?”, jawab Bu Marissa dengan pipi memerah. menambah kecantikan wajah nya yang matang

“Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memimpikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu... ,makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu”, kataku jujur

“Saya sudah menduga semua itu soalnya saya perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?”, ditembak seperti itu aku jadi malu juga.

“ Aku suka caramu Xel, menutupi aib yang pernah kita lakukan,...” sambungnya menatapku dalam.
Memang aku sering menatap Bu Marissa disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.
“ Buat Bu Marissa ada ungkapan untuk menjawabnya “ ujarku
“ apa itu” tanya Marissa Haque tersenyum genit
“ Can’t take my eyes off you “ ujarku memberanikan diri merayunya lagi
Marissa Haque terkekeh senang
Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di kursi sedangkan Bu Marissa dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita setengah baya ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan. Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup...... kurasa bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup itu dan membalas ciumannya. Bu Marissa sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah saling berpagutan.

“Pesen makannya nanti aja ya Xel”, katanya terengah engah mengatur  nafas disela ciuman yang semakin panas.
“ Ya Bu Marissa.. terserah anda... “ ujarku membalas ciumannya dengan tak kalah hot,
“ Xell.. aku rindu kamu sayannnggh.. ahhh... Axeell..” desah Marissa Haque terus memburu kemana bibirku lari.
Setelah puas menciumi bibirku wanita cantik betinggi 170 ini duduk dipangkuanku. Segera kusambut tubuh indah itu dengan pelukan .... Sedikit aku merasa nyaman setelah menggendamnya, mempengaruhinya dengan obat perangsang, si cantik ini akhirnya rindu akan perlakuanku padanya,

Artis lawas yang sekarang menjadi boss ku itu , duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kanannya memegang kepalaku. Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutahu selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayangi leher dan belakang telinganya. Bu Marissa melolong kegelian.
" aaahhhh... Xeelll... Ouuuuhhh......" desah Marissa Haque berulang ulang saat ciumanku menggerayangi lehernya

“ Bu Marissa .... Buka dong jilbabnya biar saya lebih nyaman menciumi Ibu....” ujarku memberanikan diri karena kepalanya masih mengenakan jilbab.
Tanpa bicara Marissa Haque segera melepas jilbabnya dan meletakannya di atas kursi, setelah itu Marissa Haque kembali duduk di pangkuanku,
“  Axel...  kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku”, cerocos  Marissa Haque curhat.
Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Marissa. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.

Bu Marissa menarik tangan ku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lehernya berulang-ulang, tangan ku mulai aktif meraba buah dadanya.
“ Ooooohh.... hhhhhh.... “ desah Marissa Haque menggelinjang panas. Satu persatu kulepaskan pakaiannya, berawal dengan Blasernya kulempar ke kursi, baju kurungnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan. Marissa Haque hanya terdiam mengikuti sensasi yang dirasakan nya

Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, pantatnya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam putih tipis dan berenda sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan.


“Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat” pujiku disambut senyuman manis beliau
Marissa Haque mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Marissa Haque

“Kamu ganteng Xel... badanku kekar,, penuh otot.... ”, katanya seraya berjongkok, wajahnya tepat berada di selangkanganku dan  kurasa tangan nya meraup kemaluanku dan ahh ...  bibir mungilnya begitu cepat sudah mengulum Mr. Happy ku
“Oh nikmatnya.... “ Sentuhan bibir dan sapuan lidah Marissa Haque diujung Mr.Happy ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.

Marissa Haque terus mengulum penisku berulang ulang, dijilati nya dengan buas lalu disepong nya keluar masuk mulutnya berulang kali... membuatku merintih kenikmatan oleh oral sex yang dilakukan oleh Marissa Haque

Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Aku duduk di ranjang dan kuhempaskan tubuhku ke atas kasur, Bu Marissa mengikutiku, dan terus memburu penisku dengan lidahnya, aku menggeser posisi tidurku dengan bersandar pada sandaran tempat tidur dengan posisi kedua kaki mengangkang, 

Marissa Haque mengikutiku dengan mulutnya masih memburu penisku. 
" Auuhhh....." jeritku , melihat beliau begitu buas mengoralku dengan gemas kulepaskan tali pengait BH di punggung nya.  Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Marissa, aku meraih dua bukit kembar miliknya lalu kuremas-remas berulang ulang,... Marissa Haque malah makin buas terus meyepongku.. nafasnya memburu dan mendengus 

Salah satu jari kaki ku merayap keselangkangannya. Jempol kakiku lalu menyentuh itilnya dan mulai kuelus bagian selangkanganku dengan menggunakan jempol kakiku,. 

Bu Marissa mulai terhentak. Sontak Bu Marissa melepaskan penisku dari kulumannya. Dan sekarang  berdiri di atas ranjang  lalu melepaskan celana dalamya dengan gaya yang sangat erotis.

Sambil berdiri beliau menuju kearahku dan langsung saja menyodorkan vagina nya ke mulutku. Posisi ku yang duduk membuat wajahku berhadapan dengan Mrs Vegy Marissa Haque, nampak lobang kenikmatannya itu sudah basah oleh cairan kental di sekitar kemaluannya yang tercukur rapi itu

Melihat itu aku gemas dan langsung ku colokan satu jariku kedalam vaginanya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.

“ Oooouuuuhhh.. Oooohhhhh...” desah Marissa Haque dengan liar saat vaginanya kemasukan jari tengahku, Marissa Haque makin mendekatkan vaginanya kewajahku. Aku tahu itu isyarat agar aku mengoral vaginanya. Tapi aku medongakan kepala dan memberi isyarat agar Marissa Haque berbaring di sebelahku,

Walau tampak terengah engah dan tak rela Marissa Haque tetap patuh dan berbaring disebelahku, aku mendekap tubuh montok dan indah ku dan aku membisikan sesuatu di telinganya,
“ mau coba gaya baru..?.” bisiku sambil mengulum telinganya dan disambut desahan oleh Marissa Haque

“ apa itu Xel.. ?? terserah kamu ... Right Now Im Slave For You Beb..” ujar Marissa Haque dengan manja,
“ 69 position beb..” bisik ku,
“ Mau,,,,, ayooo,...” balas Marissa Haque dengan wajah konak,

Atas inisiatifku kami pun membuat posisi, gaya 69. Marissa Haque langsung connect dan paham apa yang harus dilakukannya pada Mr. Happy pada posisi itu, secepat kilat kurasa, sesuatu yang hangat mendera penisku. Itu adalah lidah Marissa Haque yang penuh semangat menyepong penisku tanpa kuberi instruksi.

Jilatan lidahnya semakin sensasional lalu turun hingga ke pangkal kemaluanku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak. Sementara, di lain pihak aku merangkai kenikmatan buat Bu Marissa, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidahku. Kurasa tubuhnya  menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua sudut vaginanya, dan itilnya kugigit-gigit.


“ Mppphh,,, mmmmhhhh... “ suara Marissa Haque akibat penisku yang mengisi mulut nya,
Marissa Haque menggelinjang tajam dan,
“Xeeell...  aku keluaaaaaar ..!!! Ooohh....!! nggak tahaaaan ......!!Ooouuuhhhhh...???!!!!”, jerit Marissa Haque
Tubuhnya menegang lalu tiba-tiba terhemmpas lemas, dan .... akhirnya Bu Marissa mendapatkan orgasmeya dari seruputan lidahku pada labia mayoranya .

Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.
“Duhh, Enak banget Xeell.... aku bener-bener nafsu sama kamu. kamu pintar membuat ku bergairah...”, ujarnya terengah engah menikmati indahnya orgasme nya
“Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti saya  kasi yang lebih dahsyat”, sahutku.

Kulihat matanya berbinar-binar.
“Benar Ya Xel... , puasin aku seperti yang kamu lakukan padaku di hotel itu, sudah tiga bulan aku nggak merasakan orgasme dahsyat sayang, suamiku sudah bosan kali sama aku”, bisiknya agak merintih lirih.

Aku mengangguk, setelah membiarkannya menikmati klimaksnya, berselang lima menit kugiring tubuh Bu Marissa duduk diatas tubuhku. Mr.Happy kumasukkan ke dalam vaginanya dan

“blesssss.....” ,lancar karena sudah basah dengan posisi women in top kesukaan Bu Marissa. Tanpa dikomando Bu Marissa sudah bergerak naik turun. Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus bergoyang naik turun menggenjotku, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu Marissa dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.

“Ahhhh...  enak sekali Xel... Mhhh.,,,”, ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.

Mr.Happyku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Marissa Haque di bawah dan aku berada diatas tubuh mulus itu. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Mr.Happy ke vaginanya.
“ Blesss...” tanpa kesulitan Mr. Happy menerobos masuk kedalam nonok Marissa Haque. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Marissa merem-melek menahan kenikmatan. Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat. Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Marissa hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.
Tiba-tiba Bu Marissa mengerang panjang dan
“Axeeellll...., aku mau keluar lagiiiii, hhhhhh.... Ooowwhhh... Duuuuh Gustiiiiii aku ndak tahaaaaaaaaan...!!!!!”, katanya sedikit berteriak.
“Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk”, ajakku mengatur nafas menikmati goyangan pantat dan cengkraman dinding vagina Marissa Haque yang indah itu,
Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang
“Aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh..”.
Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Marissa menjerit erotis karena tersentak menerima muntahan lahar panas Mr. Happyku.

Kini kami berdua sama sama terkulai.
“Ka .. mu..hh  hebat Xeell..., bi.. bi .. sa bikin aku orgasme dua kali..hhh..  dalam waktu dekat... ”, katanya disela nafas yang tersengal.
Aku cuma bisa tersenyum bangga.
“Aku pun sudah lama menunggu saat saat seperti ini Bu Marissa ... aku bangga Bu Marissa nggak salah milih orang buat muasin Ibu... ?” kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.

Setelah bermesraan dan mengaso sebentar Bu Marissa kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh tinggi dan padat milik Bu Marissa Haque. Tubuh indah seperti Bu Marissa memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual Odipius Complex bener-bener menemukan jawaban dengan Marissa Haque. Artis setengah baya sekaligus Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan model. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.

Mr.Happyku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Marissa Haque yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk. Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat pantatnya dan kududukkan di meja toilet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati vaginanya. Marissa Haque kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Marissa tetap setengah berjongkok di atas meja. Kugenjot pantatku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluar masuknya Mr.Happy dalam vagina, dua-duanya memerah tanda nikmat.

Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Marissa turun dan kubalikkan badannya membelakangiku. Tangannya menumpu pada wastafel sementara badannya kuperintah untuk sedikit membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau vagina bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Mr.Happy,
 uupps Marissa Haque terpekik...

“ Awwwwww...hhh.. “
Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.
“Lanj.. jutin Xell... , enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali... ”, bisiknya lirih.
Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.
“Bu.. aku keluar yaaaa ???”, kataku.
“Ayohhhh sama-samaaa !!! aku juga mauuuuu....!!!!”, balasnya disela erangan kenikmatannya.

Dan.. ohh... aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Marissa Haque. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk tubuh indah Marissa Haque dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indah, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.
Selesai mandi bersama kamipun memesan makan dan makan di kamar hotel dan bercanda mesra. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Marissa memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta.
“Xel, kamu mau kan kalau di kantor kita tetap bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti pacarku ya”, katanya tersenyum manja.
“Baik Bu cantik”, sahutku bergurau.
Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.

Sejak itu aku resmi jadi simpanan artis cantik Marissa Haque. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor. Hingga media pun tidak mengetahui hubunganku dengan si cantik Marissa Haque ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar