Kamis, 25 Agustus 2016

Luapan Birahi Gusti, Guru Sejarahku

Gusti, Guru Sejarahku

Namaku Haryanto , teman-teman memanggilku Anto bentuk wajahku tidak mengecewakan, imut-imut kalau teman-teman perempuanku bilang. Postur tubuhku termasuk kekar dan berotot karena sewaktu SMP hingga SMA aku aktif di eskul Karate. Langsung saja aku mulai dengan pengalaman pertamaku (ML) atau bercinta dengan seorang wanita, yakni guku ku sewaktu SMP. Kejadiannya waktu aku masih kelas dua SMA..
Gusti adalah seorang guru sejarah saat aku masih SMP  Umurnya 30  tahun, masih lajang dan belum menikah .. Tinggi 170 berat 50 kg, Wajahnya tidak begitu cantik, namun menggairahkan. Bagian atas mulutnya ditumbuhi bulu-bulu halus, jika diperhatikan sepintas, me nyerupai kumis yang tumbuh.  kata orang, jika wanita yang ditumbuhi “kumis” seperti itu punya birahi sex yang tinggi, hehehe.... Semua  murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengen banget  melihat tubuh polosnya.. Gusti sering menjadi  fantasi sex bagi murid laki-laki yang sebaya denganku saat itu alias masih puber.
Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, bentuk wajahnya oval dengan rambut panjang bergelombang yang di dibiarkan terurai, terkadang Gusti mengikat rambutnya keatas ala pramugari, yang memamerkan tengkuk dan lehernya yang jenjang dan ditumbuhi bulu halus remang-remang,
Yang membuatku sangat tertarik pada Gusti  adalah tonjolan dua bukit payudaranya yang cukup besar, bokongnya yang sexy dan bergoyang indah pada saat dia berjalan. Aku sering mencuri pandang padanya dengan tatapan mata yang tajam,
Siang itu. Kebetulan aku main-main ke Sekolah SMP lama, aku berdiri  di depan gerbang sekolah, jam menunjukan pukul 2 siang, anak-anak SMP sudah banyak yang pulang. Sebenarnya tujuanku hanya tidak hanya kebetulan lewat dengan motorku. Dan sekedar bernostalgia sedikit, mengenang masa-masa SMP disekolah itu.
Kebetulan dari kejauhan kulihat seorang wanita bahenol berjalan pulang ke arah gerbang dan dekat denganku sambil menenteng tasnya, aku langsung mengenalinya, si guru sejarah yang motok padat berisi, fantasi jorokku saat dahulu bahkan sekarang.!!. terlihat Gusti makin mendekati tempatku berdiri dan berkata,
“ Hai anto... apa kabar kamu, tumben kesini? “
“ gak ada buk... saya Cuma pengen nongkrong aja hehehe...” ujarku
Setelah bercakap cakap beberapa saat, aku menawari mengantar Gusti pulang. Rupanya tempat tinggal Gusti tidak jauh dari sekolah, kira-kira dua gang.
“ Boleh, sambil main-main kan kita udah lama nggak ketemu “ ujarnya terlihat antusias.
Aku girang mendengar jawabannya. Dahulu Gusti adalah guruku, sekarang sudah tidak lagi, hingga bahasa kamipun sudah tidak formal lagi dan aku merasa nyaman bercakap dengannya. Motor ku titip di warung depan sekolah itu. Gusti jalan duluan dan aku menyusul dari belakang sambil menikmati goyangan pinggul dan pantatnya yang aduhai. Ketika kami sudah agak jauh dari lingkungan sekolah dan sudah tidak terlihat lagi anak-anak sekolah di sekitar kami, dia berhenti, menungguku sampai di sampingnya. Kami berjalan beriringan.
“Kamu benar-benar ingin main kerumah? “ tanyanya memecah kesunyian.
 “ ya, lagian saya lagi bete sendirian bu”  jawabku .
“ Ehm, Ibu makin cantik aja “ Ujarku mencoba merayunya
“ Ah, kamu bisa aja” Katanya sambil mencubit pinggangku pelan. Aku tidak berusaha menghindari cubitannya, malah aku pegang telapak tangannya yang halus dan meremasnya dengan gemas. Tak kuduga Gusti balas meremas tanganku, sambil memandangiku lekat-lekat.
Akhirnya kami sampai di rumah Gusti. Rumah itu agak jauh dari rumah-rumah lain. Sepertinya rumah kontrakan, karena tidak terlihat tambahan ornamen bangunan pada rumah tersebut. Gusti membuka tasnya, mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
“ Anto masuklah. Lepas sepatumu di dalam, tutup dan kunci kembali pintunya” ujarnya.
Perintahnya cepat. Aku turuti permintaannya tanpa banyak bertanya. Begitu sampai di dalam rumah, Gusti menaruh tasnya di sebuah meja, masuk ke kamar tanpa menutup pintunya. sementara aku masih berdiri menunggu nya di ruang tamu.
 Aku agak terkesiap juga melihat ketika dengan santainya dia melepaskan blazer kerjanya, sehingga dia sekarang mengenakan baju kemeja putih yang tipis, transparan hingga memperlihatkan cetakan BH-nya yang berwarna krem, leher dan dadanya yang putih dan ditumbuhi bulu bulu halus itu begitu membuat jantungku berdegup , terlihat tonjolan buah dadanya  yang  besar mencuat keluar dari BH tersebut, membuatnya semakin sexy,
“ Kenapa panas banget siang ini yah nto? “ katanya sambil membuka dua buah kancing banjunya, hingga dadanya yang putih tersingkap jelas.
Mataku  nyaris copot karena melotot, melihat tubuh  Gusti yang semok, Gusti lalu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya dulu.
"Kenapa kamu berdiri aja, mari  duduk dulu, .." perintahnya, bagai magnet. Aku pun duduk dikarpet ruang tamunya.
Mungkin karena melihat mukaku merah karena malu, Gusti tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
""Anto kamu mau menolong saya?", Gusti merapatkan duduknya di dekat ku
"Apa Ibu?", tubuh ku bergetar ketika kurasakan tangan mantan guruku itu merangkul diriku, sementara tangan Gusti yang satunya sedang  mengusap-uasap daerah 'vital' nya.
.
Dadaku makin berdegup kencang melihat pemandangan yang luar biasa eksotis ini, aku tak menyangka begitu cepat ini terjadi
“Nto, tolong dong, lepasin bajuku..” katanya dengan wajah yang binal dan menantang.
“ Ba..Baik Bu..” Ujar ku gemetaran.
Tentu saja aku tak menyia nyiakan kesempatan langka ini , perlahan kubuka satu persatu kancing kemeja putihnya, setelah terbuka semua Gusti melepaskan bajunya itu hingga hanya mengenakan BH berwarna krem.
"Tolong ya nto.., dan janji jangan bocorkan pada siapa--siapa" ujar nya setengah berbisik.
"Tapi tapi..., Saya". Ujarku gugup.
"Kenapa?, oo..., kamu masih ting ting ya?". Ujarnya dengan senyum mesum yang menggoda
aku hanya mengangguk bodoh mendengar perkataan Gusti
"Iya" jawabku polos.
"Nggak apa-apa.. relax aja biar Ibu bimbing ya....” Ujarnya mengelus wajahku

Gusti kemudian duduk di pangkuanku. Bibir nya didekatkan ke bibirku dan Gusti mulai menciumi bibirku, sontak kubalas kecupannya dan kami berdua kemudian saling berpagutan, Gusti terlihat agresif seperti wanita yang haus akan kehangatan dan Aku yang menurut saja ketika tubuh hangat Gusti disandarkannya ke dadaku. Aku bisa merasakan susu Gusti yang mengeras. Lidah Gusti menjelajahi mulut ku, aku pun membalas mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Aku begitu menikmati saat bibiku dicumbu Gusti dengan hot, setelah puas bercipokan. Gusti menghentikan sejenak dan posisinya duduk membelakangiku.
“ Tolong dong lepasin pengaitnya,” katanya sambil membelakangiku. Aku buka pengait tali BH-nya, dengan wajah panas dan hati berdebar-debar. Setelah BH-nya terlepas, Gusti berdiri Kemudian dia kembali meminta tolong padaku, kali ini dia minta dibukakan risleting roknya! Aku kembali dibuatnya berdebar-debar dan yang paling parah, aku mulai merasa selangkanganku basah. Kemaluanku berontak di dalam celana dalam yang rangkap dengan celana panjang ku. Ketika dia menpleh kebelakang, dengan cepat aku memperbaiki posisi kemaluanku dari luar celana agar tidak terjepit. Kemudian aku buka risleting rok ketatnya. Dengan perlahan dia menurunkan rok mini nya, sehingga posisinya menungging di depanku. Aku memandangi pantatnya yang sexy dan sekarang tidak terbungkus rok, hanya mengenakan celana dalam kremnya, tanganku tak tahan guna meraba pantat Gusti  dan kuberanikan diri unruk sedikit meremas pantat montok nya itu.
“ nggak sabar kamu ya, Kata Gusti menoleh kebelakang.
“Maaf, bu, habis bokong ibu sexy banget, jadi gemes sayaâ” ujarku sekenanya
“Sekarang di sini jangan panggil saya bu lagi, panggil nama saya  aja ya?” Ujarnya
“Iya bu, eh, Gusti..” ujaku berdebar 
Konsentrasiku asli buyar melihat pemandangan di hadapanku saat ini, melihat Gusti didepanku tanpa mengenakan BH, kedua susunya yang ukuran 32B itu terlihat indah menggelatung.  pusarnya yang sexy tidak tertutup, celana dalam krem ketat menambah ke sexyannya  ,Dan..... gundukan di selangkangannya membuatku menelan ludah, pahanya yang sekal, putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.
“ Gimana Nto?, suka nggak kamu?” Katanya sambil berkacak pinggang dan meliuk-liukkan pinggulnya.
“Kok kamu jadi bengong, ?” Lanjutnya sambil tersenyum menghampiriku.
Aku terdiam terpaku memandanginya ketika dia memeluk leherku dan mencium bibirku, pada awalnya aku kaget dan tidak bereaksi, tapi tidak lama. Kemudian aku balas ciuman-ciumannya, dia melumat bibirku dengan rakusnya, aku balas lumatannya. “Mmmmmmmmmhhhhhhhhhhh┝ Gumamnya ditengah ciuman-ciuman kami. Tidak lama kemudian tangan kanannya mengambil tangan kiriku dan menuntun tanganku ke arah payudaranya, aku dengan cepat menanggapi apa maunya, kuremas-remas dengan lembut payudaranya dan kupilin-pilin putingnya yang mulai mengeras. “Mmmmhhhhâ¦.mmmmmhhhhha” Kali ini dia merintih nikmat. Aku usap-usap punggungnya, turun ke pinggangnya, aku lanjutkan mengusap dan meremas-remas pantatnya yang padat dan sexy, lalu kulanjutkan dengan memainkan jari tengahku di belahan pantatnya, terus kugesek-gesek kearah dalam sehingga aku bisa menyentuh bibir vaginanya dari luar celana dalam yang dipakainya. Ternyata celana dalamnya sudah sangat basah. Sementara ciuman kami, berubah menjadi saling kulum lidah masing-masing bergantian, kadang-kadang tangannya menjambaki rambutku dengan gemas, tangannya yang lain melepas kancing baju sekolahku satu per satu.

"Lepaskan pakaianmu Anto",  Gusti berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. Akupun dengan tergesa-gesa mencopot semua pakaianku hingga bugil.
"Ahh cepat Anto", Gusti mendesah tidak sabar.
Aku kemudian berlutut di sampingnya,  tidak tahu apa yang harus Kulakukan. Pengetahuanku tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja.
"Anto..., letakkan tanganmu di dada saya “ perintahnya
Dengan gemetar Aku meletakkan tangannya di dada Gusti yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing Gusti untuk meremas-remas payudaranya yang montok itu.
"Oohh..., enakk..., begitu caranya..., remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Desah Gusti dengan mata terpejam. Dengan semangat aku melakukan apa yang  diperintahkan Gusti.
"Ibu..., Boleh saya hisap susu Ibu?"bisiku pelan.
Gusti tersenyum mendengar pertanyaan ku,  lalu berkata sambil menunduk,
 "Boleh..., lakukan apa yang kamu suka".

Tanpa menunggu kusisap puting susu Gusti yang mencuat berwarna kemerahan. Kurasa tubuh Gusti menegang ketika jilatan dan hisapan mulutku di susunya.
"Oohh..., jilat terus sayang..., ohh.. beibehh.... Ooocchh... !", Tangan Gusti terasa mendekap erat kepalaku ke payudaranya.

Aku semakin buas menjilati puting susu Gusti , Tanpa kusadari hisapanku di susunya menimbulkan bunyi yang nyaring dan  makin terdengar  keras, bahkan karena gemas aku gigit-gigit ringan puting Gusti tersebut.
"mmmmhh..., nakal kamuu ..hh...", Desah Gusti tersenyum manja.
"Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".ujarnya padaku
Aku melihat apa yang diperintahkan Gusti. Gusti terlihat mengangkangkan kedua kakinya
“ sekarang kamu buka celana dalam saya ntoo...” perintahnya. aku menurut saja. Kutarik celana berbentuk segitiga itu di pusarnya dan melorotkannya kebawah hingga lepas diantara kakinya. Dan kubuang kearah sembarangan.
Kemudia Gusti memerintahkan aku agar bersimpuh diantara kakinya yang membuka lebar. Gusti kemudian menyandarkan pinggulnya pada bantal yang dihimpitnya di belakang tubuhnya.
"Coba kamu rasakan ini sayang.. ", ia membimbing jariku  memasuki vaginanya.
"Hangat Bu.." ujarku bergetar. Melihat pemandangan indah. Kemaluan Gusti yang menganga lebar dan bulu-bulu rimbun  mengitari vaginanya yang terlihat banyak cairan kental seperti pelumas di sekitarnya.
“Bisa kamu rasakan ada semacam pentil...?" ujarnya dengan wajah konak.
"Iya.." jawabku.
"Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok" perintahnya lagi.
Pelan-pelan jariku mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu sesuai perintahnya
"Terus..., oohh..., ya..., gosok..., gosok", terdengar suara Gusti mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh jariku.
"Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Aku tersenyum sambil terus menggosok-gosok jariku disana.
"Oohh..., Antoo..., mm", tubuh Gusti terlihat telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.

Tanganku semakin berani mempermainkan clitoris Gusti yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahananya  akan segera jebol.
"Oohh ... aahh..., Anntoo....!!!!", Tangan Gusti mencengkeram pundak ku, sementara tubuhnya menegang dan terasa otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, tampak Gusti menikmati kenikmatan yang barusan dia rasakan. Terlihat Gusti mengatur nafas menikmati orgasme nya oleh kobelan jariku.
"Hmm..., kamu lihai Anto..., Sekarang..., coba kamu berbaring" perintah berikutnya
Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Gusti menggenggam batang penisku yang panjang.
"Wah..., wahh.., besar sekali", tangan Gusti segera mengusap-usap penisku yang telah mengeras tersebut.

Segera saja Gusti merubah posisinya, dengan cepat dia dorong tubuhku kebawah dan dia sudah berposisi wajahnya berada di selangkanganku, perlahan kulihat benda panjangku dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Gusti. Ia segera menjilati penisku dengan penuh semangat. Kepala penisku  itu dihisapnya keras-keras, sehingga membuatku merintih keenakan.
"Ahh..., enakk...,enakk", ujarku  tanpa sadar secara naluriah aku menyodok-nyodokkan pinggulku untuk semakin menekan batang penisku maju mundur dalam mulut Gusti.
Penisku makin amblas dikuluman Gusti. Kupercepat gerakan pinggulku  seiring semakin kerasnya hisapan Gusti.
"oohh Gusti... Gustiiihhh...!!!!" desahku kuat saat merasakan spremaku bakal muncrat dalam mulutnya
“ crooottt...” Muncratlah cairan maniku di dalam mulut Gusti, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.
"Hmm..., gurih rasanya Anto", Ujar Gusti masih tetap menjilati penisku yang masih tegak.
"Sebentar ya aku mau minum dulu" ujarnya beranjak kebelakang meninggalkanku yang menikmati orgasmeku.
Setelah mengatur nafas sebentar, aku berdiri menyusul Gusti ke arah dapur  nya. Terlihat Gusti sedang menungging di depan kulkas yang pintunya terbuka.

Ketika posisi Gusti  sedang membelakangiku sambil menenggak susu kotak dari kulkas itulah mendekapnya dari belakang.
"Anto..., biar  saya minum dulu". Ujarnya agak kaget melihat aku memeluknya dari belakang.
"Tidak..., nikmati saja ini", Ujarku mendorong Gusti ke kulkas, dan menutup kembali pintu kulkas.
Susu kotak yang dipegang  Gusti jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Gusti kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
"Aku masukin yaa..., sekarang!" ujarku penuh nafsu aku kangkangkan belahan pantatnya dan aku menyejajarkan penisku dengan lobang vaginanya. Setelah pas, aku mulai menyodok vagina Gusti dari belakang. Ternayata lobang kawinnya tidak susah untuk dimasuki penisku. Ditambah dengan cairan cinta didaerah itu membuat penisku amblas kedalam liang vagina Gusti.
"Ahhkk...!!!!", Gusti  berteriak  saat aku  terus menyodokkan penisku ke liang vaginanya dari belakang. Aku sangat menikmati hal ini, aku  yang tadinya masih canggung karena sudah terangsang ditambah fantasi liar membuatku berubah menjadi liar dan bernafsu.
"Antoo..., enakk..., ohh..., ohh". Jerit Gusti menikmati kenikmatan yang tiada taranya, sama dengan yang kurasakan. Tangan ku satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Penisku kubuat  maju mundur dengan ritme cepat  melumat liang vaginanya.
" Enaka sayaangg", bisik ku di telinganya
"Ahh..., hh",  Gusti  hanya merintih, setiap merasakan penetrasi sodokanku dari belakang.
"Jawab..., ", dengan keras aku mengulangi sodokannya.
"Ahh...,iyaa ntooo enaaakkkkk... aahhh.... !!!!" rintih nya terengah engah merasakan genjotanku.
Gusti pun serta merta menggoyangkan pantat nya mengimbangi sodokan ku dari belakang. Tubuh berguncang guncang kubuat, dan keringat bersimbah dari tubuh kami. Aku terus memacu tubuh nya dengan semangat dan tenaga ku , setiap rintihan dan desahan yang keluar dari mulut Gusti makin membakar gairah ku.
“ Oohh.. Ahhh... Occh... Enaakk... Terusskann.. Terusss.. oocchh..!!! “ desah Gusti megap megap merasakan sodokan penisku keluar masuk lobang buayanya. Tak lupa aku menciumi pundak nya.
Posisi menyetuhinya dari belakang itu membuat penisku makin terasa dijepit dalam lobang kawin Gusti. Penis ku terasa di blender dan dipelintir dinding vagina nya. Vagina Gusti seperti mencengkram batang kejantanku. Terasa denyutan dan jepitan oleh lobang surgawinya itu membuat semua titik rangsang ku bekerja dan berujung aku merasa akan memuntahkan lahar peju ku dalam lobang kenikmatan itu.
“ Uhh..akuu..hhh.. mauu keluarr ouuhh..” bisiku saat merasakan
"Anto..., Anto jangann..., di dal.. Laaaaa.....mmm...!!!!" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Aku telah menyemburkan benihku dalam liang vaginanya.
“ Ahhhh,,ahhh.......!!!!! “ jerit kami serempak saat spremaku menyemprot kencang membasahi rahimnya. Dan kurasakan kemudian Gusti menyodokkan keras  pula pinggulnya.
"Uuhgghh", penis ku yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Gusti
."Ahh". desahku merasakan kenikmatan tiada tara.

Kami berdua tergolek lemas dilantai menikmati apa yang baru saja kami rasakan. Dan aku
menjatuhkan diriku berbaring di sebelahnya.
Sejak kejadian hari itu, kami ML setiap kali kami menginginkannya. Ketika aku tanya mengapa dia memilihku, dia menjawab, karena aku mirip dengan pacar pertamanya, yang membuatnya kehilangan keperawanan nya, sewaktu masih SMA. Tapi bedanya, katanya lagi, aku lebih tahan lama saat bercinta (bukan GR lho).
 ________________________________________________________


.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar