Ayu Dewi setengah berlari keluar menuju halaman
rumahnya yang luas. Presenter Cantik yang lagi naik daun itu terlihat cantik
pada sore itu dengan gaun lengan panjang terusan yang panjangnya selutut berwarna
pink. Busananya, baju terusan berwarna pink , juga ketat. Menampakan lekuk
tubuhnya yang padat berisi semenjak bersuami itu. Yang lebih menarik, hanya
sepasang tali tipis di pundaknya yang menahan baju itu. Tatanan rambutnya
mendukung penampilan seksi itu. Rambut-rambut halus tampak menghisasi lehernya
yang jenjang, putih, mulus. Tak pernah Ayu Dewi terlihat secantik itu dari
biasanya.
"Sorry ya mas, agak lama," katanya
kepada seorang lelaki di sisi pintu mobil van dengan logo
sebuah stasiun TV swasta di pintunya.
"Lho, Mas
Jono yang biasanya jemput saya kemana?" lanjut wanita periang itu, begitu
duduk di kursi tengah, di belakang lelaki tadi yang kini duduk di belakang
kemudi.
"Sakit mbak Ayu ," sahut lelaki itu pendek sambil
menjalankan mobilnya.
“ ooo.. “ ya udah cepetan ya mas.. saya belum make up nih.. jam 8 nanti acaranya sudah mulai” ujar Ayu Dewi sambil melihat sepintas pada si sopir sambil memainkan smartphone nya.
“ ooo.. “ ya udah cepetan ya mas.. saya belum make up nih.. jam 8 nanti acaranya sudah mulai” ujar Ayu Dewi sambil melihat sepintas pada si sopir sambil memainkan smartphone nya.
Malam ini, Ayu Dewi akan mengisi siaran live Ulang Tahun S**V bersama rekannya Raffi Ahmad. Acara kali ini memang penuh gengsi. Dimana akan dimeriahkan artis artis ternama sebagai pendukung acara tersebut Produsernya yakin, salah satu faktor tingginya rating adalah duet Ayu Dewi dan Raffi Ahmad sebagai presenter.
Ayu Dewi tampak sibuk mengecek make upnya lewat sebuah
kaca kecil dari dalam tasnya. Lipstik merah tipis membuat bibirnya yang indah
itu makin menarik. Ayu Dewi masih asyik
dengan dandanannya, tak sadar sopir terus meliriknya dengan pandangan yang aneh
lewat kaca spion. Ia juga tak sadar, tepat di belakang tempat duduknya, seorang
lelaki berjongkok, membuka jok paling belakang. Lalu dari balik jok itu,
seorang lelaki lain muncul.
Dua lelaki kekar itu lalu duduk di jok belakang, memandangi Ayu Dewi yang masih asyik dengan bibirnya.
Dua lelaki kekar itu lalu duduk di jok belakang, memandangi Ayu Dewi yang masih asyik dengan bibirnya.
"Siarannya jam berapa Mbak?" lelaki berjaket
kulit di belakang menyapanya.
"Jam setengah dela....ehh...kaget aku. Kok tadi
nggak kelihatan ada orang," kata Ayu Dewi sambil menengok ke jok bagian belakang. Heran
juga ia melihat dua lelaki berpenampilan kasar itu.
"Kita tadi memang ngumpet," sahut si jaket kulit.
"Kok pakai ngumpet segala," tanya Ayu Dewi mulai curiga.
"Ya supaya elu nggak tahu," kata lelaki itu,
sambil pindah duduk di sebelah kiri Ayu Dewi .
Kontan saja Ayu Dewi kaget bukan main mendengar lelaki itu menyapanya dengan 'elu'.
Apalagi begitu duduk, lelaki itu langsung memegang pahanya.
"Eiiii....jangan kurang ajar ya!"
pekiknya kaget. Matanya melotot pada lelaki kurang ajar itu.
“ ini,,
sebetulnya ada apa,,, pasti kalian bukan staff S**V kan.? “ ujar Ayu Dewi panik.
Lelaki itu tertawa.
Lelaki itu tertawa.
“ Lu emang
pintar ya.. “ ujar nya mulai menerkan tubuh Ayu Dewi
“ Eiitsss
Lepasss kannn,,,, Jangan kurang ajarr kamu yaaa..” teriak Ayu Dewi berusaha berontak.
Dia memandang kaca mobil,
semua tertutup dengan kaca film berwarna hitam dan tidak mungkin orang dari
luar melihat apa yang terjadi di dalam mobil.
"Gitu sih belum kurang ajar, gini
nih...."
"Eiiihhh..." Ayu Dewi memekik lagi, tangan lelaki itu menangkap dan
meremas payudara kirinya.
Presenter dan juga seorang model itu beringsut ke
tepi jendela.
"Ka..ka...kamu...mau
apa....?" Ayu Dewi gemetaran sambil
menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"He he... gue mau...itu," lelaki itu
menunjuk bagian bawah tubuh Ayu Dewi .
"Memek lu!" "Gue mau gigit
pentil lu..." lelaki satunya tiba-tiba ikut nimbrung.
Ayu Dewi panik, ia mencoba membuka jendela mobil, tapi
gagal karna tiba-tiba seorang lelaki lain menyleinap dari jok belakang dan
duduk disebelah kanannya. Sekarang posisi Ayu Dewi berada diantara kedua lelaki yang berwajah
kasar
."Jangan...jangan...TOLLOOOOONGGGG...." Ayu Dewi menjerit histeris. Tapi kedua lelaki itu hanya
tertawa-tawa.
"Percuma lu teriak neng. Mobil ini kedap
suara..." kata si jaket kulit sambil menangkap pergelangan tangan mungil wanita
cantik ini.
Tiba-tiba lelaki itu menyentak tangan Ayu Dewi hingga wanita itu tertelungkup di pangkuannya. Lelaki yang duduk di belakang kemudian pindah ke sebelah kanannya.
Tiba-tiba lelaki itu menyentak tangan Ayu Dewi hingga wanita itu tertelungkup di pangkuannya. Lelaki yang duduk di belakang kemudian pindah ke sebelah kanannya.
Ayu Dewi meronta dan menjerit saat tangannya ditelikung
ke belakang, lalu diikat dengan sebutas tali.
. "Wah,
ini nih .. pantat bahenol Ayu Dewi ...kontol
gue bisa gepeng kalau kegencet lobangnya," kata lelaki di sebelah kanannya
sambil meremas-remas gundukan daging pantat Ayu Dewi .
"Kontol gue ngaceng nih, ketindihan
toketnya si Ayu Dewi ," kata lelaki
satunya. "Jangannn...jangannn..kalian mau apa....mau uang...saya kasih...
berapa...." ujar Ayu Dewi terengah-engah,
panik ketika merasa roknya terusannya ditarik ke atas.
Tapi kedua
lelaki itu tak menjawab. Lelaki yang memangkunya malah menyusupkan tangannya ke
punggung Ayu Dewi , melepas pengait BH
tanpa tali pundaknya.
"Awwwhhh..."
Ayu Dewi memekik, saat BH itu tiba-tiba
dibetot hingga terlepas.
Pada saat yang sama, ia merasakan dinginnya AC menyentuh kulit pahanya.
Pada saat yang sama, ia merasakan dinginnya AC menyentuh kulit pahanya.
"Aunghhhh...."
ia mengerang, saat pangkal pahanya diremas telapak tangan kasar di belakangnya.
Ayu Dewi meronta-ronta, kedua kakinya
menendang-nendang, saat remasan makin keras dan menyakiti kelaminnya.
"Aaaaakkkhhhhhh....mmmmfff...mmmfff,"
jeritnya tiba-tiba terbungkam ketika lelaki yang memangkunya menekan kepalanya
sehingga terbenam di pangkal paha lelaki itu.
Ayu Dewi bisa merasakan sesuatu yang menggembung, keras
di balik ristleting celana lelaki itu.
Ayu Dewi hampir kehabisan nafas ketika rambutnya dijambak sehingga ia terpaksa mendongak. Tubuhnya menggigil ketika sebilah belati tajam ditempelkan ke leher jenjangnya.
Ayu Dewi hampir kehabisan nafas ketika rambutnya dijambak sehingga ia terpaksa mendongak. Tubuhnya menggigil ketika sebilah belati tajam ditempelkan ke leher jenjangnya.
"Heh bandel...elu nggak bisa ngelawan tahu..!!! Mending
lu nurut aja yu...., kita nggak bakal bunuh elu tahu.?? . Tapi kalo elu masih bandel juga,
gue bisa potong pentil lu!. Lu tahu kan, laki lu seneng ngisep pentil lu ??? Lu ngerti,
hahhh!!??" bentak lelaki itu.
"I...i...iya..."
Ayu Dewi menjawab lemah, air mata
menitik di sudut matanya yang indah.
Tapi tak urung ia merintih dan menggeliat
ketika merasakan ujung belati menelusuri bagian dalam pahanya yang mulus, terus
naik, lalu menelusuri tepian celana dalam nya yang berwarna putih.
"Udah Brur, cepet copot tuh celana, gue udah nggak tahan pengen lihat memek cewek ngetop ini," kata lelaki satunya, kedua tangannya terus asyik menekan-nekan bagian samping payudara Ayu Dewi
"Udah Brur, cepet copot tuh celana, gue udah nggak tahan pengen lihat memek cewek ngetop ini," kata lelaki satunya, kedua tangannya terus asyik menekan-nekan bagian samping payudara Ayu Dewi
.
"Sabar....semua dapet bagian...he...he..." kata si pemegang belati.
Ayu Dewi menahan napasnya ketika merasa
ujung belati menekan tepat di 'pintu' kemaluannya. Rasa takut dan terhina
sungguh menyiksanya.
"Buka lebar-lebar kaki lu neng..." perintah lelaki itu.
Ayu Dewi gemetar, ia diam saja. Sejuta fikiran
berkecamuk di benaknya,
"Ayo
cepet buka!" lanjut lelaki itu, kini menekan belatinya agak jauh, sehingga
terlihat celana dalamnya menyelusup ke celah bibir kelaminnya.
"Jangannn...jangan..." rintih Ayu
Dewi .
"Cepettt!!!" lelaki itu membentak
dengan suara menggelegar. Belati ditekannya lebih jauh, sehingga celana dalam Ayu
Dewi mulai koyak sedikit.
Ayu Dewi mulai terisak, menggigil merasakan logam yang
yang dingin menyentuh bibir kemaluannya. Perlahan ia merenggangkan kedua
kakinya. Ayu Dewi agak lega ketika
belati itu ditarik. Tapi ia kembali cemas begitu belati itu kembali menyusup ke
balik celana dalam katun di bagian pinggangnya.
TESSS... Ayu
Dewi memekik ketika merasa belati itu
memutus bagian samping kanan celana dalam nya.
Tubuhnya makin berkeringat saat belati menyusup ke sisi sebaliknya. Dan...sisi yang satu itu pun putus juga. Ayu Dewi terisak ketika merasa kain celana dalam yang menutup pantatnya ditarik turun. Dinginnya AC mobil kini menyapu pantatnya yang bundar, putih mulus dan padat.
Tubuhnya makin berkeringat saat belati menyusup ke sisi sebaliknya. Dan...sisi yang satu itu pun putus juga. Ayu Dewi terisak ketika merasa kain celana dalam yang menutup pantatnya ditarik turun. Dinginnya AC mobil kini menyapu pantatnya yang bundar, putih mulus dan padat.
"Ha...ha....ha....ini baru namanya
pantat!" seru lelaki yang memangkunya sambil meremas-remas bongkahan
daging pantatnya. Isak tangis Ayu Dewi makin
keras terdengar. Baru kali ini ada lelaki yang tidak dikenalnya melihat dan
memegang pantatnya. Terakhir Raffi Ahmad yang sahabat sekaligus selingkuhannya,
yang pernah melakukan itu selain, tentu saja suami dan mantan pacarnya Zumi
Zola, yang pertama kali memerawaninya.
Perlahan Ayu
Dewi merasakan celana dalamnya ditarik
hingga lepas. Kini dinginnya AC pun dirasakannya menyentuh bagian depan
pinggulnya yang terbuka.
"Aiiihhh...."
Ayu Dewi kembali memekik begitu
merasakan bagian bawah tubuhnya yang terbuka dibekap telapak tangan yang besar
dan kasar.
"Hebat,
akhirnya gue bisa megang memek Ayu Dewi !!!" seru lelaki di belakangnya
sambil terus meremas-remas hingga Ayu Dewi merintih-rintih.
Lelaki itu kini mulai menjambak rambut kemaluan Ayu Dewi yang tercukur rapi itu.
"Wah, lu
keramas jembut lu pasti pake perawatan juga ya...bagus potongan nya nih...he
he..." lanjut lelaki itu, kali ini sambil menarik puluhan helai rambut
kemaluan Ayu Dewi ke bawah, hingga
terlihat kulit kelaminnya ikut tertarik.
"Ayo bilang dong...ini
namanya apa," kata lelaki itu sambil menjambak hampir seluruh rambut
kemaluan Ayu Dewi .
Ayu Dewi hanya merintih.
"Ayo bilang!!" bentaknya.
"Ram...ram...rambut..." katanya
tersengal menahan sakit.
"Kalau
rambut sih ini...," sahut lelaki itu, sambil menjambak rambut di kepalanya.
"Bilang...jembut gitu..." lelaki itu menjambak rambut kemaluannya
lebih jauh.
"Jem... jem... jem....
BUUUUUUUUUTTTTTT..... awwwwhhh.... saakkkkkiiiit!!!" Ayu Dewi menjerit histeris. Sebab, begitu dia bilang
'but', lelaki itu membetot rambut kemaluannya sekuat tenaga.
Puluhan
helai rambut kemaluan Ayu Dewi kini
berada di genggamannya. Di depan wajah Ayu Dewi dimasukkannya puluhan lembar rambut hitam
berkilau itu ke dalam sebuah amplop.
"Bisa untuk nyantet elu, kapan-kapan
perlu," katanya.
Kedua mata Ayu Dewi tampak basah oleh air mata.
Ayu Dewi agak lega ketika tubuhnya ditarik hingga ia kini duduk. Rok panjang terusannya masih tergulung sampai ke pinggangnya, hingga dari pinggang ke bawah terbuka bebas. Sisa rambut kemaluannya tampak menyembul dari sela-sela pangkal pahanya. Tapi kelegaannya hanya sejenak saja. Kedua lelaki di kanan dan kirinya, kini mulai tertarik pada dadanya. Payudara Ayu Dewi yang makin montok itu, tampak kencang dan bundar. Lelaki di sebelah kirinya mulai membelai-belai lembut payudara kirinya.
Ayu Dewi agak lega ketika tubuhnya ditarik hingga ia kini duduk. Rok panjang terusannya masih tergulung sampai ke pinggangnya, hingga dari pinggang ke bawah terbuka bebas. Sisa rambut kemaluannya tampak menyembul dari sela-sela pangkal pahanya. Tapi kelegaannya hanya sejenak saja. Kedua lelaki di kanan dan kirinya, kini mulai tertarik pada dadanya. Payudara Ayu Dewi yang makin montok itu, tampak kencang dan bundar. Lelaki di sebelah kirinya mulai membelai-belai lembut payudara kirinya.
“
Wah..tambah montok aja payudaramu neng.. dikasih apa sih.. Duuh... “ ujar
lelaki itu menyentuh payudara montok itu dengan gemas.
"Jangan...tolong...jangan...saya bisa
beri kalian apapun, tapi tolong...jangan perkosa saya..." Ayu Dewi coba berbicara lagi, sementara lelaki di
kirinya mulai meremas-remas payudaranya. Seluruh gumpalan daging yang kenyal
itu masuk dalam genggamannya.
“ Gua
perhatiin lu tambah lama tambah cakep dan montok aja neng... tambah birahi gua
liat lu begini “ Lelaki itu terus meremas remas payudara Ayu Dewi
"Diperkosa
aja takut. Kalau mau, elu kan bisa nikmatin juga," kata lelaki di
kanannya.
Ayu Dewi melirik dengan panik, sebab lelaki itu menyentuh payudara kanannya dengan bagian tajam belatinya.
Ayu Dewi melirik dengan panik, sebab lelaki itu menyentuh payudara kanannya dengan bagian tajam belatinya.
"I...i...iya...sa..saya...takut...aduh...pelan-
pelan.... sakit... aduh..." Ayu Dewi merintih, lelaki di kirinya mencengkeram
payudaranya yang tak seberapa besar hingga ke pangkalnya. Tangan kasar itu
seolah hendak merenggut bukit kecil itu dari tempatnya melekat.
Ayu Dewi menarik napas sejenak, ketika cengkeraman di
dadanya dilepas. Tapi kini rasa geli yang aneh melandanya ketika lelaki itu
menggerakkan ujung jari telunjuknya di sekeliling putingnya yang masih tertutup
bajunya. Hal serupa dilakukan lelaki satunya dengan ujung belati di puting
sebelahnya. Perlahan,
tanpa bisa dikendalikannya, kedua putingnya mulai mengeras dan Ayu Dewi mengerang lemah.
"Kenapa sih takut diperkosa? Lu kan udah
nggak perawan. Udah berapa kali sih kontolnya Suami mu masuk memek lu? Udah
berapa kali juga kontol si Raffi aen-maen ke situ ?? Lu fikir kami gak tahu
hubungan lu ama si Raffi..?? " lanjut lelaki yang memegang belati, sambil
terus menggerakkan ujung belatinya, memutari puting susu kanan Ayu Dewi .
"Nggak...nggak...bohong itu...saya
belum pernah...ti...tidur dengan Raffii.." Ayu Dewi menjawab dengan panik. Kedua
lelaki itu kini memilin- milin kedua puting susunya, perlahan.
""Bohong!"
bentak lelaki itu
"Awwwhhh...be...betul...." Ayu Dewi memekik, kedua putingnya dijepit keras.
"Biarpun
gitu lu pikir kami peduli, sekarang kami pengen juga tubuh lu.. !! “ bentak
lelaki itu.
"Ah...eh...AWWWWW!!!" Ayu Dewi menjerit lagi, kedua putingnya kembali dijepit
dan dipelintir dengan keras.
“ Sekarang Angkat kaki lu, ngangkang!" lanjut lelaki
satunya sambil mulai menarik paha kanan Ayu Dewi ke atas dengan kasar, sehingga otomatis salah
satu kakinya naik keatas dan berada dalam genggaman lelaki itu.
. "Ah...eh,
jangan...jangan lakukaaann..." kata Ayu Dewi mengiba.
“ gua cuma
mau liat aja bentar... ayo bukaaa..” ujar lelaki itu.
Ayu Dewi jelas mempertahankannya dan mereka bergumul,
namun tenaga Ayu Dewi tidak kuat melawan
tenaga dua orang lelaki di sebelahnya.
“ Gue kasih tahu ya...kalau lu melakukan apa yang kami suruh, mungkin bisa gue pertimbangkan untuk nggak jadi memperkosa lu!" ancam lelaki itu,
“ Gue kasih tahu ya...kalau lu melakukan apa yang kami suruh, mungkin bisa gue pertimbangkan untuk nggak jadi memperkosa lu!" ancam lelaki itu,
Ayu Dewi terisak. Ia tak punya pilihan lain.
Dipikirnya, mungkin ia akan dilepaskan kalau mengikuti instruksi mereka .
“ Mudah-mudahan mereka berdua cuma
maniak.. gak sampai memperkosa..” bathin Ayu Dewi .
Perlahan
diangkatnya kedua kakinya. Kedua telapak kakinya kini bertumpu di jok mobil
yang didudukinya. Posisinya yang demikian membuat bagian tubuhnya yang paling
pribadi, terbuka bebas. Ayu Dewi menggigit
bibirnya, tak pernah dibayangkannya akan melakukan hal tersebut di hadapan
lelaki yang sama sekali asing baginya. Lelaki di sebelah kanan Ayu Dewi kini berjongkok di hadapannya. Wajahnya hanya
sekitar 15 cm dari Ayu Dewi 's private
area. Ayu Dewi memejamkan kedua matanya
yang sayu. Ia bisa merasakan panasnya hembusan napas lelaki itu.
"Hmmm...memek
yang hebat," gumam lelaki itu.
Temannya di atas, hanya tertawa sambil terus meremas-remas kedua payudara wanita itu. Tubuh Ayu Dewi bergetar hebat ketika jemari lelaki itu menyentuh tepi celah kemaluannya, menyusurinya dari atas ke bawah. Dengan hati-hati lelaki itu menjepit dua sisi labia minora Ayu Dewi yang tampak menyembul sedikit akibat kakinya yang mengangkang lebar. Masing-masing sisi dijepit dengan ibu jari dan telunjuk. Perlahan daging tipis itu ditariknya ke arah berlawanan. Ayu Dewi diam, tapi tubuhnya terus bergetar, keringatnya bercucuran.
Temannya di atas, hanya tertawa sambil terus meremas-remas kedua payudara wanita itu. Tubuh Ayu Dewi bergetar hebat ketika jemari lelaki itu menyentuh tepi celah kemaluannya, menyusurinya dari atas ke bawah. Dengan hati-hati lelaki itu menjepit dua sisi labia minora Ayu Dewi yang tampak menyembul sedikit akibat kakinya yang mengangkang lebar. Masing-masing sisi dijepit dengan ibu jari dan telunjuk. Perlahan daging tipis itu ditariknya ke arah berlawanan. Ayu Dewi diam, tapi tubuhnya terus bergetar, keringatnya bercucuran.
"Hebat...gue seneng liat memek yang kaya
gini," kata lelaki itu begitu melihat bagian dalam vagina Ayu Dewi .
"Bener kata orang, bibir atas nggak beda
jauh sama yang di bawah. Dalemnya memek Ayu Dewi merah jambu Brur, seger kayak bibir atasnya
tebal dan lebar," lanjutnya, memberitahu temannya.
Ayu Dewi merasa betul-betul terhina mendengar hal itu, tapi ia tak kuasa apa-apa.
Ayu Dewi merasa betul-betul terhina mendengar hal itu, tapi ia tak kuasa apa-apa.
"Udah
mass... ," pinta Ayu Dewi memelas,
Lelaki yang
berada di hadapan vagina Ayu Dewi tertawa,
Ayu Dewi merasakan tangan lelaki yang
duduk disebelahnya tak bosan-bosan meremas payudara nya dari luar bajunya.
Lelaki di bawah, kini menyusupkan satu ibu jarinya ke lubang vagina yang tampak
sempit, lalu ibu jari satunya menyusul di sisi berlawanan. Dua telunjuknya pun
menyusul. Ayu Dewi mengerang-erang.
“ Ooooohh...
Jannggaaanhh.. Uuuuuhhh.. Uhhh,,,, “ jerit Ayu Dewi panik menahan rasa geli yang menjalari seluruh
syaraf rangsang tubuhnya saat kemaluannya dimasuki oleh dua jari lelaki itu.
Lelaki itu sama sekali tidak merespon permintaan Ayu Dewi bahkan Perlahan, digerakkannya ke empat jari itu ke arah berlawanan, sehingga liang vagina Ayu Dewi mulai membuka lebar, membentuk gua kecil.
Lelaki itu sama sekali tidak merespon permintaan Ayu Dewi bahkan Perlahan, digerakkannya ke empat jari itu ke arah berlawanan, sehingga liang vagina Ayu Dewi mulai membuka lebar, membentuk gua kecil.
"Uuugghh
...sakit... sakkiitttt..." rintih Ayu Dewi
“ Dikit lagi
ya neng...." desis lelaki itu terus mengobel gua kecil itu. "
"Sudah-sudah...lepaskan
saya..." pinta Ayu Dewi .
"Sebentar...nanggung..."
sahut lelaki itu. Ayu Dewi kaget bukan
main ketika merasakan wajah lelaki itu makin mendekat dan...
"Aungghhhh...." Ayu Dewi merintih, meronta hebat, tapi kedua kakinya
dipegangi erat dua lelaki. Lelaki itu ternyata menyentuh labia mayora nya
dengan lidahnya, lalu dengan kasar lidah itu menyapu ke segenap penjuru bagian
dalam vaginanya. Tak kurang 10 menit itu berlangsung, sampai Ayu Dewi merasakan jemari yang menguakkan liang
vaginanya melepaskan tarikannya.
Kini, yang dirasakannya adalah dinding vaginanya yang menjepit lidah lelaki itu. Perlahan, dirasakannya lidah itu ditarik keluar. Sambil menjulurkan lidah seperti anjing, lelaki itu mendongak. Ayu Dewi melihat lidah lelaki itu berlendir.
Kini, yang dirasakannya adalah dinding vaginanya yang menjepit lidah lelaki itu. Perlahan, dirasakannya lidah itu ditarik keluar. Sambil menjulurkan lidah seperti anjing, lelaki itu mendongak. Ayu Dewi melihat lidah lelaki itu berlendir.
"Memek
yang lezat...." ujar lelaki itu terkekeh
“ Dasar
maniak..” bathin Ayu Dewi kesal. Nafanya
terengah engah menahan rasa malu bercampur birahi melihat perlakuan kedua
lelaki itu melecehkannya.
"Sudah...tolong lepaskan saya..."
iba Ayu Dewi lagi.
"Sebentar,
gue mau kasih tahu lu sesuatu. Habis ini, lu pasti minta dientot!" kata
lelaki itu, lalu merapatkan lagi wajahnya ke selangkangan Ayu Dewi .
Ayu Dewi menggeliat, mengerang, meronta...tapi sia-
sia. Lidah lelaki itu dengan buasnya menyapu sekujur permukaan vaginanya.
Rambut kemaluannya, tampak basah, melekat ke kulit nya yang putih dan mulai
terlihat kemerahan, bekas cabutan yang brutal tadi.
Lidah lelaki itu lalu menjilati celah
vaginanya, kanan dan kiri berganti-ganti.
Lalu...
slurrrppp.... slurrppp... "Aunggghhhhh..." Ayu Dewi mengerang, lelaki itu kemabli menghisap dan
menyeruput labia minoranya, kanan dan kiri berganti-ganti. Isak Ayu Dewi makin keras terdengar.
15 menit telah berlalu, tetapi lelaki itu seperti kelaparan, tak juga henti melahap vagina Ayu Dewi . Sementara di atas, lelaki satunya merogoh ke balik blus terusan Ayu Dewi , dia melebarkan bagian bahu Ayu Dewi hingga gaunnya tersingkap sampai ke bawah bahu Ayu Dewi . setelah itu dengan cekatan lelaki itu mencopot tali BH bewarna ungu dan mengeluarkan payudara kirinya.
15 menit telah berlalu, tetapi lelaki itu seperti kelaparan, tak juga henti melahap vagina Ayu Dewi . Sementara di atas, lelaki satunya merogoh ke balik blus terusan Ayu Dewi , dia melebarkan bagian bahu Ayu Dewi hingga gaunnya tersingkap sampai ke bawah bahu Ayu Dewi . setelah itu dengan cekatan lelaki itu mencopot tali BH bewarna ungu dan mengeluarkan payudara kirinya.
Tampak
puting susu payudara montok itu, kecoklatan dengan areola hanya berdiameter
sekitar 2 cm, tegak menantang.
“ Uuuh..
montok banget nenen mu neng... “ sahut lelaki itu sambil meremas payudara Ayu
Dewi .
Lidah lelaki
itu pun mulai menyentil-nyentil area
sensitif itu. Bersamaan dengan itu, Ayu Dewi merasa bibir kemaluannya dikuakkan lalu
didorong ke atas. Lelaki yang di bawah, memandang tak berkedip, tonjolan kecil
berwarna pink di pangkal vaginanya. Dielus-elusnya tonjolan kecil itu dengan
telunjuknya perlahan. Akibatnya sungguh hebat. Ayu Dewi mengerang keras. Ayu Dewi yang semula merasa luar biasa terhina. Dalam
keadaan demikian, ia hanya bisa pasrah dan mulai merasakan adanya sebuah rangsangan.
Beda jauh dari yang pernah dirasakannya ketika sekali jemari Raffi Ahmad pernah
'tersesat' ke balik celana dalam nya.
Meski menolak penghinaan itu, tubuh Ayu Dewi tak bisa berbohong. Cairan vaginanya mulai menetes, membasahi seputar liangnya. Lelaki yang di bawah, dengan tak sabar, menghisap setiap tetes cairan itu. Sementara lelaki yang di atas, ternyata sudah asyik dengan payudara kanan Ayu Dewi, menyentil-nyentil putingnya dengan lidahnya.
Meski menolak penghinaan itu, tubuh Ayu Dewi tak bisa berbohong. Cairan vaginanya mulai menetes, membasahi seputar liangnya. Lelaki yang di bawah, dengan tak sabar, menghisap setiap tetes cairan itu. Sementara lelaki yang di atas, ternyata sudah asyik dengan payudara kanan Ayu Dewi, menyentil-nyentil putingnya dengan lidahnya.
Ayu Dewi merasa terhina luar biasa, ia merasakan
sesuatu yang akan meledak dalam dirinya ketika lidah lelaki itu akhirnya
menyapu tonjolan sebesar kacang tanah di pangkal vaginanya. Apalagi, lelaki di
atas memegangi sebelah payudaranya dengan kedua telapak tangannya, lalu
menyedot-nyedot putingnya sekuat tenaga sambil lidahnya menyentil- nyentil
puting di dalam mulutnya itu. Erangan Ayu Dewi makin hebat saat akhirnya lelaki di bawah
menghisap klitorisnya kuat-kuat dan terus menerus.
Punggungnya meregang ke depan, hingga payudaranya membenamkan wajah lelaki yang masih asyik dengan putingnya.
Punggungnya meregang ke depan, hingga payudaranya membenamkan wajah lelaki yang masih asyik dengan putingnya.
"Aaannggghhhhhhhhh.... ngghhhh.... nghhh..
oowwhhhh...." tubuh Ayu Dewi tiba-tiba
lemas, tetapi sesekali terlonjak-lonjak di luar kendali dirinya.
Dan.... Ayu
Dewi pun orgasme!!!
Lelaki yang
tadi asyik dengan putingnya memandangi Ayu Dewi yang masih terlonjak-lonjak pelan. Sementara
lelaki satunya terus menghabiskan cairan vagina Ayu Dewi yang menetes seiring orgasmenya.
Tubuh Ayu
Dewi masih lemas, matanya terpejam.
Tiba-tiba ia membelalakkan matanya, karena merasakan sesuatu yang hangat
menyentuh mulut liang vaginanya. "Jangaaaaan....jangaaan....jangan perkosa
sayaaaaa..!!!" pekiknya sambil meronta, ketika melihat kepala penis lelaki
di depannya mulai menguakkan bibir vaginanya.
"Alaaah...sok tahu lu. Ngaku aja tadi lu
keenakan. Lagian memek lu sekarang udah siap...nggak bakal sakit deh..."
kata si pemilik penis itu dengan ucapan kasar dan melecehkan. Ayu Dewi tetap meronta hingga penis lelaki itu kini
menjauh dari vaginanya. Wajah Ayu Dewi merah
padam begitu sadar ia tadi mengalami orgasme.
"Tapi...tapi...katanya...saya ... ja... jangan perkosa saya...saya akan beri apapun..." pintanya mengiba.
"Tapi...tapi...katanya...saya ... ja... jangan perkosa saya...saya akan beri apapun..." pintanya mengiba.
"Oke...gue nggak akan perkosa lu
sekarang. Betul lu mau lakukan apapun asal memek lu nggak kemasukan
kontol?" tegas lelaki itu dengan bahasa nya yang kasar membuat telinga Ayu
Dewi memerah.
Lelaki itu
menunggu jawaban Ayu Dewi sambil meremas
kedua payudaranya yang tadi belum sempat dilihatnya.
"I...i...iya...."
"Bagus, kalo gitu, lu sekarang harus tanggung jawab," tekannya
"Tanggungjawab?" ujar Ayu Dewi bingung.
"Iya...kontol
gue udah ngaceng...lu harus lemesin pake mulut lu..." perintahnya
"Iiihhh...nggak
mau...jangan..." teriak Ayu Dewi kaget.
"Tinggal
pilih, mulut apa memek!!!" bentak lelaki itu, kali ini sambil menggerakkan
pinggangnya hingga penisnya kembali menyentuh vagina Ayu Dewi .
Ayu Dewi memekik.
"Aihhhh...ii...iya..." akhirnya ia
menyerah. Ayu Dewi tidak menyangka bahwa
hari ini dia bakal sesial ini, dilecehkan oleh kedua pria ini. Dalam hatinya
Ayu Dewi menangis menerima perlakuan
ini, namun daripada diperkosa , lebih baik dia menuruti permintaan kedua lelaki
bajingan dan maniak ini.
Kedua lelaki
itu kemudian duduk di jok lalu memaksa Ayu Dewi jongkok di hadapan mereka. Ayu Dewi dengan pandang mata jijik dan takut memandangi
penis lelaki yag tadi mengunyah vaginanya.
Ayu Dewi belum pernah melihat penis sebesar itu, tampak begitu kokoh dengan urat-urat di sekelilingnya dan kepala penis yang keunguan saking banyaknya darah terjebak di situ. Bahkan, penis suaminya pun tidak sebesar milik pria bajingan itu ,
Ayu Dewi belum pernah melihat penis sebesar itu, tampak begitu kokoh dengan urat-urat di sekelilingnya dan kepala penis yang keunguan saking banyaknya darah terjebak di situ. Bahkan, penis suaminya pun tidak sebesar milik pria bajingan itu ,
"Ayo cepet, jilatin dulu..." kata
lelaki itu membuyarkan lamunan Ayu Dewi
Sambil
menjepit kedua puting Ayu Dewi dan
menarik ke arahnya. "Aduhh...sakit...iya...iya..." kata Ayu Dewi .
Wajah Ayu
Dewi memerah saat lidahnya mulai
menyentuh kepala penis lelaki itu.
"Jilatin muter kepala kontol gue, lu kan
udah pengalaman jilatin punya laki lu!" ejek lelaki itu dengan sinis.
Sungguh
sakit hati Ayu Dewi menerima perkataan
dan perlakukan dua lelaki bajingan itu. namun mau tak mau agar tidak sampai
diperkosa, Ayu Dewi pun menuruti
perintah itu, Lidah Ayu Dewi perlahan dijulurkannya keluar dan menjilati
sekujur permukaan kepala penis di depannya. Ketika menyentuh celah di kepala
penis itu, ia merasakan cairan yang asin di lidahnya.
"Jilat semua
dari atas ke bawah, balik lagi, terus gitu..." perintah lelaki itu.
Ayu Dewi terpaksa menahan jijiknya, menjilat sekujur
batang penis itu.
"Bijinya juga!" tambah lelaki itu.
walau makin mual, Ayu Dewi terpaksa
menjilat kedua kantung zakar lelaki itu yang penuh rambut.
Aromanya membuatnya hampir muntah. Tapi Ayu Dewi terus melakukannya, karena khawatir lelaki itu marah dan memperkosanya. Diabaikannya lelaki satunya yang tak bosan-bosan meremas-remas payudaranya yang tadinya putih mulus hingga memerah.
Aromanya membuatnya hampir muntah. Tapi Ayu Dewi terus melakukannya, karena khawatir lelaki itu marah dan memperkosanya. Diabaikannya lelaki satunya yang tak bosan-bosan meremas-remas payudaranya yang tadinya putih mulus hingga memerah.
"Bagus...eghhhh...lu pinter juga.!! Nah sekarang.. ,Lu isep punya gue,.. ingat
Isep..!!!" tekan lelaki itu padanya.
Ayu Dewi terdiam sejenak, tapi akhirnya perlahan ia
membuka bibirnya yang indah itu. Sungguh pemandangan yang menggairahkan, gadis
secantik Ayu Dewi membiarkan penis yang
tampak mengerikan masuk ke mulutnya. Ayu Dewi hampir tak bisa memasukkan penis yang besar
itu ke mulutnya. Walau mulutnya termasuk lebar. Tapi karena ukuran penis lelaki
itu memang extra large, sampai akhirnya ketika masuk juga, pipinya tampak
menonjol tertekan kepala penis lelaki itu.
"Ayo
maju mundur...ahhhh...yang dalem...ouhhh....sedot yang
kuat....yak...bagus...ohhh...." Tiba-tiba lelaki itu memegangi bagian
belakang kepala Ayu Dewi dengan kedua
tangannya. Dengan kasar, ia kini menggerakkan sendiri kepala Ayu Dewi hingga penisnya masuk makin jauh ke dalam
kerongkongan Ayu Dewi .
"MMffff...mmmfff...nggghhh...."
suara Ayu Dewi nyaris kehabisan napas.
Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkongannya.
Tiba-tiba Ayu Dewi merasakan penis di mulutnya itu berdenyut-denyut, lalu pemiliknya mengerang keras sambil menarik kepala Ayu Dewi hingga wajah nya tenggelam di kerimbunan rambut kemaluannya. Ayu Dewi seperti kehilangan kesadarannya ketika merasakan cairan kental dan hangat tersembur ke dalam kerongkongannya, memenuhi rongga mulutnya.
Tiba-tiba Ayu Dewi merasakan penis di mulutnya itu berdenyut-denyut, lalu pemiliknya mengerang keras sambil menarik kepala Ayu Dewi hingga wajah nya tenggelam di kerimbunan rambut kemaluannya. Ayu Dewi seperti kehilangan kesadarannya ketika merasakan cairan kental dan hangat tersembur ke dalam kerongkongannya, memenuhi rongga mulutnya.
Ayu Dewi hampir tak bisa bernapas, tak ada jalan lain,
ia harus menelan cairan itu. Rasa dan aromanya yang aneh membuat Ayu Dewi hampir muntah. Tapi ia terus menelannya,
hingga beberapa kali semburan kecil yang makin lama melemah dan berhenti
seiring lemasnya penis lelaki itu di dalam mulutnya.
"Terus isep, sekalian bersihin kontol
gue!" kata lelaki itu dengan napas terengah-engah.
Ayu Dewi dengan sisa-sisa tenaganya, menuruti perintah
itu. Lalu lelaki itu pun menarik penisnya yang lemas keluar. Ayu Dewi dihempaskannya begitu saja ke lantai mobil.
Napasnya terengah- engah membuat kedua payudara montoknya yang tersebul keluar
itu bergerak naik turun.
Dari sisi bibir nya yang seksi menetes cairan putih kental. Kedua matanya menitikkan air mata. Kedua lelaki itu dan sopir di depan hanya terbahak mendengar isak Ayu Dewi .
Dari sisi bibir nya yang seksi menetes cairan putih kental. Kedua matanya menitikkan air mata. Kedua lelaki itu dan sopir di depan hanya terbahak mendengar isak Ayu Dewi .
"Gila, ternyata Ayu Dewi jago nyepong juga. Mani gue disedot
abis," kata lelaki di depannya.
“ Bener
bro.. lu liat aja bentuk bibirnya.. kata bibir kayak neng ini namanya bibir
sepong.. benar juga kata mereka ya.. ha ha ha ha “ ujar lelaki yang meremas
payudara Ayu Dewi terbahak senang.
Ayu Dewi betul-betul merasa terhina mendengar dia
dilecehkan. Tapi dia hanya bisa diam dan terisak sedih,berharap mereka tidak
berbuat lebih jauh padanya dan melepaskannya.
Ayu Dewi baru mulai bisa bernapas lega ketika lelaki
satunya menggerakkan jari telunjuknya, memberi kode agar ia mendekat. Ayu Dewi panik melihat lelaki itu memegagi penisnya
yang sudah menegang, nyaris sebesar milik kawannya.
"Gue
juga ngaceng nih...lu kudu tanggungjawab!" katanya.
Lagi-lagi
Ayu Dewi terpaksa mendekat ketika kedua
putingnya dijepit dan ditarik.
“ Aduhh..
ampun mas... saya gak kuat lagi mas..” pinta Ayu Dewi menghiba.
Namun lelaki
itu tidak memperdulikan penderitaan wanita itu, dipaksanya Ayu Dewi mengulum kontolnya Lalu adegan memalukan tadi
pun berulang. Tapi kali ini tak pakai pemanasan dengan aksi jilat. Lelaki itu
langsung memaksa Ayu Dewi menelan
penisnya dan memegangi kepalanya, lalu menggerakkannya maju mundur.
Tak sampai lima menit kemudian, kembali cairan kental yang berbau khas menyembur, memenuhi rongga mulutnya. Lagi lagi, Ayu Dewi kembali harus menelannya.
Tak sampai lima menit kemudian, kembali cairan kental yang berbau khas menyembur, memenuhi rongga mulutnya. Lagi lagi, Ayu Dewi kembali harus menelannya.
Kini ia
terduduk di lantai mobil, terisak dengan sekeliling bibirnya tampak cairan
sperma.
"Nggak usah nangis...kata dokter Boyke, orang kagak bakal hamil
kalo nelen mani...he...he..." kata lelaki terakhir.
"Sudah...mas.. ? sekarang tolong lepaskan
saya...." pinta Ayu Dewi lagi.
"Sebentar,
masih ada yang harus lu kerjakan supaya nggak gue perkosa," sahut lelaki
di depannya.
Ayu Dewi terdiam, dia sudah sedikit putus asa...
Ayu
Dewi tak tahu lagi kemana mobil ini
berjalan.pikirannya sudah setengah linglung, menahan penderitaan bathin akibat
pelecehan yang dialaminya. Apalagi, dari
posisi duduknya, ia tak bisa melihat leluasa keluar. Ia hanya bisa melihat
tiang listrik atau pepohonan. Yang jelas, ia bisa mendengar, suasana jalan
tampaknya makin sepi.
Sampai akhirnya, mobil itu berhenti, lalu terdengar suara seperti pintu gerbang dibuka. Mobil kemudian kembali berjalan, lalu berhenti di dalam sebuah garasi yang luas.
Sampai akhirnya, mobil itu berhenti, lalu terdengar suara seperti pintu gerbang dibuka. Mobil kemudian kembali berjalan, lalu berhenti di dalam sebuah garasi yang luas.
Ayu Dewi kembali mendengar, kali ini suara rolling door
ditarik turun. Dua lelaki itu lalu keluar sambil menyeret Ayu Dewi turun.
"Tolong, ikatan saya dilepas..."
kata Ayu Dewi dengan suara pelan.
Seorang
lelaki kemudian berusaha melepaskan ikatan tangan Ayu Dewi .
"Eh...eh...entar dulu. Lu enak, gue belon
dapat bagian. Nih, kontol gue juga ngaceng, butuh saluran!" ujar lelaki
yang merupakan sopir mobil itu.
Alaah...entar
juga bisa. Dia udah ditunggu bos nih," sahut temannya.
"Sebentar
aja, gue janji, lima menit aja!" pintanya.
"Ya
udah, cepet..." akhirnya satu lelaki itu megabulkan permintaan temannya
itu
Ayu Dewi tampak panik dan ketakutan.
"Jangan...sudah..sudah
cukup...jangan..." rintihnya saat si sopir memaksanya berlutut.
Penis lelaki
itu menyentuh hidungnya yang mancung.
"Nggak
usah bawel ah...cepetan...lima menit aja...buka mulut lu...nah
gitu...ahhh....bagus..." kata si sopir, lalu satu tangannya menarik kepala
Ayu Dewi hingga bergerak maju mundur.
Betul saja, sekitar lima menit kemudian, semburan sperma kembali memenuhi rongga mulut Ayu Dewi . Cuma kali ini, lelaki itu langsung menarik keluar penisya, sehingga semburan kedua, ketiga dan keempat mendarat di sekujur wajah Ayu Dewi .
Betul saja, sekitar lima menit kemudian, semburan sperma kembali memenuhi rongga mulut Ayu Dewi . Cuma kali ini, lelaki itu langsung menarik keluar penisya, sehingga semburan kedua, ketiga dan keempat mendarat di sekujur wajah Ayu Dewi .
Lelaki itu tertawa-tawa sambil membersihkan
penisnya dengan ujung gaun terusan Ayu Dewi .
"Makasih
ya... Mbak Ayu " katanya dengan logat Jawa yang kental sambil meremas
kedua payudara montok Ayu Dewi , lalu
tangannya menyempatkan meremas pangkal paha artis cantik itu.
Sementara Ayu
Dewi terisak. Bibirnya betul-betul
belepotan sperma kini, begitu pula kening, pipi dan di sudut matanya.
"Gila
lu...bikin kotor aja..." kata lelaki yang pertama memaksa Ayu Dewi melakukan oral seks, sambil melepas ikatan
tangan artis itu.
Begitu terlepas, Ayu Dewi dengan cepat membenahi bajunya, kembali menutup kedua payudaranya. Ayu Dewi kemudian menerima cabikan celana dalam pink nya dari lelaki di depannya.
Begitu terlepas, Ayu Dewi dengan cepat membenahi bajunya, kembali menutup kedua payudaranya. Ayu Dewi kemudian menerima cabikan celana dalam pink nya dari lelaki di depannya.
Dibersihkannya
wajahnya yang belepotan sperma dengan cabikan celana dalam nya sendiri.
"Ayo, bos udah nunggu..." kata lelaki berjaket kulit sambil melangkah
ke sebuah pintu di salah satu sudut garasi. Ayu Dewi tegang menunggu apa yang akan terjadi di balik
pintu itu. **



