Sejalan dengan waktu, kini aku bisa
kuliah di universitas keinginanku. Namaku
Jack, sekarang aku tinggal di Ibukota, dengan fasilitas yang sangat baik
sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku
mempunyai penghasilan tinggi.
Jack, sekarang aku tinggal di Ibukota, dengan fasilitas yang sangat baik
sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku
mempunyai penghasilan tinggi.
Berawal dari reuni SMP-ku. Setelah
itu aku bertemu dengan guru kesenianku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata
Ibu Poppy, nama guru ku itu masih
segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan,
memakai rok pendek lebar diatas lutut, kaos tanktop didalam blazer ketat yang menutupi tubuhnya yang masih langsing, tinggi dan putih. sehingga lekuk tubuhnya nampak
begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMP dulu dia adalah
guru termuda yang mengajar di sekolah kami.
segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan,
memakai rok pendek lebar diatas lutut, kaos tanktop didalam blazer ketat yang menutupi tubuhnya yang masih langsing, tinggi dan putih. sehingga lekuk tubuhnya nampak
begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMP dulu dia adalah
guru termuda yang mengajar di sekolah kami.
Dahulu aku sering mengintip pahanya
saat dia mengajar dikelas. Dikelasku meja gurunya tidak ada papan penghalang
dibagian bawahnya, jadi terkadang para guru termasuk buk Poppy sering tidak
sadar bahwa posisi kedua kakinya mengangkang sehingga paha putihnya dan celana
dalamnya terlihat. Saat itu sudah menjadi sebuah sensasi tersendiri bagiku yang
baru beranjak puber dan aku sering beronani membayangkan suatu saat aku bisa
bercinta dengan guruku yang seksi itu.
Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu
Poppy, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan
harus pulang. Lalu kami pun berjalan menuju ke pintu gerbang sambil menyusuri
ruang kelas tempatku belajar waktu SMP dulu.
Tiba-tiba Ibu Poppy teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam
kelas sehinga
kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas
malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa.
Sesampainya di kelas, Ibu Poppy pun mengambil tasnya kemudian aku teringat
akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman.
Lamunanku buyar ketika Ibu Poppy memanggilku.
kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas
malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa.
Sesampainya di kelas, Ibu Poppy pun mengambil tasnya kemudian aku teringat
akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman.
Lamunanku buyar ketika Ibu Poppy memanggilku.
“Kenapa Jack” tanya buk
Poppy
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Poppy di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
“Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Poppy.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Jack”.
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Poppy di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
“Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Poppy.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Jack”.
Tanpa sengaja aku mengutarakan isi
hatiku kepada Ibu Poppy bahwa aku suka
kepadanya,
kepadanya,
“Oh my God what i’m doing”, dalam
hatiku.
Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Poppy terdiam saja
dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Poppy
ternyata sudah cerai dengan
suaminya, katanya suaminya kabur karena ada masalah. Aku tertegun
dengan pernyataan Ibu Poppy. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu
Ibu Poppy mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa
masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu
masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Poppy menolak.
suaminya, katanya suaminya kabur karena ada masalah. Aku tertegun
dengan pernyataan Ibu Poppy. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu
Ibu Poppy mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa
masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu
masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Poppy menolak.
Aku merasa tidak enak lalu
menunggunya, kurangkul pundak Ibu Poppy, dengan cepat Ibu Poppy hendak menolak
tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Poppy menciumku dan aku pun
membalasnya.
Ohh.., alangkah senangnya aku ini,
lalu dengan cepat aku menciumnya dengan
segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Poppy tak mau kalah, ia
menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari
seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya, Ibu Poppy
terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan
yang sangat seru. Ibu Poppy memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku
sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Poppy membuka
bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap
dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil
ternyata cukup montok juga dan indah, BH-nya berwarna krem berenda yang modelnya
amat seksi.
segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Poppy tak mau kalah, ia
menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari
seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya, Ibu Poppy
terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan
yang sangat seru. Ibu Poppy memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku
sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Poppy membuka
bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap
dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil
ternyata cukup montok juga dan indah, BH-nya berwarna krem berenda yang modelnya
amat seksi.
Karena tidak sabar maka kucium
lehernya dan kini Ibu Poppy setengah
telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan
kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang
tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Poppy,
telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan
kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang
tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Poppy,
“Jack, Ibu rasa ibu mau bercinta denganmu sekarang..,
Jack, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin
menahan birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali, secepat
kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu
agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Poppy. Kini
aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua
kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk
dibungkus celana dalam warna krem yang amat minim. Sambil mencium
pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang
senggamanya dan klitorisnya yang tebal. Lidahku makin naik ke atas. Bu
Poppy menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku
sampai di pangkal pahanya.
agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Poppy. Kini
aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua
kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk
dibungkus celana dalam warna krem yang amat minim. Sambil mencium
pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang
senggamanya dan klitorisnya yang tebal. Lidahku makin naik ke atas. Bu
Poppy menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku
sampai di pangkal pahanya.
“Ooo oohhhh .... Mau apa kamu..???
sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat - erat.
“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Poppy keenakan ketika mulutku mengecup di alat kelaminnya. Selanjutnya lidahku mulai bermain-main
di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi
celana dalam.
“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Poppy keenakan ketika mulutku mengecup di alat kelaminnya. Selanjutnya lidahku mulai bermain-main
di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi
celana dalam.
Serangan pun kutingkatkan. Celana
dalamnya kulorotkan. Sekarang perangkat rahasia
miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang menggoda sesuai
dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat.
Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke
dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Poppy makin
keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang menggoda sesuai
dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat.
Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke
dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Poppy makin
keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
“Aahh… Kau pintar sekali. Belajar dari mana aahh…oohh....”
ujar sambil meremas remas rambutku, hingga membuatku makin gemas saja untuk
terus menyeruput liang vagiananya yang telah basah dan terasa asin. Setelah
puas menjilati kemaluannya aku berdiri dan berhadap hadapan dengannya. Kulihat
nafas ibu poppy terengah engah dan menatapku dengan penuh nafsu membara
Tanpa sungkan-sungkan Ibu Poppy
mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh
celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal,
meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya.
Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Poppy seperti
akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti
melekat di mulutnya.
celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal,
meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih
polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya.
Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Poppy seperti
akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti
melekat di mulutnya.
“Uhhh... kamu pengalaman sekali ya.
Sama siapa? Pacarmu ya..uhhh...?”,
tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak
menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak
menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang
dada. Tak puas, segera kupelorotkan juga rok mininya. Nah, kini dia telanjang bulat.
Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.
tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak
menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak
menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang
dada. Tak puas, segera kupelorotkan juga rok mininya. Nah, kini dia telanjang bulat.
Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.
“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..”
Ibu Poppy pun melucuti kaos,
celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh
segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas meja panjang yang biasa untuk menjamu tamu itu, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Poppy mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya
aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.
celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh
segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas meja panjang yang biasa untuk menjamu tamu itu, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Poppy mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya
aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.
“Gantian dong..” Tanpa menunggu
jawabannya segera kumasukkan batang
kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama
dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke
rongga mulutnya.
kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama
dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke
rongga mulutnya.
“Mpphh.. Mmmhh...” terdengar suara dari kuluman mulut
Ibu Poppy mengoral kontolku dengan hot.
“ Oouuhh .. enak Buuu/ .. Teruss..
Ugghh.. “ desahku menahan sensasi saat lidah dan mulut Ibu Poppy terus memburu
dan menjilati kontolku. Bagai sedang memainkan penisku keluar masuk mulutnya,
“Justru di situ nikmatnya..,
“Selama ini sama suami mainseksnya
gimana?”, tanyaku setelah Ibu Poppy menghentikan aktifitas nya setelah puas
mengoral kontolku.
Ibu Poppy tak menjawab. Dia malah
mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun
secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan saat tanganku menjalar turun meraba nonok nya, selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.
secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan saat tanganku menjalar turun meraba nonok nya, selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.
Tetapi lama-lama aku tidak tahan
juga, batang kemaluanku pun sudah ingin
segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan
barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai
menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Poppy agak gemetar.
“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke
liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang
naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil,
lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.
segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan
barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai
menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Poppy agak gemetar.
“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke
liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang
naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil,
lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.
Tiga menit setelah kugenjot, Ibu
Poppy menjepitkan kedua kakinya ke
pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan
batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya
dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan
seluruh wajahnya yang berkeringat.
pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan
batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya
dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan
seluruh wajahnya yang berkeringat.
“Sekarang Ibu Poppy berbalik.
Menungging di atas meja.., aku mau ngentotin ibu
dari belakang.” Perintahku.
Aku mengatur badannya
dan Ibu Poppy menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
“Doggie style ya.. Ohhh.... ?”, ujarnya makin bergairah dan binal.
“Doggie style ya.. Ohhh.... ?”, ujarnya makin bergairah dan binal.
Setelah
siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari
belakang. Ibu Poppy kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan
yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari
suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek?”, tanyaku.
belakang. Ibu Poppy kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan
yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari
suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
“Capek?”, tanyaku.
“Kamu ini
aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang- tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang
menggemaskan.
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar nembak dalam nonok Ibu.... udah nggak tahan lagi nih aku mau coblos... “ ujarku
“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang
menggemaskan.
“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar nembak dalam nonok Ibu.... udah nggak tahan lagi nih aku mau coblos... “ ujarku
“Sekarang
Ibu Poppy yang di atas .. ya..? ”, kataku sambil mengatur posisinya.
Aku
terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar
memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Poppy tersentak-
sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya
yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan
lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme
aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Poppy
kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku
meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku.
memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Poppy tersentak-
sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya
yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan
lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme
aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Poppy
kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku
meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku.
“Oh Ibu Poppy.., aku mau keluar nih ahh..” Tak
lama kemudian spermaku muncrat di
dalam liang kenikmatannya. Ibu Poppy kemudian menyusul mencapai klimaks.
Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit
batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.
dalam liang kenikmatannya. Ibu Poppy kemudian menyusul mencapai klimaks.
Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit
batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.
Kami
berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas
merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami
bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali.
Ibu Poppy harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.
merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami
bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali.
Ibu Poppy harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.
Sore
telah tiba, Ibu Poppy kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan
kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami
beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Poppy mendongakkan kepala
sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah
dadanya. Nafas Ibu Poppy makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara
kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan
yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Poppy a menggelinjang, tapi gairahku
sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok
mininya.
kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami
beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Poppy mendongakkan kepala
sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah
dadanya. Nafas Ibu Poppy makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara
kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan
yang membayang. “Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Poppy a menggelinjang, tapi gairahku
sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok
mininya.
Setelah
itu kubuat bangku depan mobil ku rebah,hingga dengan leluasa aku menerkam Ibu
Poppy dengan posisi yang menantang di jok depan mobilku dengan memakai BH krem
dan CD krem nya. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan
masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan.
Tangan Ibu Poppy mengelus
bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar.
Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun
segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya.
“Ehhh…,
mmmhh..”. Tangan Ibu Poppy meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar
ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan
menjilatinya dengan perlahan.
“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Poppy mengangkat
punggungnya ketika lidahku
menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku
bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali
lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Poppy terlonjak dan nafas
bu Poppy seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua
bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat
dan mengulum, Ibu Poppy tergeletak terengah-engah, matanya terpejam.
Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung
ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Poppy. “Mmmhh…, mmmhh..,
ooohhm..”. Ketika Ibu Poppy membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku,
kini ia pun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan
membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Poppy., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.
menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku
bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali
lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Poppy terlonjak dan nafas
bu Poppy seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua
bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat
dan mengulum, Ibu Poppy tergeletak terengah-engah, matanya terpejam.
Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung
ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Poppy. “Mmmhh…, mmmhh..,
ooohhm..”. Ketika Ibu Poppy membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku,
kini ia pun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan
membelai kemaluannya. “Oouuuh Ibu Poppy., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.
Ibu Poppy terus
mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap
liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan
batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit
dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di
dalamnya ingin meloncat ke luar. “buk Poppy a.., ooohh.., enaaak.., teruuus”,
teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya
dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya
terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..”
liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan
batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit
dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di
dalamnya ingin meloncat ke luar. “buk Poppy a.., ooohh.., enaaak.., teruuus”,
teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya
dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya
terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..”
“Oughh.., Jack.., nikmat..”,
erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh
batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak
kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke
dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang
tumpah di dalam mulutnya.
batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak
kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke
dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang
tumpah di dalam mulutnya.
“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aku
masih belum merasa lemas dan masih
mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Poppy dan bibirku melumat bibirnya.
Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Poppy dan aroma kemaluan Ibu Poppy di
mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-
gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Poppy, dan sebentar
kemudian kurasakan tangan Ibu Poppy menekan pantatku dari belakang.
mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Poppy dan bibirku melumat bibirnya.
Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Poppy dan aroma kemaluan Ibu Poppy di
mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-
gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Poppy, dan sebentar
kemudian kurasakan tangan Ibu Poppy menekan pantatku dari belakang.
“Ohm, masuk.., augh.., masukin”
Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang
kemaluannya dan Ibu Poppy semakin
mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa ertahan
oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Poppy memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi
dan mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh..,
aduhhh.., enak.., Jack”
Aku merangkulkan
kedua lenganku ke punggung Ibu Poppy, lalu membalikkan kedua tubuh kami
sehingga Ibu Poppy sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap
hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Poppy segera
menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok
payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.
Ibu Poppy menggenjotku dengan hot dan liar, tanganya bertumpu pada pegangan di
pintu atas mobilku.
Lewat beberapa
waktu, gerakan pinggul Ibu Poppy makin menggila dan iapun membungkukkan
tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan
akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh
batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Poppy melemas, aku mendorongnya hingga
telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri.
Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Poppy tentu merasakan siraman air maniku di
liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang
kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup
dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa
kenikmatan orgasme.
Itulah petualangan
ku , bercinta dengan mantan guruku yang hot, Ibu Poppy amat menikmati bercinta
denganku. Melampiaskan semua gairahnya yang tidak dapat dia salurkan setelah
ditinggal kabur suaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar