Setelah kejadian hari dimana aku memperdaya dan memperkosa Tante Ida,
tetanggaku yang super montok dan menggairahkan itu, jika berpapasan
denganku do'i terus
membuang muka, tidak mau lagi dia menyapa apalagi bercerita atau bercengkrama
di sore hari denganku. Setiap berpapasan tetanggaku itu menatapku dengan penuh kebencian, Aku beruntung Tante Ida tidak melaporkan kejadian itu pada suaminya. Mungkin beliau malu menceritakan pada suaminya bahwa dia telah berhubungan badan dengan ku. Dan kurasa beliau pun telah
memikirkan apa akibatnya nanti.
Suaminya bernama Bram, berusia sekitar 45 tahun, merupakan seorang
pria dengan wajah tirus dan dingin. Sangat mahal senyum dan tidak bersahabat,
Suatu pagi tak sengaja kulihat suami Tante Ida membawa banyak barang ke
dalam mobil, sepertinya akan bepergian cukup lama. Kulihat raut wajah Tante Ida cukup
sedih, karena mungkin membayangkan sekian lama lagi tidak akan bertemu suaminya. Hanya dia berdua anaknya
saja di rumah.
Dua hari berikutnya, aku tidak masuk kuliah karena teori sudah habis. Dan
aku sebelumnya juga tidak menceritakan hubungan perselingkuhanku dengan Buk
Endang dosen ku pada Tante Ida , begitu juga sebaliknya. Pernah Tante Ida
bertanya dulu, siapa wanita yang sering kerumah, kubilang saja Buk Endang itu
bibiku, hehehhehe.....
Pagi, sekitar jam 10 kudapati pintu pagar rumah Tante Ida terbuka,
setahuku pagi tadi dia sudah mengantar anaknya ke sekolah. Pikiran jahatku kembali
kumat. Aku keluar dari rumahku dan pura pura berdiri di depan rumah Tante Ida
untuk mengintip keadaan. Ternyata pintu rumah nya pun terbuka…
Hal menumbuhkan rasa nekat pada diriku. Diam diam aku masuk pekarangan
rumahnya dan masuk ke dalam rumahnya.
Tante Ida tidak ada di ruang tamu. Alangkah teledornya dia membiarkan pintu
terbuka dan pagar terbuka.. namun bagiku ini adalah sebuah kesempatan emas…
Pelan pelan aku tutup pintu rumahnya tanpa berbunyi , ada kunci disana
dan langsung kukunci pintu utamanya. Perlahan aku mengendap masuk kedalam ,
mencari Tante Ida, di ruang tamu tidak ada, di ruang tengah tidak ada.. namun
terdengar suara di arah belakang.. kucari dimana arah suara itu, ternyata…
kudapati Tante Ida sedang melipat pakaian di bagian belakang rumahnya.. tempat
itu berdekatan dengan kamar nya
Aku pun mengendap endap mendekat pada Tante Ida yang membelakangiku, Posisi Tante Ida sedang membungkuk, mmengenakan baju daster terusan
bewarna pink… menambah keseksian tubuhnya yang putih dan tinggi itu… daster itu tampak
ketat, hingga menampakan lekuk molek tubuh Tante Ida dari belakang serta cetakan garis BH dan celana dalamnya. Posisinya yang sedang membelakangiku sepertinya dia tidak sadar akan kedatanganku .
Begitu dekat, dengan cepat aku
peluk Tante Ida dari belakang…. Tante Ida tersentak dengan mata terbeliak lebar karena terkejut
sekaligus panik dan ketakutan.
“ Astaggaaa...!! Hehhh… kamuu…?? kenapa kamu bisa berada disini Bryan..??!!! “ ujarnya kaget. Dia tampak tak percaya dan saat aku mencoba memeluk tubuhnya dari belakang, Tante Ida berusaha meronta dengan
keras. aku cepat mengingatkannya untuk tetap diam dan tidak bertindak bodoh
melakukan perlawanan. Hanya bedanya, aku juga mengutarakan permintaan maaf.
"Maafkan
saya Tante.
Saya tidak tahan untuk ML lagi sama Tante. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Tante. Dan saya bersumpah hanya
melakukan ini sekali ini saja. Sekaliiiii ini…. ," bisikku membujuk dengan nafas
memburu akibat nafsu dan rasa tegang luar biasa.
Tante Ida tetap tidak peduli. Dia berusaha mengamuk, menendang-nendang saat
kakiku mengunci pinggulnya dan tubuhnya kepepetkan ke dinding.
“ Lepassin saya .. Bryaann…!!! Nekat ya kamuuu..??!! kamu jangan coba berbuat kurang ajar sama saya di rumah sayaaa!!!”
bentak nya
"hei.. hei... Kalau
Tante ribut, akan ketahuaan orang.
Kita berdua bisa hancur karena malu dan aib. Semua ini tidak akan diketahui orang
lain… kalau Tante tidak melawan,,," bisikku lagi dengan tetap mengunci seluruh gerakan
tubuhnya.
“ Nggak mauuuu…!!! pokoknya saya nggak mauu..!!!” jeritnya.
Segera kusumpal mulutnya dengan tangan, kemudian aku coba merangsangnya . Aku terus mencoba menciumi bagian leher dan telinga wanita beraroma tubuh harum
merangsang itu. Sedang senjataku yang keras, tegang, perkasa dan penuh
urat-urat besar, kutekankan secara keras ke bagian pantatnya dengan gerakan memutar,
membuat Tante Ida semakin terjepit di dinding. Dia mencoba semakin kalap melawan dan
meronta, namun apalah artinya tenaga seorang wanita, di hadapan pria yang
sedang dikuasai nafsu binatang seperti diriku.
Aksi
menciumi wajah dan
menekan pantat Tante Ida terus kulakukan sampai lebih kurang sepuluh
menit. Setelah melihat ada peluang lebih baik, dengan gerakan secepat kilat, daster nya kusingkapkan keatas sampai ke pusarnya. setelah itu tanganku mencari kaitan BH nya, setelah ketemu , dengan cepat kulepaskan pengait BH nya dari belakang dan berikut celana dalamnya
segera kulorotkan ke bawah, dan sebelum wanita ini tahu apa yang akan kulakukan,
Sebelah tanganku dengan gesit kemudian menyelinap masuk diantara
selangkangannya dari belakang dan meraba serta meremas bagian luar kemaluannya,
tapi membiarkan bagian dalamnya tak terjamah.
" Awwwhhh..!!! Jangann sentuh saya Bryannn...!! Lepaskaaaaaaaann...!!" teriak Tante Ida histeris
" Awwwhhh..!!! Jangann sentuh saya Bryannn...!! Lepaskaaaaaaaann...!!" teriak Tante Ida histeris
Strategiku
mengingatkan belum waktunya sampai ke sana. Aku terus menjilat telinganya dan satu tanganku mulai meremas payudara nya serta
mengusap-usap daerah sekitar kelaminnya ini kulakukan selama beberapa menit. Tante Ida terus berusaha melepaskan
diri sambil memohon memintaku menghentikan tindakan yang disebutnya jahanam itu. Dia
berulang-ulang menyebutku binatang dan bajingan. Tak soal bagiku. saat ini aku memang sudah
jadi binatang atau bajingan. Dan sekarang sang bajingan sudah tanpa celana,
telanjang sebagian.
" apa apaan kamu Bryan..??!!! kamu.. gilaaa Bryannn..??!!" jerit Tante Ida ketakutan saat melihat aku membuka celanaku di hadapannya
" apa apaan kamu Bryan..??!!! kamu.. gilaaa Bryannn..??!!" jerit Tante Ida ketakutan saat melihat aku membuka celanaku di hadapannya
" Saya nggak
mau melakukan ini lagi Bryannn… Pleaseeee... jangan nekat kamu ya..!!! tolong jangan kamu lakukan ini Bryan!!!... lepasin saya… !!! “ Ujar Tante Ida memohon padaku dengan nafas
terengah-engah.
Aku
tak menyahut, setelah satu persatu pakaianku berhasil kulepas semuanya, dengan usaha yang susah payah aku kembali memepetkan tubuh Tante Ida ke dinding serta mulai menciumi pundaknya. Lalu menempelkan
batang perkasaku yang besar, tegang dan panas diantara belahan
pantat nya.
Menekan dan memutar-mutarnya dengan kuat di sana. Sedang kedua tanganku
menyusup ke depan, meraba, meremas dan memainkan puting buah dada montok wanita
yang terus berjuang untuk meloloskan diri dari bencana itu.
Aku tak peduli akan ratapannya, terus kuciumi leher dan belakang telinganya sambil berbisik untuk membujuk,
sekaligus memprovokasi wanita cantik tetanggaku itu.
"Kita
kan sudah pernah melakukan ini Tante…. Jangan bohong kalau Tante tidak menikmati apa yang pernah kita lakukan..,
karena juga tidak akan ada yang tahu, Suamimu kan sedang keluar kota... .Mungkin juga
dia sedang bergulat dengan wanita lain. Apakah kau percaya dia setia seperti
dirimu,?" bujukku mencoba mempengaruhinya
"Kau
bajingan terkutuk,!!!" pekiknya dengan marah.
Sebagai
jawabannya, tubuh putih yang montok dan harum itu kali ini kupeluk dan kudekap kuat-kuat dari arah belakang, setelah kurasa tubuhnya sudah bisa kukunci dengan lenganku, kutarik dan lalu kuseret Tante Ida ke kamarnya. Walau berusaha untuk berontak, tapi dengan kuat kupegangi bahu nya dan menyeret tubuhnya ke dalam kamarnya.
Aku membawa Tante Ida ke ranjang dan menjatuhnya di sana dengan posisi telungkup. Kemudian tubuhnya kubalik hingga terlentang, tak memberinya kesempatan, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya dengan paksa kutarik keatas dan kulepaskan daster nya melalui kedua tangannya,
Tante Ida tetap berusaha mencegahku melepaskan dasternya, namun kalah adu tenaga denganku. Setelah daster nya berhasil kurengut, Tante Ida tampak ketakutan,nafasnya naik turun karena adu tenaga denganku.
" Jangan Bryan... please jangan lakukan ini ... aku mohon..." ratapnya memohon padaku.
Aku tak peduli, apalagi melihat Tante Ida sudah sempurna kutelanjangi dihadapanku, nafsuku pun sudah sampai ke ubun ubun, Aku angkat kedua tangan Tante Ida keatas, walau disertai perlawanan kecil, sekarang kedua tangannya kukunci dengan kedua tanganku dan menahannya . setelah itu, ketiak yang berbulu halus milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.
Aku membawa Tante Ida ke ranjang dan menjatuhnya di sana dengan posisi telungkup. Kemudian tubuhnya kubalik hingga terlentang, tak memberinya kesempatan, kedua tangannya kurentangkan ke atas. Selanjutnya dengan paksa kutarik keatas dan kulepaskan daster nya melalui kedua tangannya,
Tante Ida tetap berusaha mencegahku melepaskan dasternya, namun kalah adu tenaga denganku. Setelah daster nya berhasil kurengut, Tante Ida tampak ketakutan,nafasnya naik turun karena adu tenaga denganku.
" Jangan Bryan... please jangan lakukan ini ... aku mohon..." ratapnya memohon padaku.
Aku tak peduli, apalagi melihat Tante Ida sudah sempurna kutelanjangi dihadapanku, nafsuku pun sudah sampai ke ubun ubun, Aku angkat kedua tangan Tante Ida keatas, walau disertai perlawanan kecil, sekarang kedua tangannya kukunci dengan kedua tanganku dan menahannya . setelah itu, ketiak yang berbulu halus milik wanita itu, mulai kuciumi. Dari sana, ciumanku meluncur ke sepasang buah dadanya. Menjilat, menggigit-gigit kecil, serta menyedot putingnya yang terasa mengeras tegang.
"Jangan
Bryan..!! Jangaaaan.. !!! Tolong lepaskan akuuuuu… !!
ooouuuuhhh….!! ."
Wanita
itu menggeliat-geliat keras. Masih tetap berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi
aku terus bertindak semakin jauh. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah
perutnya. Kujilat habis, sebelum pelan-pelan merosot turun lebih ke bawah lalu
berputar-putar di bukit kemaluannya yang ternyata menggunung tinggi, mirip
roti. Sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya, kedua batang
paha putih dan mulusnya yang menjepit rapat, berusaha kubuka.
Tante Ida dengan kalap berusaha bangun dan mendorong kepalaku. Kakinya
menendang-nendang kasar. Aku cepat menjinakkannya, sebelum kaki dan dengkul
yang liar itu secara telak membentur dua biji kejantannanku. Bisa celaka jika
itu terjadi. Kalau aku semaput, wanita ini pasti lolos. Setelah berjuang cukup
keras, kedua paha Tante Ida akhirnya berhasil kukuakkan. Kemudian dengan keahlian
melakukan cunnilingus yang kumiliki dari hasil belajar, berteori dan berpraktek
selama ini, lubang dan bibir kelamin wanita itu mulai menjadi sasaran lidah dan
bibirku.
" Uuuuuuhhhh.... hhhhh,,,???!!!"
" Uuuuuuhhhh.... hhhhh,,,???!!!"
Tanpa
sadar Tante Ida
terpekik, saat kecupan dan permainan ujung lidahku menempel kuat di klitorisnya
yang mengeras tegang. Kulakukan berbagai sapuan dan dorongan lidah ke
bagian-bagian sangat sensitif di dalam liang senggamanya, sambil tanganku terus
mengusap, meremas dan memijit-mijit kedua buah dadanya. Tante Ida menggeliat, terguncang dan
tergetar, kadang menggigil, menahan dampak dari semua aksi itu. Kepalanya
digeleng-gelengkan secara keras. Entah pernyataan menolak, atau apa.
“ uuuhhhh… mmhhhh…. Uuuuuhhh…” desah Tante Ida tertahan saat labia
mayora nya kusapu dengan lidahku.
Sambil
melakukan hal itu, mataku berusaha memperhatikan permukaan perut Tante Ida. Dari sana aku bisa
mempelajari reaksi otot-otot tubuhnya,terhadap gerakan lidahku yang terus
menyeruak masuk ke dalam liang senggamanya. Dengan sentakan-sentakan dan
gelombang di bagian atas perut itu, aku akan tahu, di titik dan bagian mana Tante Ida akan merasa lebih terangsang
dan nikmat.
Gelombang
rangsangan yang kuat itu kusadari mulai melanda Tante Ida secara fisik dan
emosi, ketika perlawanannya melemah dan kaki serta kepalanya bergerak semakin
resah. Tak ada suara yang keluar, karena wanita ini menutup bahkan menggigit
bibirnya. Geliat tubuhnya bukan lagi refleksi dari penolakan, tetapi (mungkin)
gambaran dari seseorang yang mati-matian sedang menahan kenikmatan. Berulang
kali kurasakan kedua pahanya yang kupegang masing masing dengan kedua tanganku itu bergetar. daerah sekitaran kemaluannya pun banjir membasah.
" Bryaaa..nnh..hhhh....??? Ooohh...hhhhh....Ouuuhhh.... Mpphhh... sshhhhh.... auuuh.." jeritan nya berganti menjadi desahan
" Bryaaa..nnh..hhhh....??? Ooohh...hhhhh....Ouuuhhh.... Mpphhh... sshhhhh.... auuuh.." jeritan nya berganti menjadi desahan
Ternyata
benar analisa otak kotorku . Bahwa sekuat apapun seorang wanita menahan rangsangan seksual yang melandanya, ada saat di mana saat seorang pria berhasil menemukan titik syaraf rangsang atau biasa disebut dengan g spot itu , benteng itu pun ambruk, walau dilakukan dalam tempo relatif lama dan secara paksa dan langsung, si wanita pasti menyerah karena akal sehat nya sudah dikalahkan oleh hawa nafsu
Tante Ida telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidak berdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif pada seluruh bagian sensitif tubuhnya.
Tante Ida telah menjadi contoh dari hal itu. Mungkin juga ketidak berdayaan yang telah membuatnya memilih untuk pasrah. Tetapi rasanya aku yakin lebih oleh gelora nafsu yang bangkit ingin mencari pelampiasan akibat rangsangan yang kulakukan secara intensif pada seluruh bagian sensitif tubuhnya.
Aksi ku
selanjutnya adalah dengan memutar tubuh, berada di atas Tante Ida,, Membuat posisi sex 69 , yang mana aku memposisikan batang
kejantananku tepat di atas wajah Tante Ida yang sudah mulai membara dibakar nafsu
birahi itu.
Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannya dan ... langsung saja lidah dan bibir ku menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya, Hingga membuat Tante Ida menjerit jerit
Aku ingin mengetahui, apa reaksinya jika terus kurangsang dengan batang perkasaku yang besar dan hangat tepat berada di depan mulutnya. Wajahku sendiri, masih berada diantara selangkangannya dan ... langsung saja lidah dan bibir ku menjilat serta menghisap klitoris dan liang kewanitaannya, Hingga membuat Tante Ida menjerit jerit
Paha Tante Ida sendiri, entah secara
sadar atau tidak, semakin membuka lebar, sehingga memberikan kemudahan bagiku
untuk menikmati kelaminnya yang sudah membanjir basah. Mulutnya berulangkali
melontarkan jeritan kecil tertahan yang bercampur dengan desisan. Aksi itu
kulakukan dengan intensif dan penuh nafsu, sehingga berulang kali kurasakan
paha serta tubuh wanita cantik itu bergetar dan berkelojotan.
Beberapa
menit kemudian mendadak kurasa sebuah benda basah yang panas menyapu batang
kejantananku, membuatku jadi agak tersentak. Aha,,,!!!, apalagi itu kalau bukan lidah
si Tante montok ini. Berarti, selesailah sudah seluruh perlawanan yang dibangunnya
demikian gigih dan habis-habisan tadi. Wanita ini telah menyerah. Namun sayang,
jilatan yang dilakukannya tadi tidak diulanginya, meski batang kejantananku
sudah kurendahkan sedemikian rupa, sehingga memungkinkan mulutnya untuk menelan
bagian kepalanya yang sudah sangat keras, besar dan panas itu.
Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuhnya. memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku.
Boleh jadi wanita ini merasa dia telah menghianati suaminya jika melakukan hal itu, menghisap batang kejantanan pria yang memperkosanya! Tak apa. Yang penting sekarang, aku tahu dia sudah menyerah. Aku cepat kembali membalikkan tubuhnya. memposisikan batang kejantananku tepat di depan bukit kewanitaannya yang sudah merekah dan basah oleh cairan dan air ludahku.
Aku mulai menciumi pipinya yang basah oleh air mata dan lehernya. Kemudian kedua belah ketiaknya. Tante Ida menggelinjang liar sambil membuang wajahnya ke samping. Tak ingin bertatapan denganku.
" Hentikan Bryaan.. hu..hu..hu..hu..." isak nya , namun hanya sebatas kata kata, Tante Ida tidak lagi melawan seperti pertama tadi
Tentu saja aku tidak menggubrisnya, sekarang buah
dadanya kujilati dengan buas, kemudian berusaha kumasukan sedalam-dalamnya ke
dalam mulutku.
" Uuuuuhh..." desah Tante Ida
Tubuh Tante Ida mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. sampai kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya.
Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang senggamanya semakin menganga merah.
" Uuuuuhh..." desah Tante Ida
Tubuh Tante Ida mengejang menahan nikmat. Tindakan itu kupertahankan selama beberapa menit. sampai kemudian batang kejantananku semakin kudekatkan ke bibir kemaluannya.
Ah.., wanita ini agaknya sudah mulai tidak sabar menerima batang panas yang besar dan akan memenuhi seluruh liang sanggamanya itu. Karena kurasa pahanya membentang semakin lebar, sementara pinggulnya agak diangkat membuat lubang senggamanya semakin menganga merah.
“ tante sangat
cantik dan merangsang sekali. Hanya lelaki yang beruntung dapat menikmati
tubuh mu yang luar biasa ini,…" gombalku sambil menciumi pipi dan lehernya. Tante Ida
tidak menjawab, namun lehernya tengadah
keatas seolah memberiku jalan untuk menciuminya
" sekarang mari kita lakukan lagi ya Tante... “ ujarku
menatap matanya yang kosong dan pasrah itu.
Setelah
mengatakan hal itu, sambil menarik otot di sekitar anus dan pahaku agar
ketegangan kelaminku semakin meningkat tinggi, liang kenikmatan tetanggaku yang montok itu
mulai kuterobos.
" iihhhhh..!!!" suara Tante Ida terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.
" iihhhhh..!!!" suara Tante Ida terpekik, tubuhnya menggeliat, tapi kutahan. Batang kejantananku terus merasuk semakin dalam dan dalam, sampai akhirnya tenggelam penuh di atas bukit kelamin yang montok berbulu itu.
Untuk
sesaat, tubuhku juga ikut bergetar menahan kenikmatan luar biasa pada saat
liang kewanitaan wanita ini berdenyut-deyut menjepitnya. Tubuhku kudorongkan ke
depan, dengan pantat semakin ditekan ke bawah, membuat pangkal atas batang
kejantananku menempel dengan kuat di klitorisnya.
"Uughhh.. Bryaaann..nnhh..." Tante Ida melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk gairah yang membara itu kulakukan.
"Uughhh.. Bryaaann..nnhh..." Tante Ida melenguh gelisah. Tangannya tanpa sadar memeluk tubuhku dengan punggung melengkung. Kudiamkan dia sampai agak lebih tenang, kemudian mulailah gerakan alamiah untuk gairah yang membara itu kulakukan.
Tante Ida kembali terpekik sambil meronta dengan mulut mendesis dan melengguh.
Tembakan batang kejantananku kulakukan semakin cepat, dengan gerakan
berubah-ubah baik dalam hal sudut tembakannya, maupun bentuknya dalam melakukan
penetrasi. Kadang lurus, miring, juga memutar, membuat Tante Ida benar-benar seperti
orang kesurupan. Wanita ini kelihatanya sudah total lupa diri. Tangannya
mencengkram pundakku, lalu mendadak kepalanya terangkat ke atas,
matanya terbeliak, giginya dengan kuat menggigit pundakku.
Dia
orgasme! Gerakan keluar-masuk batang kejantananku kutahan dan hanya
memutar-mutarnya, mengaduk seluruh liang sanggama Tante Ida, agar bisa menyentuh dan
menggilas bagian-bagian sensitif di sana. Wanita berpinggul besar ini meregang
dan berkelonjotan berulang kali, dalam tempo waktu sekitar dua puluh detik.
Semuanya kemudian berakhir. Mata dan hidungnya segera kuciumi. Pipinya yang
basah oleh air mata, kusapu dengan hidungku.
Tubuhnya
kupeluk semakin erat, sambil mengatakan permintaan maaf atas kebiadabanku. Tante Ida cuma membisu. Kami
berdua saling berdiaman. Kemudian aku mulai beraksi kembali dengan terlebih dahulu
mencium dan menjilati leher, telinga, pundak, ketiak serta buah dadanya.
Kocokan kejantananku kumulai secara perlahan. Kepalanya kuarahkan ke
bagian-bagian yang sensitif atau G-Spot wanita ini. Hanya beberapa detik
kemudian, kembali gelisah.
Kali
ini aku bangkit, mengangkat kedua pahanya ke atas dan membentangkannya dengan
lebar, lalu menghujamkan batang perkasaku sedalam-dalamnya. Kedua pahanya kusandarkan di bahuku. membuat penisku leuasa mengoyak lobang kawin tetanggaku yang super montok itu. Dan kembali ku jejalkan penisku kedalam lobang vagina nya...
Tante Ida terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.
Tante Ida terpekik dengan mata terbeliak, menyaksikan batang kejantananku yang mungkin jauh lebih besar dari milik suaminya itu, berulang-ulang keluar masuk diantara lubang berbulu basah miliknya. Matanya tak mau lepas dari sana. Kupikir, wanita ini terbiasa untuk berlaku seperti itu, jika bersetubuh. Wajahnya kemudian menatap wajahku.
"Ooohhh….. Bryaann..Oouuhhhh......Aaaaaahhhh.... " bisiknya lirih memejamkan mata seirama dengan genjotan pinggulku dalam lobang kawinnya
Aku
mengangguk dengan perasaan lebih terangsang oleh panggilan itu, kocokan batang kejantananku
kutingkatkan semakin cepat dan cepat, sehingga tubuh Tante Ida terguncang-guncang dahsyat. Pada
puncaknya kemudian, wanita ini menjatuhkan tubuhnya di tilam, lalu menggeliat,
meregang sambil meremas sprei. Aku tahu dia akan kembali memasuki saat orgasme
keduanya.
Dan
itu terjadi saat mulutnya melontarkan pekikan nyaring, mengatasi suara
Krisdayanti yang sedang menyanyi di pesawat televisi di samping ranjang kamar tidurnya.
Pertarungan seru itu kembali usai. Aku terengah dengan tubuh bermandi keringat,
di atas tubuh Tante Ida yang juga basah kuyup. Matanya kuciumi dan hidungnya kukecup dengan
lembut. Detak jantungku terasa memacu demikian kuat. Kurasakan batang
kejantananku berdenyut-denyut semakin kuat. Aku tahu, ini saat yang baik untuk
mempersiapkan orgasmeku sendiri.
Tubuh
Tante
Ida kemudian
kubalikkan, lalu punggungnya mulai kujilati. Dia mengeluh. Setelah itu,
pantatnya kubuka dan kunaikkan ke atas, sehingga lubang anusnya ikut terbuka. Jilatan
intensifku segera kuarahkan ke sana, sementara jariku memilin dan mengusap-usap
klitorisnya dari belakang.
Tante Ida berulang kali menyentakkan badannya, menahan rasa ngilu itu. Namun
beberapa menit kemudian, keinginan bersetubuhnya bangkit kembali. tubuhnya
segera kuangkat dan kuperintahkan dia berdiri lalu kuletakkan Tante Ida didepan toilet, tepat menghadap cermin besar
yang ada di depannya. Dia kuminta berposisi menungging, dengan paksa aku membuka kakinya agak
lebar.
Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan pada kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Tante Ida kembali terpekik.
Setelah itu dengan agak tidak sabar, batang kejantananku yang terus membesar keras, kuarahkan pada kelaminnya, lalu kusorong masuk sampai ke pangkalnya. Tante Ida kembali terpekik.
" Aaaahhhh..??!!"
Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, aku terpaksa menyumpal mulutnya dengan tanganku, karena khawatir suaranya bisa didengar orang di luar. Tapi aku berani bertaruh dia bukan lagi berteriak minta dilepaskan, melainkan berteriak menahan kenikmatan
Ohhhhhh…ohhhh….ohhhh…enak …ohhh…ohhh…” Erang Tante Ida merasa nikmat, tubuhnya terlihat mengimbagi gerakan pinggulku yang gencar menyodok lobang kawin nya dari belakang
Dan pekik itu semakin kerap terdengar ketika batang kejantananku keluar masuk dengan cepat di liang sanggamanya. Bahkan wanita itu benar-benar menjerit berulangkali dengan mata terbeliak, aku terpaksa menyumpal mulutnya dengan tanganku, karena khawatir suaranya bisa didengar orang di luar. Tapi aku berani bertaruh dia bukan lagi berteriak minta dilepaskan, melainkan berteriak menahan kenikmatan
Ohhhhhh…ohhhh….ohhhh…enak …ohhh…ohhh…” Erang Tante Ida merasa nikmat, tubuhnya terlihat mengimbagi gerakan pinggulku yang gencar menyodok lobang kawin nya dari belakang
Tante Ida kugenjot terus dalam posisi berdiri membungkuk sambil berpegangan pada meja rias di depan cermin kamarnya
CREK…CREK…CREK
…CREK…CREK … terdengar bunyi suara becek dari kemaluanku yang sudah sangat
basah karena cairan kental yang berasal dari kemaluan Tante Ida , tetangga ku nan menggairahkan itu
“Uuuuhhh…uhhh….…ohhhhhh” Tante Ida terus merintih nikmat saat kusetubuhi tubuh montoknya dari belakang...
Suara desahan dan rintihan nya yang menggairahkan itu membuat aku makin mempercepat gerakan pinggulku .
Suara desahan dan rintihan nya yang menggairahkan itu membuat aku makin mempercepat gerakan pinggulku .
“A…A…HHHH…HH..”
Aku mendengar beliau berteriak tertahan dengan tubuh bergetar, Melihat itu
penisku ku tancapkan dalam-dalam pada liang senggama wanita cantik itu.
Wanita
ini kelihatannya sangat terangsang dengan style bersetubuh seperti itu. Selain
batang kejantananku terasa lebih dahsyat menerobos dan menggesek bagian-bagian
sensitifnya, dia juga bisa menyaksikan wajahku yang tegang dalam memomp tubuh telanjang nya
dari belakang dari cermin yang tepat di hadapannya. Dan tidak seperti sebelumnya, Tante Ida kali ini dengan suara
gemetar mengatakan dia akan keluar.
Aku
masih ingin terus menyetubuhi tubuh montok dan putih itu... sebelum si cantik nan montok itu mencapai berejakulasi, aku dengan cepat mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang dan menelentangkannya di sana,
Kemudian aku kembali menyetubuhinya habis-habisan dengan posisi Tante Ida yang terlentang tak berdaya, karena aku juga sedang mempersiapkan moment orgasmeku. Aku akan melepas bendungan sperma di kepala kejantananku pada saat wanita ini memasuki orgasmenya.
Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Tante Ida meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak.
Aku sendiri sedang sibuk menahan jeritan nikmatku sampai mukaku berubah menjadi merah padam.
SROOOTT …SROT … SROT …srot …srot … semprotan air mani ku yang hangat terasa memancar ke dalam rahim si cantik Tante Ida...
Kemudian aku kembali menyetubuhinya habis-habisan dengan posisi Tante Ida yang terlentang tak berdaya, karena aku juga sedang mempersiapkan moment orgasmeku. Aku akan melepas bendungan sperma di kepala kejantananku pada saat wanita ini memasuki orgasmenya.
Dan itu terjadi, sekitar lima menit kemudian. Tante Ida meregang keras dengan tubuh bergetar. Matanya yang cantik terbeliak.
" ss..saya.. keluaaaaar
…”!!! bisik Tante Ida tertahan.. Dan terdengar tetanggaku nan putih mulus itu menjerit panjang
“AHHHHMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMPPPHHHHHHHHHH…” Aku sendiri sedang sibuk menahan jeritan nikmatku sampai mukaku berubah menjadi merah padam.
SROOOTT …SROT … SROT …srot …srot … semprotan air mani ku yang hangat terasa memancar ke dalam rahim si cantik Tante Ida...
Maka
orgasmeku segera kulepas dengan hujaman batang kejantanan yang lebih lambat
namun lebih kuat
" Oooooohhh..... Brrryyaaaaaaa...nnnnnnn,,,,,hhhhhhhh.....!!!!!!"
Tante Ida meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan kedua pahanya mengapit pinggangku
Tangisnya segera muncul.... Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis tersedu
" Oooooohhh..... Brrryyaaaaaaa...nnnnnnn,,,,,hhhhhhhh.....!!!!!!"
Tante Ida meneriakkan namaku saat spermaku menyembur berulang kali dalam tenggang waktu sekitar delapan detik ke dalam liang sanggamanya. Tangannya dengan kuat merangkul tubuhku dan kedua pahanya mengapit pinggangku
Tangisnya segera muncul.... Kenikmatan luar biasa itu telah memaksa wanita ini menangis tersedu
Aku
memejamkan mata sambil memeluknya dengan kuat, merasakan nikmatnya orgasme yang
bergelombang itu. Ini adalah orgasmeku yang pertama dan penghabisanku dengan
wanita itu untuk hari ini
Selanjutnya aku mengecup pipinya dan berulang kali minta maaf padanya
atas perlakuanku padanya. Tante Ida hanya diam, air mata masih menetes di
pipinya.
" cepat kamu pergi dari sini ..!!" perintahnya sambil segugukan.
Aku tak menjawab dan mengenakan kembali pakaianku seperti semula.
Tante Ida hanya segugukan sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut diatas ranjang.., tempat dia biasa bercinta dengan suaminya,,,,
Mata Tante Ida terus mengawasiku sampai aku selesai mengenakan pakaianku kembali. Setelah kembali berpakaian seperti semula, aku pun bilang pamit padanya. seperti sebelumnya,... dia hanya diam dan menatapku dengan tatapan kebencian
" cepat kamu pergi dari sini ..!!" perintahnya sambil segugukan.
Aku tak menjawab dan mengenakan kembali pakaianku seperti semula.
Tante Ida hanya segugukan sambil menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut diatas ranjang.., tempat dia biasa bercinta dengan suaminya,,,,
Mata Tante Ida terus mengawasiku sampai aku selesai mengenakan pakaianku kembali. Setelah kembali berpakaian seperti semula, aku pun bilang pamit padanya. seperti sebelumnya,... dia hanya diam dan menatapku dengan tatapan kebencian










Tidak ada komentar:
Posting Komentar