Selasa, 22 November 2016

CERITA PELECEHAN ARTIS AYU DEWI



Ayu Dewi setengah berlari keluar menuju halaman rumahnya yang luas. Presenter Cantik yang lagi naik daun itu terlihat cantik pada sore itu dengan gaun lengan panjang terusan yang panjangnya selutut berwarna pink. Busananya, baju terusan berwarna pink , juga ketat. Menampakan lekuk tubuhnya yang padat berisi semenjak bersuami itu. Yang lebih menarik, hanya sepasang tali tipis di pundaknya yang menahan baju itu. Tatanan rambutnya mendukung penampilan seksi itu. Rambut-rambut halus tampak menghisasi lehernya yang jenjang, putih, mulus. Tak pernah Ayu Dewi terlihat secantik itu dari biasanya.

  "Sorry ya mas, agak lama," katanya kepada seorang lelaki di sisi pintu mobil van dengan logo sebuah stasiun TV swasta di pintunya.

 "Lho, Mas Jono yang biasanya jemput saya kemana?" lanjut wanita periang itu, begitu duduk di kursi tengah, di belakang lelaki tadi yang kini duduk di belakang kemudi.
"Sakit mbak Ayu ," sahut lelaki itu pendek sambil menjalankan mobilnya.
“ ooo.. “ ya udah cepetan ya  mas.. saya belum make up nih.. jam 8 nanti acaranya sudah mulai” ujar Ayu Dewi  sambil melihat sepintas pada si sopir sambil memainkan smartphone nya.

Malam ini, Ayu Dewi  akan mengisi siaran live Ulang Tahun S**V bersama rekannya Raffi Ahmad. Acara kali ini memang penuh gengsi. Dimana akan dimeriahkan artis artis ternama sebagai pendukung acara tersebut Produsernya yakin, salah satu faktor tingginya rating adalah duet Ayu Dewi  dan Raffi Ahmad sebagai presenter.

Ayu Dewi tampak sibuk mengecek make upnya lewat sebuah kaca kecil dari dalam tasnya. Lipstik merah tipis membuat bibirnya yang indah itu makin menarik. Ayu Dewi  masih asyik dengan dandanannya, tak sadar sopir terus meliriknya dengan pandangan yang aneh lewat kaca spion. Ia juga tak sadar, tepat di belakang tempat duduknya, seorang lelaki berjongkok, membuka jok paling belakang. Lalu dari balik jok itu, seorang lelaki lain muncul.

Dua lelaki kekar itu lalu duduk di jok belakang, memandangi Ayu Dewi  yang masih asyik dengan bibirnya.

"Siarannya jam berapa Mbak?" lelaki berjaket kulit di belakang menyapanya.
"Jam setengah dela....ehh...kaget aku. Kok tadi nggak kelihatan ada orang," kata Ayu Dewi  sambil menengok ke jok bagian belakang. Heran juga ia melihat dua lelaki berpenampilan kasar itu.
"Kita tadi memang ngumpet," sahut si jaket kulit.
"Kok pakai ngumpet segala," tanya Ayu Dewi  mulai curiga.
"Ya supaya elu nggak tahu," kata lelaki itu, sambil pindah duduk di sebelah kiri Ayu Dewi  . 

Kontan saja Ayu Dewi kaget bukan main mendengar lelaki itu menyapanya dengan 'elu'. 
Apalagi begitu duduk, lelaki itu langsung memegang pahanya.
 "Eiiii....jangan kurang ajar ya!" pekiknya kaget. Matanya melotot pada lelaki kurang ajar itu.
“ ini,, sebetulnya ada apa,,, pasti kalian bukan staff S**V kan.? “ ujar Ayu Dewi  panik.
Lelaki itu tertawa.
“ Lu emang pintar ya.. “ ujar nya mulai menerkan tubuh Ayu Dewi  
“ Eiitsss Lepasss kannn,,,, Jangan kurang ajarr kamu yaaa..” teriak Ayu Dewi  berusaha berontak. 

Dia memandang kaca mobil, semua tertutup dengan kaca film berwarna hitam dan tidak mungkin orang dari luar melihat apa yang terjadi di dalam mobil.
 "Gitu sih belum kurang ajar, gini nih...."
 "Eiiihhh..." Ayu Dewi  memekik lagi, tangan lelaki itu menangkap dan meremas payudara kirinya. 

Presenter dan juga seorang model itu beringsut ke tepi jendela.
"Ka..ka...kamu...mau apa....?" Ayu Dewi  gemetaran sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
 "He he... gue mau...itu," lelaki itu menunjuk bagian bawah tubuh Ayu Dewi  .
 "Memek lu!" "Gue mau gigit pentil lu..." lelaki satunya tiba-tiba ikut nimbrung.

 Ayu Dewi  panik, ia mencoba membuka jendela mobil, tapi gagal karna tiba-tiba seorang lelaki lain menyleinap dari jok belakang dan duduk disebelah kanannya. Sekarang posisi Ayu Dewi  berada diantara kedua lelaki yang berwajah kasar 
."Jangan...jangan...TOLLOOOOONGGGG...." Ayu Dewi  menjerit histeris. Tapi kedua lelaki itu hanya tertawa-tawa.
 "Percuma lu teriak neng. Mobil ini kedap suara..." kata si jaket kulit sambil menangkap pergelangan tangan mungil wanita cantik ini.

Tiba-tiba lelaki itu menyentak tangan Ayu Dewi  hingga wanita itu tertelungkup di pangkuannya. Lelaki yang duduk di belakang kemudian pindah ke sebelah kanannya.  
Ayu Dewi  meronta dan menjerit saat tangannya ditelikung ke belakang, lalu diikat dengan sebutas tali.
. "Wah, ini nih .. pantat bahenol Ayu Dewi  ...kontol gue bisa gepeng kalau kegencet lobangnya," kata lelaki di sebelah kanannya sambil meremas-remas gundukan daging pantat Ayu Dewi  .

 "Kontol gue ngaceng nih, ketindihan toketnya si Ayu Dewi  ," kata lelaki satunya. "Jangannn...jangannn..kalian mau apa....mau uang...saya kasih... berapa...." ujar Ayu Dewi  terengah-engah, panik ketika merasa roknya terusannya ditarik ke atas.

Tapi kedua lelaki itu tak menjawab. Lelaki yang memangkunya malah menyusupkan tangannya ke punggung Ayu Dewi  , melepas pengait BH tanpa tali pundaknya.
"Awwwhhh..." Ayu Dewi  memekik, saat BH itu tiba-tiba dibetot hingga terlepas.

Pada saat yang sama, ia merasakan dinginnya AC menyentuh kulit pahanya.
"Aunghhhh...." ia mengerang, saat pangkal pahanya diremas telapak tangan kasar di belakangnya. Ayu Dewi  meronta-ronta, kedua kakinya menendang-nendang, saat remasan makin keras dan menyakiti kelaminnya.
"Aaaaakkkhhhhhh....mmmmfff...mmmfff," jeritnya tiba-tiba terbungkam ketika lelaki yang memangkunya menekan kepalanya sehingga terbenam di pangkal paha lelaki itu. 
Ayu Dewi  bisa merasakan sesuatu yang menggembung, keras di balik ristleting celana lelaki itu.

Ayu Dewi  hampir kehabisan nafas ketika rambutnya dijambak sehingga ia terpaksa mendongak. Tubuhnya menggigil ketika sebilah belati tajam ditempelkan ke leher jenjangnya.

"Heh  bandel...elu nggak bisa ngelawan tahu..!!!  Mending lu nurut aja yu...., kita nggak bakal bunuh elu tahu.?? . Tapi kalo elu masih bandel juga, gue bisa potong pentil lu!. Lu tahu kan, laki lu  seneng ngisep pentil lu ??? Lu ngerti, hahhh!!??" bentak lelaki itu.

"I...i...iya..." Ayu Dewi  menjawab lemah, air mata menitik di sudut matanya yang indah. 
Tapi tak urung ia merintih dan menggeliat ketika merasakan ujung belati menelusuri bagian dalam pahanya yang mulus, terus naik, lalu menelusuri tepian celana dalam nya yang berwarna putih.

"Udah Brur, cepet copot tuh celana, gue udah nggak tahan pengen lihat memek cewek ngetop ini," kata lelaki satunya, kedua tangannya terus asyik menekan-nekan bagian samping payudara Ayu Dewi  
. "Sabar....semua dapet bagian...he...he..." kata si pemegang belati. Ayu Dewi  menahan napasnya ketika merasa ujung belati menekan tepat di 'pintu' kemaluannya. Rasa takut dan terhina sungguh menyiksanya.
 "Buka lebar-lebar kaki lu neng..." perintah lelaki itu.

Ayu Dewi  gemetar, ia diam saja. Sejuta fikiran berkecamuk di benaknya,
"Ayo cepet buka!" lanjut lelaki itu, kini menekan belatinya agak jauh, sehingga terlihat celana dalamnya menyelusup ke celah bibir kelaminnya.
 "Jangannn...jangan..." rintih Ayu Dewi  .
 "Cepettt!!!" lelaki itu membentak dengan suara menggelegar. Belati ditekannya lebih jauh, sehingga celana dalam Ayu Dewi  mulai koyak sedikit.

Ayu Dewi  mulai terisak, menggigil merasakan logam yang yang dingin menyentuh bibir kemaluannya. Perlahan ia merenggangkan kedua kakinya. Ayu Dewi  agak lega ketika belati itu ditarik. Tapi ia kembali cemas begitu belati itu kembali menyusup ke balik celana dalam katun di bagian pinggangnya.
TESSS... Ayu Dewi  memekik ketika merasa belati itu memutus bagian samping kanan celana dalam nya.

Tubuhnya makin berkeringat saat belati menyusup ke sisi sebaliknya. Dan...sisi yang satu itu pun putus juga. Ayu Dewi  terisak ketika merasa kain celana dalam yang menutup pantatnya ditarik turun. Dinginnya AC mobil kini menyapu pantatnya yang bundar, putih mulus dan padat.

 "Ha...ha....ha....ini baru namanya pantat!" seru lelaki yang memangkunya sambil meremas-remas bongkahan daging pantatnya. Isak tangis Ayu Dewi  makin keras terdengar. Baru kali ini ada lelaki yang tidak dikenalnya melihat dan memegang pantatnya. Terakhir Raffi Ahmad yang sahabat sekaligus selingkuhannya, yang pernah melakukan itu selain, tentu saja suami dan mantan pacarnya Zumi Zola, yang pertama kali memerawaninya.

Perlahan Ayu Dewi  merasakan celana dalamnya ditarik hingga lepas. Kini dinginnya AC pun dirasakannya menyentuh bagian depan pinggulnya yang terbuka.
"Aiiihhh...." Ayu Dewi  kembali memekik begitu merasakan bagian bawah tubuhnya yang terbuka dibekap telapak tangan yang besar dan kasar.
"Hebat, akhirnya gue bisa megang memek Ayu Dewi !!!" seru lelaki di belakangnya sambil terus meremas-remas hingga Ayu Dewi  merintih-rintih.



Lelaki itu kini mulai menjambak rambut kemaluan Ayu Dewi  yang tercukur rapi itu.
"Wah, lu keramas jembut lu pasti pake perawatan juga ya...bagus potongan nya nih...he he..." lanjut lelaki itu, kali ini sambil menarik puluhan helai rambut kemaluan Ayu Dewi  ke bawah, hingga terlihat kulit kelaminnya ikut tertarik.

 "Ayo bilang dong...ini namanya apa," kata lelaki itu sambil menjambak hampir seluruh rambut kemaluan Ayu Dewi  .
Ayu Dewi  hanya merintih.
 "Ayo bilang!!" bentaknya.
 "Ram...ram...rambut..." katanya tersengal menahan sakit.
"Kalau rambut sih ini...," sahut lelaki itu, sambil menjambak rambut di kepalanya.
 "Bilang...jembut gitu..." lelaki itu menjambak rambut kemaluannya lebih jauh.
 "Jem... jem... jem.... BUUUUUUUUUTTTTTT..... awwwwhhh.... saakkkkkiiiit!!!" Ayu Dewi  menjerit histeris. Sebab, begitu dia bilang 'but', lelaki itu membetot rambut kemaluannya sekuat tenaga.

Puluhan helai rambut kemaluan Ayu Dewi  kini berada di genggamannya. Di depan wajah Ayu Dewi dimasukkannya puluhan lembar rambut hitam berkilau itu ke dalam sebuah amplop. 
"Bisa untuk nyantet elu, kapan-kapan perlu," katanya.
 Kedua mata Ayu Dewi  tampak basah oleh air mata.

Ayu Dewi  agak lega ketika tubuhnya ditarik hingga ia kini duduk. Rok panjang terusannya masih tergulung sampai ke pinggangnya, hingga dari pinggang ke bawah terbuka bebas. Sisa rambut kemaluannya tampak menyembul dari sela-sela pangkal pahanya. Tapi kelegaannya hanya sejenak saja. Kedua lelaki di kanan dan kirinya, kini mulai tertarik pada dadanya. Payudara Ayu Dewi  yang makin montok itu, tampak kencang dan bundar. Lelaki di sebelah kirinya mulai membelai-belai lembut payudara kirinya.

“ Wah..tambah montok aja payudaramu neng.. dikasih apa sih.. Duuh... “ ujar lelaki itu menyentuh payudara montok itu dengan gemas.
 "Jangan...tolong...jangan...saya bisa beri kalian apapun, tapi tolong...jangan perkosa saya..." Ayu Dewi  coba berbicara lagi, sementara lelaki di kirinya mulai meremas-remas payudaranya. Seluruh gumpalan daging yang kenyal itu masuk dalam genggamannya.

“ Gua perhatiin lu tambah lama tambah cakep dan montok aja neng... tambah birahi gua liat lu begini “ Lelaki itu terus meremas remas payudara Ayu Dewi  
"Diperkosa aja takut. Kalau mau, elu kan bisa nikmatin juga," kata lelaki di kanannya.

Ayu Dewi  melirik dengan panik, sebab lelaki itu menyentuh payudara kanannya dengan bagian tajam belatinya.
 "I...i...iya...sa..saya...takut...aduh...pelan- pelan.... sakit... aduh..." Ayu Dewi  merintih, lelaki di kirinya mencengkeram payudaranya yang tak seberapa besar hingga ke pangkalnya. Tangan kasar itu seolah hendak merenggut bukit kecil itu dari tempatnya melekat.
Ayu Dewi  menarik napas sejenak, ketika cengkeraman di dadanya dilepas. Tapi kini rasa geli yang aneh melandanya ketika lelaki itu menggerakkan ujung jari telunjuknya di sekeliling putingnya yang masih tertutup bajunya. Hal serupa dilakukan lelaki satunya dengan ujung belati di puting sebelahnya. Perlahan, tanpa bisa dikendalikannya, kedua putingnya mulai mengeras dan Ayu Dewi  mengerang lemah.



 "Kenapa sih takut diperkosa? Lu kan udah nggak perawan. Udah berapa kali sih kontolnya Suami mu masuk memek lu? Udah berapa kali juga kontol si Raffi aen-maen ke situ ?? Lu fikir kami gak tahu hubungan lu ama si Raffi..?? " lanjut lelaki yang memegang belati, sambil terus menggerakkan ujung belatinya, memutari puting susu kanan Ayu Dewi  . 
"Nggak...nggak...bohong itu...saya belum pernah...ti...tidur dengan Raffii.." Ayu Dewi  menjawab dengan panik. Kedua lelaki itu kini memilin- milin kedua puting susunya, perlahan.

""Bohong!" bentak lelaki itu
 "Awwwhhh...be...betul...." Ayu Dewi  memekik, kedua putingnya dijepit keras.
"Biarpun gitu lu pikir kami peduli, sekarang kami pengen juga tubuh lu.. !! “ bentak lelaki itu.
 "Ah...eh...AWWWWW!!!" Ayu Dewi  menjerit lagi, kedua putingnya kembali dijepit dan dipelintir dengan keras.
“ Sekarang  Angkat kaki lu, ngangkang!" lanjut lelaki satunya sambil mulai menarik paha kanan Ayu Dewi  ke atas dengan kasar, sehingga otomatis salah satu kakinya naik keatas dan berada dalam genggaman lelaki itu.
. "Ah...eh, jangan...jangan lakukaaann..." kata Ayu Dewi  mengiba.
“ gua cuma mau liat aja bentar... ayo bukaaa..” ujar lelaki itu.

Ayu Dewi  jelas mempertahankannya dan mereka bergumul, namun tenaga Ayu Dewi  tidak kuat melawan tenaga dua orang lelaki di sebelahnya.
“ Gue kasih tahu ya...kalau lu melakukan apa yang kami suruh, mungkin bisa gue pertimbangkan untuk nggak jadi memperkosa lu!" ancam lelaki itu,
Ayu Dewi  terisak. Ia tak punya pilihan lain. Dipikirnya, mungkin ia akan dilepaskan kalau mengikuti instruksi mereka .

“ Mudah-mudahan  mereka berdua cuma maniak.. gak sampai memperkosa..” bathin Ayu Dewi  .
Perlahan diangkatnya kedua kakinya. Kedua telapak kakinya kini bertumpu di jok mobil yang didudukinya. Posisinya yang demikian membuat bagian tubuhnya yang paling pribadi, terbuka bebas. Ayu Dewi  menggigit bibirnya, tak pernah dibayangkannya akan melakukan hal tersebut di hadapan lelaki yang sama sekali asing baginya. Lelaki di sebelah kanan Ayu Dewi  kini berjongkok di hadapannya. Wajahnya hanya sekitar 15 cm dari Ayu Dewi  's private area. Ayu Dewi  memejamkan kedua matanya yang sayu. Ia bisa merasakan panasnya hembusan napas lelaki itu.
"Hmmm...memek yang hebat," gumam lelaki itu.

Temannya di atas, hanya tertawa sambil terus meremas-remas kedua payudara wanita itu. Tubuh Ayu Dewi  bergetar hebat ketika jemari lelaki itu menyentuh tepi celah kemaluannya, menyusurinya dari atas ke bawah. Dengan hati-hati lelaki itu menjepit dua sisi labia minora Ayu Dewi  yang tampak menyembul sedikit akibat kakinya yang mengangkang lebar. Masing-masing sisi dijepit dengan ibu jari dan telunjuk. Perlahan daging tipis itu ditariknya ke arah berlawanan. Ayu Dewi  diam, tapi tubuhnya terus bergetar, keringatnya bercucuran. 
"Hebat...gue seneng liat  memek yang kaya gini," kata lelaki itu begitu melihat bagian dalam vagina Ayu Dewi  .
"Bener kata orang, bibir atas nggak beda jauh sama yang di bawah. Dalemnya memek Ayu Dewi merah jambu Brur, seger kayak bibir atasnya tebal dan lebar," lanjutnya, memberitahu temannya.

Ayu Dewi  merasa betul-betul terhina mendengar hal itu, tapi ia tak kuasa apa-apa.
"Udah mass... ," pinta Ayu Dewi  memelas,
Lelaki yang berada di hadapan vagina Ayu Dewi  tertawa, Ayu Dewi  merasakan tangan lelaki yang duduk disebelahnya tak bosan-bosan meremas payudara nya dari luar bajunya. Lelaki di bawah, kini menyusupkan satu ibu jarinya ke lubang vagina yang tampak sempit, lalu ibu jari satunya menyusul di sisi berlawanan. Dua telunjuknya pun menyusul. Ayu Dewi  mengerang-erang.

“ Ooooohh... Jannggaaanhh.. Uuuuuhhh.. Uhhh,,,, “ jerit Ayu Dewi  panik menahan rasa geli yang menjalari seluruh syaraf rangsang tubuhnya saat kemaluannya dimasuki oleh dua jari lelaki itu.

Lelaki itu sama sekali tidak merespon permintaan Ayu Dewi  bahkan Perlahan, digerakkannya ke empat jari itu ke arah berlawanan, sehingga liang vagina Ayu Dewi  mulai membuka lebar, membentuk gua kecil.
"Uuugghh ...sakit... sakkiitttt..." rintih Ayu Dewi  
“ Dikit lagi ya neng...." desis lelaki itu terus mengobel gua kecil itu. "
"Sudah-sudah...lepaskan saya..." pinta Ayu Dewi  .
"Sebentar...nanggung..." sahut lelaki itu. Ayu Dewi  kaget bukan main ketika merasakan wajah lelaki itu makin mendekat dan...
 "Aungghhhh...." Ayu Dewi  merintih, meronta hebat, tapi kedua kakinya dipegangi erat dua lelaki. Lelaki itu ternyata menyentuh labia mayora nya dengan lidahnya, lalu dengan kasar lidah itu menyapu ke segenap penjuru bagian dalam vaginanya. Tak kurang 10 menit itu berlangsung, sampai Ayu Dewi  merasakan jemari yang menguakkan liang vaginanya melepaskan tarikannya.

Kini, yang dirasakannya adalah dinding vaginanya yang menjepit lidah lelaki itu. Perlahan, dirasakannya lidah itu ditarik keluar. Sambil menjulurkan lidah seperti anjing, lelaki itu mendongak. Ayu Dewi  melihat lidah lelaki itu berlendir.

"Memek yang lezat...." ujar lelaki itu terkekeh
“ Dasar maniak..” bathin Ayu Dewi  kesal. Nafanya terengah engah menahan rasa malu bercampur birahi melihat perlakuan kedua lelaki itu melecehkannya.
 "Sudah...tolong lepaskan saya..." iba Ayu Dewi  lagi.
"Sebentar, gue mau kasih tahu lu sesuatu. Habis ini, lu pasti minta dientot!" kata lelaki itu, lalu merapatkan lagi wajahnya ke selangkangan Ayu Dewi  .

Ayu Dewi  menggeliat, mengerang, meronta...tapi sia- sia. Lidah lelaki itu dengan buasnya menyapu sekujur permukaan vaginanya. Rambut kemaluannya, tampak basah, melekat ke kulit nya yang putih dan mulai terlihat kemerahan, bekas cabutan yang brutal tadi.
 Lidah lelaki itu lalu menjilati celah vaginanya, kanan dan kiri berganti-ganti.
Lalu... slurrrppp.... slurrppp... "Aunggghhhhh..." Ayu Dewi  mengerang, lelaki itu kemabli menghisap dan menyeruput labia minoranya, kanan dan kiri berganti-ganti. Isak Ayu Dewi  makin keras terdengar.

15 menit telah berlalu, tetapi lelaki itu seperti kelaparan, tak juga henti melahap vagina Ayu Dewi  . Sementara di atas, lelaki satunya merogoh ke balik blus terusan Ayu Dewi  , dia melebarkan bagian bahu Ayu Dewi  hingga gaunnya tersingkap sampai ke bawah bahu Ayu Dewi  . setelah itu dengan cekatan lelaki itu mencopot tali BH bewarna ungu dan mengeluarkan payudara kirinya.
Tampak puting susu payudara montok itu, kecoklatan dengan areola hanya berdiameter sekitar 2 cm, tegak menantang.

“ Uuuh.. montok banget nenen mu neng... “ sahut lelaki itu sambil meremas payudara Ayu Dewi  .
Lidah lelaki itu  pun mulai menyentil-nyentil area sensitif itu. Bersamaan dengan itu, Ayu Dewi  merasa bibir kemaluannya dikuakkan lalu didorong ke atas. Lelaki yang di bawah, memandang tak berkedip, tonjolan kecil berwarna pink di pangkal vaginanya. Dielus-elusnya tonjolan kecil itu dengan telunjuknya perlahan. Akibatnya sungguh hebat. Ayu Dewi  mengerang keras. Ayu Dewi  yang semula merasa luar biasa terhina. Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa pasrah dan mulai merasakan adanya sebuah rangsangan. Beda jauh dari yang pernah dirasakannya ketika sekali jemari Raffi Ahmad pernah 'tersesat' ke balik celana dalam nya.

Meski menolak penghinaan itu, tubuh Ayu Dewi  tak bisa berbohong. Cairan vaginanya mulai menetes, membasahi seputar liangnya. Lelaki yang di bawah, dengan tak sabar, menghisap setiap tetes cairan itu. Sementara lelaki yang di atas, ternyata sudah asyik dengan payudara kanan Ayu Dewi, menyentil-nyentil putingnya dengan lidahnya.

Ayu Dewi  merasa terhina luar biasa, ia merasakan sesuatu yang akan meledak dalam dirinya ketika lidah lelaki itu akhirnya menyapu tonjolan sebesar kacang tanah di pangkal vaginanya. Apalagi, lelaki di atas memegangi sebelah payudaranya dengan kedua telapak tangannya, lalu menyedot-nyedot putingnya sekuat tenaga sambil lidahnya menyentil- nyentil puting di dalam mulutnya itu. Erangan Ayu Dewi  makin hebat saat akhirnya lelaki di bawah menghisap klitorisnya kuat-kuat dan terus menerus.

Punggungnya meregang ke depan, hingga payudaranya membenamkan wajah lelaki yang masih asyik dengan putingnya.
 "Aaannggghhhhhhhhh.... ngghhhh.... nghhh.. oowwhhhh...." tubuh Ayu Dewi  tiba-tiba lemas, tetapi sesekali terlonjak-lonjak di luar kendali dirinya.
Dan.... Ayu Dewi  pun orgasme!!!

Lelaki yang tadi asyik dengan putingnya memandangi Ayu Dewi  yang masih terlonjak-lonjak pelan. Sementara lelaki satunya terus menghabiskan cairan vagina Ayu Dewi  yang menetes seiring orgasmenya.

Tubuh Ayu Dewi  masih lemas, matanya terpejam. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya, karena merasakan sesuatu yang hangat menyentuh mulut liang vaginanya. "Jangaaaaan....jangaaan....jangan perkosa sayaaaaa..!!!" pekiknya sambil meronta, ketika melihat kepala penis lelaki di depannya mulai menguakkan bibir vaginanya.

 "Alaaah...sok tahu lu. Ngaku aja tadi lu keenakan. Lagian memek lu sekarang udah siap...nggak bakal sakit deh..." kata si pemilik penis itu dengan ucapan kasar dan melecehkan. Ayu Dewi  tetap meronta hingga penis lelaki itu kini menjauh dari vaginanya. Wajah Ayu Dewi  merah padam begitu sadar ia tadi mengalami orgasme.

"Tapi...tapi...katanya...saya ... ja... jangan perkosa saya...saya akan beri apapun..." pintanya mengiba.
 "Oke...gue nggak akan perkosa lu sekarang. Betul lu mau lakukan apapun asal memek lu nggak kemasukan kontol?" tegas lelaki itu dengan bahasa nya yang kasar membuat telinga Ayu Dewi memerah.

Lelaki itu menunggu jawaban Ayu Dewi  sambil meremas kedua payudaranya yang tadi belum sempat dilihatnya.
"I...i...iya...." "Bagus, kalo gitu, lu sekarang harus tanggung jawab," tekannya
 "Tanggungjawab?" ujar Ayu Dewi  bingung.
"Iya...kontol gue udah ngaceng...lu harus lemesin pake mulut lu..." perintahnya
"Iiihhh...nggak mau...jangan..." teriak Ayu Dewi  kaget.
"Tinggal pilih, mulut apa memek!!!" bentak lelaki itu, kali ini sambil menggerakkan pinggangnya hingga penisnya kembali menyentuh vagina Ayu Dewi  .
Ayu Dewi  memekik.

 "Aihhhh...ii...iya..." akhirnya ia menyerah. Ayu Dewi  tidak menyangka bahwa hari ini dia bakal sesial ini, dilecehkan oleh kedua pria ini. Dalam hatinya Ayu Dewi  menangis menerima perlakuan ini, namun daripada diperkosa , lebih baik dia menuruti permintaan kedua lelaki bajingan dan maniak ini.

Kedua lelaki itu kemudian duduk di jok lalu memaksa Ayu Dewi  jongkok di hadapan mereka. Ayu Dewi  dengan pandang mata jijik dan takut memandangi penis lelaki yag tadi mengunyah vaginanya.

Ayu Dewi  belum pernah melihat penis sebesar itu, tampak begitu kokoh dengan urat-urat di sekelilingnya dan kepala penis yang keunguan saking banyaknya darah terjebak di situ. Bahkan, penis suaminya pun tidak sebesar milik pria bajingan itu ,
 "Ayo cepet, jilatin dulu..." kata lelaki itu membuyarkan lamunan Ayu Dewi  
Sambil menjepit kedua puting Ayu Dewi  dan menarik ke arahnya. "Aduhh...sakit...iya...iya..." kata Ayu Dewi  .
Wajah Ayu Dewi  memerah saat lidahnya mulai menyentuh kepala penis lelaki itu.
 "Jilatin muter kepala kontol gue, lu kan udah pengalaman jilatin punya laki lu!" ejek lelaki itu dengan sinis.

Sungguh sakit hati Ayu Dewi  menerima perkataan dan perlakukan dua lelaki bajingan itu. namun mau tak mau agar tidak sampai diperkosa, Ayu Dewi  pun menuruti perintah itu, Lidah  Ayu Dewi  perlahan dijulurkannya keluar dan menjilati sekujur permukaan kepala penis di depannya. Ketika menyentuh celah di kepala penis itu, ia merasakan cairan yang asin di lidahnya. 

"Jilat semua dari atas ke bawah, balik lagi, terus gitu..." perintah lelaki itu.
Ayu Dewi  terpaksa menahan jijiknya, menjilat sekujur batang penis itu.
 "Bijinya juga!" tambah lelaki itu. walau makin mual, Ayu Dewi  terpaksa menjilat kedua kantung zakar lelaki itu yang penuh rambut.

Aromanya membuatnya hampir muntah. Tapi Ayu Dewi  terus melakukannya, karena khawatir lelaki itu marah dan memperkosanya. Diabaikannya lelaki satunya yang tak bosan-bosan meremas-remas payudaranya yang tadinya putih mulus hingga memerah.
 "Bagus...eghhhh...lu pinter juga.!! Nah sekarang.. ,Lu isep punya gue,.. ingat Isep..!!!" tekan lelaki itu padanya.

 Ayu Dewi  terdiam sejenak, tapi akhirnya perlahan ia membuka bibirnya yang indah itu. Sungguh pemandangan yang menggairahkan, gadis secantik Ayu Dewi  membiarkan penis yang tampak mengerikan masuk ke mulutnya. Ayu Dewi  hampir tak bisa memasukkan penis yang besar itu ke mulutnya. Walau mulutnya termasuk lebar. Tapi karena ukuran penis lelaki itu memang extra large, sampai akhirnya ketika masuk juga, pipinya tampak menonjol tertekan kepala penis lelaki itu.

"Ayo maju mundur...ahhhh...yang dalem...ouhhh....sedot yang kuat....yak...bagus...ohhh...." Tiba-tiba lelaki itu memegangi bagian belakang kepala Ayu Dewi  dengan kedua tangannya. Dengan kasar, ia kini menggerakkan sendiri kepala Ayu Dewi  hingga penisnya masuk makin jauh ke dalam kerongkongan Ayu Dewi  .
 "MMffff...mmmfff...nggghhh...." suara Ayu Dewi  nyaris kehabisan napas. Kepala penis itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkongannya.

Tiba-tiba Ayu Dewi  merasakan penis di mulutnya itu berdenyut-denyut, lalu pemiliknya mengerang keras sambil menarik kepala Ayu Dewi  hingga wajah nya tenggelam di kerimbunan rambut kemaluannya. Ayu Dewi  seperti kehilangan kesadarannya ketika merasakan cairan kental dan hangat tersembur ke dalam kerongkongannya, memenuhi rongga mulutnya.

Ayu Dewi  hampir tak bisa bernapas, tak ada jalan lain, ia harus menelan cairan itu. Rasa dan aromanya yang aneh membuat Ayu Dewi  hampir muntah. Tapi ia terus menelannya, hingga beberapa kali semburan kecil yang makin lama melemah dan berhenti seiring lemasnya penis lelaki itu di dalam mulutnya.

 "Terus isep, sekalian bersihin kontol gue!" kata lelaki itu dengan napas terengah-engah.
Ayu Dewi  dengan sisa-sisa tenaganya, menuruti perintah itu. Lalu lelaki itu pun menarik penisnya yang lemas keluar. Ayu Dewi  dihempaskannya begitu saja ke lantai mobil. Napasnya terengah- engah membuat kedua payudara montoknya yang tersebul keluar itu  bergerak naik turun.

Dari sisi bibir nya yang seksi menetes cairan putih kental. Kedua matanya menitikkan air mata. Kedua lelaki itu dan sopir di depan hanya terbahak mendengar isak Ayu Dewi  .

 "Gila, ternyata Ayu Dewi  jago nyepong juga. Mani gue disedot abis," kata lelaki di depannya.  
“ Bener bro.. lu liat aja bentuk bibirnya.. kata bibir kayak neng ini namanya bibir sepong.. benar juga kata mereka ya.. ha ha ha ha “ ujar lelaki yang meremas payudara Ayu Dewi  terbahak senang.

Ayu Dewi  betul-betul merasa terhina mendengar dia dilecehkan. Tapi dia hanya bisa diam dan terisak sedih,berharap mereka tidak berbuat lebih jauh padanya dan melepaskannya.
Ayu Dewi  baru mulai bisa bernapas lega ketika lelaki satunya menggerakkan jari telunjuknya, memberi kode agar ia mendekat. Ayu Dewi  panik melihat lelaki itu memegagi penisnya yang sudah menegang, nyaris sebesar milik kawannya.

"Gue juga ngaceng nih...lu kudu tanggungjawab!" katanya.
Lagi-lagi Ayu Dewi  terpaksa mendekat ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik.
“ Aduhh.. ampun mas... saya gak kuat lagi mas..” pinta Ayu Dewi  menghiba.

Namun lelaki itu tidak memperdulikan penderitaan wanita itu, dipaksanya Ayu Dewi  mengulum kontolnya Lalu adegan memalukan tadi pun berulang. Tapi kali ini tak pakai pemanasan dengan aksi jilat. Lelaki itu langsung memaksa Ayu Dewi  menelan penisnya dan memegangi kepalanya, lalu menggerakkannya maju mundur.

Tak sampai lima menit kemudian, kembali cairan kental yang berbau khas menyembur, memenuhi rongga mulutnya. Lagi lagi, Ayu Dewi  kembali harus menelannya.
Kini ia terduduk di lantai mobil, terisak dengan sekeliling bibirnya tampak cairan sperma. 

"Nggak usah nangis...kata dokter Boyke, orang kagak bakal hamil kalo nelen mani...he...he..." kata lelaki terakhir.
 "Sudah...mas.. ? sekarang tolong lepaskan saya...." pinta Ayu Dewi  lagi.
"Sebentar, masih ada yang harus lu kerjakan supaya nggak gue perkosa," sahut lelaki di depannya.
Ayu Dewi  terdiam, dia sudah sedikit putus asa... 

Ayu Dewi  tak tahu lagi kemana mobil ini berjalan.pikirannya sudah setengah linglung, menahan penderitaan bathin akibat pelecehan yang dialaminya.  Apalagi, dari posisi duduknya, ia tak bisa melihat leluasa keluar. Ia hanya bisa melihat tiang listrik atau pepohonan. Yang jelas, ia bisa mendengar, suasana jalan tampaknya makin sepi.

Sampai akhirnya, mobil itu berhenti, lalu terdengar suara seperti pintu gerbang dibuka. Mobil kemudian kembali berjalan, lalu berhenti di dalam sebuah garasi yang luas.
Ayu Dewi  kembali mendengar, kali ini suara rolling door ditarik turun. Dua lelaki itu lalu keluar sambil menyeret Ayu Dewi  turun.

 "Tolong, ikatan saya dilepas..." kata Ayu Dewi  dengan suara pelan.
Seorang lelaki kemudian berusaha melepaskan ikatan tangan Ayu Dewi  .
 "Eh...eh...entar dulu. Lu enak, gue belon dapat bagian. Nih, kontol gue juga ngaceng, butuh saluran!" ujar lelaki yang merupakan sopir mobil itu.
Alaah...entar juga bisa. Dia udah ditunggu bos nih," sahut temannya.
"Sebentar aja, gue janji, lima menit aja!" pintanya.
"Ya udah, cepet..." akhirnya satu lelaki itu megabulkan permintaan temannya itu
 Ayu Dewi  tampak panik dan ketakutan.
"Jangan...sudah..sudah cukup...jangan..." rintihnya saat si sopir memaksanya berlutut.
Penis lelaki itu menyentuh hidungnya yang mancung.
"Nggak usah bawel ah...cepetan...lima menit aja...buka mulut lu...nah gitu...ahhh....bagus..." kata si sopir, lalu satu tangannya menarik kepala Ayu Dewi  hingga bergerak maju mundur.

Betul saja, sekitar lima menit kemudian, semburan sperma kembali memenuhi rongga mulut Ayu Dewi  . Cuma kali ini, lelaki itu langsung menarik keluar penisya, sehingga semburan kedua, ketiga dan keempat mendarat di sekujur wajah Ayu Dewi  .

 Lelaki itu tertawa-tawa sambil membersihkan penisnya dengan  ujung  gaun terusan Ayu Dewi  .
"Makasih ya... Mbak Ayu " katanya dengan logat Jawa yang kental sambil meremas kedua payudara montok Ayu Dewi  , lalu tangannya menyempatkan meremas pangkal paha artis cantik itu.

Sementara Ayu Dewi  terisak. Bibirnya betul-betul belepotan sperma kini, begitu pula kening, pipi dan di sudut matanya.
"Gila lu...bikin kotor aja..." kata lelaki yang pertama memaksa Ayu Dewi  melakukan oral seks, sambil melepas ikatan tangan artis itu.

Begitu terlepas, Ayu Dewi  dengan cepat membenahi bajunya, kembali menutup kedua payudaranya. Ayu Dewi  kemudian menerima cabikan celana dalam pink nya dari lelaki di depannya.
Dibersihkannya wajahnya yang belepotan sperma dengan cabikan celana dalam nya sendiri.

 "Ayo, bos udah nunggu..." kata lelaki berjaket kulit sambil melangkah ke sebuah pintu di salah satu sudut garasi. Ayu Dewi  tegang menunggu apa yang akan terjadi di balik pintu itu. **