Selesai keluar dari pub hotel, aku memapah Tante Ida yang
sudah mabuk berat ke dalam kamar.
Pertama aku mencari lift setelah pintunya terbuka aku masuk lalu memencet angka
di tombol sesuai dengan lantai tempat kamar kami. Mata nya tampak merah. wajahnya kusut. Tubuhnya sempoyongan karena terlampau banyak meneguk minuman dengan kadar alcohol tinggi.
Bicara nya pun mulai ngelantur
Bicara nya pun mulai ngelantur
“ ayo ntee.. jalannya pelan pelan aja..”
“ Byaan… enak banget yang tadi… Tante puasss banget….”
Ujarnya . satu tangannya kutaruh di leherku sementara tangan ku yang satu
berada di pinggangnya, hingga aku berposisi memapah tubuhnya
“ iya nte.. tante happy malam ini?” tanyaku
“ happy banget bryaann… !! makasih ya sayangg… “
ujarnya menatapku sayu dengan senyum manisnya
Tak lama kemudian kami sampai dilantai kamar yang dituju. Aku
memapah nya yang berjalan tertatih
“kok jauh banget rasanya kamar kita ya Bry..? “ Tanya Tante
Ida sempoyongan
“ sudah dekat kamar kit nte..” balasku. Setelah menemukan kamar aku
menggesekan kartu hologram untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka aku
kembali memapah Tante Ida kedalam sambil menghidupkan lampu kamar dan
menghidupkan AC
Tante Ida berdiri saja di dalam kamar sambil terus memegangi
kepalanya dan mengeluh bahwa kepalanya pusing. Wajah Tante Ida tampak kusut,
matanya sembab dan merah karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman, rambut nya
yang diikat kebelakang tampak acak acakan
“ saya mau ganti baju… gerah..” sahutnya. Tante Ida langsung
mencoba membuka tali gaun nya kesamping dua dua nya dan mencoba menurunkannya.
Akan tetapi karena kondisi fikirannya yang kurang normal itu membuatnya seperti
kesulitan melepaskan gaun nya yang sebenarnya amat mudah untuk dilepasnya.
Karena ingin buang air kecil, aku meninggalkan saja Tante Ida
yang sibuk dengan gaunnya itu dan menuju kamar mandi, sesampai disana aku pun
membuang urin ku dengan perasaan lega sambil mencuci penisku yang masih
berlepotan bekas air mani ku dan cairan vagina Tante Ida.
Setelah selesai bersih bersih, aku keluar dari kamar mandi,
dan kudapati Tante Ida masih kesulitan melepaskan gaunnya, aku terkekeh dan
memperhatikan Tante Ida dengan perasaan lucu
“ bry… kok kamu bengong saja disitu.. bantu dong Tante
melepaskan ini… kok susah banget.. dari tadi gak bisa lepas…” ujarnya dengan
wajah panic
Aku tertawa melihat ekspresinya. Gaun itu sudah terbuka
hingga ke perutnya, dada, bahu dan perut nya yang putih ditambah payudaranya
yang masih mengenakan BH berwarna hitam itu sudah terbuka. Tinggal satu talinya
yang masih nyangkut.
Kasihan juga aku melihatnya yang kerepotan itu, aku pun
mendekati nya mencoba membantu nya. Rupanya satu tali gaunnya itu tersangkut
dengan tali BH yang berada di punggung nya
“ini yang nyangkut rupanya nte..” ujarku terkekeh dan dengan
mudah kulepaskan sangkutan talinya itu lalu membantunya melepaskan gaun itu
kebawah.
“ parah tante maboknya..” candaku tertawa. Tante Ida sekarang
mengangkat kakinya satu persatu dan menurunkan gaunnya hingga gaun berwarna
ungu itu sekarang berada di lantai
“ ribet banget gaun nya… biasanya gak sesusah itu membukanya”
sungut Tante Ida
Sontak aku tertawa mendengarnya. Sekarang Tante Ida hanya
mengenakan pakaian dalam, BH mungilnya yang berwarna hitam dan G string nya
yang berwarna sama.
“ kepala ku masih terasa berat bry..” keluhnya lagi
“ Tante tidur aja.. istirahat... dan jangan banyak berfikir..”
saranku
“ iya deh.. bantu saya jalan ke ranjang bry..” rengeknya
manja
“ya.. sahutku pendek. Aku kembali memapah tubuh Tante Ida
yang masih sempoyongan itu dan membantu membaringkan nya di ranjang.
“ thanks bry..’ ujarnya. Aku membantunya mengambil selimut
lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut itu.
Setelah menyelimutinya aku duduk pada pinggiran ranjang dan menatap tetanggaku ku itu dengan kasih sayang, Tante Ida membalikan posisi tidurnya ke arah kau yang duduk di pinggir ranjang dan balas menatapku penuh arti dan tersenyum manis padaku sambil memeluk bantal guling
Setelah menyelimutinya aku duduk pada pinggiran ranjang dan menatap tetanggaku ku itu dengan kasih sayang, Tante Ida membalikan posisi tidurnya ke arah kau yang duduk di pinggir ranjang dan balas menatapku penuh arti dan tersenyum manis padaku sambil memeluk bantal guling
Aku membelai rambutnya, mengusap usapnya berkali kali
“ Tante nyamaaan banget sama kamu bryan..” ungkapnya polos.
Aku hanya tersenyum kecil
Aku hanya tersenyum kecil
“saya juga nte… Tante
luar biasa bagiku..” ungkapku . dan kulihat wajah Tante Ida merah bersemu
mendengar pujianku, tak lama berselang Tante Ida tampak mulai memejamkan matanya dan sudah larut dalam tidurnya
Aku masih duduk dipinggir ranjang dan membelai rambut tetanggaku yang cantik itu….
Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang kurasakan tadi, bercumbu, bercinta dan bersetubuh dengan tetanggaku nan bohay ini di dalam pub hingga endingnya mengeksekusinya sambil berdiri menyandarkan Tante Ida di dinding !
Sungguh menjadi sebuah sensasi tersendiri bagiku yang memang suka melakukan hal hal yang ekstrim dalam bercinta. Rasa ketakutan ketahuan orang hingga membuatku cepat cepat menuntaskan birahi dan berujung berejakulasi dalam titit Tante Ida, itulah yang kurasakan sebagai sensasi yang begitu nikmat.
Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang kurasakan tadi, bercumbu, bercinta dan bersetubuh dengan tetanggaku nan bohay ini di dalam pub hingga endingnya mengeksekusinya sambil berdiri menyandarkan Tante Ida di dinding !
Sungguh menjadi sebuah sensasi tersendiri bagiku yang memang suka melakukan hal hal yang ekstrim dalam bercinta. Rasa ketakutan ketahuan orang hingga membuatku cepat cepat menuntaskan birahi dan berujung berejakulasi dalam titit Tante Ida, itulah yang kurasakan sebagai sensasi yang begitu nikmat.
Puas memandangi wajah cantik itu tertidur pulas aku pun
membaringkan tubuhku disampingnya, terasa lelah juga.. energiku terkuras saat
berada dalam pub, bergoyang hingga akhirnya menggoyang Tante Ida dari belakang…seluruh
persendian tubuhku terasa lelah membuat tubuhku begitu nyaman berbaring diatas
ranjang hotel nan empuk ini.
Pelan pelan kupejamkan mata dan menikmati mimpi indahku…
Aku terbangun saat kudengar ringtone handpone berbunyi, pelan
pelan ku buka mata dan duduk mencari dimana arah suara , ternyata suara
tersebut berasal dari dalam tas Tante Ida. Kulihat disebelahku Tante Ida masih
tertidur pulas. Handphone itu kembali berdering, karena merasa terganggu aku
bangun dari ranjang dan mengambil nya dalam tas Tante Ida..
Saat kulihat ternyata suami nya menelepon.. aku kembali
melihat ke Tante Ida, beliau masih tak sadarkan diri. Melihat itu ku reject aja
Hp nya dan langsung ku matikan ponselnya agar tidak berbunyi lagi. Lagipula kalau
suami menelepon entah apa yang akan dibicarakan nya pasti akan merusak mood
Tante Ida. Kalau mood nya rusak , bisa gagal rencana ku untuk melakukan
threesome antara aku, Buk Endang dan Tante Ida yang rencana kulakukan di
rumahku…
Setelah mematikan ponsel Tante Ida, aku berdiri sejenak.
Fikiranku masih belum fresh dan kepala masih lumayan berat karena pengaruh
alcohol dan kecapek an atau mungkin karena belum mandi
Pas kulihat kearah dinding, rupanya jam sudah menunjukan
pukul sebelas siang..
“wah,.. bentar lagi harus check out nih..” bathinku
Dengan tergesa aku membangunkan Tante Ida
“ nte.. nte.. bangun .. udah siang,, kita harus check out..”
ujarku mengguncang badannya
“nggghh..?” ujar Tante Ida menggeliat sebentar kemudian
kembali diam
“ nte.. bangun..” ujarku menepuk nepuk wajahnya.
“apaan sih Bry.. Tante masih ngantuk..” ujarnya membuka mata
nya sedikit.
“liat tuh.. udah jam 11 siang… Tante mau pulang atau kita
sambung kamarnya” ujarku
“ as.. astagaa… udah siang rupanya..” ujarnya sedikit kaget
dan mengucek ucek matanya.
Tante Ida mulai duduk. Saat beliau duduk tubuh nya terangkat dan selimutnya melorot kebawah. Tante Ida tampak tak malu malu lagi padaku,.
Tante Ida mulai duduk. Saat beliau duduk tubuh nya terangkat dan selimutnya melorot kebawah. Tante Ida tampak tak malu malu lagi padaku,.
Karena saat itu buah dadanya yang masih tertutup BH terlihat di
hadapanku, tapi mungkin beliau tidak sadar atau merasa sudah biasa hingga tidak
malu malu lagi saat auratnya terbuka dihadapanku.
“ kamu udah mandi Bry? “ ujanya sambil menguap
“ ya belum … saya juga baru bangun.. untung saya cepat
bangun” ujarku
Tante Ida kemudian melepaskan selimutnya
“ kamu mandi duluan atau saya ? “ ujarnya.
Tubuh indahnya sudah berdiri, mengenakan pakaian dalam yang tampak begitu sexy, dia mengenakan G string, hingga pantat nya yang bulat dan montok itu terlihat sempurna.
Tubuh indahnya sudah berdiri, mengenakan pakaian dalam yang tampak begitu sexy, dia mengenakan G string, hingga pantat nya yang bulat dan montok itu terlihat sempurna.
Pagi pagi begini nafsu juga aku dibuatnya, namun menimbang
sedikitnya sisa waktu aku mengurungkan niatku untuk mencicipi tubuhnya lagi.
Lagian kalau nanti rencana melakukan threesome berjalan lancar,maka aku tentu masih
dapat menikmati tubuh indah ini..
“ Tante aja duluan… kalau perempuan kan lama mandinya.. kalau
saya mah sebentar…” ujarku sekenanya
Tante Ida tertawa renyah
“ kamu tau aja.. kayak nya kamu ini sudah pengalaman urusan
wanita ya..?” godanya
Aku tertawa dan tak menjawab , namun coba untuk menghindari pertanyaanya
“ mandi atau kumandiin..?” godaku agar fikirannya teralih
“ mandi bareng aja yuk…? “ ujarnya dengan tingkah manja nya
…. membuat darahku berdesir.
Tapi aku
tetap coba mengendalikan diri. Aku berdiri dan berada dihadapannya, tanganku
memeluk pinggangnya dan kudekatkan wajahku dan mencium bibirnya, namun hanya
sekali kecupan saja
“ kalau kita bareng… nanti terjadi hal hal yang diinginkan..
mendingan kita sambung nanti di rumahku saja.. waktu nya bisa lebih panjang..” ujarku
terus membujuknya
Tante Ida mengangguk dan tersenyum manis, lalu mencium pipiku
“ Tante sayang kamu Bryan.. Tante nggak menyangka walau kamu
masih remaja tapi dapat mengimbangi Tante dalam segala hal… saat ini Tante
nggak mau jauh jauh dari kamu Bry..” ujarnya tulus
“ ya nte… saya juga sayang Tante… “ ujarku pendek dan melepas
pelukan
“ ya sudah.. tante mandi dulu ya..” ujarnya sambil
meninggalkanku dan menuju ke kamar mandi
Aku menghela nafas, menahan birahi ku saat Tante Ida memeluk
ku tadi, tubuhnya terasa hangat dan amat menggodaku untuk kembali menjamahinya.
Namun untunglah aku bisa mengendalikan diri.
Sekitar 15 menit aku menunggunya mandi, setelah melihatnya
keluar kamar mandi. Tante Ida amat seksi
saat keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk. Aku tetap menahan
nafsuku dan langsung masuk kekamar mandi dan keramas serta membilas tubuhku
Setelah selesai mandi, kulihat Tante Ida sudah selesai
berpakaian, beliau mengenakan pakaian terusan berwarna hitam yang panjangnya
diatas lutut, bagian bahunya tertutup dan panjang nya diatas lengan. Beliau sedang
menghadap ke cermin merias wajanya.. Aku
pun segera berpakaian.
Setelah selasai aku berpakaian
, telepon hotel berdering, lalu kuangkat.. respsionis menanyakan padaku apakah mau
check out atau memperpanjang kamar.. aku jawab saja mau check out dan sebentar
lagi mau kebawah.
Akhirnya aku dan Tante Ida pun meninggalkan hotel menuju
mobilku di parkiran, kami bagai pasangan suami istri yang sudah berbulan madu.
Kadang ada beberapa orang yang memperhatikan kami. Mungkin karena aku yang
masih muda menggandeng Tante Ida yang sudah berumur. Tapi kami cuek saja dan
terus berjalan saling bergandengan seperti pasangan yang sedang kasmaran
“ masih lelah nte..? “ ujarku saat mobil sudah kujalankan
“ iya.. tapi nggak lelah kaya’ kemaren.. enak ya, pergi main
dengan kamu Bry.. saya jadi gak boring..” ujarnya menatapku
“ dari kemarin Tante kayak gini kan enak… nggak perlu harus
kupaksa seperti beberapa minggu yang lewat ” balasku sambil terus mengemudi
“ pertama kita kan belum kenal.. tapi kamu hadir pada saat
yang tepat bry.. saat tante lagi galau dengan rumah tangga tante..” ujarnya
lagi
“ sebetulnya tante yang salah… tante tidak bisa mengendalikan
diri.. kamu,, kamu begitu menyanjungku dan kamu.. amat manis..” ungkapnya
“ nggak ada yang salah nte.. semua orang pasti melakukan
kesalahan.. seperti kita…. Bagi saya yang terjadi antara kita ini amat
natural.. dan gak ada yang menghakimi..” tuturku
Tante Ida menunduk mendengar penjelasanku,sambil pura pura memainkan handphone nya yang padahal dalam keadaan mati itu.. mungkin beliau
berfikir ada benarnya juga ucapanku itu.
Di sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam, larut dengan
fikiran masing masing, Tante Ida yang sudah mulai sadar itu, kembali berubah
menjadi kikuk dan salah tingkah dihadapanku
Akhirnya kami sampai di komplek perumahan
“ tante langsung pulang atau mau main ke rumah saya dulu..? “
pancingku
Tante Ida belum menjawab, pandangannya masih menerawang
mungkin ragu apa harus dia jawab
“ ngg.. terserah kamu aja Bry… “ ujarnya datar. Aku yakin
bahwa sebenarnya beliau masih ingin berduaan denganku. Namun masih malu
mengungkapkannya
“ bagusnya tante ke rumah saya aja… di rumah tante kan gak
ada orang.. kan ada kawan ngobrol tante.. atau sebaliknya saya yang temani
tante di rumah tante..? “ pancingku lagi
Tante Ida mulai tersenyum malu
“ jangaan.. ! jangan di rumah saya.. ! di rumah kamu aja lah..” kilahnya..
Akhirnya… do’I masuk juga dalam perangkapku. Sikapnya yang
malu malu mau ini sebenarnya yang membuat aku mabuk kepayang selain, tentu saja
body yang sexy dan bohay itu..
Akhirnya kami sampai di perumahan, kebetulan sekuriti
perumahan sedang tidak ada di pos, jadi tidak mengetahui kalau Tante Ida
bersama denganku. Aku menghentikan mobil di depan rumah lalu keluar dari mobil
dan membuka kunci pagar berikut membuka garase mobil.. setelah itu aku kembali
ke mobil dan memasukan mobil ke garasi.
Sesampai di garasi aku kembali menutup pagar dan garasi, tapi
kututup saja, tanpa kugembok. Setelah garasi ditutup, Tante Ida baru berani
keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumahku melalui pintu samping. Aku
pun masuk tapi membiarkan pintu samping terbuka
Aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa ruang tengah, di
depan TV..
Tante Ida tampak masih ragu dan takut takut walau sudah berada di dalam rumahku. Aku menyalakan televisi untuk memecahkan kebuntuan. Tante Ida pun duduk disebelahku. Fikirannya masih menerawang. Mungkin beliau masih ingat kali pertama aku bersetubuh dengannya.. di atas sofa yang kami duduki sekarang ini…
Tante Ida tampak masih ragu dan takut takut walau sudah berada di dalam rumahku. Aku menyalakan televisi untuk memecahkan kebuntuan. Tante Ida pun duduk disebelahku. Fikirannya masih menerawang. Mungkin beliau masih ingat kali pertama aku bersetubuh dengannya.. di atas sofa yang kami duduki sekarang ini…
Aku beranjak dari sofa menuju kulkas dan mengambil minuman
cola kaleng
“ Tante mau..? “ tawarku menyodorkan minuman kaleng padanya dengan posisi masih berdiri
“ boleh.. thanks bry..” ujarnya ramah mengambil minuman itu
dariku lalu membuka tutup nya
“ tapi ini low alcohol lho..? godaku
Tante Ida sampai tersedak menahan tawa, karena minuman itu
sudah diminumnya.
“ ha ha ha ha.. kamu ini bisaaa ajaa..!!” ujarnya meletakan
minuman itu di meja
Aku memandangnya penuh arti, lalu menarik tangannya dan memberi isyarat agar beliau
berdiri berhadapan denganku, Tante Ida mengangguk pelan dan berdiri di hadapanku
Setelah beliau berdiri, aku letakan cola yang kupegang di meja lalu kupeluk pinggang nya dengan mesra.. wajah cantik Tante Ida kembali bersemu, wajah nya tertunduk tidak berani menatapku namun tampak beliau tersenyum manis
Setelah beliau berdiri, aku letakan cola yang kupegang di meja lalu kupeluk pinggang nya dengan mesra.. wajah cantik Tante Ida kembali bersemu, wajah nya tertunduk tidak berani menatapku namun tampak beliau tersenyum manis
“ wanna dance with me.? Rayuku
Tante tertawa kecil dan memukul bahu ku pelan, tapi segera
kutangkap tangannya dan kuarahkan kedua tangannya itu untuk kuletakan di
bahuku, sementara tangan kananku masih melingkar di pinggang nya
“ you don’t know you beautiful..? “ rayu ku lagi menatapnya dalam.
Tante Ida tidak menjawab , beliau hanya tersenyum bahagia dengan kepala tertunduk.
Tante Ida
menyandarkan kepalanya pada jidatku, hingga jidat kami saling beradu dan
tersandar. Posisi ini sungguh romantis, aku tahu beliau senang diperlakukan
romantis seperti ini.
Tante Ida tidak menjawab , beliau hanya tersenyum bahagia dengan kepala tertunduk.
“ no music? “ akhirnya Tante Ida bicara dan menatapku penuh
arti
Aku tertawa renyah, dan melepaskan pelukanku padanya,
Lalu aku menuju pada music player di dekat TV dan mencari CD instrumental, aku pilih music instrument nya Richard Clayderman.. setelah aku klik play.. maka suara harmoni piano dan biola yang dimainkan secara instrumental dan indah itu terdengar begitu soft di rumahku.
Lalu aku menuju pada music player di dekat TV dan mencari CD instrumental, aku pilih music instrument nya Richard Clayderman.. setelah aku klik play.. maka suara harmoni piano dan biola yang dimainkan secara instrumental dan indah itu terdengar begitu soft di rumahku.
Aku kembali mendekati Tante Ida, dan memberi isyarat agar
beliau berdansa dengan ku.. Tante Ida tersenyum manis dan menatapku dalam
dalam, satu tangannya melingkari leherku dan satu tangannya lagi menggengam
tanganku erat.
Kami saling bertatapan, Tante Ida tak kuasa lama lama menatap
mataku , wajahnya tersipu malu saat kutatap. tubuh nya sekarang mulai bergerak berdansa
denganku
“ kamu romantis sekali bryann…” desahnya
“ dan kamu cantik sekali sayang..’ balasku
Kami berdua terus berdansa pelan menikmati alunan piano dan
biola, Tante Ida sudah larut dalam suasana romantis yang kuciptakan, kedua
kaki nya bergerak seirama dengan gerakan kaki ku ke kiri dan kekanan. Tangan kanannya
menggengam erat tanganku dan mengikuti kemana arah ayunan tanganku
Suasana itu buyar saat kami dikejutkan oleh suara nada getar
ponselku yang berada di saku celanaku, aku tersentak dalam lamunanku
“ angkat dulu telpon kamu Bry..” ujar Tante Ida lirih
“ biarkan saja lah nte…” ujarku malas malasan
“ angkat aja.. lagian Tante juga mau ke kamar kecil dulu.. kamar kecil
kamu dimana Bry? “ Tanya nya
“ ooo.. disana nte,, dekat dapur “ ujarku menunjukan letak
kamar mandiku
Tante Ida pun berjalan menuju kamar mandi, aku mengeluarkan Hp daru saku celanaku dan melihat siapa
yang meneleponku.. ternyata itu adalah telepon dari Buk Endang.. aku sampai lupa akan rencana awalku
gara gara hanyut dalam suasana romantis dengan Tante Ida..
Aku berjalan ke arah pintu samping dan menelepon balik Buk Endang
“ Hallo sexy…. Sudah selesai kerjaan nya? “ ujarku langsung
saat Buk Endang sudah mengangkat telepon.
“ Kamu ini,.. katanya kamu yang menghubungi saya!... sudah saya tunggu telepon kamu sampai jam setengah dua begini… jadi apa nggak. nih ??!!” Sungutnya dengan gusar
Dari nada bicaranya tampak Buk Endang kesal sekali
Dari nada bicaranya tampak Buk Endang kesal sekali
“ Jadi.. saya sudah siap nih dengan surprise nya...” ujarku
mencoba menenangkannya
“ bener..? kalau sudah siap saya langsung meluncur ke rumah kamu ya..? “ ujarnya terdengar sedikit tenang
“ bener..? kalau sudah siap saya langsung meluncur ke rumah kamu ya..? “ ujarnya terdengar sedikit tenang
“ okey.. saya tunggu di rumah ya say… nanti kalau handphone nya ngga terangkat, klakson aja dari luar ya..” tuturku
“ okey deh sayangku… bye..“ ujar Buk Endang girang dan
menutup telepon
Setelah telepon kututup aku kembali menuju sofa, Tante Ida
belum keluar lagi dari kamar mandi. Dada ku deg deg an dan berharap rencanaku
berhasil !!
Aku membuka bajuku dan duduk di sofa menunggu kedatangan dua
orang tante tante dan mama mama cantik ini.
Tak lama kemudian Tante Ida keluar dari kamar mandi dan agak
kaget melihat ku duduk di sofa tanpa mengenakan baju dan berposisi menantang
menatapnya
Tubuh Tante Ida berdiri mematung sejenak dan mengangkat
bahunya dengan ekspresi wajah yang memerah dan kikuk melihatku
“ lepaskan baju tante..” perintahku dengan lembut padanya
Awalnya Tante Ida terlihat ragu, namun akhirnya diturunkannya
bagian leher baju terusannya turun melalui bahunya, selanjutnya Tante Ida
menarik turun baju terusannya itu terus kebawah hingga berada di lantai.
Beliau masih berdiri mematung seolah menunggung instruksi ku
selanjutnya, sekarang beliau berdiri hanya dengan mengenakan BH dan celana
dalam yang tipis berwarna pink.
Aku menatapnya dari sudut yang agak jauh puas puas , dari ujung kepala hingga ujung kaki, memang sungguh sexy wanita paruh daya satu ini, tubuhnya montok, putih dan pahanya itu lho… amat putih .. sampai urat urat terlihat karena saking putihnya
Aku menatapnya dari sudut yang agak jauh puas puas , dari ujung kepala hingga ujung kaki, memang sungguh sexy wanita paruh daya satu ini, tubuhnya montok, putih dan pahanya itu lho… amat putih .. sampai urat urat terlihat karena saking putihnya
“ mari kesini..” instruksi ku padanya
Tante Ida pun perlahan berjalan menuju arahku yang berada di
sofa, posisiku duduk dengan kedua kaki
terjuntai ke bawah, saat beliau mendekat aku memberi isyarat agar beliau duduk
diatas pangkuanku.
Tante Ida pun patuh, dia duduk di pangkuanku dengan cara
mengangkangi tubuhku, kedua pahanya melingkari pinggangku. Aku merengkuh tubuhnya agar mendekat padaku.
Aku membelai pinggulnya dan menjamahinya terus keatas dan
membelai belai punggungya, sementara Tante Ida memeluk tubuhku dengan erat, suhu tubuhnya terasa hangat menambah gairahku untuk terus mencumbu tubuh nya
Secara naluriah aku mengecup bibirnya dan dibalas dengan hot oleh beliau, bibir kami saling berciuman hangat, Tangan Tante Ida memeluk leherku dan merapatkan wajahnya denganku. Kami terus berciuman.. memacu hasrat dan birahi kami sampai kesulitan bernafas.. Ini merupakan sebuah sensasi yang luar biasa yang tengah aku nikmati..
Tanganku yang semula membelai pinggang beliau mulai berpindah
keatas, tak sadar karena saking nikmatnya aku meremas remas rambutnya, dengan
cepat kubuka ikatan rambutnya dan lagi kuremas rambut Tante Ida dengan gerakan
tak beraturan .
Tante Ida menahan nafas dan menghembuskannya perlahan, kurasan kedua kaki Tante Ida makin erat melingkari pinggangku, Tante Ida makin merapatkan badannya padaku . beliau mulai menggerak gerakan pantatnya dan coba menggesek gesekan pantatnya yang berada diatas kedua pahaku.
Tante Ida menahan nafas dan menghembuskannya perlahan, kurasan kedua kaki Tante Ida makin erat melingkari pinggangku, Tante Ida makin merapatkan badannya padaku . beliau mulai menggerak gerakan pantatnya dan coba menggesek gesekan pantatnya yang berada diatas kedua pahaku.
‘ Mmmhhh… Aaahhh… Ouuuhh.. ssshhhh…” desah kami bergantian
menikmati indahnya bercumbu diatas sofa, tubuh montok Tante Ida terasa hangat
dan wangi membuatku terus bernafsu mencumbu mulutnya.
Saat kami terlena memadu birahi, aku tak menyadari beberapa
kali ponselku bergetar dalam saku celana ku.. tiba tiba terdengar suara klakson
mobil di depan rumah berbunyi berkali kali,
Kami berdua tersentak dan buru buru menghentikan aktifitas, Tante Ida langsung reflek turun dari pangkuanku dan duduk disebelahku dengan wajah pucat menatapku
Kami berdua tersentak dan buru buru menghentikan aktifitas, Tante Ida langsung reflek turun dari pangkuanku dan duduk disebelahku dengan wajah pucat menatapku
“ siapa itu Bryan..? seperti nya suara itu berada di depan
rumahmu..” ujar Tante Ida mengatur nafasnya dan merapikan rambut nya diikat kebelakang lagi oleh nya.
Aku tahu, yang datang pasti Buk Endang.. aku berusaha
bersikap tenang
“ nggak tahu juga nte.. coba saya lihat dulu.. Tante masuk
aja ke kamar saya..” pungkasku
Aku menarik Tante Ida ke dalam kamarku yang pintu nya tepat berada di
depan sofa tempat kami bergumul tadi
“ pakaian saya Bry..? ” Tanya Ida yang sadar saat itu hanya
mengenakan pakaian dalam saja
“ nanti saya yang aja yang bawa ke kamar sambil saya mengenakan baju “
sahutku menarik tangannya menuju kamarku
Sesampai di kamar Tante Ida langsung rebahan diatas kasurku
dan menarik selimut guna menyelimuti tubuhnya
“ tunggu disini ya ante,, saya mau ke depan dulu..?” ujarku
terus meyakinkannya untuk tenang
“ si.. siapa itu ya bry..? jangan jangan orang tua mu datang lagi..”
ujar Tante Ida panik
“ Nggak lah.. orang tua saya kalau datang pasti kasih kabar
sebelumnya.. paling teman kuliah ku.. setelah kutemui kusuruh aja dia pulang…
kalau nggak kutemui dikiranya saya masih tidur.. dia bakalan terus nelpon ataus
klakson…” beberku
Ditambah bunyi getar Hp kembali terdengar
“ nah.. kan .. dia nelpon terus..’ ujarku
“ ya sudah.. kamu kedepan saja dulu.. suruh cepat pulang
teman kamu itu..” ujar Tante Ida dengan raut wajah penuh kecemasan
“ okey” ujarku pendek, aku meninggalkan beliau di kamarku.
Mengenakan bajuku dan menuju pintu samping
Setelah membuka garase, kulihat mobil Buk Endang berhenti di
depan pagar,
Aku pun membuka pagar dan Buk Endang langsung memasukan
mobilnya dalam garasi dan parkir di belakang mobilku.. tak lupa kugembok pagar
rumahku dan kututup lagi garaseku
Tampak Buk Endang keluar dari mobilnya
‘ lagi ngapain sih kamu..? dari tadi saya telepon nggak
ngangkat saya klakson pun gak juga keluar.. nggak mungkin kan , saya klakson di
depan rumah kamu terus terusan” sungutnya dengan wajah kesal
Terkadang itu pula yang membuatku kesal dengan sifat Buk
Endang yang manja, tidak sabaran dan mudah merajuk itu
“ saya lagi be’ol say…’ ungkapku memberi alasan
“ ooo.. “
“ gak mungkin saya keluar kalau belum cebok..” tambahku
meyakinkannya
Buk Endang pun tertawa mendengar penjelasanku itu
“ mari masuk..” ujarku menggandeng tangannya.
Aku dan Buk Endang masuk kerumahku,, tak lupa kukunci pintu
samping jalan masuk melaui garase ku itu.
“ mana surprisenya” Tanya Buk Endang saat sudah berada di
ruang tengah. Matanya mengawasi rumahku.
Aku tersenyum dan mencium pipinya
“ada.. tenang aja… o
ya .. Ibu lagi gak sedang datang bulan kan? “ godaku
“ Ya nggak lahh…. Kalau lagi dapet saya nggak kan mau datang
kesini.,. hehehe..’ ujarnya terkekeh, wajah tua nya tampak sumringah jika
bersama denganku
“ mari … langsung aja ke kamar saya..” ujarku menarik
tangannya
Buk Endang pun menurutiku, dan berjalan mengikutiku dari belakang ke arah kamar
Sesampai di kamar kubuka pintu dan segera saja kutarik Buk Endang masuk ke dalam,,
Sontak saja Buk Endang terpekik kaget, mendapati ada wanita
lain sedang tidur berselimut di ranjangku. Begitu juga dengan Tante Ida,
wajahnya melongo tak percaya melihat aku masuk ke kamar dengan membawa seorang wanita!
“ apa apaan ini Bryan..??!! si..siapa perempuan ini..??!!” bentak Buk Endang tampak syok
“ ini dia buk.. surprise yang kujanjikan… kita bertiga akan
melakukan threesome disini..” ujarku mantap
“ mak.. maksud apa sih Bry..” ujar Buk Endang masih tak
mengerti
“ Kita bercinta bertiga Bukk.. aku, Ibuk.. dan ini, Tante
Ida… “ ujarku menunjuk pada Tante Ida yang sudah berposisi menyudutkan tubuhnya ke
dinding
“ Bryann..!! itu.. itu bukan nya bibi kamu..??!” sahut Tante
Ida juga tak mengerti
Buk Endang menatapku tajam, namun aku menyikapinya dengan
tenang… aku memeluk tubuh Buk Endang dari belakang, beliau kaget dan coba
berontak
“ Lepasskan Bry… kamu Gila!! Saya nggak mau beginian sama
kalian!!” ujarnya berusaha melepaskan diri
“ hei.. hei.. tenang.. kan kemaren saya bilang.. kita akan
melakukan sesuatu yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya.. nah.. inilah dia…
jangan cepat bilang nggak mau..!!” ujarku geram dan tidak mau melepaskanya,
Buk Endang terus blingsatan mencoba melepaskan diri dari dekapanku
Buk Endang terus blingsatan mencoba melepaskan diri dari dekapanku
“ tenang dulu ngapa sih??!!” ujarku membentak Buk Endang
Buk Endang pun surut akan bentakanku, beliau mulai tidak
berontak dan mengatur nafas meredakan amarahnya
“ gitu dong..” ujarku.
“ Bryann.. kamuu… aduuh… kenapa bisa seperti ini,,?? Kamu
sudah rencanakan sebelumnya ya..??!!” kali ini giliran Tante Ida membentak ku
“ ssstt.. tenang tante.. tenang… “ ujarku memperingatkannya
“ kenalkan ini Buk Endang , dosen ku nte.. dan itu.. Tante
Ida… tetangga depan rumaku Buk..” ujarku saling mengenalkan mereka
“ gua ini pencinta wanita setengah baya… bagi saya bercinta
dengan kalian adalah sebuah fantasi dan sensasi tersendiri selama ini..’
tuturku pada mereka
“ dengan kamu Buk Endang… saya merasa puas saat bercinta..
begitu juga dengan anda,,, Tante Ida ku… saya begitu horny!!” beberku lagi
Mereka berdua hanya terdiam mendengar penjelasanku
“kita bertiga ini sama sama kotor… tukang selingkuh..!! jadi
nggak usah munafik lah…!sengaja saya pertemukan kalian berdua, saya ajak kalian melakukan sebuah permainan yang kenikmatannya
bukan hanya saya yang merasakannya.. tapi saya yakin kalian berdua pun nanti
bakal menikmatinya… “ tambahku
Tangaku yang mendekap Buk Endang dari belakang mulai berpindah,
membuka kancing baju Buk Endang satu persatu dari atas kebawah..
Buk Endang
hanya pasrah saat kulucuti bajunya dan melepaskannya dari tubuhnya. Tubuh
bagian atas Buk Endang yang juga bahenol itu tampak sempurna mengenakan BH
berwarna hitam, warna favoritnya.. selanjutnya tanganku berada di belakang
pungggung nya dan melepaskan kancing rok nya dari belakang dan menurunkan
resleting rok nya… setelah itu dengan mudah kutarik rok nya kebawah hingga
berada di lantai
Sekarang tubuh bahenol Buk Endang berdiri dengan hanya
mengenakan pakaian dalam saja.
Aku alihkan pandanganku ke Tante Ida , yang tampak ketakutan saat
aku menoleh dan menatapnya tajam
Tante Ida menggeleng gelengkan kepalanya, tampak air mata
mulai membasahi pipinya.. aku lalu membuka baju ku dan melepaskannya begitu
juga dengan celanaku dan aku sekarang hanya mengenakan celana pendek underwear
saja
“ Mari Buk.. “ ujarku membimbing Buk Endang menuju ke
ranjang.. bagai kerbau di cocok hidung Buk Endang patuh saja saat kugiring beliau duduk di ranjang… wajahnya tertunduk malu. Tapi seperti nya dia tidak
bisa berbuat apa apa selain patuh mengikuti perintahku.
Kuangkat wajahnya dan kulepaskan kacamata nya. Buk Endang
pasrah tak bersuara dan masih duduk di pinggir ranjang dengan mengenakan pakaian dalamnya. Dan aku kembali
memalingkan wajahku pada Tante Ida yang sudah menyudutkan tubuhnya ke dinding
sudut ranjang
“ nggak Bryann… saya nggak mau…!! “ ujarnya terisak karena
ketakutan
Aku naik ke ranjang dan mendekatinya,
“ mari nte… gak usah takut.. saya jamin tante bakal puas…
saya juga baru kali ini mencobanya… lepaskan saja hasrat Tante seperti yang kita lakukan
kemarin… luar biasa hasilnya kan..? “ bujuk ku
Tante Ida tetap diam tak bergeming di sudut ranjang.. ditutupinya tubuhnya
dengan selimut…
Melihat itu aku menarik paksa selimut nya, dengan sedikit
pergulatan dan adu tenaga akhirnya selimut itu berhasil kurengut dari tubuhnya.
“ Buk Endang ku… mari kesini..” ujarku pada Buk Endang yang
masih duduk di pinggir ranjang namun hanya memandang kosong pada kami
“ Ba.. baikk..” ujarnya patuh dan dengan merangkak diatas
ranjang beliau menuju keaarah kami.
Aku memegang Tante Ida yang masih ketakutan itu. Posisinya
berada disudut ranjang yang mepet ke dinding, aku pun duduk dan memeluknya
dengan lengan kiriku. Kuberi isyarat agar Buk Endang duduk disampingku.
Dengan
wajah memerah akhirnya beliau pun duduk disampingku dan dengan malu malu
menyandarkan tubuhnya padaku. Aku pun merangkul bahunya dengan lengan kananku
Sunguh perfect rasanya saat aku berada di tengah tengah dua
wanita paruh baya nan bahenol ini.. seperti menjadi seorang raja diantara selir
selirnya… bedanya kalau raja sudah tua, selirnya muda kalau aku lain, aku
masih muda dan mereka berdua, selirku yang jauh lebih tua dariku.. hehehhe..
Aku mendekap mereka dengan penuh kepuasan.. pertama kucium rambut
Tante Ida, beliau coba memalingkan muka.. kemudian aku beralih mencium pipi Buk
Endang yang mulai agak keriput.. beliau menatapku dan malah mendekatkan
wajahnya padaku dan tampak memberikan bibirnya
Langsung saja kukecup bibir Buk Endang yang ada tahi lalat
diatas bibirnya itu, Buk Endang memejamkan mata menyambut bibirku, beliau
julurkan lidahnya dan langsung kubelit dengan lidahku
“ Mpphh… uuhh,. Mmpphh….” suara nafas kami yang memburu dan lidah kami saling beradu dan saling jilat.
Setelah puas, aku lepaskan ciumanku dan beralih ke Tante Ida
yang ternyata memperhatikan kami berciuman tadi, segera kutarik kepalanya dan
mendorong kedepan hingga berdekatan dengan wajah ku
Tante Ida masih mengatupkan mulutnya, namun aku terus
menyerang bibirnya dengan ciuman..
“ ingat,, ntee,, lepaskan saja,, jangan lawan nalurimu..”
bisiku di sela sela ciumanku
Akhirnya pelan pelan Tante Ida mulai membuka mulutnya,
melihat itu langsung kuhujami mulutnya dengan ciuman, Tante Ida membiarkan saja
aku menciumnya sedikit demi sedikit akhirnya Tante Ida mulai merespon dengan
menjulurkan lidahnya
Sambil terus bertautan lidah dengan Tante Ida, tangan Buk
Endang kuraih dengan tangan kananku, setelah itu dengan hati hati kuarahkan
tangannya itu ke selangkanganku dan meletakannya tepat di kemaluanku..
“ Mpphh,,,” desahku sambil menggigiti bibir Tante Ida karena
kurasa tangan Buk Endang meremas remas kejantananku yang masih tertutup
underwear itu… remasan tangan Buk Endang lama kelamaan makin ganas hingga
membuat tubuhku bergetar merasakan nikmatnya.
Sementara Tante Ida juga makin liar membalas pagutan lidahku
Sementara Tante Ida juga makin liar membalas pagutan lidahku
Karena nggak tahan akan rasa geli yang melanda, aku hentikan
ciuman ku pada bibir Tante Ida, aku mengambil nafas sejenak dan menoleh pada
Buk Endang… beliau tersenyum dan terlihat berusaha melepaskan underwearku
dengan wajah memerah.. melihat itu aku membantu tangannya dengan cara
mengangkat pinggulku dan Buk Endang dengan mudah melolosi underwearku
Sekarang aku telanjang bulat diantara dua wanita paruh baya
nan hot ini.
Aku meringis saat tangan Buk Endang sudah mencengkram batang
penisku dan terus mengocok ngocoknya , terkadang tangannya memainkan kepala
penisku dan memainkan zakarku, inilah yang kusuka dari Buk Endang.. beliau
begitu agresif dan liar jika sudah melihat penisku.
Aku menoleh pada Tante Ida yang tampak takjub dengan penis ku yang sudah mengancung tegak seperti tower
Aku menoleh pada Tante Ida yang tampak takjub dengan penis ku yang sudah mengancung tegak seperti tower
Melihat Tante Ida masih ragu dan malu malu, aku raih tangan
kirinya dan mengarahkannya pada ke penisku. Tanganku membuka buka telapak
tangannya dan meletakannya pada kepala
penisku
Tante Ida Nampak tak kuasa membendung nafsunya melihat
penisku yang panjang itu menjulang keatas, kurasa tangannya itu mengelus elus
dan memainkan kepala penisku
‘” Uuuuuuhhhh…..” desahku memejamkan mata merasa kan
nikmatnya blow job dua wanita yang sudah berpengalaman dalam hal memuaskan
suaminya masing masing itu
Saat aku memejamkan mata, menikmati urutan tangan mereka,
Tiba tiba kurasakan kepala penisku disapu oleh sesuatu yang terasa licin dan
basah… awalnya hanya sekali, selanjutnya
kurasakan penisku itu sudah dimainkan dengan lidah hingga kurasa tubuhku terasa bergetar penuh kenikmatan.
Penasaran mengetahui siapa yang menjilat, ku buka kedua mataku dan… kulihat sebuah pemandangan yang begitu erotis. Buk Endang dan Tante Ida bergantian menjilati batang penisku…
Penasaran mengetahui siapa yang menjilat, ku buka kedua mataku dan… kulihat sebuah pemandangan yang begitu erotis. Buk Endang dan Tante Ida bergantian menjilati batang penisku…
Tante Ida merengggangkan satu pahaku dan menciumi pahaku dan
… kantung kemihku pun jadi sasaran mulutnya.. serasa kantung kemihku itu
ditelan oleh mulut Tante Ida lalu dimain mainkan dengan lidahnya,
Lain dengan Buk Endang, tampak beliau dengan buas menyepong
kepala penis ku keluar masuk mulutnya. Buk Endang mengoral dengan buas, seperti
tak memberi kesempatan pada Tante Ida untuk mendekati kepala penisku.
Tak kuat menahan rangsangan itu, aku letakan tanganku di
masing masing kepala Buk Endang dan Tante Ida, aku menekan kepala mereka ke
bawah, kadang terdengar mereka kesulitan bernafas
“ Mpphh… mmmhhh,,, “ desah Buk Endang
Lama lama aku tak tahan lagi untuk bersenggama .. jilatan
lidah mereka membuat ku menyerah dan tak kuat menahan pejuku yang terasa mau
mucrat
“ Hhhh,… akuu mauu,… keluaaaarrrr…hhh…!!!!“ jeritku tertahan
Mendengar itu mereka berdua makin gencar mengoral dan
menyepong penisku.. sukma ku terasa melayang dan..
Croooott.. aku menyemburkan sprema ku.. entah kedalam mulut siapa aku tak tahu..
Croooott.. aku menyemburkan sprema ku.. entah kedalam mulut siapa aku tak tahu..
Kurasa lidah mereka mengeroyok penisku, saat kubuka mata tampak
Tante Ida dengan rakus menjilati sisa sprema ku pada batang dan kepala
penisku.. sementara Buk Endang tampak terduduk mengatur nafasnya dengan wajah
pucat… dapat kutebak bahwa sprema ku tadi muncrat dalam mulut Buk Endang.
Aku mengatur nafas dan melihat kebawah Tante Ida masih
menjilati muncratan sprema di selangkanganku, sementara Buk Endang menyeka mulutnya yang masih ada sisa spermaku di pinggir bibirnya..
“ nte.. cepat cium bibir Buk Endang..” perintahku membuat
Tante Ida menghentikan aktifitasnya menjilati sisa sperma pada penisku
Wajahnya tampak ragu dan menoleh Buk Endang
“ Buk Endang .. ayo cium bibir Tante Ida.. aku mau liat
kalian ciuman… bagi tuh spermaku yang dimulut anda..” perintahku pada Buk
Endang
Mereka tampak masih bingung dan ragu ragu.. aku mengambil
insisiatif memegang mereka berdua dan mendekatkan wajah mereka hingga berhadap hadapan
“ ayo.. cuma kita bertiga yang tahu.. ayo Bukk,.. Tante.. nggak usah malu malu... lepaskan saja..!!”
ujarku memegang masing masing leher bagian belakang kepala mereka dan terus mendorong wajah mereka berdua hingga berdekatan
Tampak Buk Endang yang mulai duluan, diciumnya bibir Tante Ida dan
kemudian di balas Tante Ida
" gitu donk.. ayoo.. cium lagi.." perintahku girang
Mulut Buk Endang sudah menempel pada mulut Tante Ida
" ayo nte.. buka mulut tante.." perintahku lagi menginstruksikan merea
Akhirnya diawali dengan Buk Endang, lama kelamaan mereka berdua melakukan French
kiss di hadapanku.. pertama pelan, selanjutnya Tante Ida balas mengulum bibir Buk Endang, setelah terbiasa, ciuman mereka menjadi semakin hot dan liar
“ Mpph.. uuuhh… mmmm…hhh..” bunyi lidah saling
bertautan.
Aku membantu merangsang mereka.. aku pegang tangan Tante Ida dan kuletakan di
leher Buk Endang.. sementara tangan kiriku meremas buah dadanya..
“ uuummhh..” desah Tante Ida menggeliyang dan tampak beliau
makin buas mencium bibir Buk Endang.. dengan nafas memburu akibat remasan tanganku di susunya. sementara tanganku yang satunya mengelus
elus paha Buk Endang hingga dosenku itu pun mulai panas dan makin buas mencium Tante Ida, kemudian tangan kananku berpindah meremas payudara Buk Endang yang masih tertutup BH itu dengan gerakan cepat
Air liur mereka sudah menetes dari mulut mereka masing masing, bercampur sisa air maniku yang dipindahkan Buk Endang ke mulut Tante Ida.. sungguh..! sebuah
pemandangan yang erotis dan tabu terpampang di hadapanku… dua wanita paruh baya
selingkuhanku ini seperti sepasang lesbi yang berciuman memperebutkan
spremaku..
Akhirnya mereka berdua kecapaian dan melepas ciuman mereka…
mereka saling berpandangan dan terengah engah mengatur nafas.. mungkin mereka
masih tak percaya dengan apa yang mereka lakukan barusan..
Aku menggeser posisiku, yang semula bersandar pada dinding
dan merebahkan tubuhku di kasur , Buk Endang dan Tante Ida mengikuti ku, Buk
Endang berbaring di sebelah kanan ku dan Tante Ida di sebelah kiriku..
“ kamu capek Bry..?” Tanya Tante Ida memecah kesunyian
“ iya.. biarkan saya istirahat dulu ya… nanti baru kita main
lagi bertiga..’ ujarku mengusap lembut rambut nya
“ gimana perasaan tante? Godaku
Seperti biasa Tante Ida tak menjawab hanya senyum manisnya
yang diberikannya padaku
“ enak kan..? Buk Endang..? bagaimana say..? masih marah..? “
godaku sambil gantian menoleh pada pada Buk Endang.
Wajah tua itu terlihat sumringah dan menatapku dalam dalam.
Buk Endang terasa membelai wajahku
“ Enak say… pengalaman yang luar biasa..” ujarnya polos
Kami bertiga tertawa kecil
“ Mula mula saya risih dan malu… tapi.. setelah merasakannya…
nikmat..’ tutur Buk Endang
“ jadi kalian berdua berteman saja… anggap saja aku ini
gigolo kalian.. jangan cemburu cemburuan.. karena pasti akan kubagi kenikmatan ini dan kita nikmati
bersama..” ujarku mengelus elus kepala mereka berdua
“ Tante bikinkan kamu pudding ya..? biar tenaga kamu pulih..?“ ujar Tante Ida
“ boo.. leh.. kalau Tante mau bikinkan… sekalian tolong
bawakan madu di kulkas ya ante..” sahutku
“ okey.. kalau ada roti Tante bikinkan juga buat kita.. Buk
Endang mau roti kan..? “ tawar Tante Ida
“ boleh.. trimakasih ya..” ujar Buk Endang ramah
Tante Ida memang ramah dan cepat akrab dengan orang yang
beliau rasa cocok.. berbeda dengan Buk Endang yang agak jutek dan dingin pada
orang yang baru dikenalnya. Tapi jika kuperhatikan Buk Endang sudah mulai membuka diri
dengan Tante Ida.. mungkin karena merasa senasib sepenanggungan korban dari penisku.. hehehe..
Tante Ida pun bangkit dari tempat tidur dan berdiri melangkah keluar pintu kamar
“ Tante Ida … ingat ya peraturan di rumah ini.. tidak
mengenakan pakaian kecuali pakaian dalam.. Buk Endang juga harus tahu dan
patuh…” aku memperingatkan mereka
To Be continiue


















Tidak ada komentar:
Posting Komentar