Selasa, 11 Oktober 2016

Bercinta dengan Marissa Haque II


Selang sudah waktu seminggu aku menggumuli tubuh indah politisi cantik Marissa Haque, seperti kata  Sugeng, temanku yang memberikanku ilmu gendam hingga aku berkesempatan untuk bisa menikmati tubuh Marissa Haque selama satu minggu, sekarang Marissa Haque sudah sadar kembali. Sikap berubah seperti dirinya semula. Bahkan Marissa Haque benar-benar lupa. Seolah lah tidak terjadi apa-apa dalam waktu seminggu tersebut antara aku dan dirinya.

Ternyata pengaruh ilmu yang diberikan Sugeng juga ada limitnya. Dan Marissa Haque kembali bersikap sebagaimana biasanya. Memori saat beberapa kali dia bercinta denganku di berbagai tempat seakan tak pernah terjadi

Aku sendiri tetap menjadi asisten Marissa Haque, yang masih menyelesaikan penelitian buat disertasinya di kotaku. Seperti biasa, aku ditugaskan dosenku, Pak Yanto untuk membantunya menyiapkan bahan yang dia perlukan dan .....  Marissa Haque sama sekali tidak sadar bahwa kami berdua pernah bagai sepasang kekasih yang dimabuk asmara seminggu belakangan, yang tiap hari bercinta kapan kuminta. Sikapnya yang binal dan nakal kepadaku, seperti yang dia tujukan diranjang atau dimanapun berubah 180 derajat. Marissa Haque kembali jadi pribadi yang anggun, tegas dan galak.

Dua minggu aku kembali hidup normal seperti hari – hari biasa, namun bayang bayang saat bercinta dengan Marissa Haque terus membayangi. Aku ingin kembali menikmati tubuhnya. Aku mencoba kembali menghubungi Sugeng, namun sial nya Sugeng lagi berada di kampungnya di Jawa. Karena memang saat ini waktunya liburan semester.

Tinggalah aku yang tersiksa fantasi dan khayalan untuk bagaimana bisa dapat bercinta dengan Marissa Haque lagi. 

Disela sela kesibukannya aku terus memperhatikan Marissa Haque yang cantik itu. terkadang aku mencoba memancing dengan percakapan untuk mencoba membuka ingatannya lagi. Namun Marissa Haque benar-benar tidak dapat mengingat moment itu, misalnya bertanya apa dan kemana saja dia seminggu lalu, mana tahu masih ada sedikit ingatannya, tapi aku takut Marissa Haque akan marah besar kalau aku bersikap terlalu agresif padanya. Jadi aku terus memendam hasratku.

Sejenak kadang aku memperhatikan Marissa Haque , Kulit putih , matanya yang bulat dan binar dengan senyumannya yang memikat itu. wajah cantik, tubuh indah dan mulus itu pernah kunikmati, bathinku.

Walau sudah pernah kunikmati tubuh nya, tapi tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya kembali apalagi dan kalau bisa dapat menikmati tubuhnya kembali.

Aku memang terobsesi dengan artis satu ini. Andai kemaren aku menyuruh Sugeng membuat dia fikirannya permanent saat digendam aku tidak akan menyesali nya. Meskipun harus menikahinya !!. Begitu memuncaknya  nafsuku saat melihat nya . Marissa Haque betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost. Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga,

Ketika aku ditugaskan oleh dosenku, Pak Yanto untuk menemani Marissa Haque mengikuti workshop di sebuah hotel selama seminggu. Tentu saja dengan senang hati aku menerimanya. Perserta workshop berjumlah lima orang, workshop ini gunanya untuk meneliti sejauh mana kelengkapan dan keakuratan data yang diperoleh hasil penelitan Marissa Haque, kemudian dikaji dan dipresentasikan supaya tidak terjadi kesalahan atau kekurangan sebelum Marissa Haque kembali ke Jakarta untuk ujian sidang hasil disertasi nya itu. selain aku, sebagai asisten merangkap supirnya juga ada beberapa orang dosen.

Tentu saja aku tidak bisa sekamar dengan Marissa Haque, kami diberi jatah kamar 1 orang satu kamar, Bu Marissa sendirian, berikut dosen-dosen lain. Jadi dalam hotel tersebut kami menyewa 5 kamar.

Hari-hari pertama workshop aku membantunya menyusun lembaran lembaran hasil penelitian dan menyusun data-data secara berurutan. Aku pun mengambil kesempatan agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Bu Marissa Haque benar-benar tidak ingat akan kejadian kejadian beberapa minggu lewat itu, melihat itu aku menjaga jarak dengan nya sampai menunggu datangnya sebuah kesempatan

Pada hari kelima Hasil penelitan Marissa Haque hampir rampung dan siap untuk di presentasikannya dihadapan dosen-dosen sesama rekan penelitiannya, dan dia butuh aku untuk mengedit penelitiannya itu dalam laptopnya. Untuk memastikan agar tidak ada kekurangan huruf atau kata-kata.. Untuk itu Bu Marissa meminta aku dan dua orang dosen temannya untuk mengerjakan pengeditan tersebut di kamar hotel tempatnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Karena pada saat itu pagi ditambah ada dua orang dosen tersebut di kamarnya, aku tidak berani berbuat macam-macam padanya, dan aku hanya mengerjakan apa yang disuruhnya.
Menjelang tengah hari aku minta ijin padanya untuk istirahat makan, Bu Marissa mengizinkan dan aku pun keluar dari kamarnya

Setelah makan siang, aku sengaja jalan-jalan keluar hotel untuk mencari obat perangsang, dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan. Aku berandai andai nanti seandainya Marissa Haque berduaan dengan aku di kamar maka aku akan memberikan obat perangsang tersebut dalam minumannya. Aku yakin Marissa Haque tidak menaruh curiga padaku, karena aku adalah assisten nya.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan aku mengajak nya berdiskusi tentang apa kekurangan presentasi nya karena presentasi dijadwalkan besok pagi. Selama berdiskusi kadang-kadang Marissa Haque bolak-balik masuk dari ruang tamu ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan, aku campurkan obat perangsang berbentuk tablet yang larut dalam air itu dalam minumannya.
Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar nya. Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannya pun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang terpelajar, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih. Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah.

Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang kami diskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku. Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.
Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh celana panjang nya. Tangan itu demikian halus dan lembut, dadaku deg deg kan karena sudah 3 minggu aku tidak menyentuhnya.
Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..

”Ouhh….”, ujar Marissa Haque medesah lirih saat kugenggam tangannya yang semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan, dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor. Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh tangan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang. Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata

“Aaa…aapa..apaan….kamu Xell..?”ujar Marissa Haque kaget.
Dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya. Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku. Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Marissa Haque, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Xeell... Ka.. Kammuu ..hhh..  … Ouhmmhhh… mmmhhhh…”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya kupegang erat dengan tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama.

Marissa Haque terus memberontak, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku. Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangan tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.


Ohh.. betapa terpuaskan rasanya dahaga ku saat merasakan kecupan bibir indah Marissa Haque, tang sudah tiga minggu tidak aku rasakan. Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buah dada yang tertutup oleh baju kurung nya.

Dan kedua tangannya pun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku. Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidak mengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab …, secara perlahan tangan kananku merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya..

”Ouhhh….aahhh…”

Kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buah dadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buah dadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju yang dikenakannya

“ouh…ouh…ohhh…..”

Erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buah dadanya…, keringat sudah membasahi tangannya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…

Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah. Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buah dada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. 

Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar celana panjang yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung bagian bawah dekat mata kakinya. lalu tanganku menarik ujung celana di salah satu kakinya menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh Marissa... … sungguh halus dan lembut terasa betis indah mu.... , membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.


Dari sudut matanya, Marissa Haque melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana
”Aaaihhh…”.

Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku. Belaian tangan kananku semakin naik ke atas aku menarik ujung celananya yang longgar itu sampai  ke lututnya yang putih mulus. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus., Marissa Haque semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat

“ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu beranjak cepat dari sana dan sekarang langsung  menuju pangkal pahanya. Dengan tergesa kucari kancing celananya setelah ketemu kutarik reslitingnya dan kulorotkan celana panjang nya kebawah. Walau Marissa Haque tampak kaget dan berusaha mencegah, tetapi celana panjang hitam nya sudah berada dilantai.
Belum sampai keterkejutannya, Marissa Haque meringis tertahan saat tanganku membelai paha nya yang super mulus.. ….,

“ Nnghhhh..” desahnya saat tanganku bermain di pahanya, perlahan kemudian tanganku menuju ke pangkal pahanya dan Marissa Haque kembali tersentaak saat tanganku menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam nya.

 Terasa bahwa di celana dalam nya, bagian yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya, walaupun masih terhalang celana dalam yang berbahan dasar tipis berwarna putih yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal

“Ouh….ouhhhh…”desahnya. mata indahnya sayu menatap wajahku, dan Marissa Haque menggiti bibirnya dan memandangku dengan pandangan yang pasrah.

Ketika tangan kananku berusaha menarik celana dalam yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Marissa Haque membantu meloloskan celana dalam nya itu dari tubuhnya, hingga ... sekarang tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi..,

Kemudian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..

”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan… Blessshhh….

Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan..

“AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…”

Tanpa dapat terkendali Marissa Haque mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Marissa Haque semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.
“ Ohh... Bu Marissaaaa.... enaknya Ohh...” desahku memejamkan mata menikmati indahnya sensasi menyetubuhi wanita cantik itu.


Hal yang luar biasa dari Marissa Haque ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya tingkah binalnya di ranjang kembali keluar, sama pada saat aku menggendamnya beberapa waktu yang lalu.

Marissa Haque merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Marissa Haque merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat

“Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..”
Kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi. 

Ternyata sama nikmat menyetubuhi Marissa Haque saat dia digendam maupun saat diberi obat perangsang. Ternyata juga dia tetap wanita yang haus sex dan penikmat sensasi dari artikulasi permainan yang aku suguhkan. Artis lawas ini memang menggairahkan dan menggemaskan. Aku tidak puas-puas untuk menikmati tubuh indah dan sisa sisa kecantikan politisi cantik ini.

Aku terus mengatur penetrasi sodokan pinggulku menggenjot vagina nya. Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama. Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang.

Lalu secara perlahan aku mulai mengayun kembali pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya.
Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku. Perlahan namun pasti, pantat Marissa Haque merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku.

Mulutnya pun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan

“Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…”

Erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Marissa Haque gelagapan sambil berkata terbata-bata

“Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…”

Dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“saya buka celana dulu ya Bu Marissa ….Ribet ...” Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan.

Lalu sambil menatapnya

“Buka dong baju nya Bu Marissa....!”perintahku

Dia menatapku ragu.., namun sepertinya dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya termasuk jilbab nya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh….

kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan baju kurung  dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.



Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya. Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Marissa Haque mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu… Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah.

Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Marissa Haque  pun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnya pun erangan nikmat
“Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Marissa Haque yang khas… …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Marissa Haque semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Marissa Haque semakin mengerang nikmat…

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Marissa Haque semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi… Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian

“AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….”

Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan. Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk. Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak.

Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh….
“AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..



”Aaahhh……”

erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semakin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buah dadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol. Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat

“AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi.

Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh….



“Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya. Marissa Haque memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat.



“ Ouh… ohhh…ayoo.. Xeell …ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme. Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat
“Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….”

Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. 
Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat…

Tubuh Marissa Haque ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian… punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Dan kuperhatikan Marissa Haque pun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi. Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Marissa Haque yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Marissa Haque barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu mirip sekali dengan ekspresi yang dia lakukan  saat bercinta dalam pegaruh gendam beberapa waktu lalu.

Aku tak menyangka Marissa Haque yang sudah sadar dari pengaruh ilmu gendam, walau diperngaruhi obat perangsang tetap demikian liar dalam bercinta…… Mataku menyusuri seluruh tubuh Marissa Haque yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna …… Putih , halus dan mulus…. Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Marissa Haque nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya… Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku.

Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Marissa Haque sepuas-puasnya sampai pagi. Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Marissa Haque terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Marissa Haque dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Marissa Haque kearah kamar.

Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Marissa Haque hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam. Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama.

Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Marissa Haque yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang.
Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya.. Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.
Marissa Haque menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..

”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Marissa Haque yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Marissa Haque kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat. Lambat laun gairah Marissa Haque kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan

“uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras

“Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…”

Disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya. Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka, lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin.

Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku. Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat.

Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga……. Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut. Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…
”Uhhhh…..”

Mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Marissa Haque pun mengaduh.

”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan

“Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”
Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Marissa Haque dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita  anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah.

”Ouhhhh…. ouhhhh …”

Aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Marissa Haque semakin mengerang nikmat

“Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya….

Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras

“Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Marissa Haque baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini…. Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…

”Xxeell. Kammmu.. hhh.. . Benar-benar hebat….”ujar Marissa Haque polos.

Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah… Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Marissa Haque mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..”

Dengan kembali dia mengerang nikmat… Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku…. Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…”

Kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya… Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas.

 Dalam posisi di bawah Marissa Haque menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi… Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. 

Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku….. Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu. 

Gerakan pinggul Marissa Haque sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…

”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Marissa Haque mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya…. Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Marissa Haque berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Marissa Haque menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya.,

Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut… Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Marissa Haque yang terangkat mengapit pinggangku. Buah dadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “

Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya. Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Marissa Haque yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah. Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan…. Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Marissa Haque mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas…. Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.


“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak…. Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat. Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku… Marissa Haque pun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba…

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik.

“AAkkkkkkhhssss…………..”

Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian. Creetttt….creeettttt…. cretttt…..

Sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Marissa Haque yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya… Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Marissa Haque yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Marissa Haque sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya. Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Marissa Haque sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Marissa Haque menjerit..

”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?”

Lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengomel panik…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.
Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis

“Sebaiknya kamu secepatnya meninggalkan tempat ini…!”

katanya marah . Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Marissa Haque terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Marissa Haque benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya.

Dan sampai hari terakhir workshop Marissa Haque benar-benar tidak mau didekati olehku. Aku tetap berakting, seolah tidak terjadi apa-apa, begitu pula di depan dosen – dosen lain. 

Aku tetap tenang. Dosen lain tidak tahu dan tidak menyadari. Walau sikap Marissa Haque sekarang dingin dan jutek kepadaku, sekali kali aku mauk ke kamarnya, saat mengambil bahan materi atau laptop, sering kudapati Marissa Haque terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Tentu saja Marissa Haque tidak berani terang-terangan marah padaku, apalagi di depan dosen-dosen lain. Ternyata Marissa Haque takut juga jika seandainya skandal nya dengan aku sampai ketahuan, mengingat posisinya sebagai seorang public figur dan selebritis

Bisa dikatakan jika sedang sendirian kudapati Marissa Haque menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Pastinya dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional. Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya.

Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi. Itupun minim variasi posisi .

Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali. Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya. Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku. Hari terakhir workshop, Marissa Haque begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Setelah presentasi nya selesai, Marissa Haque bergegas pulang ke Jakarta, dengan alasan ingin istirahat dan berkumpul dengan keluarganya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Marissa Haque begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Marissa Haque lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda…

Marissa Haque begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah.

Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Marissa Haque, malam itu Marissa Haque begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan.

Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak. Marissa Haque pun melamun…… Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang.
“Uhhh……”

Tanpa sadar dia mengeluh Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..? Namun buru-buru dia sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Marissa Haque setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku.

Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme.

Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya. 

Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, dan saat Marissa Haque kembali ke kota ku untuk merampungkan penelitiannya, dia tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan
.
Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah.

Tetap saja Marissa Haque menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah. Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Marissa Haque yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya




“Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan,

“Sudahlah Xel, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan kamu…., setelah saya pikir…, saya pun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”.

Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu. Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan
kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya.. pokoknya Marissa Haque berbeda jauh dari sikapnya yang selama ini yang jutek dan angkuh.

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar