Gusti, Guru Sejarahku
Namaku Haryanto , teman-teman memanggilku Anto bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Postur tubuhku termasuk kekar dan berotot karena sewaktu SMP hingga SMA aku aktif di eskul Karate. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku (ML) atau bercinta dengan seorang wanita, yakni guku ku sewaktu SMP. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA..
Gusti adalah seorang guru sejarah saat aku masih SMP
Umurnya 30 tahun, masih lajang dan belum menikah .. Tinggi
170 berat 50 kg, Wajahnya tidak begitu cantik, namun menggairahkan. Bagian atas
mulutnya ditumbuhi bulu-bulu halus, jika diperhatikan sepintas, me nyerupai
kumis yang tumbuh. kata orang, jika
wanita yang ditumbuhi “kumis” seperti itu punya birahi sex yang tinggi,
hehehe.... Semua murid-muridnya, terutama
yang laki-laki pengen banget melihat
tubuh polosnya.. Gusti sering menjadi
fantasi sex bagi murid laki-laki yang sebaya denganku saat itu alias
masih puber.
Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya
oval dengan rambut panjang bergelombang yang di dibiarkan terurai, terkadang
Gusti mengikat rambutnya keatas ala pramugari, yang memamerkan tengkuk dan
lehernya yang jenjang dan ditumbuhi bulu halus remang-remang,
Yang membuatku sangat tertarik pada
Gusti adalah tonjolan dua bukit
payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang indah pada saat
dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang
tajam,
Siang itu. Kebetulan aku main-main ke Sekolah SMP
lama, aku berdiri di depan gerbang
sekolah, jam menunjukan pukul 2 siang, anak-anak SMP sudah banyak yang pulang. Sebenarnya
tujuanku hanya tidak hanya kebetulan lewat dengan motorku. Dan sekedar
bernostalgia sedikit, mengenang masa-masa SMP disekolah itu.
Kebetulan dari kejauhan kulihat seorang wanita bahenol
berjalan pulang ke arah gerbang dan dekat denganku sambil menenteng tasnya, aku
langsung mengenalinya, si guru sejarah yang motok padat berisi, fantasi jorokku
saat dahulu bahkan sekarang.!!. terlihat Gusti makin mendekati tempatku berdiri
dan berkata,
“ Hai anto... apa kabar kamu, tumben kesini? “
“ gak ada buk... saya Cuma pengen nongkrong aja
hehehe...” ujarku
Setelah bercakap cakap beberapa saat, aku menawari
mengantar Gusti pulang. Rupanya tempat tinggal Gusti tidak jauh dari sekolah,
kira-kira dua gang.
“ Boleh, sambil main-main kan kita udah lama nggak
ketemu “ ujarnya terlihat antusias.
Aku girang mendengar jawabannya. Dahulu Gusti adalah
guruku, sekarang sudah tidak lagi, hingga bahasa kamipun sudah tidak formal
lagi dan aku merasa nyaman bercakap dengannya. Motor ku titip di warung depan
sekolah itu. Gusti jalan duluan dan aku menyusul dari belakang sambil menikmati
goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah agak jauh dari
lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar
kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan.
“Kamu benar-benar ingin main kerumah? “ tanyanya
memecah kesunyian.
“ ya, lagian
saya lagi bete sendirian bu” jawabku .
“ Ehm, Ibu makin cantik aja “ Ujarku mencoba merayunya
“ Ah, kamu bisa aja” Katanya sambil mencubit
pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang
telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. Tak kuduga Gusti
balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.
Akhirnya kami sampai di rumah Gusti.
Rumah itu agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena
tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Gusti membuka
tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
“ Anto masuklah. Lepas sepatumu di
dalam, tutup dan kunci kembali pintunya” ujarnya.
Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, Gusti menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. sementara aku masih berdiri menunggu nya di ruang tamu.
Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, Gusti menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. sementara aku masih berdiri menunggu nya di ruang tamu.
Aku agak terkesiap juga melihat ketika dengan
santainya dia melepaskan blazer kerjanya, sehingga dia sekarang mengenakan baju
kemeja putih yang tipis, transparan hingga memperlihatkan cetakan BH-nya yang
berwarna krem, leher dan dadanya yang putih dan ditumbuhi bulu bulu halus itu
begitu membuat jantungku berdegup , terlihat tonjolan buah dadanya yang besar mencuat keluar dari BH tersebut,
membuatnya semakin sexy,
“ Kenapa panas banget siang ini yah
nto? “ katanya sambil membuka dua buah kancing banjunya, hingga dadanya yang putih
tersingkap jelas.
Mataku nyaris
copot karena melotot, melihat tubuh Gusti yang semok, Gusti lalu membiarkan rambut
panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka
murid-muridnya dulu.
"Kenapa kamu berdiri aja, mari duduk dulu, .." perintahnya, bagai magnet. Aku pun duduk dikarpet ruang tamunya.
Mungkin karena melihat mukaku merah karena malu, Gusti tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
""Anto kamu mau menolong saya?", Gusti merapatkan duduknya di dekat ku
"Apa Ibu?", tubuh ku bergetar ketika kurasakan tangan mantan guruku itu merangkul diriku, sementara tangan Gusti yang satunya sedang mengusap-uasap daerah 'vital' nya..
"Kenapa kamu berdiri aja, mari duduk dulu, .." perintahnya, bagai magnet. Aku pun duduk dikarpet ruang tamunya.
Mungkin karena melihat mukaku merah karena malu, Gusti tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
""Anto kamu mau menolong saya?", Gusti merapatkan duduknya di dekat ku
"Apa Ibu?", tubuh ku bergetar ketika kurasakan tangan mantan guruku itu merangkul diriku, sementara tangan Gusti yang satunya sedang mengusap-uasap daerah 'vital' nya..
Dadaku makin berdegup kencang
melihat pemandangan yang luar biasa eksotis ini, aku tak menyangka begitu cepat
ini terjadi
“Nto, tolong dong, lepasin bajuku..”
katanya dengan wajah yang binal dan menantang.
“ Ba..Baik Bu..” Ujar ku gemetaran.
Tentu saja aku tak menyia nyiakan
kesempatan langka ini , perlahan kubuka satu persatu kancing kemeja putihnya,
setelah terbuka semua Gusti melepaskan bajunya itu hingga hanya mengenakan BH
berwarna krem.
"Tolong ya nto.., dan janji jangan bocorkan
pada siapa--siapa" ujar nya setengah berbisik.
"Tapi tapi..., Saya". Ujarku gugup.
"Kenapa?, oo..., kamu masih ting ting ya?". Ujarnya dengan senyum mesum yang menggoda
aku hanya mengangguk bodoh mendengar perkataan Gusti
"Tapi tapi..., Saya". Ujarku gugup.
"Kenapa?, oo..., kamu masih ting ting ya?". Ujarnya dengan senyum mesum yang menggoda
aku hanya mengangguk bodoh mendengar perkataan Gusti
"Iya" jawabku polos.
"Nggak apa-apa.. relax aja biar Ibu bimbing ya....” Ujarnya mengelus wajahku
Gusti kemudian duduk di pangkuanku. Bibir nya didekatkan ke bibirku dan Gusti mulai menciumi bibirku, sontak kubalas kecupannya dan kami berdua kemudian saling berpagutan, Gusti terlihat agresif seperti wanita yang haus akan kehangatan dan Aku yang menurut saja ketika tubuh hangat Gusti disandarkannya ke dadaku. Aku bisa merasakan susu Gusti yang mengeras. Lidah Gusti menjelajahi mulut ku, aku pun membalas mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
"Nggak apa-apa.. relax aja biar Ibu bimbing ya....” Ujarnya mengelus wajahku
Gusti kemudian duduk di pangkuanku. Bibir nya didekatkan ke bibirku dan Gusti mulai menciumi bibirku, sontak kubalas kecupannya dan kami berdua kemudian saling berpagutan, Gusti terlihat agresif seperti wanita yang haus akan kehangatan dan Aku yang menurut saja ketika tubuh hangat Gusti disandarkannya ke dadaku. Aku bisa merasakan susu Gusti yang mengeras. Lidah Gusti menjelajahi mulut ku, aku pun membalas mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Aku begitu menikmati saat bibiku dicumbu Gusti
dengan hot, setelah puas bercipokan. Gusti menghentikan sejenak dan posisinya
duduk membelakangiku.
“ Tolong dong lepasin
pengaitnya,” katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya,
dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, Gusti
berdiri Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta
dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang
paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di
dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang ku. Ketika dia menpleh
kebelakang, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana
agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan
dia menurunkan rok mini nya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi
pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana
dalam kremnya, tanganku tak tahan guna meraba pantat Gusti dan kuberanikan diri unruk sedikit meremas
pantat montok nya itu.
“ nggak sabar kamu ya, Kata Gusti menoleh kebelakang.
“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes sayaâ” ujarku sekenanya
“Sekarang di sini jangan panggil saya bu lagi, panggil nama saya aja ya?” Ujarnya
“Iya bu, eh, Gusti..” ujaku berdebar
Konsentrasiku asli buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, melihat Gusti didepanku tanpa mengenakan BH, kedua susunya yang ukuran 32B itu terlihat indah menggelatung. pusarnya yang sexy tidak tertutup, celana dalam krem ketat menambah ke sexyannya ,Dan..... gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang sekal, putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.
“ Gimana Nto?, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkacak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.
“Kok kamu jadi bengong, ?” Lanjutnya sambil tersenyum menghampiriku.
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhhâ” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhhâ¦.mmmmmhhhhha” Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan memainkan jari tengahku di belahan pantatnya, terus kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.
"Lepaskan pakaianmu Anto", Gusti berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. Akupun dengan tergesa-gesa mencopot semua pakaianku hingga bugil.
"Ahh cepat Anto", Gusti mendesah tidak sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya, tidak tahu apa yang harus Kulakukan. Pengetahuanku tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.
"Anto..., letakkan tanganmu di dada saya “ perintahnya
Dengan gemetar Aku meletakkan tangannya di dada Gusti yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing Gusti untuk meremas-remas payudaranya yang montok itu.
"Oohh..., enakk..., begitu caranya..., remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Desah Gusti dengan mata terpejam. Dengan semangat aku melakukan apa yang diperintahkan Gusti.
"Ibu..., Boleh saya hisap susu Ibu?"bisiku pelan.
Gusti tersenyum mendengar pertanyaan ku, lalu berkata sambil menunduk,
“ nggak sabar kamu ya, Kata Gusti menoleh kebelakang.
“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes sayaâ” ujarku sekenanya
“Sekarang di sini jangan panggil saya bu lagi, panggil nama saya aja ya?” Ujarnya
“Iya bu, eh, Gusti..” ujaku berdebar
Konsentrasiku asli buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, melihat Gusti didepanku tanpa mengenakan BH, kedua susunya yang ukuran 32B itu terlihat indah menggelatung. pusarnya yang sexy tidak tertutup, celana dalam krem ketat menambah ke sexyannya ,Dan..... gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang sekal, putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.
“ Gimana Nto?, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkacak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.
“Kok kamu jadi bengong, ?” Lanjutnya sambil tersenyum menghampiriku.
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhhâ” Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhhâ¦.mmmmmhhhhha” Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan memainkan jari tengahku di belahan pantatnya, terus kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.
"Lepaskan pakaianmu Anto", Gusti berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. Akupun dengan tergesa-gesa mencopot semua pakaianku hingga bugil.
"Ahh cepat Anto", Gusti mendesah tidak sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya, tidak tahu apa yang harus Kulakukan. Pengetahuanku tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.
"Anto..., letakkan tanganmu di dada saya “ perintahnya
Dengan gemetar Aku meletakkan tangannya di dada Gusti yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing Gusti untuk meremas-remas payudaranya yang montok itu.
"Oohh..., enakk..., begitu caranya..., remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Desah Gusti dengan mata terpejam. Dengan semangat aku melakukan apa yang diperintahkan Gusti.
"Ibu..., Boleh saya hisap susu Ibu?"bisiku pelan.
Gusti tersenyum mendengar pertanyaan ku, lalu berkata sambil menunduk,
"Boleh..., lakukan apa yang kamu
suka".
Tanpa menunggu kusisap puting susu Gusti yang mencuat berwarna kemerahan. Kurasa tubuh Gusti menegang ketika jilatan dan hisapan mulutku di susunya.
Tanpa menunggu kusisap puting susu Gusti yang mencuat berwarna kemerahan. Kurasa tubuh Gusti menegang ketika jilatan dan hisapan mulutku di susunya.
"Oohh..., jilat terus sayang..., ohh..
beibehh.... Ooocchh... !", Tangan Gusti terasa mendekap erat kepalaku ke
payudaranya.
Aku semakin buas menjilati puting susu Gusti , Tanpa kusadari hisapanku di susunya menimbulkan bunyi yang nyaring dan makin terdengar keras, bahkan karena gemas aku gigit-gigit ringan puting Gusti tersebut.
"mmmmhh..., nakal kamuu ..hh...", Desah Gusti tersenyum manja.
"Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".ujarnya padaku
Aku melihat apa yang diperintahkan Gusti. Gusti terlihat mengangkangkan kedua kakinya
Aku semakin buas menjilati puting susu Gusti , Tanpa kusadari hisapanku di susunya menimbulkan bunyi yang nyaring dan makin terdengar keras, bahkan karena gemas aku gigit-gigit ringan puting Gusti tersebut.
"mmmmhh..., nakal kamuu ..hh...", Desah Gusti tersenyum manja.
"Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".ujarnya padaku
Aku melihat apa yang diperintahkan Gusti. Gusti terlihat mengangkangkan kedua kakinya
“ sekarang kamu buka celana dalam saya ntoo...”
perintahnya. aku menurut saja. Kutarik celana berbentuk segitiga itu di
pusarnya dan melorotkannya kebawah hingga lepas diantara kakinya. Dan kubuang
kearah sembarangan.
Kemudia Gusti memerintahkan aku agar bersimpuh diantara
kakinya yang membuka lebar. Gusti kemudian menyandarkan pinggulnya pada bantal
yang dihimpitnya di belakang tubuhnya.
"Coba kamu rasakan ini sayang.. ", ia membimbing jariku memasuki vaginanya.
"Hangat Bu.." ujarku bergetar. Melihat pemandangan indah. Kemaluan Gusti yang menganga lebar dan bulu-bulu rimbun mengitari vaginanya yang terlihat banyak cairan kental seperti pelumas di sekitarnya.
“Bisa kamu rasakan ada semacam pentil...?" ujarnya dengan wajah konak.
"Iya.." jawabku.
"Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok" perintahnya lagi.
"Coba kamu rasakan ini sayang.. ", ia membimbing jariku memasuki vaginanya.
"Hangat Bu.." ujarku bergetar. Melihat pemandangan indah. Kemaluan Gusti yang menganga lebar dan bulu-bulu rimbun mengitari vaginanya yang terlihat banyak cairan kental seperti pelumas di sekitarnya.
“Bisa kamu rasakan ada semacam pentil...?" ujarnya dengan wajah konak.
"Iya.." jawabku.
"Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok" perintahnya lagi.
Pelan-pelan jariku mengusap-usap clitoris yang mulai
menyembul itu sesuai perintahnya
"Terus..., oohh..., ya..., gosok..., gosok", terdengar suara Gusti mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh jariku.
"Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Aku tersenyum sambil terus menggosok-gosok jariku disana.
"Oohh..., Antoo..., mm", tubuh Gusti terlihat telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tanganku semakin berani mempermainkan clitoris Gusti yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahananya akan segera jebol.
"Oohh ... aahh..., Anntoo....!!!!", Tangan Gusti mencengkeram pundak ku, sementara tubuhnya menegang dan terasa otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, tampak Gusti menikmati kenikmatan yang barusan dia rasakan. Terlihat Gusti mengatur nafas menikmati orgasme nya oleh kobelan jariku.
"Hmm..., kamu lihai Anto..., Sekarang..., coba kamu berbaring" perintah berikutnya
Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Gusti menggenggam batang penisku yang panjang.
"Wah..., wahh.., besar sekali", tangan Gusti segera mengusap-usap penisku yang telah mengeras tersebut.
Segera saja Gusti merubah posisinya, dengan cepat dia dorong tubuhku kebawah dan dia sudah berposisi wajahnya berada di selangkanganku, perlahan kulihat benda panjangku dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Gusti. Ia segera menjilati penisku dengan penuh semangat. Kepala penisku itu dihisapnya keras-keras, sehingga membuatku merintih keenakan.
"Ahh..., enakk...,enakk", ujarku tanpa sadar secara naluriah aku menyodok-nyodokkan pinggulku untuk semakin menekan batang penisku maju mundur dalam mulut Gusti.
Penisku makin amblas dikuluman Gusti. Kupercepat gerakan pinggulku seiring semakin kerasnya hisapan Gusti.
"oohh Gusti... Gustiiihhh...!!!!" desahku kuat saat merasakan spremaku bakal muncrat dalam mulutnya
"Terus..., oohh..., ya..., gosok..., gosok", terdengar suara Gusti mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh jariku.
"Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Aku tersenyum sambil terus menggosok-gosok jariku disana.
"Oohh..., Antoo..., mm", tubuh Gusti terlihat telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tanganku semakin berani mempermainkan clitoris Gusti yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahananya akan segera jebol.
"Oohh ... aahh..., Anntoo....!!!!", Tangan Gusti mencengkeram pundak ku, sementara tubuhnya menegang dan terasa otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, tampak Gusti menikmati kenikmatan yang barusan dia rasakan. Terlihat Gusti mengatur nafas menikmati orgasme nya oleh kobelan jariku.
"Hmm..., kamu lihai Anto..., Sekarang..., coba kamu berbaring" perintah berikutnya
Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Gusti menggenggam batang penisku yang panjang.
"Wah..., wahh.., besar sekali", tangan Gusti segera mengusap-usap penisku yang telah mengeras tersebut.
Segera saja Gusti merubah posisinya, dengan cepat dia dorong tubuhku kebawah dan dia sudah berposisi wajahnya berada di selangkanganku, perlahan kulihat benda panjangku dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Gusti. Ia segera menjilati penisku dengan penuh semangat. Kepala penisku itu dihisapnya keras-keras, sehingga membuatku merintih keenakan.
"Ahh..., enakk...,enakk", ujarku tanpa sadar secara naluriah aku menyodok-nyodokkan pinggulku untuk semakin menekan batang penisku maju mundur dalam mulut Gusti.
Penisku makin amblas dikuluman Gusti. Kupercepat gerakan pinggulku seiring semakin kerasnya hisapan Gusti.
"oohh Gusti... Gustiiihhh...!!!!" desahku kuat saat merasakan spremaku bakal muncrat dalam mulutnya
“ crooottt...” Muncratlah cairan maniku di dalam
mulut Gusti, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.
"Hmm..., gurih rasanya Anto", Ujar Gusti masih tetap menjilati penisku yang masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu" ujarnya beranjak kebelakang meninggalkanku yang menikmati orgasmeku.
"Hmm..., gurih rasanya Anto", Ujar Gusti masih tetap menjilati penisku yang masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu" ujarnya beranjak kebelakang meninggalkanku yang menikmati orgasmeku.
Setelah mengatur nafas sebentar, aku berdiri
menyusul Gusti ke arah dapur nya.
Terlihat Gusti sedang menungging di depan kulkas yang pintunya terbuka.
Ketika posisi Gusti sedang membelakangiku sambil menenggak susu kotak dari kulkas itulah mendekapnya dari belakang.
"Anto..., biar saya minum dulu". Ujarnya agak kaget melihat aku memeluknya dari belakang.
"Tidak..., nikmati saja ini", Ujarku mendorong Gusti ke kulkas, dan menutup kembali pintu kulkas.
Susu kotak yang dipegang Gusti jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Gusti kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Aku masukin yaa..., sekarang!" ujarku penuh nafsu aku kangkangkan belahan pantatnya dan aku menyejajarkan penisku dengan lobang vaginanya. Setelah pas, aku mulai menyodok vagina Gusti dari belakang. Ternayata lobang kawinnya tidak susah untuk dimasuki penisku. Ditambah dengan cairan cinta didaerah itu membuat penisku amblas kedalam liang vagina Gusti.
"Ahhkk...!!!!", Gusti berteriak saat aku terus menyodokkan penisku ke liang vaginanya dari belakang. Aku sangat menikmati hal ini, aku yang tadinya masih canggung karena sudah terangsang ditambah fantasi liar membuatku berubah menjadi liar dan bernafsu.
"Antoo..., enakk..., ohh..., ohh". Jerit Gusti menikmati kenikmatan yang tiada taranya, sama dengan yang kurasakan. Tangan ku satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Penisku kubuat maju mundur dengan ritme cepat melumat liang vaginanya.
" Enaka sayaangg", bisik ku di telinganya
"Ahh..., hh", Gusti hanya merintih, setiap merasakan penetrasi sodokanku dari belakang.
"Jawab..., ", dengan keras aku mengulangi sodokannya.
"Ahh...,iyaa ntooo enaaakkkkk... aahhh.... !!!!" rintih nya terengah engah merasakan genjotanku.
Ketika posisi Gusti sedang membelakangiku sambil menenggak susu kotak dari kulkas itulah mendekapnya dari belakang.
"Anto..., biar saya minum dulu". Ujarnya agak kaget melihat aku memeluknya dari belakang.
"Tidak..., nikmati saja ini", Ujarku mendorong Gusti ke kulkas, dan menutup kembali pintu kulkas.
Susu kotak yang dipegang Gusti jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Gusti kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Aku masukin yaa..., sekarang!" ujarku penuh nafsu aku kangkangkan belahan pantatnya dan aku menyejajarkan penisku dengan lobang vaginanya. Setelah pas, aku mulai menyodok vagina Gusti dari belakang. Ternayata lobang kawinnya tidak susah untuk dimasuki penisku. Ditambah dengan cairan cinta didaerah itu membuat penisku amblas kedalam liang vagina Gusti.
"Ahhkk...!!!!", Gusti berteriak saat aku terus menyodokkan penisku ke liang vaginanya dari belakang. Aku sangat menikmati hal ini, aku yang tadinya masih canggung karena sudah terangsang ditambah fantasi liar membuatku berubah menjadi liar dan bernafsu.
"Antoo..., enakk..., ohh..., ohh". Jerit Gusti menikmati kenikmatan yang tiada taranya, sama dengan yang kurasakan. Tangan ku satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Penisku kubuat maju mundur dengan ritme cepat melumat liang vaginanya.
" Enaka sayaangg", bisik ku di telinganya
"Ahh..., hh", Gusti hanya merintih, setiap merasakan penetrasi sodokanku dari belakang.
"Jawab..., ", dengan keras aku mengulangi sodokannya.
"Ahh...,iyaa ntooo enaaakkkkk... aahhh.... !!!!" rintih nya terengah engah merasakan genjotanku.
Gusti pun serta merta menggoyangkan pantat nya
mengimbangi sodokan ku dari belakang. Tubuh berguncang guncang kubuat, dan
keringat bersimbah dari tubuh kami. Aku terus memacu tubuh nya dengan semangat
dan tenaga ku , setiap rintihan dan desahan yang keluar dari mulut Gusti makin
membakar gairah ku.
“ Oohh.. Ahhh... Occh... Enaakk... Terusskann..
Terusss.. oocchh..!!! “ desah Gusti megap megap merasakan sodokan penisku
keluar masuk lobang buayanya. Tak lupa aku menciumi pundak nya.
Posisi menyetuhinya dari belakang itu membuat
penisku makin terasa dijepit dalam lobang kawin Gusti. Penis ku terasa di
blender dan dipelintir dinding vagina nya. Vagina Gusti seperti mencengkram
batang kejantanku. Terasa denyutan dan jepitan oleh lobang surgawinya itu
membuat semua titik rangsang ku bekerja dan berujung aku merasa akan
memuntahkan lahar peju ku dalam lobang kenikmatan itu.
“ Uhh..akuu..hhh.. mauu keluarr ouuhh..” bisiku saat
merasakan
"Anto..., Anto jangann..., di dal.. Laaaaa.....mmm...!!!!" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Aku telah menyemburkan benihku dalam liang vaginanya.
"Anto..., Anto jangann..., di dal.. Laaaaa.....mmm...!!!!" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Aku telah menyemburkan benihku dalam liang vaginanya.
“ Ahhhh,,ahhh.......!!!!! “ jerit kami serempak saat
spremaku menyemprot kencang membasahi rahimnya. Dan kurasakan kemudian Gusti menyodokkan
keras pula pinggulnya.
"Uuhgghh", penis ku yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Gusti
"Uuhgghh", penis ku yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Gusti
."Ahh". desahku merasakan kenikmatan tiada
tara.
Kami berdua tergolek lemas dilantai menikmati apa yang baru saja kami rasakan. Dan aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.
Kami berdua tergolek lemas dilantai menikmati apa yang baru saja kami rasakan. Dan aku menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.
Sejak
kejadian hari itu, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya
mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya,
yang membuatnya kehilangan keperawanan nya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya,
katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho).
________________________________________________________
________________________________________________________
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar