Senin, 14 November 2016

Tante Ida, Tetanggaku yang Menggairahkan I




Tante Ida begitu biasa nya aku menyapanya, adalah seorang ibu rumah tangga yang baru tinggal di depan rumahku. Dahulunya rumah yang berada tepat didepan rumahku itu sering kosong,  pemiliknya tidak pernah nampak, hanya setahuku pemiliknya berdomisili di luar provinsi,  

Tante Ida, suami serta seorang anaknya yang baru kelas 2 SD ini baru sebulan ini mengontrak di depan rumahku itu. Tante Ida sendiri orangnya selain cantik juga ramah, berkulit putih, tinggi, putih berbadan agak lebar, layaknya ibu-ibu yang sudah melahirkan. Kutaksir usia Tante Ida ini sekitar 40 tahunan , sepertinya beliau keturunan bule, karena wajahnya yang rada rada indo. 

Sedangkan suami nya bersifat pendiam, kurang ramah dan tidak mau bertegur sapa walau sudah berpapasan, Jauh bertolak belakang dengan sifat Tante Ida yang ramah dan murah senyum. 



Kata Tante Ida, suaminya lebih sering bertugas keluar kota, pulangnya sekali dalam seminggu bahkan lebih. Hal itu aku ketahui karena aku sering mengobrol dengan Tante Ida saat suaminya tidak berada di rumah. Sebagai warga baru di perumahan, Tante Ida mengaku padaku dia merasa nyaman ada teman ngobrol disana. Dan katanya cuma aku lah teman yang mau ngobrol dan beramah tamah di komplek tempat kami tinggal itu. Kuperhatikan juga setiap paginya Tante Ida mengantar anak nya ke sekolah jam 7 pagi dan menjemputnya jam 2 siang.



Setiap sore, selepas pulang kuliah hampir tiap hari aku berpapasan dengan beliau. Karena pribadinya yang ramah, kami menjadi cukup akrab. Kami sering mengobrol saat waktu senggang pada sore hari, apalagi jika saat sore sore kami sama sama menyiram tanaman di halaman rumah masing masing… Tante Ida suka  bicara panjang lebar padaku, sampai kami bertukar nomor Handphone dan pin BB

Komplek tempat aku tinggal memang jarang ada tetangga seperti Tante Ida. penghuninya cuek, sibuk dengan urusan masing-masing dan bahkan tidak saling mengenal. Komplek tempat aku tinggal berbentuk residence, Rumah rumah disini cukup besar dan mewah, tempat tinggal kalangan menengah keatas. membuat terkadang satu tetangga tidak saling mengenal satu sama lain, terkadang saat berpapasan pun saling acuh tak acuh dengan tetangga yang lain. Aku sendiri tinggal disini dikarenakan rumah ini pemberian orang tuaku

Terkadang saat aku berada di kamar atas, aku sering mengintip kearah rumah Tante Ida, Sering kuperhatikan sore sore Tante Ida duduk melamun di depan beranda rumahnya. Mungkin karena kesepian, tidak ada temannya mengobrol. Suami nya pulang sekali seminggu dan anak mereka mungkin sedang tidur. 



Sebagai ibu rumah tangga tentu saja membuat nya jenuh dengan rutinitas hariannya. Ditambah lingkungan tempat tinggal yang individualis. Membuat Tante Ida sebagai warga baru membutuhkan teman bicara, karena ibu ibu sebaya Tante Ida banyak yang bekerja pergi pagi pulang malam. Hingga tidak punya waktu untuk menyapa apalagi ngobrol.

Aku sendirian tinggal di rumah pemberian orang tuaku ini lah yang menjadi selalu menjadi kawan bicara Tante Ida, ditambah lagi rumah kami berhadap hadapan. Terkadang Tante Ida mau juga aku ajak cerita dan bicara hal hal yang menyerempet kiri.

Lama lama imanku goyah juga melihat tetangga ku itu, wajahnya yang ramah, rambutnya yang pirang, kulitnya yang putih badannya yang tinggi dan montok, pokoknya selera ku banget.. ibu-bu. Hehehe..



Pada hari itu, selepas bercinta dengan Buk Endang, dan kuantar beliau pulang dengan mobilku. Pada malam harinya setelah kembali ke rumah, aku mengganti pakaian ku di kamar atas, yang jendela nya berhadap hadapan dengan rumah Tante Ida, kebetulan saat mengganti pakaian aku bertelanjang bulat, dan aku lupa bahwa gorden kamar atas belum kututup, hanya tertutup dengan gorden transparan, itu pun kusadari saat aku berada di depan cermin, kulihat dari cermin, tampak jendela kamar atas rumah Tante Ida juga terbuka, dan... aku rasa ada yang mengintipku dari balik jendela rumah Tante Ida....

Aku mencoba memastikan dan berjalan menuju ke arah jendela dengan bertelanjang dada saja, kuawasi dengan cermat, gorden rumah Tante Ida tampak terbuka dan bergoyang... aku berpendapat Tante Ida sedang sendirian berada dalam rumah nya itu sedang mengintipku dari jendela rumahnya .... 


Aku tak ambil pusing dan terus menatap ke arah rumah Tante Ida, berharap tetanggaku yang cantik itu menyuruhku datang kerumah nya dan mengajaku..... ahhhh.... aku coba menepis khayalanku dengan menutup  jendela kamarku itu.

Besok nya iseng iseng kuintip lagi jendela atas, namun jendela rumah Tante Ida sudah tertutup.. Terkadang aku  membayangkan suatu saat aku dapat menikmati tubuh perempuan sintal itu ..

Hingga saat itu tiba, saat sore aku pulang kuliah kulihat Tante Ida sedang melamun di teras rumahnya, saat kutanya ternyata anaknya sedang pergi dalam beberapa hari dengan suaminya ke rumah neneknya. Wah.... Ini kesempatan bagiku untuk merayu dan memperdaya si cantik Tante Ida untuk bercinta denganku


Maka malam harinya aku beranikan menelepon diri Tante Ida dengan alasan aku tidak dapat menggunakan oven ku  untuk membakar ayam. Tante Ida tertawa renyah mendengar ceritaku dari telepon
“ hmm… kalau tante nggak keberatan,  bisa nggak tante ke rumah saya sebentar? bantuin saya dong , mana tahu ayamnya masih bisa diselamatkan ?..” candaku padanya lewat telefon. 
Tante Ida tertawa dari seberang mendengar penjelasanku

“ ngg… mau siih.. tapi kamu kan tahu, sekarang sudah malam… nggak enak aja dilihat sama tetangga malam malam tante masuk ke rumah kamu…. “ ujar Tante Ida diseberang dengan suara lirih

“ ayolah Tante… sama siapa saya minta bantuan urusan beginian kalau nggak sama Tante? daripada nanti saya kelaparan..?” pintaku terus membujuknya

“ hmm… oke deh…kamu tunggu disana ya, saya langsung kerumah kamu”  ujar Tante Ida, suaranya terdengar seperti mendesah membuat dadaku tambah deg deg an. Lalu Tante Ida pun menutup telepon


Tak lama kemudian terdengar bel rumahku ku bedering, bergegas kubuka pintu dan kudapati si cantik Tante Ida sudah berdiri tersenyum manis di teras rumah ku. Tante Ida amat cantik malam itu, mengenakan mantel, rok diatas lutut dan baju dalaman. Rambut pirang nya diikat kebelakang, memperlihatkan lehernya yang putih mulus. Membuat dadaku semakin deg deg an, aku pun mempersilahkan nya masuk dan beliau pun masuk kedalam rumah ku. Tak lupa aku menutup pintu kembali


“ dimana sih oven nya? cowok kok nyoba masak..? ada ada saja kamu ini bryy..  ” ujarnya tertawa renyah padaku sambil melirik ke bagian dalam rumahku
“ Itulah.. tante… saya lagi malas keluar beli makan… ada ayam mentah di kulkas, iseng iseng saya coba bakar pake oven … hasil nya… yah, begini deh..” ujarku tertawa

Aku pun membawanya nya ke dapur dan menunjukan oven ku. Sesampai disana Tante Ida, membuka mantelnya dan meletakannya di atas kursi meja makan,  dan woow.. sungguh suatu pemandangan indah.... Tante Ida hanya mengenakan tank top berwarna ungu pada malam itu.... hingga leher, bahu, punggung, dada dan pahanya yang putih itu terlihat sempurna di hadapanku.



Tante Ida tampak cuek dan tidak risih sama sekali dengan pakaian yang super sexy yang dipakainya malam itu ke rumahku. Dengan tenangnya Tante Ida  membuka oven dan melihat isi didalamnya
“ wah, ini sih kamu nyetelnya ovennya terlalu panas .. makanya jadi gosong begini...” ujar Tante Ida  menatapku sambil menggelengkan kepala sambil terkekeh
“ Sudah gak bisa terselamatkan lagi ayamnya… udah gosong !.. Gak usah kamu makan ya.." ujarnya
" atau... ada lagi ayamnya di kulkas kamu..?” Tanya Tante Ida lagi
“ Ngg.. ada sih saya liat dua potong lagi di kulkas…” ujarku sambil menggaruk kepala yang tak gatal
“ Baiklah, biar tante bantu panggangkan aja sisa nya ya…” ujarnya menawarkan bantuan
“ Nggak apa apa tante.. silakan.. duh, jadi merepotkan tante nih…” ujarku terkekeh
“ Nggak apa apa.. ntar kamu kelaparan malam malam nggak bisa tidur lagi” ujar nya balas terkekeh melihat ekspresi wajahku




Lalu Tante Ida pun membantu memangangkan ayam lagi.
Sambil menunggu kami berdua ngobrol pajang lebar dan bercanda di meja makanku , aku terus menatapnya penuh arti namun Tante Ida hanya tersipu dan berusaha mengalihkan tatapannya dariku dengan cara menoleh ke arah lain

Untuk menghangatkan suasana, Aku menawarkan Tante Ida minuman, Tante Ida pun tidak keberatan saat kusuguhkan wine botol untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin itu. Sambil kemudian melanjutkan obrolan dan bercengkrama dengan Tante Ida, kami bercerita yang ringan ringan saja. Agar relax dan tak banyak berfikir. 
 Hingga akhirnya oven ku pun berbunyi .. 
“ Nah.. ayam kamu sudah matang tuh Bry.. kamu sudah bisa makan malam sekarang.. ”  ujar Tante Ida mengeluarkan ayam tersebut dari oven dam meletakkan di meja makan



“ Wahhh … makasi banget ya Tante… “ ujarku girang disambut anggukan dan senyuman manis Tante Ida
“ ayo mari kita makan tante.. sekalian… ” tawarku padanya
“ nggak usah.. kamu aja yang makan,,, tante udah makan malam tadi… lagian kan sekarang sudah malam .. tante mau pamit pulang dulu ya…” ujarnya ramah
“ sebentar lagi dong nte.. nggak usah buru-buru.. biar ada teman saya ngobrol sambil makan “ujarku coba  menahannya agar jangan pergi

Akhirnya Tante Ida pun mengalah, Tante Ida menemaniku makan sambil duduk di sofa sambil nonton TV. Ngobrol sambil bercanda, Tante Ida tampak bersemangat sambil meneguk wine beberapa kali.



Tampak Tante Ida menikmati suasana ini, mungkin dengan adanya aku cukup untuk mengusir rasa kesepiannya di rumah. Sambil makan kuperhatikan, mata Tante Ida sudah tampah sayu, mungkin pengaruh minuman wine yang kuberikan padanya . Tapi Tante Ida tampak mencoba melawannya

Deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. seringkali ucapannya secara tidak disadarinya,  disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu. Mungkin Tante Ida tak biasa banyak minum wine, hingga Tante Ida mabuk seperti sekarang

“ Bryan… kepala saya kok pusing ya… pandangan saya berkunang kunang..” ujar Tante Ida memegang kepalnya, mungkin beliau merasa bingung dengan apa yang sedang melanda alam sadarnya


“ apa ada pengaruh dengan makanan ini..? “ Tanya Tante Ida lagi
“ Nggak mungkin lah nte… makan ayam panggang bisa bikin ngantuk… atau tante kebanyakan minum wine ini kali” ujarku berusaha memberinya pengertian
“ Mungkin sih..” ujar nya
“ Selama ini Tante sering minum ? “ tanyaku
“ Ngg.. Nggak Bryan.. tapi minumannya enak gitu rasanya…” akunya
“ Pantesan.. brarti Tante mabok sekarang “ ujarku
“ Ah,.. nggak lah … saya hanya pusing dikit” ujarnya
“ Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Bry.. Mungkin kalau dibawa tidur pusing nya hilang“ ujar Tante Ida lirih. 
Aku hanya mendiamkan saja dan membiarkan Tante Ida berdiri

Namun begitu berdiri dari sofa Tante Ida langsung ambruk lagi ke sofa
“ Duhh.. kenapa begini ya …” ujarnya cemas
“Tante istirahat saja disini dulu.. menjelang pusing tante hilang...” ujarku mulai mendekat duduk padanya.
Saat itulah aku merasa kesempatan itu datang , melihat tubuh molek Tante Ida yang lemas disebelahku itu membuat darahku berdesir
Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, aku duduk disebelahnya dan mengusap kepala Tante Ida
“ Tante baik baik saja… ? “ tanyaku sambil membelai rambutnya
“ Kayaknya kamu benar Bry… saya mabuk.... bisa tolong antar saya pulang Bry..” ujarnya memegang erat tanganku.
“ Ya… tapi Tante istirahat dulu… nanti dilihat tetangga gak enak saya membopong Tante ke rumah.. mending saya bopong Tante ke kamar..” pancingku, Tante Ida tampak tertawa kecil
“ Kamu ada ada saja Bry .... Masak Tante mau kamu bawa ke dalam kamar kamu… antar saya ke rumah saja Bry.... saya pusing beneran lho.” ujarnya.

Aku mendiamkan saja dan kutunggu  reaksi Tante Ida sejenak hingga dia tidak mampu berfikir jernih. Tante Ida masih duduk di sofa sambil terus bilang kepalanya pusing, Setelah sekitar 10 menit, nampaknya reaksi wine itu benar benar sudah menguasainya, Hal ini tampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah.

Dia sudah tidak mampu lagi focus, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku. Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang risih padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh minuman itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.


Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas paha putihnya yang terbuka. Tangan itu demikian halus dan lembut, dadaku deg deg an
Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..

”Bryann.. .”, ujar Tante Ida mendesah lirih saat kugenggam tangannya yang semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.



Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh tangan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang. Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata

“Bryann ohhh….  Kamu … kamu.. mau ngapain…?”ujar Tante Ida gelagapan.

Dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya. Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku. Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Tante Ida, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Bry... Ka.. Kammuu ..hhh.. apain Tanteee..???  … Ouhmmhhh… mmmhhhh…”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya kupegang erat dengan tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama.

Tante Ida terus memberontak, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku. Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangan tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.
“ Mhhhh…mppphhh…ngghhhhh…” bunyi bibir kami saling berpautan

Ohh.. betapa terpuaskan rasanya dahaga ku saat merasakan kecupan bibir indah Tante Ida, . Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buah dada yang tertutup oleh baju blousenya

Dan kedua tangannya pun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku. Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…


”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..ni Bryaann..??? ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidak mengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang putih mulus, secara perlahan tangan kananku merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya..

”Ouhhh….aahhh…”

Kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buah dadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buah dadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju yang dikenakannya

“ouh…ouh…ohhh…..”

Erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buah dadanya…, keringat sudah membasahi tangannya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…

Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah. Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buah dada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya.
Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya putih Tante Ida… sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang mulus..

"Ouhhh Tante Ida... … sungguh halus dan lembut terasa betis indah mu.... ", membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik resleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Tante Ida melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana
”Aaaihhh…”.

Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku. Belaian tangan kananku semakin naik ke atas aku menarik rok Tante Ida sampai  ke ujung pahanya yang putih mulus. Cukup lama tanganku bermain di pahanya yang sangat mulus., Tante Ida semakin menggelinjang ketika tanganku terus terusan mengelus dan menelusuri pahanya terus ke bagian atas sampai ke daerah selangkangannya lalu kembali turun ke pahanya dengan berulang ulang, hal ini membuat mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat

“ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku sekarang langsung  menuju pangkal pahanya. Belum sampai keterkejutannya, Tante Ida kembali meringis tertahan saat tanganku merambat kebawah membelai  paha nya yang super mulus.. …
Tante Ida berusaha mengatupkan kedua pahanya agar tanganku tidak leluasa menyentuh daerah terlarangnya, namun dengan sabar terus kujamahi pahanya dan pelan pelan kubuka sepasang paha Tante Ida yang terkatup itu , Tante Ida akhirnya menyerah, sedikit demi sedikit dibukanya kedua pahanya hingga tanganku kembali merangsek ke bagian paha atasnya, tepat dibawah area terlarangnya
.,
“ Nnghhhh..” desahnya saat tanganku bermain di pahanya, perlahan kemudian tanganku menuju ke pangkal pahanya lagi dan Tante Ida kembali tersentak saat tanganku sudah menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam nya.

Terasa bahwa di celana dalam nya, bagian yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya, walaupun masih terhalang celana dalam berwarna pink yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal

“Ouh….ouhhhh…”desahnya berulang ulang. mata indahnya sayu menatap wajahku, dan Tante Ida menggigiti bibirnya dan memandangku dengan pandangan yang pasrah.
Tanganku dengan lihai memijiti bagian yang indah itu, jariku mengusap ngusap selangkangan Tante Ida di balik celana dalamnya.

“ Uuuugghhh.. Bryyy….. Ngghhhh…ouuuhhhh…” desah Tante Ida saat jariku bergerilnya mengobel alat kelaminnya. Tangannya mencengkam erat tanganku yang terus menjamahi daerah vaginanya

“ Buka ya tante…’ bisiku padanya

Ketika tangan kananku berusaha menarik celana dalam yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Tante Ida membantu meloloskan celana dalam nya itu dari tubuhnya, hingga ... sekarang tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi..,

Kemudian pahanya kubuka lebar-lebar.., tampak lobang vagina Tante Ida menganga indah ditumbuhi bulu bulu lebat itu sudah basah oleh cairan yang keluar dari lobang kenikmatan nya. Pertanda dia sudah sangat bernafsu, Aku segera memposisikan kaki kiriku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kananku terlipat dan bertumpu oleh lututku di atas kursi.

Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui resleting yang terbuka ke lubang vagina Tante Ida yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..

”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan… Blessshhh….

Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan..

“AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…”jerit Tante Ida mengerang penuh kenikmatan. Matanya terbelalak dan badannya menggelinyang merasakan penisku yang sudah memasuki lobang kawinnya.

Tanpa dapat terkendali Tante Ida mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Tante Ida semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.
“ Ohh... Tanteeeeee....!!!!! enaknya Ohh...!!!!” desahku memejamkan mata menikmati indahnya sensasi menyetubuhi  tetangga ku itu.

Hal yang luar biasa dari ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya..
Kedua tangan Tante Ida merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat


“Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..”
Kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi.

Aku terus mengatur penetrasi sodokan pinggulku menggenjot vagina nya. Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama. Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang.

Lalu secara perlahan aku mulai mengayun kembali pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya.
Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku. Perlahan namun pasti, pantat Tante Ida merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku.

Mulutnya pun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan

“Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnya pun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…”

Erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku

“ Buka dong bajunya nte..” ujarku sambil membantunya melepaskan baju nya. Aku mencabut penisku dalam vagina Tante Ida, yang dengan cepat berdiri hingga berhadapan dengan ku..

Kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dengan tergesa Tante Ida melepaskan tank top dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan telanjang bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya. Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang
Tante Ida mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu… Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah.

Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kirinya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Tante Ida pun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnya pun erangan nikmat
“Auuuuhhhhh……Mpphhhhh..” ringis Tante Ida tertahan saat penisku amblas dalam jepitan lobang sorgawi nya

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat pada leherku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Tante Ida yang khas… …

"  Oooohhh.. nikmaaat Bryaann..awwwwhhhhhh.. terusss...ouuh,,teruss.. sssshhhh… ”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Tante Ida semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan lehernya yang putih dan kenjang, maka mulut dan lidahku langsung mencium dan mencumbu leher nan indah itu.. sementara terasa buah dada Tante Ida menempel pada dadaku, tubuhnya terhentak hentak oleh penetrasi genjotanku pada vaginanya dengan posisi menyetubuhi nya dengan cara berdiri, kurasa juga putting susunya semakin menonjol keras. Tubuh nya bergoyang naik seiring dengan genjotan penisku dalam lobang kawinnya. Dengusan nafasnya terdengar memburu pertanda dia berpacu penuh nafsu mengejar kepuasan bathinya. Tante Ida  semakin mengerang nikmat…

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…uuuuhh,, shhhh,,, oohhh,,,”

Gerakan tubuh Tante Ida semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, dengan sigap aku menahan bobot tubuhnya agar sepenuhnya berada dalam gendonganku. kedua tangan Tante Ida bergelayut pada leherku, tanganku menahan tubuh Tante Ida dengan cara memegang kedua bongkahan pantatnya nan bahenol itu,
Kemudian kurasa Tante Ida melonjak-lonjak kan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku dan menjerit semakin keras …

”Uuuuuu.. Bryannn,,,, !!! Uuuhh,,,, ouhh…ahhh…” desah Tante Ida mengerang penuh kenikmatan

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi… Tak lama kemudian Tante Ida merapatkan tubuhnya padaku. 

Kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku dengan gemas. Tubuhnya mulai terasa kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian

“AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….”

Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan. Lalu aku menurunkan nya dan dia terduduk di sofa sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya. 


Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, dari kedua matanya tampak gairah Tante Ida masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk di hadapannya.

Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba Tante Ida berdiri dihadapanku, secepat kilat Tante Ida duduk diatas pangkuanku dengan posisi membelakangiku,  kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak.. Aku mengerti apa yang diinginkan Tante Ida, Kubuka kedua pahaku, hingga batang kejantanku yang menjulang tegak itu ditatap Tante Ida dengan tatapan mupeng
Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh….
“AUUWW…. Auww…. Ahhhh…” desah Tante Ida saat kulit kemaluannya bergesekan dengan kepala penisku. Aku pun meringis menikmati sensasi itu

Secara perlahan Tante Ida menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..

”Aaahhh……” jerit kami tertahan

Erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pinggulnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

“ Ooohh… nggghhh… sshhh,….uoooohhh… ughhhh…” desah kami bersamaan menagut nafas seirama dengan genjotan Tante Ida. Sungguh nikmat rasanya saat Tante Ida menggenjotku dengan goyangan pinggulnya yang naik turun. Dari suara desahannya beliau tampak menikmati penisku yang tegak menjulang dan mengobok obok lobang kawinnya

Semakin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buah dadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol. Kepala Tante Ida bergerak kesamping dan mulai mencari bibirku dan diciumnya dengan dengusan penuh nafsu.

Kami pun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat
“AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………” jerit Tante Ida menjemput orgasme yang datang

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu pada Tante Ida untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta Tante Ida untuk posisi nungging dengan kaki kirinya di lantai sedang kaki kananya di sofa sedangkan kedua tangannya bertahan pada lengan sofa. 
Lalu kaki kiriku menjejak lantai sedang kaki kananku  kuletakkan dibelakang Kaki kanannya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh….

“Auw… Auw… Ouhhhh….” Jerit Tante Ida dengan erotis

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya. Tante Ida pun memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat.
 “ Ouh… ohhh…ayoo.. Bryannn terussss …ayoohh…tancepiiinn ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme. Tante Ida semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat...

“Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….” Jeritku meringis merasakan seluruh persendian tubuhku bergentar hebat

Dan Tante Ida pun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan …
Cretttt…. Creeetttt… crettttt ….. spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat…

Tubuh Tante Ida ambruk telungkup dikursi dan tubuhku pun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian… punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Dan kuperhatikan Tante Ida pun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi. Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Tante Ida yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Tante Ida barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. 

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka, kedua tanganku merengkuh tubuh dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Tante Ida hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam. Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama.
Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Tante Ida yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang.

Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya.. Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.
Tante Ida menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..

”uhhh……”hanya itu yang keluar dari mulut nya

Mataku semakin menyusuri seluruh tubuh Tante Ida yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh tetanggaku itu memang benar-benar sempurna …… Putih , halus, montok dan mulus…. Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh tetangga ku indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Tante Ida nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya… Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku.
Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Tante Ida sepuas-puasnya sampai pagi. Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Tante Ida terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.
Tante Ida menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..

”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Tante Ida yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Tante Ida kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat. Lambat laun gairah Tante Ida kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan

“uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap tubuh bugil Tante Ida… Mulai dari paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buah dadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras

“Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…”

Disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya. Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka, lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin oleh sisa sperma ku didalamnya.
Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku. Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat.
´Uuuuhh.. Bb ryaaaann… hhhhh..” desahnya lemah

Dan akhirnya karena tak tahan dengan rangsangan yang kuberikan, Tante Ida bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, Tante Ida langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga……. Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut. Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…
”Uhhhh…..”

Mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Tante Ida pun mengaduh.

”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan

“Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Tante Ida dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Tetanggaku ini amat pandai bercinta dan liar … Tante Ida begitu liar dan lincah di ranjang.
 ”Ouhhhh…. ouhhhh …”

Aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buah dada itu kuremas-remas gemas. Tante Ida semakin mengerang nikmat

“Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buah dadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya….

Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras

“Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya….Tante Ida baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini…. Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…

”Bryaaann... Kammmu.. hhh.. . Benar-benar luaarr biasaaa….”ujar Tante Ida polos tanpa disadarinya


Lalu Tante Ida mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buah dadanya yang montok

Tante Ida tertidur pulas menikmati indah nya orgasme bercinta denganku, setelah merasa sudah cukup kuat, aku mengangkat tubuh Tante Ida yang semula tidur dan bersandar didadaku menjadi kesamping. Kubiarkan Tante Ida tidur pulas di ranjang kamarku ,

Aku meninggalkan Tante Ida sendirian di kamarku, menikmati nikmat senggamanya.. begitu puasnya terasa… dapat menggagahi Tante Ida.. tetanggaku yang menggairahkan itu


Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh  Tante Ida sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu aku mengajaknya bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh….Tante Ida pun berkali kali kubuat menjerit menerima orgasmenya.  Dan kami pun tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Tante Ida menjerit..

”Apa yang telah terjadi Bryaan!!!??? Kenapa.. kenapa bisa begini..?!!!”ujarnya bingung dan tak percaya menyaksikan dirinya habis tidur berada satu ranjang denganku.

 
Aku bangun, dengan setengah sadar... Tante Ida buru buru menutupi tubuh bugilnya dengan selimutku dan menjauhkan tubuhnya dariku dan menatapku dengan penuh kebencian

Setelah itu pelan pelan kujelaskan kejadian semalam, Tante Ida mendegarkanku dengan pandangan tak percaya sambil menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengomel panik....  Sambil berucap tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

"kenapa tante..? tante begitu luar biasa semalam..?" tanyaku
" Nggak Bryan... ini sebuah kesalahan Bryan... saya yang salah.. seharusnya saya selaku yang lebih dewasa dari kamu seharusnya dapat mencegah.. tapi... saya malah larut dan terbuai.." tuturnya penuh sesal
" saya minta maaf Bryan.." ujarnya menatapku sendu dan menatapku dengan tatapan kosong

" Nggak perlu minta maaf tante.. semua yang terjadi semalam begitu natural,, naluriah... karena saya tertarik sama tante begitu juga tante.." hiburku pada nya sambil mendekatinya dan mengelus rambutnya.

Namun Tante Ida menampik tanganku, dan menutup matanya.. aku diam dan menunggu reaksi tetangga ku itu, Tante Ida menunduk dengan tatapan kosong

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis

"Saya harus pulang sekarang. Bryan !”ujarnya menggelengkan kepada dan menatapku tajam

Aku hanya diam dan mengangkat bahu. Kulihat Tante Ida bangkit dari ranjang dengan membungkus tubuh bugilnya dengan selimut sambil menatapku tajam
Melihat itu aku pun keluar kamar membiarkan Tante Ida sendiri di kamar, Lalu tampak Tante Ida keluar kamar mengenakan selimut dan mengambil baju rok dan pakaian dalamnya yang berserakan di sekitar sofa ruang tengah. Tante Ida kembali masuk ke kamarku dan menutup pintu. Aku hanya diam dan memunguti pakaianku yang tercecer di sekitar sofa dan mengenakannya kembali, 

Tak lama kemudian Tante Ida keluar dari kamarku dan sudah memakai seluruh pakaiananya. Dia sempat menatapku sebentar, aku pura pura tidak melihat dan memandang ke arah lain dan setelah itu Tante Ida pun melengos pergi dari rumahku tanpa permisi


Aku membiarkan nya pergi begitu saja.. bagiku yang terpenting aku dapat menuntaskan hasratku untuk menikmati tubuh indah tetanggaku itu.... hehehehehe.....







Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar