Rabu, 28 Desember 2016

THREESOME DENGAN TANTE IDA DAN BUK ENDANG PART I



Selesai keluar dari pub hotel, aku memapah Tante Ida yang sudah mabuk berat  ke dalam kamar. Pertama aku mencari lift setelah pintunya terbuka aku masuk lalu memencet angka di tombol sesuai dengan lantai tempat kamar kami. Mata nya tampak merah. wajahnya kusut. Tubuhnya sempoyongan karena terlampau banyak meneguk minuman dengan kadar alcohol tinggi. 
Bicara nya pun mulai ngelantur

“ ayo ntee.. jalannya pelan  pelan aja..”  
“ Byaan… enak banget yang tadi… Tante puasss banget….” Ujarnya . satu tangannya kutaruh di leherku sementara tangan ku yang satu berada di pinggangnya, hingga aku berposisi memapah tubuhnya

“ iya nte.. tante happy malam ini?” tanyaku
“ happy banget bryaann… !! makasih ya sayangg… “ ujarnya menatapku sayu dengan senyum manisnya
Tak lama kemudian kami sampai dilantai kamar yang dituju. Aku memapah nya yang berjalan tertatih
“kok jauh banget rasanya kamar kita ya Bry..? “ Tanya Tante Ida sempoyongan

“ sudah dekat kamar kit nte..”  balasku. Setelah menemukan kamar aku menggesekan kartu hologram untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka aku kembali memapah Tante Ida kedalam sambil menghidupkan lampu kamar dan menghidupkan AC

Tante Ida berdiri saja di dalam kamar sambil terus memegangi kepalanya dan mengeluh bahwa kepalanya pusing. Wajah Tante Ida tampak kusut, matanya sembab dan merah karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman, rambut nya yang diikat kebelakang tampak acak acakan

“ saya mau ganti baju… gerah..” sahutnya. Tante Ida langsung mencoba membuka tali gaun nya kesamping dua dua nya dan mencoba menurunkannya. Akan tetapi karena kondisi fikirannya yang kurang normal itu membuatnya seperti kesulitan melepaskan gaun nya yang sebenarnya amat mudah untuk dilepasnya.

Karena ingin buang air kecil, aku meninggalkan saja Tante Ida yang sibuk dengan gaunnya itu dan menuju kamar mandi, sesampai disana aku pun membuang urin ku dengan perasaan lega sambil mencuci penisku yang masih berlepotan bekas air mani ku dan cairan vagina Tante Ida.

Setelah selesai bersih bersih, aku keluar dari kamar mandi, dan kudapati Tante Ida masih kesulitan melepaskan gaunnya, aku terkekeh dan memperhatikan Tante Ida dengan perasaan lucu

“ bry… kok kamu bengong saja disitu.. bantu dong Tante melepaskan ini… kok susah banget.. dari tadi gak bisa lepas…” ujarnya dengan wajah panic

Aku tertawa melihat ekspresinya. Gaun itu sudah terbuka hingga ke perutnya, dada, bahu dan perut nya yang putih ditambah payudaranya yang masih mengenakan BH berwarna hitam itu sudah terbuka. Tinggal satu talinya yang masih nyangkut.



Kasihan juga aku melihatnya yang kerepotan itu, aku pun mendekati nya mencoba membantu nya. Rupanya satu tali gaunnya itu tersangkut dengan tali BH yang berada di punggung nya

“ini yang nyangkut rupanya nte..” ujarku terkekeh dan dengan mudah kulepaskan sangkutan talinya itu lalu membantunya melepaskan gaun itu kebawah.

“ parah tante maboknya..” candaku tertawa. Tante Ida sekarang mengangkat kakinya satu persatu dan menurunkan gaunnya hingga gaun berwarna ungu itu sekarang berada di lantai

“ ribet banget gaun nya… biasanya gak sesusah itu membukanya” sungut Tante Ida

Sontak aku tertawa mendengarnya. Sekarang Tante Ida hanya mengenakan pakaian dalam, BH mungilnya yang berwarna hitam dan G string nya yang berwarna sama.

“ kepala ku masih terasa berat bry..” keluhnya lagi
“ Tante tidur aja.. istirahat... dan jangan banyak berfikir..” saranku
“ iya deh.. bantu saya jalan ke ranjang bry..” rengeknya manja
“ya.. sahutku pendek. Aku kembali memapah tubuh Tante Ida yang masih sempoyongan itu dan membantu membaringkan nya di ranjang.

“ thanks bry..’ ujarnya. Aku membantunya mengambil selimut lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu. 

Setelah menyelimutinya aku duduk pada pinggiran ranjang dan  menatap tetanggaku ku itu dengan kasih sayang, Tante Ida membalikan posisi tidurnya ke arah kau yang duduk di pinggir ranjang dan balas menatapku penuh arti dan tersenyum  manis padaku sambil memeluk bantal guling
Aku membelai rambutnya, mengusap usapnya berkali kali
“ Tante nyamaaan banget sama kamu bryan..” ungkapnya polos. 

Aku hanya tersenyum kecil
“saya juga nte…  Tante luar biasa bagiku..” ungkapku . dan kulihat wajah Tante Ida merah bersemu mendengar pujianku, tak lama berselang Tante Ida  tampak mulai memejamkan matanya dan sudah larut dalam tidurnya

Aku masih duduk dipinggir ranjang dan membelai rambut tetanggaku yang cantik itu…. 

Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang kurasakan tadi, bercumbu, bercinta dan bersetubuh dengan tetanggaku nan bohay ini di dalam pub hingga endingnya mengeksekusinya sambil berdiri menyandarkan Tante Ida di dinding ! 

Sungguh menjadi sebuah sensasi tersendiri bagiku yang memang suka melakukan hal hal yang ekstrim dalam bercinta. Rasa ketakutan ketahuan orang hingga membuatku cepat cepat menuntaskan birahi dan berujung berejakulasi dalam titit Tante Ida, itulah yang kurasakan sebagai sensasi yang begitu nikmat.

Puas memandangi wajah cantik itu tertidur pulas aku pun membaringkan tubuhku disampingnya, terasa lelah juga.. energiku terkuras saat berada dalam pub, bergoyang hingga akhirnya menggoyang Tante Ida dari belakang…seluruh persendian tubuhku terasa lelah membuat tubuhku begitu nyaman berbaring diatas ranjang hotel nan empuk ini.
Pelan pelan kupejamkan mata dan menikmati mimpi indahku…

Aku terbangun saat kudengar ringtone handpone berbunyi, pelan pelan ku buka mata dan duduk mencari dimana arah suara , ternyata suara tersebut berasal dari dalam tas Tante Ida. Kulihat disebelahku Tante Ida masih tertidur pulas. Handphone itu kembali berdering, karena merasa terganggu aku bangun dari ranjang dan mengambil nya dalam tas Tante Ida..

Saat kulihat ternyata suami nya menelepon.. aku kembali melihat ke Tante Ida, beliau masih tak sadarkan diri. Melihat itu ku reject aja Hp nya dan langsung ku matikan ponselnya agar tidak berbunyi lagi. Lagipula kalau suami menelepon entah apa yang akan dibicarakan nya pasti akan merusak mood Tante Ida. Kalau mood nya rusak , bisa gagal rencana ku untuk melakukan threesome antara aku, Buk Endang dan Tante Ida yang rencana kulakukan di rumahku…

Setelah mematikan ponsel Tante Ida, aku berdiri sejenak. Fikiranku masih belum fresh dan kepala masih lumayan berat karena pengaruh alcohol dan kecapek an atau mungkin karena belum mandi
Pas kulihat kearah dinding, rupanya jam sudah menunjukan pukul sebelas siang..

“wah,.. bentar lagi harus check out nih..” bathinku

Dengan tergesa aku membangunkan Tante Ida
“ nte.. nte.. bangun .. udah siang,, kita harus check out..” ujarku mengguncang badannya
“nggghh..?” ujar Tante Ida menggeliat sebentar kemudian kembali diam
“ nte.. bangun..” ujarku menepuk nepuk wajahnya.
“apaan sih Bry.. Tante masih ngantuk..” ujarnya membuka mata nya sedikit.
“liat tuh.. udah jam 11 siang… Tante mau pulang atau kita sambung kamarnya” ujarku
“ as.. astagaa… udah siang rupanya..” ujarnya sedikit kaget dan mengucek ucek matanya. 

Tante Ida mulai duduk. Saat beliau duduk tubuh nya terangkat dan selimutnya melorot kebawah. Tante Ida tampak tak malu malu lagi padaku,. 



Karena saat itu buah dadanya yang masih tertutup BH terlihat di hadapanku, tapi mungkin beliau tidak sadar atau merasa sudah biasa hingga tidak malu malu lagi saat auratnya terbuka dihadapanku.

“ kamu udah mandi Bry? “ ujanya sambil menguap
“ ya belum … saya juga baru bangun.. untung saya cepat bangun” ujarku

Tante Ida kemudian melepaskan selimutnya
“ kamu mandi duluan atau saya ? “ ujarnya. 

Tubuh indahnya sudah berdiri, mengenakan pakaian dalam yang tampak begitu sexy, dia mengenakan G string, hingga pantat nya yang bulat dan montok itu terlihat sempurna.

Pagi pagi begini nafsu juga aku dibuatnya, namun menimbang sedikitnya sisa waktu aku mengurungkan niatku untuk mencicipi tubuhnya lagi. Lagian kalau nanti rencana melakukan threesome berjalan lancar,maka aku tentu masih dapat menikmati tubuh indah ini..

“ Tante aja duluan… kalau perempuan kan lama mandinya.. kalau saya mah sebentar…” ujarku sekenanya
Tante Ida tertawa renyah
“ kamu tau aja.. kayak nya kamu ini sudah pengalaman urusan wanita ya..?” godanya

Aku tertawa dan tak menjawab , namun coba untuk menghindari pertanyaanya
“ mandi atau kumandiin..?” godaku agar fikirannya teralih
“ mandi bareng aja yuk…? “ ujarnya dengan tingkah manja nya ….  membuat darahku berdesir.

 Tapi aku tetap coba mengendalikan diri. Aku berdiri dan berada dihadapannya, tanganku memeluk pinggangnya dan kudekatkan wajahku dan mencium bibirnya, namun hanya sekali kecupan saja
“ kalau kita bareng… nanti terjadi hal hal yang diinginkan.. mendingan kita sambung nanti di rumahku saja.. waktu nya bisa lebih panjang..” ujarku terus membujuknya

Tante Ida mengangguk dan tersenyum manis, lalu mencium pipiku
“ Tante sayang kamu Bryan.. Tante nggak menyangka walau kamu masih remaja tapi dapat mengimbangi Tante dalam segala hal… saat ini Tante nggak mau jauh jauh dari kamu Bry..” ujarnya tulus

“ ya nte… saya juga sayang Tante… “ ujarku pendek dan melepas pelukan
“ ya sudah.. tante mandi dulu ya..” ujarnya sambil meninggalkanku dan menuju ke kamar mandi

Aku menghela nafas, menahan birahi ku saat Tante Ida memeluk ku tadi, tubuhnya terasa hangat dan amat menggodaku untuk kembali menjamahinya. Namun untunglah aku bisa mengendalikan diri.

Sekitar 15 menit aku menunggunya mandi, setelah melihatnya keluar kamar mandi.  Tante Ida amat seksi saat keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. Aku tetap menahan nafsuku dan langsung masuk kekamar mandi dan keramas serta membilas tubuhku

Setelah selesai mandi, kulihat Tante Ida sudah selesai berpakaian, beliau mengenakan pakaian terusan berwarna hitam yang panjangnya diatas lutut, bagian bahunya tertutup dan panjang nya diatas lengan. Beliau sedang menghadap ke cermin merias wajanya..  Aku pun segera berpakaian.


Setelah selasai aku berpakaian , telepon hotel berdering, lalu kuangkat.. respsionis menanyakan padaku apakah mau check out atau memperpanjang kamar.. aku jawab saja mau check out dan sebentar lagi mau kebawah.

Akhirnya aku dan Tante Ida pun meninggalkan hotel menuju mobilku di parkiran, kami bagai pasangan suami istri yang sudah berbulan madu. Kadang ada beberapa orang yang memperhatikan kami. Mungkin karena aku yang masih muda menggandeng Tante Ida yang sudah berumur. Tapi kami cuek saja dan terus berjalan saling bergandengan seperti pasangan yang sedang kasmaran



“ masih lelah nte..? “ ujarku saat mobil sudah kujalankan
“ iya.. tapi nggak lelah kaya’ kemaren.. enak ya, pergi main dengan kamu Bry.. saya jadi gak boring..” ujarnya menatapku
“ dari kemarin Tante kayak gini kan enak… nggak perlu harus kupaksa seperti beberapa minggu yang lewat ” balasku sambil terus mengemudi
“ pertama kita kan belum kenal.. tapi kamu hadir pada saat yang tepat bry.. saat tante lagi galau dengan rumah tangga tante..” ujarnya lagi
“ sebetulnya tante yang salah… tante tidak bisa mengendalikan diri.. kamu,, kamu begitu menyanjungku dan kamu.. amat manis..” ungkapnya
“ nggak ada yang salah nte.. semua orang pasti melakukan kesalahan.. seperti kita…. Bagi saya yang terjadi antara kita ini amat natural.. dan gak ada yang menghakimi..” tuturku

Tante Ida menunduk mendengar penjelasanku,sambil pura pura memainkan handphone nya yang padahal dalam keadaan mati itu.. mungkin beliau berfikir ada benarnya juga ucapanku itu.
Di sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, larut dengan fikiran masing masing, Tante Ida yang sudah mulai sadar itu, kembali berubah menjadi kikuk dan salah tingkah dihadapanku

Akhirnya kami sampai di komplek perumahan

“ tante langsung pulang atau mau main ke rumah saya dulu..? “ pancingku

Tante Ida belum menjawab, pandangannya masih menerawang mungkin ragu apa harus dia jawab
“ ngg.. terserah kamu aja Bry… “ ujarnya datar. Aku yakin bahwa sebenarnya beliau masih ingin berduaan denganku. Namun masih malu mengungkapkannya
“ bagusnya tante ke rumah saya aja… di rumah tante kan gak ada orang.. kan ada kawan ngobrol tante.. atau sebaliknya saya yang temani tante di rumah tante..? “ pancingku lagi
Tante Ida mulai tersenyum malu
“ jangaan.. ! jangan di rumah saya.. ! di rumah kamu aja lah..” kilahnya..

Akhirnya… do’I masuk juga dalam perangkapku. Sikapnya yang malu malu mau ini sebenarnya yang membuat aku mabuk kepayang selain, tentu saja body yang sexy dan bohay itu..

Akhirnya kami sampai di perumahan, kebetulan sekuriti perumahan sedang tidak ada di pos, jadi tidak mengetahui kalau Tante Ida bersama denganku. Aku menghentikan mobil di depan rumah lalu keluar dari mobil dan membuka kunci pagar berikut membuka garase mobil.. setelah itu aku kembali ke mobil dan memasukan mobil ke garasi. 


Sesampai di garasi aku kembali menutup pagar dan garasi, tapi kututup saja, tanpa kugembok. Setelah garasi ditutup, Tante Ida baru berani keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahku melalui pintu samping. Aku pun masuk tapi membiarkan pintu samping terbuka

Aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa ruang tengah, di depan TV.. 

Tante Ida tampak masih ragu dan takut takut walau sudah berada di dalam rumahku. Aku menyalakan televisi untuk memecahkan kebuntuan. Tante Ida pun duduk disebelahku. Fikirannya masih menerawang. Mungkin beliau masih ingat kali pertama aku bersetubuh dengannya.. di atas sofa yang kami duduki sekarang ini…
Aku beranjak dari sofa menuju kulkas dan mengambil minuman cola kaleng
“ Tante mau..? “ tawarku menyodorkan minuman kaleng padanya dengan posisi masih berdiri
“ boleh.. thanks bry..” ujarnya ramah mengambil minuman itu dariku lalu membuka tutup nya
“ tapi ini low alcohol lho..? godaku

Tante Ida sampai tersedak menahan tawa, karena minuman itu sudah diminumnya.
“ ha ha ha ha.. kamu ini bisaaa ajaa..!!” ujarnya meletakan minuman itu di meja

Aku memandangnya penuh arti, lalu menarik tangannya dan memberi isyarat agar beliau berdiri berhadapan denganku, Tante Ida mengangguk pelan dan berdiri di hadapanku
  Setelah beliau berdiri, aku letakan cola yang kupegang di meja lalu kupeluk pinggang nya dengan mesra.. wajah cantik Tante Ida kembali bersemu, wajah nya tertunduk tidak berani menatapku namun tampak beliau tersenyum manis

“ wanna dance with me.? Rayuku

Tante tertawa kecil dan memukul bahu ku pelan, tapi segera kutangkap tangannya dan kuarahkan kedua tangannya itu untuk kuletakan di bahuku, sementara tangan kananku masih melingkar di pinggang nya

“ you don’t know you beautiful..? “ rayu ku lagi menatapnya dalam.

Tante Ida tidak menjawab , beliau hanya tersenyum bahagia dengan kepala tertunduk.
Tante Ida menyandarkan kepalanya pada jidatku, hingga jidat kami saling beradu dan tersandar. Posisi ini sungguh romantis, aku tahu beliau senang diperlakukan romantis seperti ini.

“ no music? “ akhirnya Tante Ida bicara dan menatapku penuh arti

Aku tertawa renyah, dan melepaskan pelukanku padanya, 

Lalu aku menuju pada music player di dekat TV dan mencari CD instrumental,  aku pilih music instrument nya Richard Clayderman.. setelah aku klik play.. maka suara harmoni piano dan biola yang dimainkan secara instrumental dan indah itu terdengar begitu soft di rumahku.

Aku kembali mendekati Tante Ida, dan memberi isyarat agar beliau berdansa dengan ku.. Tante Ida tersenyum manis dan menatapku dalam dalam, satu tangannya melingkari leherku dan satu tangannya lagi menggengam tanganku erat.

Kami saling bertatapan, Tante Ida tak kuasa lama lama menatap mataku , wajahnya tersipu malu saat kutatap.  tubuh nya sekarang mulai bergerak berdansa denganku

“ kamu romantis sekali bryann…” desahnya
“ dan kamu cantik sekali sayang..’ balasku

Kepalanya disandarkannya didadaku
Kami berdua terus berdansa pelan menikmati alunan piano dan biola, Tante Ida sudah larut dalam suasana romantis yang kuciptakan, kedua kaki nya bergerak seirama dengan gerakan kaki ku ke kiri dan kekanan. Tangan kanannya menggengam erat tanganku dan mengikuti kemana arah ayunan tanganku

Suasana itu buyar saat kami dikejutkan oleh suara nada getar ponselku yang berada di saku celanaku, aku tersentak dalam lamunanku

“ angkat dulu telpon kamu Bry..” ujar Tante Ida lirih
“ biarkan saja lah nte…” ujarku malas malasan
“ angkat aja.. lagian Tante juga mau ke kamar kecil dulu.. kamar kecil kamu dimana Bry? “ Tanya nya
“ ooo.. disana nte,, dekat dapur “ ujarku menunjukan letak kamar mandiku

Tante Ida pun berjalan menuju kamar mandi, aku mengeluarkan Hp daru saku celanaku dan  melihat siapa yang meneleponku.. ternyata itu adalah telepon dari Buk Endang.. aku sampai lupa akan rencana awalku gara gara hanyut dalam suasana romantis dengan Tante Ida..

Aku berjalan ke arah pintu samping dan  menelepon balik Buk Endang
“ Hallo sexy…. Sudah selesai kerjaan nya? “ ujarku langsung saat Buk Endang sudah mengangkat telepon.
“ Kamu ini,.. katanya kamu yang menghubungi saya!...  sudah saya tunggu telepon kamu sampai jam setengah dua begini… jadi apa nggak. nih ??!!” Sungutnya dengan gusar 

Dari nada bicaranya tampak Buk Endang kesal sekali

“ Jadi.. saya sudah siap nih dengan surprise nya...” ujarku mencoba menenangkannya
“ bener..? kalau sudah siap saya langsung meluncur ke rumah kamu ya..? “ ujarnya terdengar sedikit tenang
“ okey.. saya tunggu di rumah ya say… nanti kalau handphone nya ngga terangkat, klakson aja dari luar ya..” tuturku
“ okey deh sayangku… bye..“ ujar Buk Endang girang dan menutup telepon

Setelah telepon kututup aku kembali menuju sofa, Tante Ida belum keluar lagi dari kamar mandi. Dada ku deg deg an dan  berharap rencanaku berhasil !!

Aku membuka bajuku dan duduk di sofa menunggu kedatangan dua orang tante tante dan mama mama cantik ini.

Tak lama kemudian Tante Ida keluar dari kamar mandi dan agak kaget melihat ku duduk di sofa tanpa mengenakan baju dan berposisi menantang menatapnya

Tubuh Tante Ida berdiri mematung sejenak dan mengangkat bahunya dengan ekspresi wajah yang memerah dan kikuk melihatku

“ lepaskan baju tante..” perintahku dengan lembut padanya

Awalnya Tante Ida terlihat ragu, namun akhirnya diturunkannya bagian leher baju terusannya turun melalui bahunya, selanjutnya Tante Ida menarik turun baju terusannya itu terus kebawah hingga berada di lantai.

Beliau masih berdiri mematung seolah menunggung instruksi ku selanjutnya, sekarang beliau berdiri hanya dengan mengenakan BH dan celana dalam yang tipis berwarna pink.
Aku menatapnya dari sudut yang agak jauh puas puas , dari ujung kepala hingga ujung kaki, memang sungguh sexy wanita paruh daya satu ini, tubuhnya montok, putih dan pahanya itu lho… amat putih .. sampai urat urat terlihat karena saking putihnya
“ mari kesini..” instruksi ku padanya

Tante Ida pun perlahan berjalan menuju arahku yang berada di sofa, posisiku  duduk dengan kedua kaki terjuntai ke bawah, saat beliau mendekat aku memberi isyarat agar beliau duduk diatas pangkuanku.

Tante Ida pun patuh, dia duduk di pangkuanku dengan cara mengangkangi tubuhku, kedua pahanya melingkari pinggangku. Aku merengkuh tubuhnya agar mendekat padaku.
Aku membelai pinggulnya dan menjamahinya terus keatas dan membelai belai punggungya, sementara Tante Ida memeluk tubuhku dengan erat, suhu tubuhnya terasa hangat menambah gairahku untuk terus mencumbu tubuh nya

Secara naluriah aku mengecup bibirnya dan dibalas dengan hot oleh beliau, bibir kami saling berciuman hangat, Tangan Tante Ida memeluk leherku dan merapatkan wajahnya denganku. Kami terus berciuman.. memacu hasrat dan birahi kami sampai kesulitan bernafas.. Ini merupakan sebuah sensasi yang luar biasa yang tengah aku nikmati..

Tanganku yang semula membelai pinggang beliau mulai berpindah keatas, tak sadar karena saking nikmatnya aku meremas remas rambutnya, dengan cepat kubuka ikatan rambutnya dan lagi kuremas rambut Tante Ida dengan gerakan tak beraturan .
Tante Ida menahan nafas dan menghembuskannya perlahan, kurasan kedua kaki Tante Ida makin erat melingkari pinggangku, Tante Ida makin merapatkan badannya padaku . beliau mulai menggerak gerakan pantatnya dan coba menggesek gesekan pantatnya yang berada diatas kedua pahaku.

‘ Mmmhhh… Aaahhh… Ouuuhh.. ssshhhh…” desah kami bergantian menikmati indahnya bercumbu diatas sofa, tubuh montok Tante Ida terasa hangat dan wangi membuatku terus bernafsu mencumbu mulutnya.

Saat kami terlena memadu birahi, aku tak menyadari beberapa kali ponselku bergetar dalam saku celana ku.. tiba tiba terdengar suara klakson mobil di depan rumah berbunyi berkali kali, 

Kami berdua tersentak dan buru buru menghentikan aktifitas, Tante Ida langsung reflek turun dari pangkuanku dan duduk disebelahku dengan wajah pucat menatapku

“ siapa itu Bryan..? seperti nya suara itu berada di depan rumahmu..” ujar Tante Ida mengatur nafasnya dan merapikan rambut nya diikat kebelakang lagi oleh nya.

Aku tahu, yang datang pasti Buk Endang.. aku berusaha bersikap tenang
“ nggak tahu juga nte.. coba saya lihat dulu.. Tante masuk aja ke kamar saya..” pungkasku

Aku menarik Tante Ida ke dalam kamarku yang pintu nya tepat berada di depan sofa tempat kami bergumul tadi
“ pakaian saya Bry..? ” Tanya Ida yang sadar saat itu hanya mengenakan pakaian dalam saja
“ nanti saya yang aja yang bawa ke kamar sambil saya mengenakan baju “ sahutku menarik tangannya menuju kamarku

Sesampai di kamar Tante Ida langsung rebahan diatas kasurku dan menarik selimut guna menyelimuti tubuhnya
“ tunggu disini ya ante,, saya mau ke depan dulu..?” ujarku terus meyakinkannya untuk tenang
“ si.. siapa itu ya bry..? jangan jangan orang tua mu datang lagi..” ujar Tante Ida panik
“ Nggak lah.. orang tua saya kalau datang pasti kasih kabar sebelumnya.. paling teman kuliah ku.. setelah kutemui kusuruh aja dia pulang… kalau nggak kutemui dikiranya saya masih tidur.. dia bakalan terus nelpon ataus klakson…” beberku

Ditambah bunyi getar Hp kembali terdengar
“ nah.. kan .. dia nelpon terus..’ ujarku
“ ya sudah.. kamu kedepan saja dulu.. suruh cepat pulang teman kamu itu..” ujar Tante Ida dengan raut wajah penuh kecemasan
“ okey” ujarku pendek, aku meninggalkan beliau di kamarku. Mengenakan bajuku dan menuju pintu samping
Setelah membuka garase, kulihat mobil Buk Endang berhenti di depan pagar,
Aku pun membuka pagar dan Buk Endang langsung memasukan mobilnya dalam garasi dan parkir di belakang mobilku.. tak lupa kugembok pagar rumahku dan kututup lagi garaseku
Tampak Buk Endang keluar dari mobilnya

‘ lagi ngapain sih kamu..? dari tadi saya telepon nggak ngangkat saya klakson pun gak juga keluar.. nggak mungkin kan , saya klakson di depan rumah kamu terus terusan” sungutnya dengan wajah kesal

Terkadang itu pula yang membuatku kesal dengan sifat Buk Endang yang manja, tidak sabaran dan mudah merajuk itu
“ saya lagi be’ol say…’ ungkapku memberi alasan
“ ooo.. “
“ gak mungkin saya keluar kalau belum cebok..” tambahku meyakinkannya

Buk Endang pun tertawa mendengar penjelasanku itu
“ mari masuk..” ujarku menggandeng tangannya.

Aku dan Buk Endang masuk kerumahku,, tak lupa kukunci pintu samping jalan masuk melaui garase ku itu.
“ mana surprisenya” Tanya Buk Endang saat sudah berada di ruang tengah. Matanya mengawasi rumahku.

Aku tersenyum dan mencium pipinya
“ada.. tenang aja…  o ya .. Ibu lagi gak sedang datang bulan kan? “ godaku
“ Ya nggak lahh…. Kalau lagi dapet saya nggak kan mau datang kesini.,. hehehe..’ ujarnya terkekeh, wajah tua nya tampak sumringah jika bersama denganku

“ mari … langsung aja ke kamar saya..” ujarku menarik tangannya

Buk Endang pun menurutiku, dan berjalan mengikutiku dari belakang ke arah kamar

Sesampai di kamar kubuka pintu dan segera saja kutarik Buk Endang masuk ke dalam,,

Sontak saja Buk Endang terpekik kaget, mendapati ada wanita lain sedang tidur berselimut di ranjangku. Begitu juga dengan Tante Ida, wajahnya melongo tak percaya melihat aku masuk ke kamar dengan membawa seorang wanita!

“ apa apaan ini Bryan..??!! si..siapa perempuan ini..??!!” bentak Buk Endang tampak syok
“ ini dia buk.. surprise yang kujanjikan… kita bertiga akan melakukan threesome disini..” ujarku mantap
“ mak.. maksud apa sih Bry..” ujar Buk Endang masih tak mengerti
“ Kita bercinta bertiga Bukk.. aku, Ibuk.. dan ini, Tante Ida… “ ujarku menunjuk pada Tante Ida yang sudah berposisi menyudutkan tubuhnya ke dinding
“ Bryann..!! itu.. itu bukan nya bibi kamu..??!” sahut Tante Ida juga tak mengerti

Buk Endang menatapku tajam, namun aku menyikapinya dengan tenang… aku memeluk tubuh Buk Endang dari belakang, beliau kaget dan coba berontak
“ Lepasskan Bry… kamu Gila!! Saya nggak mau beginian sama kalian!!” ujarnya berusaha melepaskan diri
“ hei.. hei.. tenang.. kan kemaren saya bilang.. kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya.. nah.. inilah dia… jangan cepat bilang nggak mau..!!” ujarku geram dan tidak mau melepaskanya, 

Buk Endang terus blingsatan mencoba melepaskan diri dari dekapanku
“ tenang dulu ngapa sih??!!” ujarku membentak Buk Endang

Buk Endang pun surut akan bentakanku, beliau mulai tidak berontak dan mengatur nafas meredakan amarahnya
“ gitu dong..” ujarku.

“ Bryann.. kamuu… aduuh… kenapa bisa seperti ini,,?? Kamu sudah rencanakan sebelumnya ya..??!!” kali ini giliran Tante Ida membentak ku
“ ssstt.. tenang tante.. tenang… “ ujarku memperingatkannya
“ kenalkan ini Buk Endang , dosen ku nte.. dan itu.. Tante Ida… tetangga depan rumaku Buk..” ujarku saling mengenalkan mereka
“ gua ini pencinta wanita setengah baya… bagi saya bercinta dengan kalian adalah sebuah fantasi dan sensasi tersendiri selama ini..’ tuturku pada mereka
“ dengan kamu Buk Endang… saya merasa puas saat bercinta.. begitu juga dengan anda,,, Tante Ida ku… saya begitu horny!!” beberku lagi

Mereka berdua hanya terdiam mendengar penjelasanku

“kita bertiga ini sama sama kotor… tukang selingkuh..!! jadi nggak usah munafik lah…!sengaja saya pertemukan kalian berdua, saya ajak kalian melakukan sebuah permainan yang kenikmatannya bukan hanya saya yang merasakannya.. tapi saya yakin kalian berdua pun nanti bakal menikmatinya… “ tambahku

Tangaku yang mendekap Buk Endang dari belakang mulai berpindah, membuka kancing baju Buk Endang satu persatu dari atas kebawah.. 

Buk Endang hanya pasrah saat kulucuti bajunya dan melepaskannya dari tubuhnya. Tubuh bagian atas Buk Endang yang juga bahenol itu tampak sempurna mengenakan BH berwarna hitam, warna favoritnya.. selanjutnya tanganku berada di belakang pungggung nya dan melepaskan kancing rok nya dari belakang dan menurunkan resleting rok nya… setelah itu dengan mudah kutarik rok nya kebawah hingga berada di lantai

Sekarang tubuh bahenol Buk Endang berdiri dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja.

Aku alihkan pandanganku ke Tante Ida , yang tampak ketakutan saat aku menoleh dan menatapnya tajam

Tante Ida menggeleng gelengkan kepalanya, tampak air mata mulai membasahi pipinya.. aku lalu membuka baju ku dan melepaskannya begitu juga dengan celanaku dan aku sekarang hanya mengenakan celana pendek underwear saja

“ Mari Buk.. “ ujarku membimbing Buk Endang menuju ke ranjang.. bagai kerbau di cocok hidung Buk Endang patuh saja saat kugiring beliau duduk di ranjang… wajahnya tertunduk malu. Tapi seperti nya dia tidak bisa berbuat apa apa selain patuh mengikuti perintahku.

Kuangkat wajahnya dan kulepaskan kacamata nya. Buk Endang pasrah tak bersuara dan masih duduk di pinggir ranjang dengan mengenakan pakaian dalamnya. Dan aku kembali memalingkan wajahku pada Tante Ida yang sudah menyudutkan tubuhnya ke dinding sudut ranjang

“ nggak Bryann… saya nggak mau…!! “ ujarnya terisak karena ketakutan

Aku naik ke ranjang dan mendekatinya,

“ mari nte… gak usah takut.. saya jamin tante bakal puas… saya juga baru kali ini mencobanya… lepaskan saja hasrat Tante seperti yang kita lakukan kemarin… luar biasa hasilnya kan..? “ bujuk ku

Tante Ida tetap diam tak bergeming di sudut ranjang.. ditutupinya tubuhnya dengan selimut…
Melihat itu aku menarik paksa selimut nya, dengan sedikit pergulatan dan adu tenaga akhirnya selimut itu berhasil kurengut dari tubuhnya.

“ Buk Endang ku… mari kesini..” ujarku pada Buk Endang yang masih duduk di pinggir ranjang namun hanya memandang kosong pada kami
“ Ba.. baikk..” ujarnya patuh dan dengan merangkak diatas ranjang beliau menuju keaarah kami.

Aku memegang Tante Ida yang masih ketakutan itu. Posisinya berada disudut ranjang yang mepet ke dinding, aku pun duduk dan memeluknya dengan lengan kiriku. Kuberi isyarat agar Buk Endang duduk disampingku. 

Dengan wajah memerah akhirnya beliau pun duduk disampingku dan dengan malu malu menyandarkan tubuhnya padaku. Aku pun merangkul bahunya dengan lengan kananku

Sunguh perfect rasanya saat aku berada di tengah tengah dua wanita paruh baya nan bahenol ini.. seperti menjadi seorang raja diantara selir selirnya… bedanya kalau raja sudah tua, selirnya muda kalau aku lain, aku masih muda dan mereka berdua, selirku yang jauh lebih tua dariku.. hehehhe..

Aku mendekap mereka dengan penuh kepuasan.. pertama kucium rambut Tante Ida, beliau coba memalingkan muka.. kemudian aku beralih mencium pipi Buk Endang yang mulai agak keriput.. beliau menatapku dan malah mendekatkan wajahnya padaku dan tampak memberikan bibirnya

Langsung saja kukecup bibir Buk Endang yang ada tahi lalat diatas bibirnya itu, Buk Endang memejamkan mata menyambut bibirku, beliau julurkan lidahnya dan langsung kubelit dengan lidahku
“ Mpphh… uuhh,. Mmpphh….” suara nafas kami yang memburu dan lidah kami saling beradu dan saling jilat.

Setelah puas, aku lepaskan ciumanku dan beralih ke Tante Ida yang ternyata memperhatikan kami berciuman tadi, segera kutarik kepalanya dan mendorong kedepan hingga berdekatan dengan wajah ku

Tante Ida masih mengatupkan mulutnya, namun aku terus menyerang bibirnya dengan ciuman..
“ ingat,, ntee,, lepaskan saja,, jangan lawan nalurimu..” bisiku di sela sela ciumanku

Akhirnya pelan pelan Tante Ida mulai membuka mulutnya, melihat itu langsung kuhujami mulutnya dengan ciuman, Tante Ida membiarkan saja aku menciumnya sedikit demi sedikit akhirnya Tante Ida mulai merespon dengan menjulurkan lidahnya

Sambil terus bertautan lidah dengan Tante Ida, tangan Buk Endang kuraih dengan tangan kananku, setelah itu dengan hati hati kuarahkan tangannya itu ke selangkanganku dan meletakannya tepat di kemaluanku..

“ Mpphh,,,” desahku sambil menggigiti bibir Tante Ida karena kurasa tangan Buk Endang meremas remas kejantananku yang masih tertutup underwear itu… remasan tangan Buk Endang lama kelamaan makin ganas hingga membuat tubuhku bergetar merasakan nikmatnya. 
Sementara Tante Ida juga makin liar membalas pagutan lidahku

Karena nggak tahan akan rasa geli yang melanda, aku hentikan ciuman ku pada bibir Tante Ida, aku mengambil nafas sejenak dan menoleh pada Buk Endang… beliau tersenyum dan terlihat berusaha melepaskan underwearku dengan wajah memerah.. melihat itu aku membantu tangannya dengan cara mengangkat pinggulku dan Buk Endang dengan mudah melolosi underwearku

Sekarang aku telanjang bulat diantara dua wanita paruh baya nan hot ini.

Aku meringis saat tangan Buk Endang sudah mencengkram batang penisku dan terus mengocok ngocoknya , terkadang tangannya memainkan kepala penisku dan memainkan zakarku, inilah yang kusuka dari Buk Endang.. beliau begitu agresif dan liar jika sudah melihat penisku.

Aku menoleh pada Tante Ida yang tampak takjub dengan penis ku yang sudah mengancung tegak seperti tower

Melihat Tante Ida masih ragu dan malu malu, aku raih tangan kirinya dan mengarahkannya pada ke penisku. Tanganku membuka buka telapak tangannya  dan meletakannya pada kepala penisku

Tante Ida Nampak tak kuasa membendung nafsunya melihat penisku yang panjang itu menjulang keatas, kurasa tangannya itu mengelus elus dan memainkan kepala penisku
‘” Uuuuuuhhhh…..” desahku memejamkan mata merasa kan nikmatnya blow job dua wanita yang sudah berpengalaman dalam hal memuaskan suaminya masing masing itu

Saat aku memejamkan mata, menikmati urutan tangan mereka, Tiba tiba kurasakan kepala penisku disapu oleh sesuatu yang terasa licin dan basah…  awalnya hanya sekali, selanjutnya kurasakan penisku itu sudah dimainkan dengan lidah hingga kurasa tubuhku terasa bergetar penuh kenikmatan. 

Penasaran mengetahui siapa yang menjilat, ku buka kedua mataku dan…  kulihat sebuah pemandangan yang begitu erotis. Buk Endang dan Tante Ida bergantian menjilati batang penisku…

Tante Ida merengggangkan satu pahaku dan menciumi pahaku dan … kantung kemihku pun jadi sasaran mulutnya.. serasa kantung kemihku itu ditelan oleh mulut Tante Ida lalu dimain mainkan dengan lidahnya,

Lain dengan Buk Endang, tampak beliau dengan buas menyepong kepala penis ku keluar masuk mulutnya. Buk Endang mengoral dengan buas, seperti tak memberi kesempatan pada Tante Ida untuk mendekati kepala penisku.
Tak kuat menahan rangsangan itu, aku letakan tanganku di masing masing kepala Buk Endang dan Tante Ida, aku menekan kepala mereka ke bawah, kadang terdengar mereka kesulitan bernafas
“ Mpphh… mmmhhh,,, “ desah Buk Endang

Lama lama aku tak tahan lagi untuk bersenggama .. jilatan lidah mereka membuat ku menyerah dan tak kuat menahan pejuku yang terasa mau mucrat
“ Hhhh,… akuu mauu,… keluaaaarrrr…hhh…!!!!“ jeritku tertahan

Mendengar itu mereka berdua makin gencar mengoral dan menyepong penisku.. sukma ku terasa melayang dan.. 

Croooott.. aku menyemburkan sprema ku.. entah kedalam mulut siapa aku tak tahu..

Kurasa lidah mereka mengeroyok penisku, saat kubuka mata tampak Tante Ida dengan rakus menjilati sisa sprema ku pada batang dan kepala penisku.. sementara Buk Endang tampak terduduk mengatur nafasnya dengan wajah pucat… dapat kutebak bahwa sprema ku tadi muncrat dalam mulut Buk Endang.

Aku mengatur nafas dan melihat kebawah Tante Ida masih menjilati muncratan sprema di selangkanganku, sementara Buk Endang menyeka mulutnya yang masih ada sisa spermaku di pinggir bibirnya..

“ nte.. cepat cium bibir Buk Endang..” perintahku membuat Tante Ida menghentikan aktifitasnya menjilati sisa sperma pada penisku

Wajahnya tampak ragu dan menoleh Buk Endang
“ Buk Endang .. ayo cium bibir Tante Ida.. aku mau liat kalian ciuman… bagi tuh spermaku yang dimulut anda..” perintahku pada Buk Endang

Mereka tampak masih bingung dan ragu ragu.. aku mengambil insisiatif memegang mereka berdua dan mendekatkan wajah mereka hingga berhadap hadapan
“ ayo.. cuma kita bertiga yang tahu.. ayo Bukk,.. Tante.. nggak usah malu malu... lepaskan saja..!!” ujarku memegang masing masing leher bagian belakang kepala mereka dan terus mendorong wajah mereka berdua hingga berdekatan

Tampak Buk Endang yang mulai duluan, diciumnya bibir Tante Ida dan kemudian di balas Tante Ida
" gitu donk.. ayoo.. cium lagi.." perintahku girang

Mulut Buk Endang sudah menempel pada mulut Tante Ida

" ayo nte.. buka mulut tante.." perintahku lagi menginstruksikan merea

Akhirnya diawali dengan Buk Endang, lama kelamaan mereka berdua melakukan French kiss di hadapanku.. pertama pelan, selanjutnya Tante Ida balas mengulum bibir Buk Endang, setelah terbiasa, ciuman mereka menjadi semakin hot dan liar
“ Mpph.. uuuhh… mmmm…hhh..” bunyi lidah saling bertautan.

Aku membantu merangsang mereka.. aku pegang tangan Tante Ida dan kuletakan di leher Buk Endang.. sementara tangan kiriku meremas buah dadanya..

“ uuummhh..” desah Tante Ida menggeliyang dan tampak beliau makin buas mencium bibir Buk Endang.. dengan nafas memburu akibat remasan tanganku di susunya. sementara tanganku yang satunya mengelus elus paha Buk Endang hingga dosenku itu pun mulai panas dan makin buas mencium Tante Ida, kemudian tangan kananku berpindah meremas payudara Buk Endang yang masih tertutup BH itu dengan gerakan cepat

Air liur mereka sudah menetes dari mulut mereka masing masing, bercampur sisa air maniku yang dipindahkan Buk Endang ke mulut Tante Ida.. sungguh..!  sebuah pemandangan yang erotis dan tabu terpampang di hadapanku… dua wanita paruh baya selingkuhanku ini seperti sepasang lesbi yang berciuman memperebutkan spremaku..

Akhirnya mereka berdua kecapaian dan melepas ciuman mereka… mereka saling berpandangan dan terengah engah mengatur nafas.. mungkin mereka masih tak percaya dengan apa yang mereka lakukan barusan..

Aku menggeser posisiku, yang semula bersandar pada dinding dan merebahkan tubuhku di kasur , Buk Endang dan Tante Ida mengikuti ku, Buk Endang berbaring di sebelah kanan ku dan Tante Ida di sebelah kiriku..

Aku merangkul mereka berdua dengan perasaan yang puas tiada kentara.. akhirnya angan anganku terwujud, melakukan threesome dengan dua wanita setengah baya yang sering kukencani ini. Satu dosenku yang hypersex dan satu lagi istri tetanggaku yang lembut dan romantis


“ kamu capek Bry..?” Tanya Tante Ida memecah kesunyian
“ iya.. biarkan saya istirahat dulu ya… nanti baru kita main lagi bertiga..’ ujarku mengusap lembut rambut nya
“ gimana perasaan tante? Godaku

Seperti biasa Tante Ida tak menjawab hanya senyum manisnya yang diberikannya padaku
“ enak kan..? Buk Endang..? bagaimana say..? masih marah..? “ godaku sambil gantian menoleh pada pada Buk Endang.

Wajah tua itu terlihat sumringah dan menatapku dalam dalam. Buk Endang terasa membelai wajahku
“ Enak say… pengalaman yang luar biasa..” ujarnya polos

Kami bertiga tertawa kecil
“ Mula mula saya risih dan malu… tapi.. setelah merasakannya… nikmat..’ tutur Buk Endang
“ jadi kalian berdua berteman saja… anggap saja aku ini gigolo kalian.. jangan  cemburu cemburuan.. karena pasti akan kubagi kenikmatan ini dan kita nikmati bersama..” ujarku mengelus elus kepala mereka berdua

“ Tante bikinkan kamu pudding ya..?  biar tenaga kamu pulih..?“ ujar Tante Ida
“ boo.. leh.. kalau Tante mau bikinkan… sekalian tolong bawakan madu di kulkas ya ante..” sahutku
“ okey.. kalau ada roti Tante bikinkan juga buat kita.. Buk Endang mau roti kan..? “ tawar Tante Ida
“ boleh.. trimakasih ya..” ujar Buk Endang ramah

Tante Ida memang ramah dan cepat akrab dengan orang yang beliau rasa cocok.. berbeda dengan Buk Endang yang agak jutek dan dingin pada orang yang baru dikenalnya. Tapi jika kuperhatikan Buk Endang sudah mulai membuka diri dengan Tante Ida.. mungkin karena merasa senasib sepenanggungan korban dari penisku.. hehehe..

Tante Ida pun bangkit dari tempat tidur dan berdiri melangkah keluar pintu kamar
“ Tante Ida … ingat ya peraturan di rumah ini.. tidak mengenakan pakaian kecuali pakaian dalam.. Buk Endang juga harus tahu dan patuh…” aku memperingatkan mereka
“ siap sayang..” sahut Tante Ida berlalu dari kamar sambil terkekeh



To Be continiue













Tidak ada komentar:

Posting Komentar