Bercinta di kantor dengan
BukTuti
Setelah
beberapa kali bercinta dengan Buk Tuti, dosenku yang montok di berbagai
kesempatan, membuat aku dapat melampiaskan semua birahi seks ku pada wanita
ini. Buk Tuti dan aku bagaikan sepasang kekasih, namun kami berdua tidak menunjukan kemesraan kami pada
public. Apalagi di lingkungan kampus. Untuk menjaga reputasi
do’i sebagai dosen yang alim. Aku sendiri tak mengerti bagaimana sebenarnya
hubungan ku dengan Buk tuti, yang ku tahu adalah kami bisa bercinta dan
bercumbu di setiap kesempatan dimana kami saling melepaskan nafsu liar. Entah
aku yang meminta atau do’i.
Demikian pula dengan kejadian ini. Keinginanku yang belum
terpenuhi adalah
menggenjot Buk Tuti di kampus, sebuah sensasi yang belum pernah aku
lakukan dengan do’i. di lain pihak kuperhatikan
Buk Tuti tambah hari semakin ketagihan
dengan seks denganku. Bahkan dosen killer itu selalu mencari kesempatan untuk bercinta
denganku, apalagi saat do’i pulang mengajar dari kampus. Maka nafsu seks do’i
amat menggebu gebu bahkan melebihi ku.
Terkadang sehabis kami berhubungan badan, aku memberikan Buk Tuti sejumlah uang guna membayar
sewa kost an nya, biaya hidupnya
dll. Buk Tuti seperti telah menjadi gundik ku. Karena kutahu do’i hanya sendiri
di kota ini, tanpa dibantu oleh saudara saudaranya. Maka nya selain kecanduan
nge sexs denganku do’i juga sayang padaku. Terkadang membuatku risih. Tapi
karena kesibukan do’i mengajar, ditambah do’i berencana mengambil S3, aku bisa
melepaskan diri dari do’i, terutama pada pagi dan siang hari. Malamnya do’i
bersamaku atau aku yang datang menemani nya belajar di kost an nya. Semua yang
kuberi kuanggap sebagai tanda
terima kasih ku padanya karena telah mau menjadi selingkuhanku. maka dari
itu aku membantu biaya hidupnya di sini
Awalnya Buk Tuti tidak mau menerima uang itu, mungkin do’i
tersinggung. Setelah kubujuk dan ku rayu, kalo tidak diterima, aku pura-pura marah hingga do’i
menerima pemberianku. Malahan sekarang aku memindahkan kost an nya dari tempat
yang sempit itu ke sebuah kost an yang cukup mewah. Kiriman dari uang tuaku dan
jatah dari usaha orang tuaku cukup untuk memenuhi kebutuhanku bahkan aku dapat
membiayai kebutuhan Buk Tuti, termasuk biaya kuliahnya yang cukup mahal. Namun demi menyenangkan gendakku ini, Buk Tuti
Khairani . aku mengeluarkannya
dengan senang hati.
Selepas
menyelesaikan
urusan administrasi di biro kampus, aku pergi menuju ruangan Buk Tuti, jabatan Buk
Tuti sudah cukup tinggi sekarang,
menjadi dosen tetap beberapa mata kuliah dan memiliki ruangan tersendiri di
kampus. Aku berinisiatif untuk memantau nya dari luar, sudah hampir 2 jam aku mengawasi
hilir mudik ruangan nya terasa ramai sekali karena ada beberapa mahasiswa yang
berdiksusi dengannya masalah proposal penelitian, baru ketika menginjak sore terasa sepi dan tinggal
beberapa orang saja. Dengan memakai topi dan kacamata aku iseng saja mengetok pintu
ruangannya . suasana
kampus tampak sudah sepi,
ketika kubuka tampak Buk Tuti sedang sibuk membuka buka
buku dengan posisi membelakangiku,
kututup pelan pelan pintu dan
ku kunci lalu dengan
mengendap endap sampai di belakangnya.
Aku
langsung menutup
matanya dengan kedua tanganku
“Hei ... siapa
ini ..??!! Lepas aaah “
sungut Buk Tuti terkejut .
“Jangan
keras keras honey...
“ kataku dengan pelan
Mendengar
nada suaraku Buk Tuti
langsung diam lalu membuka tanganku dan memalingkan ke belakang
“Kamu toh, Brian
.. bikin saya kaget ... dari mana kamu masuk?” tanya Buk Tuti geleng
geleng kepala.
“Ya
pintu depan donk “
“Nggak ada yang tahu ?”
“Nggak
.. orang sudah pada pulang.. paling ada ibu-ibu yang bersihkan halaman tuh. “
“Wuih
kamu nakal .. ada perlu apa kesini ?” tanya Buk Tuti dengan tersenyum
“Apalagi
kalo nggak bercinta denganmu sayang.. “ candaku nakal dengan menjawil buah dadanya yang tertutup kemeja putih
dan blazer hitam.
“Nakal
ah kamu .. “ genit Buk Tuti
dengan gemas.
“Tapi
suka khan ?” candaku lagi dengan gemas
“Kamu
tunggu sini dulu .. saya mau periksa dulu yaaa .. “ ujar Buk Tuti dengan meninggalkan aku namun
ketika lewat sampingku, aku langsung meremas pantatnya
“Ssssst
.. jangan nakal ah “ bisik Buk Tuti dengan tersenyum menggoda
Buk Tuti keluar menuju pintu dan memastikan pintu sudah
terkunci dari dalam, kemudian do’i memastikan lagi dengan melihat lihat melalui
jendela.
Disaat itu aku memberanikan diri membuka
baju dan celanaku hingga hanya mengenakan underwear saja. Aku sengaja
bersembunyi di balik lemari besar di ruangan itu
Tak
lama kemudian Buk Tuti membalikan badan kearah ku. Kudapati do’i
kaget karena tak menemukanku di ruangannya. Ketika Buk Tuti tampak bingung dan mencari ku, posisinya pas
berada membelakangiku yang bersembunyi di belakang lemari rak buku nya, aku langsung memeluknya dari
belakang
“Hahhh .. Ngagetin aja kamu sayang .. “
semprot Buk Tuti merasa
terkejut. Saat itu pula aku menusukan kontolku yang sudah ngaceng
di pantatnya dari belakang
namun Buk Tuti belum menyadari
kalo aku sudah setengah telanjang.
“Ih
.. kok ada yang aneh di pantatku, sayang “ celetuk Buk Tuti dengan menggoda
“Itu
milik mu Buk
Tuti sayangg .. “ godaku
“Haaah
.. nakal ah kamu .. “ ujarnya terkekeh nakal.
“Copot
deh seluruh baju kamu
.. aku ingin melihat keseksian dan kesintalan tubuh mu.. “ ajakku dengan gemas
“Boleh
… “ sahut Buk Tuti
dengan membuka jilbabnya. Saat do’i lalu kemudian berbalik .. do’i melotot melihatku hanya mengenakan underwear penisku sudah ngaceng mengacung dengan tegak dari balik
underwearku.
“Iiihh ... kamu
buat aku nggak tahan deh sayanggg … ayoo .. sini .. “ kata Buk Tuti membuka satu persatu
pakaiannya itu dengan
tergesa gesa tak tahan nafsunya yang semakin naik seiring melihat penisku yang
besar dan ngaceng itu.
Pakaian
itu akhirnya terlepas semua dan sisa BH dan Celana dalam warna putih bermotif bunga kesukaan Buk Tuti, dengan pelan pelan, kedua
tangannya ke belakang dan membuka kaitan BHnya dan ... alamak .. buah dadanya sungguh indah
sekali menantang dan menggairahkan, di
situlah aku sering bermain dan mempermainkan buah dadanya.
Dengan masih
tersenyum kemudian melemparkan bra-nya kepadaku dan kutangkap lalu kucium pada
cupnya, tak lama kemudian do’i membuka celana dalamnya, begitu celana
dalamnya turun sebatas paha, terlihat rambut kemaluan di vaginanya yang rimbun dan
eksotis itu. kemaluannya tampak mulai membasah,dilihat dari bercak di celana dalamnya.
Lalu dilepaskannya celana dalam itu dan dilemparkan
lagi kepadaku.dan aku memungut dan mencium nya.
“Ayo sayang ...
perkosa akuu... ?”
ujar ku,
mengerling pada nya. Melihat itu Buk Tuti menarik
tanganku menuju ke kursi kerjanya yang di depannya ada meja lumayan besar.
“ Duduk disini sayang...” perintahnya
menyuruhku duduk di kursi kerjanya. Dengan wajah mupeng, do’i memandang
tonjolan di selangkanganku.
“ sini dibukain celana dalam kamu ya..”
ujarnya. Tanpa menunggu persetujuanku do’i melepaskan celana dalamku. Hingga
penisku yang tegang itu menjulang.
Buk Tuti tersenyum dan mengelus elus
batang kontolku. Terus kemudian diurut nya dari pangkal sampai ke kepala nya.
“ gede nyaa... panjang lagi ... ini
yang bikin saya gak bisa lupain kamu..” ujarnya memuji betapa gede dan panjang
nya kontolku sambil tertawa nakal.
Buk tuti terus memijit kontolku,
tangannya menggenggam batang penisku dan sesekali tangannya satu lagi memainkan
buah zakarku,
“ Uuhhhh... sayaaangghhh... gelliii
ouuhh... “ desahku meringis merasakan nikmatnya tangan Buk Tuti mempermainkan
penisku.
“
Jilaatt
sayaanngghh .. seperti
biasaaa .. emuuuttt... kontolkuuu, mau khan ?” godaku meringis
menahan rasa nikmat yang mejalari seluruh syaraf rangsangku.
“ Mauu..? “ goda Buk Tuti makin nakal
dan mulai mengocok batang kontolku.
“ Mauuu sayanngghh... hisaaapp
uuhhh...” ujarku merem melek.
“ pernah saya menolak punyamu sayang ..? di mana pun ada kesempatan ngemut ini, saya lakukan dengan senang hati, silakan duduk sayanggg , akan ku service punyamu biar
tambah gedhe lagi
.. nikmatin aja ya ... “ pinta Buk Tuti dengan tersenyum menggoda dan nakal
sekali, aku mengadahkan kepala di sandaran kursi, kedua kakiku aku pancalkan di
kedua pegangan tangan kursi putar itu, lalu Buk Tuti membungkuk di depanku dan memegang
penisku yang terasa semakin tegang itu.
Dari
lututku,
Buk Tuti mulai menjilati pahaku, uuuhh.... terasa geli sekali saat
lidahnya bersentuhan dengan kulit pahaku. jilatan itu terasa pelan, dan pelan pelan lidahnya menuju ke selakanganku, tangan Buk Tuti masih memegang penisku yang
lingkaran tangannya tidak menjangkau besaran penisku, lalu sampai di
selakanganku hanya menjilati bagian kepala penisku saja
“Yaaa
.. enak Sayannngg
.. Mmmhhh..... enak
sekali .. teruuussss
.. “ erangku sambil merasakan jilatan
lidah Buk Tuti di kepala
penisku. Sepintas kulihat tatapan mata Buk Tuti memandangku dengan nafsu tak
tertahankan
“Nggak
tahan ya sayangg..?? “
canda Buk Tuti dengan gemas
lalu menuju ke pahaku lagi sebelah kiri menjilati lagi, tak lama kemudian balik
lagi menuju ke selakanganku dan memandang penisku yang mengacung tegak. Tak henti
hentinya tampak raut wajah sumringah Buk Tuti menikmati
pekerjaan nya.
“Sehari
nggak ngemut punyamu ini rasanya gimanaa gitu,, ?” keluh Buk Tuti dengan gemas lalu mendekatkan
lidahnya ke penisku, tangan kanan yang memegang penisku terlepas dan penisku
langsung dilahap dalam mulut do’i.
“Uuuuuh... kamu
terlalu bernafsu yaahhh .. biasanya jilat jilat dulu di
zakar atau batang .. kini malah langsung ditelan …aaaaaaaauuh .. pelan aah
..sayang .. kamu nakaaal sekali “ erangku sambil
tersengal sengal dengan
tubuh yang
terasa menggelinjang.
Buk Tuti tak mempedulikan eranganku.
Terus disepongnya penisku lalu dipermainkan
dengan lidahnya berulang ulang, lalu dikeluarkan dari mulutnya
“Kamu suka ya diginiin .. ?” Tanya Buk Tuti dengan genit
“Jilatin aja dehs sayyyy.. ituuhh.. di telurku sama batang nya “ ajakku dengan menekan kepala Buk Tuti menuju ke bawah.
Buk Tuti dengan patuh langsung menjilati buah zakarku
dengan lidahnya secara gemas dan membuatku semakin suka dengan dosen cantik ini.
“Uuuuuh
.. nikmaaat banget sayyy
.. duh .. Kamu makin
hari makin nakal saja... “
erangku meremas kepala Buk Tuti,
ingin rasanya
aku meremas remas buah dadanya yang menggelantung dan menggoda
untuk diremas. Namun aku menahannya untuk memberikan kepuasan pada Buk Tuti mempermainkan batang dan buah
zakarku.
Buah zakarku itu secara nakal diludahi oleh Buk Tuti lalu dijilati dengan lidahnya lagi.
Buah zakarku menjadi semakin basah, dari bawah aku menggelesot terlihat vagina
Buk Tuti yang rimbun itu sudah basah termakan birahi, pelan pelan buah zakarku
dijilat dan naik menuju batangku, dengan gemas Buk Tuti menjilati ke atas dengan rakus
sampai kepala penisku.
“Kamu
kudu muncrat yaaa .. aku pengin nelan spermamu lagi .. “ ujar Buk Tuti
disela-sela jilatannya yang terasa semakin cepat.
“Tentu sayanggg .. Oh .. cantikuuu .. lakukan sepuasmuuuhh ... !!! “ sahutku membuat Buk Tuti semakin senang.
Berulang
ulang batangku dijilat jilat Buk Tuti sampai basah dan membuatku semakin mengerang dengan gemas.
Lalu dimasukan batangku ke dalam mulutnya dan disedot sedot dengan keras membuatku
sampai berusaha membenahi dudukku. Setelah aku duduk dengan cara “tidak benar”
karena aku telanjang bulat dan kaki masih berada di sandaran tangan kursi putar
itu dengan penisku berada di dalam mulut Buk Tuti.
“Sayangkuuu .. jangan keras keras nyedotnya ..
yang pelan biar nikmat “ erangku terasa sekali sedotan mulut Buk Tuti di batangku terasa ganas. Namun Buk Tuti tidak mengubrisnya, tetap saja
mengemut batangku dengan ganas
“Aduuuuuh
… nakal sekali kamuuu
… awas yaaa “ candaku dengan nakal mulai menyelusupkan kedua tanganku memegang
kedua buah dada Buk Tuti
dan meremasnya membuat Buk Tuti melenguh
“Mmmmmmmffffff
…mmmmmm .. “ lenguh Buk Tuti karena
mulutnya penuh dengan batangku itu.
Lama
sekali Buk Tuti
mempermainkan batangku dimulutnya, do’i begitu lihai mempermainkan dengan lidah dan giginya,
ketika batangku keluar dari mulutnya, batangku dikocoknya dengan cepat berulang
ulang, lalu dimasukan lagi ke dalam mulutnya
“Aaaaaaauh
… hhhhssss …aaargggg .. enaaaak aaah .. nakaaal nyaa kamuuu.. “ lenguhku dengan memajukan dadaku,
namun tangan Buk Tuti
langsung menahan dadaku dan membuatku kembali merapatkan punggungku ke sandaran
kursi putar itu.
Tak
terasa lebih seperempat jam Buk Tuti melakukan oral ke penisku dan tanda tanda aku mau orgasme
semakin dekat
“Sayang .. mau sampai nih .. “ erangku
dengan nafas berat dan badanku sudah basah kuyub dengan peluh birahi.
Mendengar
aku berkata demikian Buk Tuti
langsung mempercepat kuluman di mulutnya keluar masuk, kemudian dikocok di luar
dengan cepat
“Saaayy ..aaah … mau sampaaai .. bentar
lagiiii aaah ..aduuuuh .. “ erangku
dengan memejamkan mataku merasakan oral Buk Tuti yang semakin cepat dan rakus
“Ooooooougghhhhh.......... aaah.. !!! “ erangku
Kurasa mulut Buk Tuti menyedot kontol
ku dalam dalam, dan .... aku merasakan orgasme luar biasa,
kunaikan selakanganku sehingga batangku ludes dalam benaman mulut Buk Tuti
“Creeeeeeet
.. creeeeeeeet … creeeeeet …. creeeeeeet “ batangku memuncratkan sperman menembak
ke dalam mulut Buk Tuti, tak sedikit sperma yang keluar dari mulutnya, disedotnya
spermaku ke dalam mulutnya batangku terasa bersih kembali, hanya di buah
zakarku masih ada sisa sisa sperma, aku menegang dengan kaku lalu berkelonjotan
tak karuan.
Buk Tuti menjilati sisa sisa sperma itu sampai ludes dan tersenyum
penuh kemenangan melihatku terkapar dengan penuh orgasme. Aku memejamkan mataku
rapat sekali, baru beberapa menit kemudian aku membuka mataku dan tak melihatt Buk Tuti yang
semula jongkok di depan ku. Sekarang
do’i terlihat mengambil sebuah kursi yang tak jauh dari tempat
dudukku.
“Gimana sayang..
? enak..? Puas gak dioral ?” tanya Buk Tuti dengan membuka laci mejanya dan mengambil tissue.
Do’i terlihat membersihkan sisa muncratan sprema ku di mulutnya
“Pu.. Puas deh .. puas .. “ sahutku senang dengan nafas berat
dan masih lelah.
Buk Tuti tersenyum nakal, do’i sekarang
sungguh nakal dan liar. Otaknya sudah penuh dengan fantasi sexs yang liar.
Mungkin karena kuatnya otak nya berfikir hingga membuat libido sexs nya menjadi
setinggi ini.
“Bagusss .. kamu istirahat dulu ..
butuh minum ?” tanya Buk Tuti
“Yaaa
.. terserah minum apa saja .. susu juga boleh “ candaku nakal
“Iih
.. jangan susu dulu .. nanti aja , ngemut susu ini aja nanti ” balas Buk Tuti
tertawa sambil menolehkan matanya ke arah buah dadanya yang menggantung indah
itu. kemudian Buk Tuti berdiri ke arah dispenser
dan menuangkan minuman kemudian memberikannya padaku.
Dosen Killer nan catik ini sudah dalam kekuasaanku dan aku semakin bebas mengerjai Buk Tuti sepuasku, Dengan penuh tawa kepuasan setelah mengoral penisku Buk Tuti mengelus elus batangku lagi, dipermainkan batangku dengan tangannya yang lentik itu, disekanya peluh yang membanjir di wajahnya yang cantik itu. Tangannya semakin senang dan asyik mengusap usap batangku naik turun.
“ nggak tahan saya melihatmu bugil say .. “ ajak Buk Tuti dengan langsung memanjat tubuhku yang masih berada di atas kursi itu. Buk Tuti langsung menghujani aku dengan lumatan ganas dan liar, sehingga aku kembali meladeni nafsu bejat Buk Tuti ini, kupegang kepalanya dan kami saling melumat dengan penuh keliaran, tangan Buk Tuti menekan ke dadaku, sedang aku memegang buah dadanya dan kuremas sekuatku
“Bryaannnn ……..aaaaaaaaaaaaaaah …aaaaaaaaaaah .. teruuuuss .. sayaaaaang .. remeesssss...... “ lenguh Buk Tuti tak tahan akan remasanku di buah dadanya, nafsu do’i amat liar, aku tak percaya bahwa nafsu do’i sekuat ini . dibalik penampilan nya yang alim ternyata kenakalan dan keliaran Buk Tuti semakin menjadi jadi. Kerjanya hanya belajar, dan mengajar dikampus. Tidak pernah disentuh oleh pria lain atau memiliki pacar.. kepada siapa lagi Buk Tuti mau melampiaskan nafsunya ?.
Kami terus saling meraba raba di kursi kerja milik Buk Tuti , dengan bertelepak di sandaran kursi kerja itu Buk Tuti terus menyerbuku, kakiku mancal ke atas meja, Sekarang Buk Tuti menduduki selakanganku. Teriakan dan erangan kami bersahutan di ruangan yang sepi itu.
Tubuh Buk Tuti sudah berpeluh itu semakin rakus, dingin AC dalam ruangan itu menambah gairah kami untuk saling menggumuli. batinku Buk Tuti ingin melampiaskan semua beban emosinya dengan mencapai orgasme, dengan liar dan nakal do’i mundur menggeser posisi duduk nya kemudian memegang batangku dan dikocok lagi agar ngaceng, sedang vaginanya digesek gesekannya kepahaku. Terasa sensasi hebat saat bulu vagina nya bersentuhan dengan pahaku.. membuatku sangat basah terangsang dan ingin segera ku setubuhi dosen wanita ini.
“Masukin yuk Bryann .. saya nggak tahan nih .. pleasee .. “ bujuk Buk Tuti dengan mengorek vaginanya sendiri agar melebar. Dengan gemas penisku diarahkan ke vaginanya dan menekan dengan mantap dan tenaga besar
“Uuuhhh... aaaaaaaaaaaah .. pelaaan aaah .. jangan dipaksa … “ keluhku dengan ulah Buk Tuti yang sangat binal dan liar itu, Buk Tuti menggodaku dengan tersenyum
“Kamu ketagihan ama punya ku yaa ?” tanya Buk Tuti dengan tersenyum dan pelan pelan menekan ke batangku sehingga penisku masuk ke dalam vaginanya yang becek itu
“Uuhh ... sayaaang kuuuu.. “ sapaku mesra
“Ya, sayaaang .. enak ya say …? “ goda Marissa Haque dengan gemas
“Iiyaaa hhh .. “ balasku dengan gemas
Pelan pelan penisku melesak sampai setengahnya, Buk Tuti meringis keenakan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaauh …. hhhhhhhhhhssssssssss… mmmmmmmmmmmmmmmmm …. “ lenguh Buk Tuti dengan bertalu talu
Aku merasakan batangku mulai terjepit luar biasa di vagina Buk Tuti . Menahan bobot Buk Tuti tak seberapa, namun tekanan dan jepitan di vagina Buk Tuti terasa berat juga, apalagi aku belum sempat mengoralnya, Buk Tuti udah minta dimasukin dan disetubuhi
.
“Ayoo .. sayangg.. turunkan pinggul muu.. “ ajakku pada Buk Tuti yang juga meringis merasakan besarnya kontolku yang menerobos belahan kewanitaannya.
“ begini ya sayyy....ujar Buk lalu melumat bibirku dengan rakus dan langsung menekan pantatnya turun sehingga batangku semakin amblas. Tak terasa aku sendiri semakin kepayahan menghadapi libido selingkuhan ku ini. Nafsunya semakin meninggi semenjak aku sering menidurinya.
Dengan susah payah akhirnya batangku ludes dalam vagina Buk Tuti, dengan penuh tawa menggoda Buk Tuti dengan pelan pelan menaikan pantatnya, kakinya dipancalkan dengan membuka lebar ke sandaran tangan kursi itu, aku menjadi lumayan nyaman dengan posisi do’i yang mulai bergerak menggenjotku naik turun itu.
“Mmmmmmmmmffffffff … aaaaaaaaaah .. mmmmmaaaaaaaaaahhhh .. fffuuuuuuuh “ lenguh Buk Tuti merasakan tusukan batangku keluar masuk vaginanya. Gerakan tubuh Buk Tuti tetap saja pelan dengan nafas ditahannya, penisku dibuat keluar masuk dengan lancar walau pelan pelan Buk Tuti menggenjotku.
“Kesalahan fatal sayy .. akibat ngocok penisku aku jadi susah keluar “ kataku dengan memegang pinggang Buk Tuti.
“ saya goyang yaaa.... “ ujar Buk Tuti dengan tersenyum dan tetap bergerak pelan pelan memberikan remasan pada batangku
“Oooh.... sayang... terusssss ... uugghh.... enak nyaaaaa. Jepitan punyamu... “ timpalku dengan menciumi bibir do’i dengan pagutan ringan. Mendegar itu Buk Tuti menggenjotku lebih cepat sedikit.
“Naaaah .. enak sayaanggg .. enaaak aaah .. yuuuk kita tuntaskan … “ ajakku dengan memegang pantat Buk Tuti dan meremasnya lagi
“Yaaaaaaa .. remes sayanggh remassssss... terus bokong kkuuuuu...hhhh... “ lenguh Buk Tuti dengan terus bertahan naik turun dengan mantap, gerakannya dipercepat lagi dan kini malah menjadi liar.
“Bu.. aaaaaaaah .. aahhhhhhh .. aaaah “ lenguhku menghadapi gerakan Buk Tuti yang liar itu, badannya naik turun dengan liar dan cepat menghujamkan vaginanya di batangku yang tegak perkasa itu
“Ooooohhh … aaaaaaaaah .. biaaar aaaah .. biaaaaaaaaaaaaaaar .. “ teriak Buk Tuti dengan gemas dan nakal.
Kami terus saling memacu dengan liar, genjotan Buk Tuti semakin brutal. Sehingga aku langsung meladeni dengan meremas buah dadanya dengan keras dan kasar, Buk Tuti hanya menanggapi dengan tersenyum dan langsung bergerak lagi dengan menggenjotku secara liar. Gerakan naik turunnya sudah tidak hanya tegak namun kadang miring ke sana kemari, kepalanya mendongak ke atas kemudian dimajukan lagi dan memegang kepalaku. Terdengar suara denyitan kuat di kursi kerja putar Buk Tuti yang kami pakai untuk bercinta.
Gerakan Buk Tuti semakin cepat dan seperti hendak mencapai orgasme.
“Aku hammm .. piiir sampaaai aaaaaaaaaa “ lenguh Buk Tuti dengan suara mulai melemah.
Aku langsung menggerakan pantatku ke atas menyambut vagina Buk Tuti yang menjepit penisku, jepitan vaginanya semakin menyempit, kuremas buah dadanya sekuatnya.
“Bryaaaaaaaaaa …aaaaaaaah .. nggaaaak kuaaaaaaaaaaaaaaaaaaat “ teriak Buk Tuti dengan keras dan kurasa tanggulnya sudah jebol, Buk Tuti melolong mendapatkan orgasmenya, vaginanya mengucur cairan deras, dipeluk nya aku dengan erat dan badannya kemudian berkelonjotan. Aku berhenti bergerak karena Buk Tuti sudah melemah dengan cepat, dadanya turun naik habis menggenjotku, matanya terpejam dengan erat.
Kami berdua diam dengan penuh peluh, mata kami terpejam dengan erat. Sepintasaku menoleh, dan ... aku menyadari kalo ada sepasang mata mengintip kami dari jendela luar ruangan kerja Buk Tuti yang terbuka sedikit, aku sendiri sedikit kaget. Namun aku membiarkan saja mata itu menonton kami, kepalang tanggung. Asal tidak mengganggu percintaan kami. bagiku itu merupakan suatu hal yang menyenangkan,
Aku mengelus elus punggung Buk Tuti dengan menenangkan
“Puas sayang ..? “ tanyaku
Buk Tuti mengangkat kepalanya dan berujar
“Terima kasih Bryan.. saya puaas .. enak banget Bryan sayanghh... yuuuk .. istirahat dulu“ ujarnya sambil beranjak dari atas pangkuanku.
Sementara aku masih penasaran siapa tadi yang mengintip. Ternyata si pengintip masih belum beranjak dari tempat nya. Samar samar aku melihat itu seperti seorang wanita. yang mengenakan kacamata. Posisi Buk Tuti membelakangi mata si pengintip di balik pintu. Hingga do’i tidak tahu kami sedang diintip dari luar.
Aku berusaha tenang. Kemudian aku berdiri dan membersihkan penisku yang penuh cairah cinta Buk Tuti dengan tisue.
Kubiarkan Buk Tuti yang tampak masih menikmati orgasmen nya duduk di lantai yang dialasi karpet . do’i terlihat kelelahan. Posisi do’i yang berada di bawah kolong meja kerja nya itu tidak terlihat dari posisi si pengintip. Kemudian aku beranjak ke arah sudut ruangan setelah sebelumnya aku mengenakan celana dalam dan mengambil pakaianku.
Aku menuju ke ruangan sudut, yang letaknya tidak memungkinkan untuk dipantau posisi si pengintip. Setelah aku mengenakan semua pakaianku. Aku diam-diam berjalan ke arah pintu dan dengan sangat hati-hati kubuka kunci pintu ruangan kerja Buk Tuti.
Setelah terbuka dengan cepat aku membuka gagangnya dan menuju keluar, mengejar si pengintip. Kulihat si pengintip kaget dengan kedatanganku yang begitu cepat tanpa disadari nya. Dan..... ternyata wanita itu adalah seorang wanita setengah baya.. berusia sekitar 40 an lebih. Aku mengenali wanita itu,... !!! ternyata si pengintip itu adalah salah seorang dosen wanita jurusanku juga !! namanya Buk Endang .. mengajar mata kuliah dasar.
Entah mengapa Buk Endang ini masih berada di kampus. Padahal kami memulai bercinta pukul setengah 4 sore saat semua mahasiswa dan dosen sudah pada pulang. Dan aku tak menyangka Buk Endang ini sedari tadi megintip semua yang kami lakukan dalam ruangan kerja Buk Tuti. Aku takut juga kalau skandal perselingkuhan ku dan Buk Tuti tercium oleh rekan kerja Buk Tuti dan juga dosen ku ini. Karena kalau aku tidak masalah, yang aku takutkan reputasi kerja dan karier Buk Tuti pasti akan hancur.
Aku sadar dari lamunanku saat Buk Endang mencoba untuk lari. Melihat itu kukejar dosen itu. jelas dia kalah tenaga dariku, dan dengan mudah aku merengut tubuh nya. Setelah dapat. Kuseret paksa Buk Endang ke dalam WC yang tak jauh dari sana
“ apa maksud Bu Endang mengintip intip tadi haaaa..??!! “ gertak ku membuat ekspresi wajah marah padanya.
Buk Endang tampak ketakutan. Dan menggigil saat kusandarkan tubuhnya ke didinding kampus.
“ kamu telah melakukan tindakan asusila di dalam kampus Bryan.. kamu berbuat mesum dengan si Tuti Khairani ternyata.. saya baru tahu kalian ternyata sering berbuat tidak senonoh. Saya akan laporkan ini pada Dekan... “ ancam nya dengan wajah marah tapi bercampur takut.
Terus terang aku ketakutan juga dengan ancamannya, otak ku mulai berfikir .. ya... aku masih menyimpan obat tidur si saku celanaku. Obat ini memang sering kubawa-bawa, buat jaga-jaga jika aku kepingin bercinta dengan wanita lain. Aku berfikir bagaimana membungkam dosen wanita yang satu ini.
“ coba saja kalau ibu lapor saya akan... “ ujarku. Belum sampai aku bicara kudengar Buk Endang sudah akan berteriak. Dengan cepat aku sumpal mulutnya dengan tanganku. Aku merapatkan tubuhnya ke dinding dan menekannya agak tidak bisa bergerak. Sementara satu tanganku merogoh saku celanaku. Untunglah botol kecil itu masih ada isi nya . Aku berusaha untuk melepaskan tutup botolnya dengan satu tangan .. untunglah bisa terbuka .. satu tangan lagi menyumpal mulut Bu Endang.
Lalu dengan cepat aku lepaskan tanganku itu dari mulut Buk Endang, karena aku butuh tanganku yang satu lagi untuk menuangkan nya ke tangan yang satu nya. Karena takut jika suara Bu Endang terdengar, maka mau tak mau kusumpal mulutnya dengan mulutku.
“ Mpphhh..” terdengar suara Bu Endang disumpal mulutku. Setelah pekerjaanku selesai aku lepaskan mulutku dari mulutnya dan aku bungkam mulut dan hidungnya dengan tangan ku yang sudah kutuangkan dengan obat tidur itu.
Kulihat matanya melotot saat kusumpal. Namun tak lama kemudian matanya melemah sayu diiringi dengan tubuhnya yang melemah dan ambruk ke bawah. Untung nya aku dapat menahan tubuhnya.
Aku menghela nafas... “beruntung rencana ku berhasil” .
Namun saat bersamaan, tiba - tiba Buk Tuti sudah berada di depan pintu WC.
“ kenapa Bryan.. loh.. kok kamu berpelukan sama Buk Endang.. ?? “ ujar nya sedikit marah mendapati posisiku seperti orang berpelukan dengan Buk Endang
“ Bukan sayang.. tau nggak kamu,, kenapa aku keluar.. kita diintipin sama dia... maka langsung saya kejar. Ternyata Bu Endang ini sedari tadi mengintip kegiatan kita dan malah dia mengancam akan melaporkan perbuatan kita sama dekan” tuturku.
“ waduh.. bahaya.. ! Kamu sih,, ngajak bercinta sembarang tempat “ sungutnya kesal padaku. Buk Tuti tampak panik mengetahui apa yang terjadi.
“ gak usah itu disesali.. sekarang coba fikirkan bagaimana dengan Buk Endang ini..” ujarku tegas mengalihkan pandangan pada Buk Endang yang pingsan di pelukan ku.
Buk Tuti terdiam saat aku setengah membentaknya.
“ kamu apain dia Bryan..? dia gak mati kan..” tanya Buk Tuti sedikit tenang.
“ gak lah.. cuma kubuat pingsan saja... “
“ saya tadi kaget, kamu tiba tiba saja keluar ruangan saya.. belum sempat tadi saya pake pakaian. Saat mencari kamu saya lihat pintu ruangan terbuka.. saya kaget lah.. saya kira kamu ninggalin saya begitu saja. Makanya saya cepat-cepat berpakaian dan mencari kamu diluar. Trus, tadi saya dengar suara gaduh gaduh di WC, makanya saya kesini” tutur Buk Tuti.
“ nah, sekarang kamu udah tau kan... jadi gimana nih.. mau diapain nih Bu Endang ini ? “ ujarku meminta saran do’i
“ Duhh.. saya gak tauu... otak ku buntu nih..” kata Buk tuti tak kalah panik
Aku mulai berfikir keras dan akhirnya mendapat ide.
“ gini saja.. Bu Endang ini kan masih pingsan... kita bawa aja dulu dia menjauh dari kampus. Daripada nanti dia keburu sadar disini dan bercerita tentang kejadian tadi pada sekuriti kampus. Saya mau ambil mobil dulu dan bawa ke dekat sini. Nanti saya beritahu satpam bahwasanya Bu Endang mendadak pingsan. Dan Ibu harus bersandiwara juga seolah olah kita berdua yang mengantar Buk Endang ke rumah sakit untuk dirawat” tuturku menjelaskan rencana ku pada Buk Tuti
“ o .. gitu yah.. terserah kamu lah.. yang penting kita aman dulu.” Ujar Buk Tuti pasrah.
“ kamu tunggu disini ya.. ” ujarku dan langsung bergegas menuju parkiran. Sebelum menuju mobil aku sengaja bercerita pada satpam yang berada di kantor dekanat bahwa aku dan Buk Tuti akan mengantar Buk Endang ke rumah sakit karena mendadak pingsan’
“ Iya Brian..?? .. waduh.. mana orang sudah pada pulang lagi... “ ujar nya bingung mendengar cerita ku
“ apa perlu saya cari bantuan sama satpam lain .. saya telepon dulu ya.. ?” ujar satpam itu menawarkan
‘ gak usah lah bang.. saya kan sama buk tuti. Kami berdua aja yang langsung antar buEndang ke rumah sakit” tolak ku halus.
“ kalau sudah kejadian seperti ini kita harus bertindak cepat bang... biar saya aja dan Buk Tuti yang antar ke rumah sakit pakai mobil saya” ulangku.
“ kalau begitu baik nya tidak apa-apa Bryan.. ya sudah .. terimakasih ya.. dan hati hati dijalan”
“ ya .. tadi saya dengar Buk Tuti pun sudah mengabari keluarga bu endang juga biar mereka langsung ke rumah sakit”
“ oke deh Brian.. tapi ngomong ngomong kenapa Bu Endang mendadak pingsan ..? ”
“saya juga nggak tahu bang ...saya kan baru keluar ruangan Buk Tuti barusan .... habis konsultasi skripsi dengan Buk Tuti ...., Tiba-tiba tak lama saya keluar Buk Tuti histeris memanggil saya dari ruangannya. Setelah saya susul, rupanya Buk Endang yang tadinya juga berada diruangan Buk Tuti, sudah dalam keadaan pingsan .. “ tuturku meyakinkannya.
“ iya ya.. mana kampus sedang sepi lagi.... Baiklah hati hati ya Bryan, eh.. aku pura-pura gak tahu aja ya,.. mumpung kamu bantuin aku. Karena itu termasuk tanggung jawab kami juga sebagai sekuriti” ujar satpam itu nyengir.
Mendengar itu aku merasa keberuntungan memang berpihak padaku. Karena jika seandainya dia ikut mengantar Bu Endang kerumah sakit otomatis kerjaan dia akan repot. Belum lagi dia meninggalkan pos penjagaan atau memanggil rekan rekannya.
“ sip.. aman itu bang. Kalau bisa dosen yang lain jangan tahu juga.. kalau terlalu banyak yang tahu kita berdua juga yang pusing meladeni pertanyaan mereka.. bantu tidak, tapi nanya nya banyak.. ya kan bang “ ujarku mencoba mencuci otaknya.
“ benar itu brian.. kamu atur aja” ujarnya menepuk pundak ku.
Melihat satpam kampus sudah bisa ku kelabui maka ku pun pamit untuk menjemput Buk Tuti dan Buk Endang di ruangan C, yakni ruangan kerja Buk Tuti. Aku pun membawa mobil ke arah kamar mandi. Disana Buk Tuti sudah menunggu dengan raut cemas.
“ lama banget kamu Bry.. untung gak ada orang kesini .. “ sungutnya.
“ santai say,.. tadi aku lagi mengelabui satpam. Biar dia gak ikut dan gak kesini. Pokoknya semua sudah aman. Sekarang mari kita bawa dia ke dalam mobil” ujarku.
Aku membuka pintu samping belakang mobilku. Lalu aku menggendong Buk Endang yang masih tak sadarkan diri dan meletakan tubuhnya di jok belakang mobilku. Karena cuma ada dua jok dalam mobilku ini.
Buk Tuti mengawasi dengan wajah was was, do’i tampak gelisah dan melihat kiri kanan, mengawasi dan memastikan tidak ada orang yang melihat aku memasukan Buk Endang ke dalam mobilku. Setelah semua beres aku memberi isyarat pada Buk Tuti agar masuk ke mobil.
“ bentar Bry .. saya kunci dulu kantor saya ..” ujarnya tergesa gesa masuk kedalam ruangannya. Tak lama kemudian Buk Tuti keluar membawa tasnya dan mengunci kantornya. Setelah itu do’i langsung masuk ke dalam mobil dan duduk disampingku.
“ mau kemana kita bawa dia Bryan ? “ tanya Buk Tuti cemas.
“ yang penting kita keluar dari kampus dulu baru kita fikir..” ujarku sambil menjalankan mobil beranjak keluar meninggalkan kampusku.
Sesampai di jalan
aku dan Buk Tuti berfikir mau kemana dan mau diapakan Buk Endang yang masih
pingsan itu.“ bawa ke rumah aku aja sementara say.. “ ujarku masih berfikir.
“ trus mau diapain disana? “ tanya Buk Tuti bingung
“ kita paksa dia agar tidak membocorkan apa yang dia lihat tadi” tambahku sekenanya.
“ Trus mau kamu apain? Kamu siksa ? biar dia tidak mengadu.. percuma Bryan.. dia pasti bakal ngadu ..” ujar Buk tuti kesal.
“ Benar juga ya.. atau gini.. kita buat kita dan dia sama-sama memegang kartu. Kalau dia ngadu kalau tapi nggak ada bukti juga gak ada yang percaya..” ujarku. Sontak aku dan Buk tuti berpandangan. Untung lah pada saat aku memapahnya ke mobil Buk Tuti ternayata mengamankan tas Buk Endang.
“ saya periksa hp nya..” ujar Buk Tuti mengerti maksudku, Buk Tuti memeriksa tas Bu Endang. Didapati nya 2 buah handphone. Satu berkamera satu tidak berkamera. Buk Tuti membuka HP Buk Endang yang berkamera dan tampak memeriksa isi HP Buk Endang.
“ saya sudah liat semua file di menu video nya .. gak ada kok rekaman dia tadi.. tapi biar lebih aman aku cabut aja memori HP nya..” ujar Buk Tuti dengan cekatakan mencabut memori HP Buk Endang dan memasukan ke dalam tas nya. Terkadang aku kagum juga dengan kepintaran do’i
“ Trus, kita apakan dia ? “ ujarku meminta saran.
“ bawa aja kerumah kamu dulu, baru nanti kita fikir” ujar Buk Tuti.
Aku fikir benar juga. Kalau seandainya Buk Endang ini sadar di mobil saat kami masih berjalan bisa repot jadinya . dia pasti akan berteriak minta tolong. Kalau dirumahku yang besar jeritanan nya bakal gak kedengaran dari luar. Persis kejadiannya sama saat aku memperkosa Buk Tuti pertama kali. Aku menjadi tersenyum sendiri mengingatnya.
Aku pun membelokan mobil menuju arah rumahku dengan kecepatan tinggi. Buk tuti sendiri masih mengawasi Buk Endang dan untungnya Buk Endang itu masih tertidur.
Sesampai dirumah aku membuka pagarku berikut garasi, lalu memasukan mobil kedalam. Setelah menutup kembali garasi.
Aku dan Buk Tuti keluar dari mobil, dan aku memondong tubuh Buk Endang ke dalam rumahku. Buk Endang kubawa ke dalam kamarku dan membaringkannya di ranjang.
Aku dan Buk Tuti berpandangan. Bingung apa yang akan kami perbuat.
Kemudian terlintas sebuah ide di otak ku, namun Buk Tuti tak boleh berada dirumah. Setelah lama berfikir aku mengutarakan pada Buk Tuti,
“ Buk.. bagaimana kalau saya telepon kawan saya di sekitar rumah, lalu saya bayar dia , gunanya kita suruh dia tidur disamping Buk Endang ini seolah – olah mereka berselingkuh. Nanti kita foto mereka saat tiduran dan aku cetak.. Lalu saat Buk Endang sadar kita perlihatkan foto itu dan kita ancam kalau dia mengadukan perbuatan kita di kampus tadi, foto-foto dia tidur bersama temanku itu kita sebar di internet.. gimana say.. keren ide ku kan? Ujarku meminta persetujuan
Buk Tuti hanya mengangguk angguk
“ kamu memang licik Bryan..” ejek nya sinis. Mungkin dia merasa ingat saat aku menjebaknya untuk tidur kali pertama. Tapi do’i sampai sekarang tak sadar bahwa aku membiusnya bercampur obat perangsang hingga do’i menyerahkan keperawanan nya padaku saat itu.
“ Lha.. Cuma cara ini yang bisa membuat nya bungkam bu..” ujarku.
“ terserah kamulah..kepala saya sudah pusing dan bingung memikirkan ini “ ujarnya pasrah.
“ tapi kalau bisa Ibu jangan ikut serta. Jadi biar seolah olah saya yang jadi tumbal. Saya yang memeras . kalau Buk Endang tahu. Hubungan Ibu dan Buk Endang jadi makin tidak enak.
“ Iya sih.. Buk Endang ini kan dosen senior.. jadi saya pura-pura tidak tahu saja agar kedepan nya urusan saya lancar “ ujarnya mengalah.
“ benar,, ibu pura-pura tidak tahu saja saat dia tanya saat sadar.” ujarku berbinar. Kata kata ku tampaknya termakan oleh Buk Tuti
“ jadi sementara saya telepon teman saya, Ibu dikamar lain saja ya.. jangan sampai terlihat oleh Buk Endang kalau Ibu berada bersamaku dirumah ini.” Bahasku.
“ kalau gitu saya pulang ke kost an sajalah.. pake taksi.. sambil ganti pakaian dan mandi... nanti kalau udah selesai kamu mesti kasih tahu saya.. “ ujar nya
“ sip..” ujarku dengan mata berbinar.
“ tapi kamu nggak ada niat bercinta dengan dia kan..? ” selidik Buk Tuti curiga
“ Ya elah sayangku... mana mungkin aku bercinta sama wanita yang udah mau jadi nenek-nenek kayak dia..?? “ ujarku tergelak dan pura-pura menepuk jidat sendiri.
“ udah alot tau.. “ ejeku Disambut tawa Buk Tuti.
Kami berpelukan erat.... Setelah itu aku menelepon taksi untuk menjemput Buk Tuti, kekasih ku itu. Buk Endang yang masih pingsan itu kami biarkan terlentang di kasurku. Sambil menunggu kedatangan taksi, aku dan Buk Tuti menyempatkan untuk bercumbu. Pertama sebatas berpelukan dan french kiss. Kemudian karena gemas kulorotkan celana panjang nya dan jari ku meremas dan memijit daerah kewanitaannya
“ iihh....hhhh.. ssshhhh.. nakal kamuuu Briannhh...Auuuuuhhhh… ” desah Buk Tuti sambil terus menciumi dan menghisap mulutku. Tangannya dirangkulkan ke ke leherku dengan manja.
Setelah beberapa saat handphone ku bedering, rupanya supir taksi sudah berada di depan rumahku.
“ Sial.. cepat banget datangnya taksi sialan itu..!” umpatku. Buk Tuti terseyum geli mendengarnya.
“ kamu masih nafsuu aja say..”godanya
“ sama kamu nafsu ku gak akan habis habisnya say..” ujarku balas menggoda.
Aku pun menaikan kembali celana katun nya, sebelumnya aku yang berposisi menunduk meraih celana nya dan menaikan nya keatas, saat wajahku berada di selangakannya dengan cepat kukecup vaginanya yang masih tertutup celana dalamnya itu hingga Buk Tuti kaget dan terpekik kecil
“ iihhh... nakal.. kaget tau..” ujarnya mengangkat tubuhku hingga berdiri dan langsung kupeluk lagi do’i
“ gitu aja udah basah ..” ujar menggoda. karena kuperhatikan tepat di lobang kenikmatannya itu tercetak cairan cintanya yang sungguh menggoda.
“ Ihh.. nakal kamu gak habis abis ya... nanti malam ya say.. kita bercinta lagi ..” ujarnya tersenyum nakal
“ saya pulang dulu.. kasian supir taksi nya kelamaan diluar... ” tambahnya bergegas berbenah.
“ ya say.. kalau supir taksi nya macam macam telepon aku ya..” tegurku
“ gak lah say... kalau macam macam sama aku, aku menghajarnya duluan” ujar Buk Tuti tertawa.
Kemudian kami keluar dari kamar menuju pintu depan. Disitu aku lepas kepergian Buk Tuti hingga teras dan taksi itu pun melaju meninggalkan rumahku.
Aku kembali masuk kedalam rumah dan menuju kamar. Kuperhatikan tubuh Buk Endang yang terbaring di ranjang tidurku. Dosen setengah baya itu terlelap pulas, kuamati lekuk tubuhnya dengan dalam, Saat itu posisi rok span nya yang panjang nya selutut itu terbuka hingga kepangkal pahanya. Hmmm .... Rupanya paha Buk Endang putih juga mulus..............
Buk Endang ini adalah salah seorang dosen senior di jurusan dan fakultasku. Usia nya kutaksir sekitar 40 tahunan. Bodynya masih cukup montok dan bahenol. walau badan nya agak lebar, mungkin karena sudah bersuami. Rambutnya yang keriting sebahu dan mulai menipis dibagian jidatnya. Buk Endang ini orang jawa, yang seperti khasnya, ayu tenan...
Lama kelamaan aku menjadi tergoda juga untuk melihat lebih jauh sesuatu di dalam roknya itu. tungkai pahanya padat dan mulus. Kuperhatikan di wajah ayu nya itu ada tahi lalat kecil di bibirnya.
Aku mendekat ke arahnya dan perlahan kulepas kacamatanya. Nampak wajahnya yang ayu ,walau mulai berkeriput karena usia.
Mataku tak bisa berpaling ke arah paha putih nya yang tersingkap itu, aku tergelitik, rasa penasaran membuatku aku menaikan rok spannya keatas hingga sebatas pusarnya. Tampak sepasang paha Buk Endang yang putih............. Selangkangan nya ditutupi celana dalam berwarna biru muda. Perlahan kuelus pahanya dari bawah, betis, lutut hingga kepangkal paha nya. Lalu kukangkangkan sedikit posisi kedua kakinya hingga berposisi menyilang.
“ wah.. masih kencang juga kulitnya” bathinku. Elusan tanganku sampai diselangkangan nya dan aku memijit bagian indah pada kelamin nya . Tubuh Buk Endang bergerak sedikit. Lalu kulanjutkan rabaanku ke bagian atas, kepusar dan di buah dadanya. Sesampai disana aku meremas pelan buah dadanya.
Buah dadanya ternyata cukup besar dan kencang. Aku meremas nya beberapa kali hingga kemudian aku melepaskan semua kancing bajunya dan melepaskan bajunya .
Buk Endang mengenakan BH berwarna hitam. Kemudian rok spannya yang sudah terangkat sebatas pinggang itu pun aku lepaskan, hingga sekarang Buk Endang terbaring hanya mengenakan BH dan celana dalam saja.
Kuraba lekukan tubuhnya, walau sudah memelar karena usia, untuk ukuran seusia Buk Endang, kulitnya masih kencang dan terawat. Diakhiri dengan kecupanku dibibir nya, terbayang oleh ku, saat aku membiusnya aku sempat mencium bibirnya agar tidak berteriak
Selanjutnya aku menjelajahi bagian leher Buk Endang dengan lidahku , aku mengecup leher nya dan memainkan lidahku di telinga nya. Lama kelamaan kurasa tubuh Buk Endang bergerak, pertanda do’i hampir sadar.
Melihat itu segera kujalankan rencanaku. Aku beranjak dari atas tubuh nya dan mengambil handycam. Kuletakan handycam itu di sebuah kursi yang lensa bidikannya mengarah ke ranjang. Setelah kuperiksa dan pengambilannya pas, aku menekan tombol rec untuk merekam kegiatan ku , kali ini dengan Buk Endang, dosen setengah baya yang hendak aku tiduri.
Setelah itu aku membuka semua pakaianku hingga telanjang. penisku sudah mengancung tegak, siap mencicipi lobang vagina Buk Endang , mangsaku berikutnya. lalu aku melihat ke kamera, setelah setelan nya pas, aku menuju ke ranjang dan menggumuli Buk Endang yang hampir sadar itu.
“ Ummhh.. hhhhh..” terdengar desahan Buk Endang saat aku mencumbunya dengan buas. Tanganku masuk kedalam cup BH nya meremas remas dengan kasar payudaranya yang terasa montok dan kenyal itu.
“ uuuuhhh.. mmhhhmh,,,” desahnya saat aku mulai menetek di payudaranya. Sementara tanganku yang satunya meraba dan mengelus elus tepat di kemaluannya.
Tubuh Buk Endang makin liar dan terasa dia memelukku dengan kuat. Tubuh nya terasa menggeliat geliat membuat ku makin birahi untuk terus mencumbui nya
“ ohhh.. ohh...
siapaa iniihh.. oohhhh.. ‘ desahnya. Kuhentikan aktifitasku dan melihat ke
wajahnya.
Tampak Buk Endang kaget dan berteriak tertahan. Tapi dengan cepat kulumat bibirnya dengan mulutku. Setelah itu aku melepaskan pagutan ku dan dengan sigap aku membekap mulut Buk Endang dengan tanganku.
Tampak Buk Endang kaget dan berteriak tertahan. Tapi dengan cepat kulumat bibirnya dengan mulutku. Setelah itu aku melepaskan pagutan ku dan dengan sigap aku membekap mulut Buk Endang dengan tanganku.
“dasar….bajingan kamu…Bryy….hentikaaaaaan…ibu
mohon….aaaaaaaaahhhhh…..Ibu gak mau Briaaa….ini dosa….….aaaaahhhhh….” teriak nya berusaha berontak dari dekapan ku.
“Percuma berteriak Bu.. nikmati aja.. aku tahu ibu kepengen bercinta dengan saya ... Saya juga nggak tahan nih Bu. .. kepingin ngentot ibu sejak di WC tadi. Sebentaaar saja, Bu.. ”. ujarku tenang, .
“Percuma berteriak Bu.. nikmati aja.. aku tahu ibu kepengen bercinta dengan saya ... Saya juga nggak tahan nih Bu. .. kepingin ngentot ibu sejak di WC tadi. Sebentaaar saja, Bu.. ”. ujarku tenang, .
“ Tidaakkkk..!!!! lepasskan akuu Briannn..!!!” ujarnya berontak namun kutahan tubuhnya kebawah hingga Buk Endang kembali jatuh ke
ranjang kutindih tubuhnya . ciumanku merangsek
ketiak dan bagian tubuh nya yang lain.
Aku tak peduli Buk Endang menjerit jerit minta
dilepaskan. Tetapi teriakan dan berontakan nya sia-sia. Aku terlampau kuat baginya. Dengan mudah aku meringkusnya. Mulutnya kuciumi hingga kujilat langit langit mulutnya. Sementara kakinya kutahan dengan tubuhku.
Buk Endang
tampak terus
berusaha berontak dan menggeliat. Tapi aku menindihnya dengan kuat. Kemudian tanganku sekarang meremas
remas mangkuk buah dadanya yang masih tertutup BH itu. tubuh Buk Endang
menggelinjang hebat saat kuremas buah dada nya. Tangan ku terus mengaduk buah dadanya dan sekarang aku menaikan cup BH
nya keatas hingga buah dadanya tersembul keluar. Tanganku beralih memainkan
putingnya, aku memilin dan sambil terus meremas payudaranya yang terasa
mengeras itu. Buk Endang yang terus mencoba menolak mulai menangis putus asa.
“ Iiihhh .... Jangaan
lakukaan Briannn ... iiihh... Ibu mohon hentikaaann Ooohh.. Briaanh..” desah nya
megap – megap saat ku urut buah dada nya.
“ gak usah
melawan.. nikmatin aja kenapa.. jangan bohongi birahimu bu..” bisik ku ke
telinganya.
“
Oooohh...mmphhh..... sshhh... Ohhh.... Briiaannhh.. Sshhh... ” Desahan manja
dan pasrah terdengar dari mulut Bu Endang. Kurasa dia berusaha menahan
rangsangan yang sedang melanda nya. Lama
kelamaan perlawanan nya mengendur hingga membuatku leluasa menjamahi buah dada
nya yang lumayan besar itu.
Cukup puas menggarap payudaranya kini aku merangkak menuju perut Buk Endang. Aku melanjutkan menjilati udel nya. Buk Endang yang tampak sudah mulai pasrah itu membiarkan aku
terus mencumbui tubuhnya. Setelah kurasa perlawanan nya berhenti, tanganku
mulai melepasi BH hitam nya yang cup nya sudah terangkat keatas. Buk Endang pasrah saat aku
melucuti BH nya.
Payudaranya membetot keluar, sudah sangat menggunung. Payudara Buk Endang lebih besar dari punya Buk Tuti, namun memang sudah
agak lembek dan turun, tidak sekencang punya Buk Tuti. Tapi itu cukup untuk membuat
nafsu birahi
ku menjadi makin kesetanan. Kemudian dari
jilatan dan sedotan ku diperutnya kuarahkan cepat
beralih mengenyot buah dada Buk Endang yang sudah keluar dari BH yang telah berantakkan ikatannya.
“
Bryaannh.. Ohhh.. Bryannhh.. Uhh... “ dia terus mendesah sambil memejamkan mata
“Ibu menggairahkan sekali bu... tenang .. nikmati aja... ” ujarku. Buk Endang
tampaknya sudah mulai tenang dan membiarkan aku terus mencumbunya
“Tapi Bryan…kamu
gak boleh sepeti ini pada Ibu...
saya ini dosenmu uuhhh ....” desahnya. Aku tak memberi dia kesempatan. Tapi dia
menolak aku yang terus mencumbunya
“hentikan Bryaaan ..jangan
aaaah….ibu mohon jangaaannn...” rintih Buk Endang.. Dia hanya melarangku dengan kata – kata nya yang bernada
marah tapi dia tak melawan bahkan tangannya diam tak berusaha mendorong tubuhku lagi.
Melihat itu perlahan kucoba
menurunkan celana dalam biru muda yang masih melekat melindungi auratnya
“stoooopppp..hentikan
ini Bryan…kamu jangan kurang ajar sama Ibu..aaaahhh…aaaahhh…hentikan
Bry!!!….aaaahhh” kudengar nada kata katanya yang tadi seperti orang marah
ternyata sekarang berubah menjadi lirih dan diiringi dengan desahan
desahannya yang membuatku semakin bringas dan liar menetek di payudaranya . malahan Buk Endang mengangkat pahanya dan terlihat berusaha membantu ku melorotkan celana dalam
nya.
.” aaahhhhh .. Ohhhhhh.. “ desah Buk Endang mengerang
kenikmatan. Buk Endang membiarkan aku melorotkan celana dalamnya.
Hingga dosen paruh baya itu
telanjang bulat bersama ku sekarang. memejamkan mata sambil mendesah dan tapi sempat juga melarangku melakukan itu.
“Bryan…jangan….Bry….aaaaahhhhh….ini perbuatan dosaa….aaaahhhh….sekali
lagi…ibu mohon………jangan lakukan ini .. ” ujar Buk Endang
mengatur nafas nya . mata nya menatapku
dengan pandagan sayu. Masih juga dia malu –malu , mungkin malu karena dia
berhasil kutelanjangi.
Aku menatap sejenak Buk
Endang yang telanjang bulat dihadapanku, tubuhnya putih,susuya mencuat tegang
walau sudah agak turun, pinggulnya agak lebar dan perutnya sedikit berlemak.
Dosen ini memiliki sepasang paha yang padat dan besar. Dan bulu kemaluannya tercukur
rapi. Ada sedikit lemak di pinggir pangkal pahanya. Tapi tetap saja masih menggairahkan.
Buk Endang coba mengalihkan wajah nya. Tampak rona malu bercampur nafsu dari
wajah senja nya.
“mari kita bercinta Buk
Endang.. saya akan praktek an apa yang saya lakukan dengan Buk Tuti tadi dengan
Ibu .... mari kita lakukan Bu..” ujar ku menatapnya penuh nafsu. Tubuh nya yang
montok walau berusia setengah baya memang membuatku gegitu bergairah dan
penasaran melesak kan kontol ku kedalam vagina nya.
“Bryan…ibu
ini hanya wanita tua berumur 40 tahun an…tak pantas…kau
perlakukan ibu sperti ini…hentikan..... hentikan Brian …. Sebelum kita berbuat lebih jauh” pintanya memohon dengan
nafas tersegal segal. Aku menangkap nya sudah bergitu bernafsu namun masih
gengsi menunjukan nya padaku.
Aku tidak mengacuhkan
nya.
“gak usah pungkiri bu
..saya tahu ibu sudah bernafsu .. saya bisa
lihat titit ibu sudah basah tuh ...” godaku sambil melirik pada kemaluannya
yang sudah mengeluarkan pelumas di daerah kewanitaan nya. Kontan saja wajah Buk
Endang memerah menahan malu.
Tanpa persetujuannya
aku mengangkangkan kedua kakinya. Buk Endang coba menahannya. Tapi karena hal
itu tidak dia lakukan sungguh-sungguh maka dengan mudah ku lebarkan kedua
pahanya itu. sekarang kemaluan Buk Endang tersaji didepanku. Tampak kemaluannya
yang bulu nya tercukur rapi itu sudah basah dan siap untuk disodoki kontolku.
Buk Endang memalingkan
wajahnya dari ku, tapi dia membiarkan aku membuka pahanya. Buk Endang sekarang
tampaknya sudah pasrah kusetubuhi,
Aku menyejajarkan
batang kontolku medekat ke belahan kemaluan Buk Endang yang telah pasrah untuk
ku setubuhi. Perlahan namun pasti kudorong kontolku memasuki lubang vagina nya. Sebagai permulaan aku menggesek gesekan penisku ke
selangkangannya yang menganga lebar.
“….Ooooooohh Bryaann hhhhh ....” terdengar desahan
meringis memanggil namaku , namun aku mengartikan nya sebagai panggilan mesra
agar aku cepat memasukan kontolku dalam lobang surgawinya.
“ Enak kan..? “ goda
ku.
“ Gellyyyy..hh..
Bryann.. Ohh..” rintihnya manja.
Dan ketika akhirnya ujung kontol
ku mendesaki
gerbang vagina Bu Endang. Sepintas tampak bibir vagina Buk Endang menebal dan menganga seakan menyambut kedatangan kontolku menembusi
nonok nya. Kulihat juga Buk Endang mulai mengoyangkan pantat nya naik turun
dan berputar cobek seakan tak sabar menunggu dan menangkap kontolku
.
Aku merasa Buk Endang
melakukannya dengan naluriah, dan sekarang pasti minta segera kusodoki. sudah
demikian kegilaan menunggunya.
“ Buk Endang ... anda memang STW yang menggairahkan,,,,” bathinku
“ maafkan aku Buk Tuti, ini bukan salahku,” dalam benak
ku
Aku mulai menekan pinggulku hingga kepala kontol ku masuk menyeruak membelah lobang
vagina Buk Endang,
“ Blesss..”
tanpa kesulitan kontolku berhasil amblas dalam liang kenikmatan Buk Endang
Diiringi dengan
ringisan dari mulut Buk Endang, vagina nya menelan
seluruh batangan kontol ku,
“aaauuuuuuhh..
“ rintih Buk Endang sambil memejamkan matanya saat kontol ku berada dalam
jepitan vagina nya, Aku dilanda gelinjang nikmat yang sangat dahsyat. Buk Endang terdengar lagi mendesah dengan hebatnya. Dan lebih konyol lagi, sekarang pantat Buk Endang yang malah bergoyang
naik turun untuk menjemput kontol ku hingga terus menembusi ke liang lebih dalam
lagi, Buk Endang menggoyangkan pantatnya seperti
“ngebor”, memutar pantat ke kanan dan ke kiri , serasa melumat batang kontolku untuk
menggaruk dinding vagina nya yang pastinya sudah sangat gatal.
“ Oocchh, Oochh.. ampuni aku Mas Dibyoo.. Uhhhh... “ terdengar teriak kecil Buk Endang, membuat
aku menghentikan sejenak genjotan ku.
“ siapa Mas Dibyo
tu bu ..? “ ujarku pura-pura tidak tahu. Karena kurasa itu adalah nama suaminya.
Namu aku terus menggejotnya dengan penetrasi cepat hingga Buk Endang menjerit
jerit kenikmatam,
“….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….
oowwwwhh diam…. Kamuuu..hh.. !! jangan
banyaakk tanya kammuuu aaaaahhhhh.. genjot ajaaa.. occhhh..
enaakk .. oohh... “ jerit Buk Endang terus menggoyang pantatnya mengaduk kontol ku . Kurasa dia malu saat keceplosan menyebut nama suaminya.
He he he ...
Aku faham sekarang Buk Endang telah berada di wilayah kenikmatan birahi nya dan tak mungkin
berteriak-teriak kalau tidak merasa kenikmatan seperti itu. Kontolku mulai ku pompa secara
teratur dan cepat menembusi nonok nya. cairan
birahi yang mengucur di dinding rahim nya tak lagi
bisa menyembunyikan hadirnya nafsu birahi nya. Malah vagina Buk Endang terasa makin lapang dan becek.
Bahkan kini Buk Endang benar-benar
menggoyang-goyangkan pantat nya makin liar
hingga kenikmatan
menimpa diriku. Dari mulutnya terdengar racauan menyemangati ku,
“Teruzzss Bryannhhh.., Oohh.. terusszz.., Oohhh ... enhhaakk.., oohh..terusszzhh” dari mulutnya secara spontan.
“Teruzzss Bryannhhh.., Oohh.. terusszz.., Oohhh ... enhhaakk.., oohh..terusszzhh” dari mulutnya secara spontan.
“Bu, enak sekali ya, Bu .., Bu enhaakk, yaa..”, balasku sambil menahan birahi ku yang sudah
demikian tak terkendali. Aku merasakan
enak dan nikmatnya pemerkosaan ini... Buk Endang
tampak mengangkangkan kedua kaki nya lebar lebar seolah memberi ke leluasaan
kontol ku keluar masuk nonok nya.
Genjotan kontol ku semakin kuat
mengentot
kemaluannya. Susu Buk Endang tampak tergoncang-goncang.
“aaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh…” rintih Buk Endang saat tubuh semok nya ku genjot dengan
penetrasi cepat. Rupanya dibalas Buk
Endang dengan begitu liar, pantatnya digoyang kan nya seakan melumat kontol ku
yang berada di dalam nonok nya.
Sekarang baru
keluar aslinya Buk Endang. Dosen senior itu bagai kehausan sex yang amat
sangat. “Brryy aann..h.. cium akkuuu
Occhhhh... “ ujar Buk Endang meminta ku menciumi
bibirnya. Kami pun saling
melumat dengan ganas yang disebabkan gelombang dahsyat yang menerpa birahi
kami. Dan kini aku merasa seluruh urat dan otot-otot vagina Buk Endang meremas kontolku dari dalam.
Kulihat mata
Buk Endang melotot, tangannya tampak berusaha menggapai dan meremas alas
kasur. Vagina nya terasa makin
mencengram kontolku. Tubuhnya menegang dan bergelonjotan . Goyangan pantatnya
makin liar dan tak beraturan
“ ooooh..
ooh... oooh.. iiihhhhhhhhhhhh..!!!!” jeritnya tertahan. Aku yakin Buk Endang
sudah mencapai orgasme nya. Matanya membeliak-beliak
menahan dera nikmat, Dan kurasa Buk Endang menggigiti pundak ku..
Aku mendapatkan pengalaman nikmat macam ini dari seorang dosen setengah baya yang ternyata amat hot di ranjang.. Buk Endang kini menjadi buas
dan kehilangan perasaan malu. Kudengar Buk
Endang meracau dan
mengeluarkan ucapan-ucapan yang sangat seronok dan kotor yang seharusnya tidak
keluar dari mulut nya.
Aku menjadi terdorong , nafsu
birahiku yang menggelegak hebat mengucapkan nikmat luar biasa sambil merintih.
Dan berbareng dengan itu, Aku semakin keras
dan cepatnya memompa nonok nya hingga
kudengar suara bijih pelir ku yang
memukul-mukul bawah nonok Buk Endang.
“ Uuooooohh....
“ jeritku menyusul menyemprotkan air mani ku ke dalam nonok Buk Endang. Sperma ku menyemprot rahimnya beberapa kali.
“….aaaaahhhhh….….aaaaahhhhh….….aa.….aaaaahhhhh…aaaauuuuuhh……”
Kudengar Buk
Endang melolong bersamaan semprotan benihku memenuhi rahim nya. Aku tak bisa
bayangkan lagi betapa banyak spremaku menyemprot lubang
kemaluan Buk Endang. Air mani
dan cairan birahiku membusa meleleh keluar membasahi pangkal pahanya. Dan akhirnya semua berhenti.
Kami mengatur
nafas, terengah engah menikmati orgasme. Buk Endang memeluk ku dengan erat.
Kedua kaki nya mengapit pinggulku dengan erat, seolah menyuruhku membenamkan
kontol ku di dalam kemaluannya. Aku pun
mengeggelamkan kepalaku di buah dada nya yang kenyal.
Setelah beberapa menit, aku bangun dan mengeluarkan
batang kejantananku dari dalam lubang senggamanya. Buk Endang merintih dan begidik saat aku mencabut kontol
dari dalam lobang vaginanya. Terlihat sedikit air maniku meleleh keluar melalui
lubang kemaluannya yang masih berdenyut-denyut
menahan kenikmatan. Aku ambil tisue di tepi meja dan kubersihkan air mani yang
meleleh itu. Buk Endang hanya
memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahku. Kemaluanku yang masih
basah kubiarkan kering sendiri.
Aku duduk bersila di atas ranjang dengan menghadap arah memandang wajahnya. Kepalaku sejajar dengan
kepalanya yang masih terbaring di atas ranjang itu. Aku
meremas dan memilin putting payudaranya.
“ tak kusangka
mimik Ibu ini masih montok “ ujar ku
melirik padanya.
Buk Endang membiarkan aku menjawil tetek nya. Dia bangkit dan duduk dihadapanku sambil
tangannya membelai rambutku. Terasa seperti suami isteri.
"Terima kasih Brian..." bisik nya lembut, lalu Buk Endang mencium pipi ku.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih Brian..." bisik nya lembut, lalu Buk Endang mencium pipi ku.
Aku mengangguk dan tersenyum.
”Bu maafin aku… …sekali lagi maaf ... “bisiku ketelinganya.
“ Gak apa – apa Bryan... kamu itu hebat Brian.. bisa membuat ku begini .... kamu buat aku menggelepar Bryan.. kamu
pandai membuat ku birahi ... trus punya
kamu tu gedhe bangeeett ....aku puass Bryann... “ ucap nya nakal.
Lalu aku kembali mengajaknya berbaring
di ranjang, aku tiduran disamping Buk
Endang sambil memeluk tubuhnya
yang bahenol,
“ kalau ibu janji jangan cerita perbuatan ku dengan Buk Tuti di kantor tadi
aku janji akan memberi Ibu kepuasan kapan ibu menginginkannya. “ ujar ku.
Buk Endang terdiam dan menatap wajah ku.
“ Tapi ibu juga harus janji apa kita lakukan ini jangan sampai Buk Tuti
tahu..” tambahku.
“ iya.. aku janji .. asal .. jika aku butuh kamu, beri aku kepuasan seperti tadi Brian... aku siap melayani kamu.. “ puji nya
malu malu.
Aku tersenyum dan beranjak dari tempat tidur, begitu Buk Endang menoleh
kemana aku pergi ekspresinya berubah menjadi marah
“ apa apa an kamu brian..??!! kamu .. kamuu.. merekam kita tadi.. ?? adduuhh..
bodohnya aku tidak menyadarinya ..... ” umpat Buk Endang kesal.
Aku hanya nyengir dan mematikan kamera ku. Ya !! semua adegan ranjang ku dengan Buk Endang sengaja kurekam, agar kalau dia macam-macam kuacam dia akan mengedarkan video mesum kami
“ Untuk jaga-jaga aja Buk.. mana tau Ibu berubah fikiran” ujar ku
sekenanya.
Buk Endang langsung bangkit dari ranjang, tapi aku keburu mengamankan
kamera ku. Dan dengan cepat membereskannya.
“ kemarikan Brian.. !! brengsek kamuu.. jahat... !! “ ujarnya berusaha
merebut kamera ku. Aku berkilah dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh di
lantai.
“ tenang bu,, kalau ibu gak macam-macam dengan aku dan Buk Tuti ini aman..”
tekanku.
“brengsek
kamu,!! Licik..!!!!” bentak Buk Endang marah.
Aku menyimpan kamera di lemari kamar dan menguncinya
Setelah aman aku
mendekati Buk Endang.
“ ayo mandi Buk ..” ujarku mengalihkan perhatiannya, mendekatinya dan
mengulurkan tangan mengajak nya berdiri.
Buk Endang masih menatapku dengan tatapan benci
“ jangan sampai kamu sebarkan itu ya Bryan... “ ujarnya emosi
“ iya.. selagi ibu gak cerita hubunganku dengan Buk Tuti dengan orang lain,
apalagi dengan dosen-dosen lain, rahasia ini kusimpan rapat-rapat.. kalau ibu
butuh pelampiasan nge sex kayak tadi.. kan tinggal telepon aku. Tapi.. jangan
sampai Buk Tuti tahu” ujarku.
Buk Endang hanya terdiam dan berfikir panjang.
“ sudahlah.. gak usah difikirin... yang penting tadi kita sama-sama puas
kan ..?” bujuk ku
Buk Endang bersungut kesal. Aku tertawa melihatnya.
Kemudian tampak Buk Endang berdiri dan menuju kamar mandi yang ada di
kamarku. Kulihat dia masuk kedalam kamar mandi.
Agak lama juga aku duduk dikamar dalam keadaan bugil, menunggu
Buk Endang keluar dai kamar mandi sambil menantikan tenaga pulih
kembali dan sampai jantung berdegup dengan normal.
Kemudian Buk Endang keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk menutupi
badan bahenolnya. Aku diam saja
sambil terus mengawasinya dengan pandanganku. Kemudian Buk Endang tampak
memakai pakaian dalamnya dihadapanku,
Jam menunjukkan pukul 17:30 sore. Ternyata di luar hujan turun, terdengar cukup lebat tidak ada tanda-tanda mau berhenti. Sudah jam segitu belum ada Buk Tuti meneleponku. Mungkin do’i sedang bersitirahat
di kost nya. Aku kenakan lagi celana dalam ku. tetapi baju
tidak kupakai lagi. Karena masih letih, aku duduk bersandar di sofa kamar mengenang peristiwa tadi. Pikiranku menerawang.
Setelah bercinta dengan Buk Tuti si dosen montok yang pemarah itu, sekarang
kudapati aku juga telah meniduri Buk Endang, dosen ayu yang sudah paruh baya
..!!
“ Gila.. “
bathinku.
Hanya dalam
hitungan jam aku mengembat dua orang dosen. sebuah kenikmatan
badan, apa yang kuidamkan selama ini akhirnya bisa kudapatkan. Aku memang tidak pernah berkhayal bisa bercinta dengan Buk Endang yang
notabene sudah tua dan setengah baya itu, namun goyangannya yang hot masih
terasa mengebor kontolku barusan. Bercinta dengan Buk Endang ternyata tak kalah nikmatnya jika dibandingkan
bercinta dengan Buk Tuti, sensasi ... itulah yang kurasakan saat ini... , dan aku
dapat menikmati tubuh renta namun menggiurkan
itu.
Jika selama ini aku segan dan takut dengan Buk Endang yang merupakan dosen senior yang begitu
berwibawa dan anggun di fakultasku hari ini aku melihat dapat sisa sisa kemolekan tubuhnya yang bahenol, setiap
lekuk badannya, payudaranya dan kemaluannya. Semuanya kualami dengan menikmati
pemandangan yang mempesona, malah tidak hanya itu, tetapi juga dapat merasakan
kenikmatan yang ada pada tubuh itu. Aku bahagia. Aku puas, sangat puas dengan
apa yang telah kulakukan tadi. Aku tersenyum sendirian.
Ketika aku melamun, aku dikejutkan dengan bunyi dentuman petir yang kuat. Aku melihat Buk Endang yang sudah selesai mandi itu sedang tidur tiduran di ranjangku sambil menonton TV. Jam sudah menunjukkan 16.00 sore.
Ketika aku melamun, aku dikejutkan dengan bunyi dentuman petir yang kuat. Aku melihat Buk Endang yang sudah selesai mandi itu sedang tidur tiduran di ranjangku sambil menonton TV. Jam sudah menunjukkan 16.00 sore.
Aku menuju
ke arah Buk Endang. Kelihatan Buk Endang telah easy going , tidur
tiduran dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.
"sebentar lagi kamu antar saya pulang ya..?" ujarnya lembut.
"sebentar lagi kamu antar saya pulang ya..?" ujarnya lembut.
Setelah mandi
tampaknya dia sudah melupakan semua perbuatanku padanya
" iya Bu Endang ku" jawabku ringkas sambil duduk disebelahnya dan memandang Dosen ku itu
" iya Bu Endang ku" jawabku ringkas sambil duduk disebelahnya dan memandang Dosen ku itu
Buk Endang
tetap menonton TV
“ diluar
hujan.. dingin Brian.. matiin aja AC nya” ujar Buk Endang memecah kebuntuan
kami
“ iya ,,, tapi
kan salah ibu gak pake pakaian..” godaku.
Buk Endang
tersenyum nakal. Dengan cepat dipeluk nya aku. Wajah tua nya tersipu malu
“ kenapa kamu
melakukan ini Brian.. ? saya kan sudah
tua.. tidak menarik lagi.. kenapa kamu masih mau bercinta dengan saya.. ?“ ujarnya sambil menatapku.
Kutatap balik
wajah nya. Wajahnya mulai keriput, walau masih tampak anggun dan ayu. Jidatnya
yang lebar petanda otaknya cukup pintar, Rambut iklanya
yang sudah mulai menipis. Ada beberapa uban dirambutnya
menunjukan bahwa dia sudah lama hidup di dunia ini. Entah kenapa aku bisa terpikat dengan dosen setengah baya di hadapanku ini.
“ mungkin
karena tubuhnya yang bahenol dan goyangannya yang hot “ bathinku,
“ aku membelai
rambutnya yang keriting itu
“ Ibu itu
bahenol.. dan masih montok.. ini gara-agar aku lihat paha Ibu saat rok bu
tersingkap tadi.. tapi sudahlah semuanya sudah terjadi.. asal ibu ingat
kesepakatan kita tadi.. saya bersedia melayani Bu Endang dengan sepenuh hati”
ujarku
Buk Endang
hanya tersenyum kecut mendengar penuturanku.
"Terima kasih yah..." Ujarnya
"Terima kasih apa..?"tanyaku
"Yang tadi.. . Sebab tadi adalah pengalaman yang terindah buat saya... kamu.. membuat Ibu baru merasakan nikmatnya bercinta.. setelah berpuluh tahun menikah" Ujarnya malu - malu
"Ooo... tapi jangan kasih tau orang lain." Ujarku tersenyum. Buk Endang mengangguk pasti.
"Janji." Tambahku
"Terima kasih yah..." Ujarnya
"Terima kasih apa..?"tanyaku
"Yang tadi.. . Sebab tadi adalah pengalaman yang terindah buat saya... kamu.. membuat Ibu baru merasakan nikmatnya bercinta.. setelah berpuluh tahun menikah" Ujarnya malu - malu
"Ooo... tapi jangan kasih tau orang lain." Ujarku tersenyum. Buk Endang mengangguk pasti.
"Janji." Tambahku
“ janjii..” balasnya.
Kami tersenyum
berdua, dosen senior ini pun telah dapat kutaklukan
"Kenapa tadi Ibu marah..?" tanyaku penasaran
"Marah kenapa..?" ujarnya heran
"Iya.., awalnya Ibu melarang, menolak Saya, tapi setelah itu..?" ujarku menjelaskan maksud pertanyaan
"Setelah itu Saya biarkan.....?" sambungnya.
"Haaa..." jawabku dan langsung kusambung, "Apa sebabnya..?"
"Kalau Saya lawan pun Kamu pasti memaksa, Kamu pasti sangat menginginkan."
"Belum tentu." kelakarku
"Pasti begitu. Pertama jujur saya kaget, tiba-tiba sudah berduaan dengan kamu di kamar ini ..” ceritanya.
"Kenapa tadi Ibu marah..?" tanyaku penasaran
"Marah kenapa..?" ujarnya heran
"Iya.., awalnya Ibu melarang, menolak Saya, tapi setelah itu..?" ujarku menjelaskan maksud pertanyaan
"Setelah itu Saya biarkan.....?" sambungnya.
"Haaa..." jawabku dan langsung kusambung, "Apa sebabnya..?"
"Kalau Saya lawan pun Kamu pasti memaksa, Kamu pasti sangat menginginkan."
"Belum tentu." kelakarku
"Pasti begitu. Pertama jujur saya kaget, tiba-tiba sudah berduaan dengan kamu di kamar ini ..” ceritanya.
“tapi kan saya
juga punya harga diri... melihat kamu ngotot, ya mana mungkin saya melawan. Jadi
lebih baik saya biarkan kamu memaksaku. Padahal diam diam saya menikmati nya .” tutur Buk
Endang polos
“ tapi jujur..
sejak kapan Ibu mengintip kami di ruangan Buk Tuti tadi siang” tanyaku
penasaran.
“ oo... saya
mau masuk ke ruangan Tuti, karena ada skripsi mahasiswa bimbingan
saya tertinggal di ruangannya. Pertama saya mau masuk di
jendela kelihatan kalian sedang bergumul.. penasaran, maka saya intip..”
jelasnya
“ trus Ibu gak
konak..? “ pancingku
“ ya konak
lahh... kalo gak konak gak bakal saya intip sampai selesai.. “ tambahnya
tertawa.
“ saya
berkhayal.. melihat ekspresi Tuti saat kamu gumuli.. begitu bergairah.. makanya
saat saya sadar bahwa saya berdua dengan kamu disini serasa mimpi aja ” aku nya
malu malu. Wajah tua nya tampak bersemu
"Anda tidak menyesal..?" tanyaku ingin kepastian.
"Kalau rela, mana mungkin menyesal, buat apa..?" jelasnya lagi .Buk Endang semakin nakal dan berani dalam menjawab pertanyaanku yang sebenarnya pancingan padanya.
"Anda tidak menyesal..?" tanyaku ingin kepastian.
"Kalau rela, mana mungkin menyesal, buat apa..?" jelasnya lagi .Buk Endang semakin nakal dan berani dalam menjawab pertanyaanku yang sebenarnya pancingan padanya.
"Lagian walau kamu seperti memperkosa saya,
saya menikmatinya.., gak tahu
kenapa., Saya jadi menikmatinya. Ditambah lihat body kamu
yang atletis... .mungkin lain
cerita nya jika saja orang lain yang berbuat begini ke saya, Saya pastilah menolak." Tambahnya
lagi
"Habis, anda kelihatan nya gak betul betul berontak... Iya nggak..?" tanyaku meyakinkan
" kan sudah saya katakana… Saya juga konak Briaann makanya saya biarkan kamu menyetubuhi Saya." Ujar Buk Endang mencubit lenganku
"Habis, anda kelihatan nya gak betul betul berontak... Iya nggak..?" tanyaku meyakinkan
" kan sudah saya katakana… Saya juga konak Briaann makanya saya biarkan kamu menyetubuhi Saya." Ujar Buk Endang mencubit lenganku
Kami berdua
tertawa,
"Kalau suami Anda tahu.. tadi sempat saya dengar anda bilang mas Dibyo.. itu suami anda kan?"ujarku lagi
" benar.. tapi Gimana dia akan tahu.. kecuali kamu jahat, melihatkan rekaman tadi kesuami saya?" ujar Buk Endang menatapku tajam
"Kalau suami Anda tahu.. tadi sempat saya dengar anda bilang mas Dibyo.. itu suami anda kan?"ujarku lagi
" benar.. tapi Gimana dia akan tahu.. kecuali kamu jahat, melihatkan rekaman tadi kesuami saya?" ujar Buk Endang menatapku tajam
. "Lho, kan udah saya bilang.. Ini hanya rahasia kita saja
kan..?" Ujarku menenangkannya. Buk Endang
mengangguk.
"Jadi, janganlah beritahu orang
lain.. tentang skandal ku dengan Buk Tuti karena kita
berdua juga memiliki skandal!" ujarku
tersenyum penuh kemenangan.
Buk Endang mengangguk lagi
tanda paham.
“ iya iya.. gak usah dibahas lagi”
ujar Buk Endang
Kemudian Buk Endang mendekatkan tubuhnya kepadaku. Merebahkan kepala nya ke dadaku.
"Wanginya..." sapaku manja. Buk Endang mencubit pahaku dan aku berkata,
Kemudian Buk Endang mendekatkan tubuhnya kepadaku. Merebahkan kepala nya ke dadaku.
"Wanginya..." sapaku manja. Buk Endang mencubit pahaku dan aku berkata,
"Saya mau lagi..." rengeknya
"Mau apa..?" tanyaku pura-pura bodoh
"Yang seperti tadi." rajuknya
"Tadi kan sudah..." ujarku
"Tak puas..." ujarnya akhirnya
"Mau apa..?" tanyaku pura-pura bodoh
"Yang seperti tadi." rajuknya
"Tadi kan sudah..." ujarku
"Tak puas..." ujarnya akhirnya
"Aiii... nggak puas juga..? “ ujarku tertawa
“Suami Saya sekali saja langsung lelah dan tidur, masak kamu sama kayak dia..?" tantang Buk Endang
"Soalnya.., peluang seperti ini susah saya dapatkan. .. nanti kamu pasti sama Tuti mu itu” ujarnya sinis.
“Suami Saya sekali saja langsung lelah dan tidur, masak kamu sama kayak dia..?" tantang Buk Endang
"Soalnya.., peluang seperti ini susah saya dapatkan. .. nanti kamu pasti sama Tuti mu itu” ujarnya sinis.
Aku tertawa
mendengarnya.
“Buk Endang
seperti ABG saja..pake acara cemburuan “ ujarku menertawakannya
Tampak Buk
Endang melongos tidak senang.
“ Ibu cantik
ku.. sini .. “ ujarku meraih satu tangannya.
“ pegang ini
ya,,, Saya ingin
merasakan Ibu pegang ini ."
Jawabku sambil mengeluarkan penisku dari
celana dalam dan aku mengarahkan tangan Buk Endang hingga tangannya sekarang
menggengam batang kemaluanku. Buk Endang begidik karena tangannya tak cukup
menggengam diameter kontol yang panjang dan tegak menjulang itu
“ Ihh.. gedhe
banget punyamu.. dikasih apa sih” tanya Buk Endang sambil mengurut urut batangnya
dengan gemas.
“ Uuhh.. enakk
Buu... terusiinn... Ohh.. “ desah ku mengadah merasakan enaknya pijitan tangan
Buk Endang mengurut kontolku. Lama kelamaan Buk Endang melepaskan celana
dalamku. Sambil terus mengurut batang nya,
wajah Buk Endang memandangku dengan genit, membuatku birahi ku naik
kembali.
“ Jilat Bu...
Mau kan..? “ Ujarku tak tahan
"Jilat..? Mau meniru cerita BF yach..?" balasnya tersenyum.
Aku mengangguk membalas senyumannya. Kemaluanku yang tambah menegang, membuat tenagaku pulih. Aku genggam tangan Buk Endang yang terus mengurut kontolku yang mengeras itu. Buk Endang seperti paham dan meraba batangku. Aku biarkan saja, sedap rasanya.
"Jilat..? Mau meniru cerita BF yach..?" balasnya tersenyum.
Aku mengangguk membalas senyumannya. Kemaluanku yang tambah menegang, membuat tenagaku pulih. Aku genggam tangan Buk Endang yang terus mengurut kontolku yang mengeras itu. Buk Endang seperti paham dan meraba batangku. Aku biarkan saja, sedap rasanya.
Setelah itu, aku dengan
telanjang berdiri di hadapan Buk Endang. Dia hanya
tersenyum memandangku. Perlahan-lahan, kemaluanku yang menegang itu
dipegangnya, dibelai dan diusap ke atas dan ke bawah. Nikmatnya tak terkira, tangannya yang lentik terasa amat memanjakan anganku, birahiku dan nafsu
liarku....
Aku mendesis karena nikmatnya. Aku
berharap Buk Endang akan
menghisap dan mengulum batang kejantananku. Memang sepertinya Buk Endang sudah tahu keinginanku. Diciumnya ujung batang
kemaluan aku, dan ujung lidahnya dimainkan di lubang kepala kejantananku. Aku
terasa ngilu, tapi sedap. Perlahan-lahan Buk Endang membuka
mulut dan memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.
Oohhh ... Terasa kehangatan air liurnya membasahi batang yang setengahnya berada di dalam mulutnya. Dihisapnya penisku, dikulumnya ke atas dan ke bawah. Terasa seperti tercabut ketika itu. Kupegang dan remas rambutnya yang tipis itu. Aku dorong batang kemaluanku jauh ke dalam mulutnya, terasa ujung kejantananku terkena dasar tenggorokannya. Buk Endang menghisap sampai ke pangkal sambil tangannya meremas-remas telur zakarku. Di saat itu, aku rasakan kenikmatan yang lain dari yang tadi. Kubiarkan Buk Endang menghisap semaunya, kubiarkan dia menjilat seluruh batang kemaluanku, telurku. Sengaja kubiarkan sebab sangat nikmat rasanya.
Setelah itu, aku pegang bahunya. Buk Endang berdiri memandang dengan penuh kesayuan. Aku pegang dan belai rambut nya. Perlahan-lahan kulepaskan BH nya, berikut melorotkan celana dalam Buk Endang.
Oohhh ... Terasa kehangatan air liurnya membasahi batang yang setengahnya berada di dalam mulutnya. Dihisapnya penisku, dikulumnya ke atas dan ke bawah. Terasa seperti tercabut ketika itu. Kupegang dan remas rambutnya yang tipis itu. Aku dorong batang kemaluanku jauh ke dalam mulutnya, terasa ujung kejantananku terkena dasar tenggorokannya. Buk Endang menghisap sampai ke pangkal sambil tangannya meremas-remas telur zakarku. Di saat itu, aku rasakan kenikmatan yang lain dari yang tadi. Kubiarkan Buk Endang menghisap semaunya, kubiarkan dia menjilat seluruh batang kemaluanku, telurku. Sengaja kubiarkan sebab sangat nikmat rasanya.
Setelah itu, aku pegang bahunya. Buk Endang berdiri memandang dengan penuh kesayuan. Aku pegang dan belai rambut nya. Perlahan-lahan kulepaskan BH nya, berikut melorotkan celana dalam Buk Endang.
Sekarang aku
dan Buk Endang sama sama bertelanjang. Berdiri diatas ranjang. Aku lingkarkan
tangan di pinggang nya dan mulai
mendekapnya lembut. Kami berpelukan dan bertautan bibir sambil jari-jariku
meraba dan menggosok seluruh badan Buk Endang. Sekarang
baru aku bisa merangkul tubuh yang bahenol dan
padat itu dengan pinggul yang besar sepuas-puasnya.
Pinggulnya besar dan lebar tapi masih proposional. Kudekap dan kuremas
punggungnya sambil menggesek-gesekkan batang kejantananku ke perutnya. Sungguh
nikmat dapat berpelukan sambil berdiri.
Setelah puas bermesraan sambil berdiri, lalu aku baringkan dia di atas ranjang sambil terus memberikan kecupan demi kecupan. Kali ini aku tidak berlama-lama mencium payudaranya sebab sasaran mulutku adalah ke liang kenikmatannya. Aku turunkan ciumanku ke bawah, kulihat kemaluannya masih kering.
Setelah puas bermesraan sambil berdiri, lalu aku baringkan dia di atas ranjang sambil terus memberikan kecupan demi kecupan. Kali ini aku tidak berlama-lama mencium payudaranya sebab sasaran mulutku adalah ke liang kenikmatannya. Aku turunkan ciumanku ke bawah, kulihat kemaluannya masih kering.
Buk Endang
mengerti dan menaikan punggungnya. Aku pun melorotkan celana dalamnya, setelah lepas
diantara kedua kakinya, Buk Endang membuka kedua
kakinya lebar lebar, hingga kemaluan nya menganga indah di hadapanku.
“ Ahhhhh....
Bryaannn hh... “Sontak Buk Endang mendesis keenakan sambil menggeliat
manja saat lidahku kujulurkan ke labia mayora nya itu. Aku terus
mencium kemaluannya itu dengan lembut. Terangkat punggungnya menahan kenikmatan
itu.. tanpa menunggu Bibir kemaluannya itu kujilat, kujulurkan lidah dan menusuk
ke dalam lubangnya.. Biji kelentitnya kuhisap, kujilat semauku.
Terdengar suara Buk Endang merintih
rintih kenikmatan. Vagina Buk Endang mulai basah
dengan air ludahku, aku tak peduli, aku terus jilat dan hisap sambil tanganku
meremas-remas puting payudaranya.
Tiba-tiba, saat menikmati sedapnya menjilat, Buk Endang meraung dengan tubuhnya terangkat. Serentak dengan itu, habis mulutku dibasahi dengan simbahan air dari dalam liang kewanitaannya. Ada yang masuk ke dalam mulutku sedikit, rasanya agak payau dan sedikit asin. Aku berhenti dan mengelapkan mulutku yang basah karena air maninya. Rupanya Buk Endang klimaks .. !!!!.
Tiba-tiba, saat menikmati sedapnya menjilat, Buk Endang meraung dengan tubuhnya terangkat. Serentak dengan itu, habis mulutku dibasahi dengan simbahan air dari dalam liang kewanitaannya. Ada yang masuk ke dalam mulutku sedikit, rasanya agak payau dan sedikit asin. Aku berhenti dan mengelapkan mulutku yang basah karena air maninya. Rupanya Buk Endang klimaks .. !!!!.
Selanjutnya aku mainkan dengan jari saja lubang vagina itu. Entah karena apa, timbul nafsu untuk menjilat air maninya lagi. Aku kembali membenamkam wajahku dan mulai menjilat lembah yang basah berair itu. Lama-lama rasanya menjadi sedap, habis kujilat, kuhisap vaginanya.
“ Uuuuuuhhh..
Briaannnhh.. Ennaakkk Ooohh.... Occh..... “ terdengar Buk Endang merintih
manja sambil meliukkan tubuhnya. Ketika aku menghisap kelentitnya, kumainkan
lubang kenikmatannya dengan jari. Tiba-tiba, sekali lagi dia terkejang
kepuasan, dan kedua kali jugalah air maninya menerjah ke dalam mulutku.
Dengan mulut yang basah karena air maninya, kucium mulut dia. Air maninya bercampur dengan air liurnya apabila aku membiarkan lidahku dihisap. Buk Endang menjilat air maninya sendiri tanpa mengetahuinya. Ketika sudah habis air mani di mulutku karena disedotnya, aku mulai menghentikan pemanasan. Tubuhnya kutindih, dengan sauh dihalakan ke lubuk yang dalam dan dilepaskan layar, maka jatuhlah sauh ke dalam lubuk yang selama ini hanya dilabuhkan oleh sebuah kapal dan seorang nakhoda saja.
Dengan mulut yang basah karena air maninya, kucium mulut dia. Air maninya bercampur dengan air liurnya apabila aku membiarkan lidahku dihisap. Buk Endang menjilat air maninya sendiri tanpa mengetahuinya. Ketika sudah habis air mani di mulutku karena disedotnya, aku mulai menghentikan pemanasan. Tubuhnya kutindih, dengan sauh dihalakan ke lubuk yang dalam dan dilepaskan layar, maka jatuhlah sauh ke dalam lubuk yang selama ini hanya dilabuhkan oleh sebuah kapal dan seorang nakhoda saja.
Aku menghimpitkan tubuhku ke atas
tubuhnya dengan lembut sambil mencium wajahnya. Secara otomatis Kemaluanku
bergesekan dengan kemaluannya. Terasa ujung kejantananku bertemu dengan bulu
dan air mani yang membasahi lembah kenikmatan itu. Setelah mendapatkan
kedudukan yang tepat, kupegang kejantanan dan mengarahkan ke lubang
senggamanya.Tanpa disuruh Buk Endang membuka dan meluaskan kangkangannya pahanya sedikit.
Setelah berada di ujung muara, aku pun melabuhkan tongkat nakhodaku ke dalam
lautan birahi dengan perlahan-lahan diikuti oleh desisian dan raungan kami
berdua yang bergantian, mengiringi terbenamnya tongkat ke dalam lembah di
lautan.
"Aaarrrghhh... mmm..."
Aku menekan sampai pangkal kemaluan dan membiarkannya sekejap karena terasa seperti terjepit. Aku mencium leher dan mulutnya berulang kali. Bila keadaan sudah agak tenang, aku mulai mendayung, atas, bawah, pelan dan teratur. Kenikmatan pada waktu itu adalah sangat indah, susah untuk dapat dikatakan, kemudian aku menggerakkan ke atas dan ke bawah berulang kali.
"Aaarrrghhh... mmm..."
Aku menekan sampai pangkal kemaluan dan membiarkannya sekejap karena terasa seperti terjepit. Aku mencium leher dan mulutnya berulang kali. Bila keadaan sudah agak tenang, aku mulai mendayung, atas, bawah, pelan dan teratur. Kenikmatan pada waktu itu adalah sangat indah, susah untuk dapat dikatakan, kemudian aku menggerakkan ke atas dan ke bawah berulang kali.
Aku dorong dan tarik kemaluanku
dengan diiringi suara mengerang yang agak kuat sambil melihat pemandangan indah
di bawah. Sungguh pemandangan yang indah jika dapat melihat kejantananku
sendiri sedang masuk dan keluar dari lubang senggama wanita, dengan bunyi yang
cukup menawan.
Buk Endang memeluk erat pinggangku
ketika bergoyang mengimbangi tubuhku, punggungnya bergerak ke atas dan ke bawah
mengikuti arus irama. Sesekali dia menggoyang-goyangkan punggungnya untuk
membantu daya dorongku, terasa kenikmatan yang tiada bandingnya. Kulajukan
dayungan, semakin laju dengan suara yang semakin kuat.
Buk Endang hampir mengeluarkan suara
erangannya, dan aku merasakan hampir keluar seperti gunung berapi hendak
memuntahkan lavanya. Aku lajukan lagi, dengan sekuat tenaga kutusukkan
sedalam-dalamnya diikuti dengan teriakan Buk Endang yang nyaring, terpancurlah
air maniku jauh ke dasar lubang senggamanya.
Ketika kubuka mataku, aku melihat mata Buk Endang menutup serta dadanya yang naik turun dengan cepat, ada tetesan peluh di dadanya. Begitu juga badanku, terasa peluh meleleh di belakang. Kejantananku semakin menekan ke dalam lubang kenikmatanya yang semakin lembab akibat muntahan yang terjadi bersamaan. Kukecup dahi Buk Endang, dia membuka mata dan tersenyum memandangku. Aku membalasnya dengan mengecup mesra bibirnya. Akhirnya aku tindih tubuhnya di atas kasur itu dengan kepalaku kuletakkan di atas dadanya. Terdengar bunyi degupan jantung yang kencang di dada Buk Endang, dosen semok yang mengajar Dasar dasar logika di Jurusanku itu
Setelah beberapa menit, aku bangun dan mengeluarkan batang kejantananku dari dalam lubang senggamanya. Terlihat sedikit air maniku meleleh keluar melalui lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut menahan kenikmatan. Aku ambil tisue di tepi meja kamar dan kubersihkan air mani yang meleleh itu. Buk Endang hanya memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahku. Kemaluanku yang masih basah kubiarkan kering sendiri. Aku duduk bersila di atas kasur dengan menghadap arah memandang wajahnya. Kepalaku sejajar dengan kepalanya yang masih terbaring di atas peraduanku . Aku meremas dan memilin putting payudaranya .
Ketika kubuka mataku, aku melihat mata Buk Endang menutup serta dadanya yang naik turun dengan cepat, ada tetesan peluh di dadanya. Begitu juga badanku, terasa peluh meleleh di belakang. Kejantananku semakin menekan ke dalam lubang kenikmatanya yang semakin lembab akibat muntahan yang terjadi bersamaan. Kukecup dahi Buk Endang, dia membuka mata dan tersenyum memandangku. Aku membalasnya dengan mengecup mesra bibirnya. Akhirnya aku tindih tubuhnya di atas kasur itu dengan kepalaku kuletakkan di atas dadanya. Terdengar bunyi degupan jantung yang kencang di dada Buk Endang, dosen semok yang mengajar Dasar dasar logika di Jurusanku itu
Setelah beberapa menit, aku bangun dan mengeluarkan batang kejantananku dari dalam lubang senggamanya. Terlihat sedikit air maniku meleleh keluar melalui lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut menahan kenikmatan. Aku ambil tisue di tepi meja kamar dan kubersihkan air mani yang meleleh itu. Buk Endang hanya memandang sambil melemparkan senyuman mesra ke arahku. Kemaluanku yang masih basah kubiarkan kering sendiri. Aku duduk bersila di atas kasur dengan menghadap arah memandang wajahnya. Kepalaku sejajar dengan kepalanya yang masih terbaring di atas peraduanku . Aku meremas dan memilin putting payudaranya .
Buk Endang membiarkan sambil
tangannya membelai pahaku. Terasa seperti suami isteri.
"Terima kasih sayang..." bisiknya lembut.
Aku mengangguk tersenyum
"Terima kasih sayang..." bisiknya lembut.
Aku mengangguk tersenyum
“ sekali lagi ya..” bisiku ke
telinganya
"Bry.. a... aaan.. ja..."
belum sempat Buk Endang menghabiskan kata-katanya, bibirku berpautan pada
bibirnya, kali ini aku cium sekuat-kuatnya.
"Mmmppphhh... mmmppphh..." Buk Endang tidak bersuara lagi saat mulutnya kukecup. Tanpa menunggu persetujuan dari Buk Endang kembali kugarap tubuh dosen ku yang bahenol itu…
"Mmmppphhh... mmmppphh..." Buk Endang tidak bersuara lagi saat mulutnya kukecup. Tanpa menunggu persetujuan dari Buk Endang kembali kugarap tubuh dosen ku yang bahenol itu…
Kini kapal lain datang bersama
nahkoda muda yang terpaksa berhempas pulas melawan badai mengarungi lautan
birahi untuk sampai di pulau impian bersama-sama. Perjuangan kali ini lebih
lama, dan melelahkan kerena masing-masing tidak mau mengalah duluan. Berbagai
aksi dilakukan untuk sampai ke puncak kejayaan. Tubuh Buk Endang kusetubuhi dalam berbagai posisi, dia juga memberikan kerjasama yang baik
kepadaku dalam menempuh gelombang. Akhirnya, setelah berhempas pulas, kami tiba
juga di pulau impian dengan kejayaan bersama, serentak dengan terjahan padu air
hikmat serta jeritan manja, sang dosen
bahenol itu meraung kepuasan.
Kami terdampar keletihan setelah penat belayar. Terkulai Buk Endang di dalam dekapanku. Kali ini lebih romantis, sebab banyak posisi dan gaya yang telah kami lakukan. Kami telentang kelelahan, dengan peluh memercik membasahi tubuh dan wajah kami. Air maniku meleleh keluar kedua kalinya dari lubang yang sama. Buk Endang mendekap badanku sambil jarinya membelai kemaluanku yang terkulai basah itu. Dimainkannya seperti bayi mendapatkan boneka. Kubiarkan sambil mengecup dahinya tanda terima kasih. Kami tidak bersuara karena sangat letih.
Tubuh kami terasa tidak bernyawa, rasanya untuk mengangkat kaki pun tidak kuat. Lemah segala sendi dan urat dalam badan. Hanya suara rintihan manja saja yang mampu dikeluarkan dari pita suara kami dalam kedinginan akibat hujan yang masih turun lebat.
" I Love you” … aku mengecup dahinya, dia tersenyum. Kepuasan nampak terpancar di wajahnya.
"Kamu benar-benar hebat..." sahutnya.
"Hebat apa..?"
"Iya lah, empat kali aku muncak kali dalam sejam." Ujarnya menatapku malu malu
"Ibu juga hebat… saya suka bercinta dengan ibu." balasku ringkas.
"Belum pernah Saya merasa puas seperti ini….." jelasnya jujur.
"Belum pernah..?" tanyaku keheranan.
Dia mengangguk perlahan, "Saya tidak pernah orgasme lebih dulu." sambungnya
"Suami Ibu melakukan apa saja..?"
"Dia hanya memasukkannya sampai Dia keluar..." sambungnya.
Kami terdampar keletihan setelah penat belayar. Terkulai Buk Endang di dalam dekapanku. Kali ini lebih romantis, sebab banyak posisi dan gaya yang telah kami lakukan. Kami telentang kelelahan, dengan peluh memercik membasahi tubuh dan wajah kami. Air maniku meleleh keluar kedua kalinya dari lubang yang sama. Buk Endang mendekap badanku sambil jarinya membelai kemaluanku yang terkulai basah itu. Dimainkannya seperti bayi mendapatkan boneka. Kubiarkan sambil mengecup dahinya tanda terima kasih. Kami tidak bersuara karena sangat letih.
Tubuh kami terasa tidak bernyawa, rasanya untuk mengangkat kaki pun tidak kuat. Lemah segala sendi dan urat dalam badan. Hanya suara rintihan manja saja yang mampu dikeluarkan dari pita suara kami dalam kedinginan akibat hujan yang masih turun lebat.
" I Love you” … aku mengecup dahinya, dia tersenyum. Kepuasan nampak terpancar di wajahnya.
"Kamu benar-benar hebat..." sahutnya.
"Hebat apa..?"
"Iya lah, empat kali aku muncak kali dalam sejam." Ujarnya menatapku malu malu
"Ibu juga hebat… saya suka bercinta dengan ibu." balasku ringkas.
"Belum pernah Saya merasa puas seperti ini….." jelasnya jujur.
"Belum pernah..?" tanyaku keheranan.
Dia mengangguk perlahan, "Saya tidak pernah orgasme lebih dulu." sambungnya
"Suami Ibu melakukan apa saja..?"
"Dia hanya memasukkannya sampai Dia keluar..." sambungnya.
"Bila sudah keluar, dia letih,
terus tertidur. Saya sudah tidak terangsang lagi saat itu."
"Kenapa Ibu tidak memintanya..?" saranku.
"Kalau sudah keluar, Dia tidak terangsang lagi."
"Dalam seminggu berapa kali Ibu dan suami berbuat..?" tanyaku mengorek rahasia mereka.
"Sekali, kadang-kadang tidak dapat sama sekali dalam seminggu itu..."
"Kenapa..?"
"Dia pulangnya terlalu malam, jadi sudah letih. Tidak nafsu lagi untuk bersetubuh."
"Ohhh..." aku menganguk seakan memahami.
"Kapan terakhir Ibu melakukannya..?" pancingku lagi.
"Ehh, dua minggu yang lalu." jawabnya yakin.
"Jadi Sudah dua minggu Ibu tidak mendapatkannya..?" sambungku terkejut,
"Kenapa Ibu tidak memintanya..?" saranku.
"Kalau sudah keluar, Dia tidak terangsang lagi."
"Dalam seminggu berapa kali Ibu dan suami berbuat..?" tanyaku mengorek rahasia mereka.
"Sekali, kadang-kadang tidak dapat sama sekali dalam seminggu itu..."
"Kenapa..?"
"Dia pulangnya terlalu malam, jadi sudah letih. Tidak nafsu lagi untuk bersetubuh."
"Ohhh..." aku menganguk seakan memahami.
"Kapan terakhir Ibu melakukannya..?" pancingku lagi.
"Ehh, dua minggu yang lalu." jawabnya yakin.
"Jadi Sudah dua minggu Ibu tidak mendapatkannya..?" sambungku terkejut,
Buk Endang hanya
menganggukkan kepala mengiyakannya.
"Jelas Buk Endang tidak marah besar ketika aku mulai menjamah tubuhnya." dalam hatiku, "Dia mengidamkan juga rupanya..."
"Jelas Buk Endang tidak marah besar ketika aku mulai menjamah tubuhnya." dalam hatiku, "Dia mengidamkan juga rupanya..."
Hampir setengah jam kami berbicara dalam keadaan berpelukan dan bertelanjang di atas ranjang itu. Segala hal mengenai masalah rumah tangganya ku tanya dan dijawabnya dengan jujur. Semua hal yang berkaitan diceritakannya, termasuk jeritan batinnya yang rindu akan belaian dari suami yang tidak pernah benar-benar dinikmatinya. Suaminya terlalu sibuk dengan kerjanya begitu juga dengan Buk Endang. Memang bodoh suami Buk Endang, sebab tidak menggunakan sepenuh nya tubuh yang montok dan masih kencang ini , kurasa semua lelaki memberikan penilaian yang sama denganku. Nasibku baik, sebab dapat menikmati tubuh itu dan sekaligus membantu menyelesaikan masalah kepuasan batinnya.
Aku semakin bangga apabila dengan jujur Buk Endang mengakui bahwa aku telah berhasil memberikan kepuasan kepada dirinya, batinnya kini tidak lagi bergejolak. Raungannya kini tidak lagi tidak dipenuhi, Buk Endang sudah dapat apa yang diinginkan batinnya selama ini, walaupun bukan berasal dari suaminya sendiri, tetapi dengan mahasiwanya, yang lebih muda 15 tahun tetapi gagah seperti berusia 30 tahun. Desiran hujan semakin berkurang, rintiknya semakin perlahan, menunjukkan tanda-tanda hendak berhenti. Kami bangun dan melihat ke luar jendela.
Tak lama
kemudian , HP ku berdering, ternayata kekasihku Tuti Khairani memanggil, aku
memberi isyarat agat Buk Endang tidak bersuara dulu. Buk Endang patuh dan aku
menjawab telepon Buk Tuti
“ say... gimana
.. ? udah beres masalahnya” ujar Buk Tuti diseberang sana.
“ sudah.. semua
baik baik saja say... pokoknya aman...
Buk Endang gak bakal menceritakan
kejadian tadi siang.. dia sudah janji... “ ujarku.
“ kamu percaya
begitu aja sama dia .... ? “ tanya Buk Tuti.
“ iya..
percaya... sudah aku ancam dia... yakin deh.. dia gak bakal macam-macam..”
ujarku menoleh pada Buk Endang . Buk Endang
tampak bersungut kesal.
“ ya sudah...
kamu jemput saya ya say.. saya kangeenn “ ujar Buk Tuti manja.
Aku tergelak
dan menoleh ke Buk Endang , tampak raut tak senang dari wajahnya.. dia cemburu
.. hi ihi hi
“ oke.. tunggu
aja disana.. Buk Endang nya sudah pulang dari tadi.. aku mandi dulu ya say...
byee.. “ ujarku menutup telepon.
“ Buk.. mau saya
antar pulang atau naik taksi aja.. soalnya cintaku Tuti Khairani minta dijemput
“ ujarku.
“ saya pulang
naik taksi aja“ sungutnya kesal. Aku
tertawa dan mendekatinya lagi.
“Buk
Endang sayang... jangan marah dong..
nanti kubuktikan aku akan membagi cintaku padamu..” ujarku tapi langsung
tanganku ditepis Buk Endang
Seperti disuruh, Buk Endang mengenakan kembali pakaian dalamnya
berikut pakaian kerjanya. Aku membiarkan Buk Endang berbenah, sambil nyengir,,
“ tua tua kok
cemburuan... dasarr... wanita... “ bathinku.
Aku menanti Buk Endang selesai berpakaian di kamar itu. Tak lama kemudian,
dia berjalan bergegas keluar kamar. Aku mengikutinya
dari belakang, lalu meraih HP ku dan memesan taksi untuk Buk Endang .
Aku menuju ke ruang tamu mengajak Buk Endang. Buk Endang mengikutiku. Dia hanya diam dan tak
bersuara.
Aku membiarkan
saja.. peduli amat bathinku.
Tak lama kemudian
terdengar suara klakson taki di depan rumahku. Mendengar itu Buk Endang berdiri
dan minta diri
untuk pulang. Saat dia berdiri, aku
memeluknya. Buk Endang membiarkan saja. Sikapnya sungguh dingin, bila mendengar
nama Buk Tuti
Aku berkesempatan
meremas pantatnya yang bahenol
“ Auuu.. “
jerit Buk Endang. Aku menciumi pipinya
dan mengecup lehernya.
Buk Endang ternyata membalas pagutanku. Kami bercumbu sambil berdiri. Tampak kemudian Buk Endang mengikat rambutnya seolah mempersilahkanku menggerayangi lehernya dengan mulutku. Kemudian Buk Endang gantian menciumi leherku dengan ganas. Dan tiba-tiba..
Buk Endang ternyata membalas pagutanku. Kami bercumbu sambil berdiri. Tampak kemudian Buk Endang mengikat rambutnya seolah mempersilahkanku menggerayangi lehernya dengan mulutku. Kemudian Buk Endang gantian menciumi leherku dengan ganas. Dan tiba-tiba..
“ Auuuu..”
jeritku saat kurasa gigi Buk Endang menggigit keherku.
“ sakit bu,,”
protesku. Buk Endang tak peduli dan terus menjilati leherku sambil sesekali
mencupangnya, melihat dia begitu bergairah aku mencoba menahannya
“ Bu.. cukup
dulu yah... tuh taksi kelamaan nunggu diluar yahh..” ujarku melepaskan diri
dari pagutannya, sungguh bernafsu sekali wanita ini bathinku
“ ya sudah..
saya pergi dulu ya Brian... nanti saya telepon kamu..” ujarnya membenahi
pakaian nya yang agak berantakan akibat rabaan dan gerayangan ku pada bodynuya
Aku mengiringi Buk Endang ke pintu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas segala layanannya. Buk Endang juga berterima kasih karena telah merasa aku layani dengan baik. Aku lalu membuka pintu pagar dan mengantar Buk Endang ke pintu taksi. Tak sampai hitungan menit tidak terlihat lagi taksi itu dari rumahku, maklumlah hujan, aku masuk ke dalam rumah dan sekarang waktunya makan malam.
Aku mengiringi Buk Endang ke pintu. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas segala layanannya. Buk Endang juga berterima kasih karena telah merasa aku layani dengan baik. Aku lalu membuka pintu pagar dan mengantar Buk Endang ke pintu taksi. Tak sampai hitungan menit tidak terlihat lagi taksi itu dari rumahku, maklumlah hujan, aku masuk ke dalam rumah dan sekarang waktunya makan malam.
Sebelum nya aku
menuju kamar mandi ingin buang air kecil. Sesampai disana aku kaget saat
melihat pantulan diriku di cermin kamar mandiku, terlihat dengan jelas bekas gigitan
di leherku.
Ah, gawat bisa ketahuan aku dengan Buk Tuti. Sial..
bathinku. Pintar juga Buk Endang ini.. ,membuatku harus mencari alasan untuk
tidak bertemu Buk Tuti karena do’i pasti akan curiga padaku saat melihat ada
bekas gigitan di leherku. Aku berniat kalau tidak hilang sampai besok, aku
pasti tidak akan ke kampus. Aku kemudian menelepon Buk Tuti bahwa aku tak bisa menjemputnya dengan
alasan karena mendadak sepupuku datang dan aku harus menjemputnya di bandara.
Keesokan harinya, tidak terlihat bekas gigitan pada leherku. Di kampus, bila bertemu dengan Buk Endang yang anggun dan ayu itu, aku tersenyum dan mengucapkan selamat, seperti tidak ada sesuatu di antara kami. Buk Endang pun bertingkah biasa saja, walaupun di hati kami masing-masing tahu apa yang terjadi.
Keesokan harinya, tidak terlihat bekas gigitan pada leherku. Di kampus, bila bertemu dengan Buk Endang yang anggun dan ayu itu, aku tersenyum dan mengucapkan selamat, seperti tidak ada sesuatu di antara kami. Buk Endang pun bertingkah biasa saja, walaupun di hati kami masing-masing tahu apa yang terjadi.
Terkadang aku
juga melayani nafsu birahi Buk Endang jika dia lagi horny dan butuh kehangatan dariku.
Namun hubunganku dengan Buk Endang kami tutup rapat-rapat. Serapat aku menutup
hubunganku dengan Buk Tuti.
Pernah sekali
saat aku kebetulan berpapasan dengan Buk Endang di kamar mandi kampus. Kami
saling memandang dan dia tak menolak saat aku menarik nya ke dalam WC
pria. Kami becumbu melepas birahi, saling
berciuman, saling meraba dan saling meremas. Kemudian aku mendapati sebuah ide, kusuruh Buk Endang
membalik membelakangi ku dan berhadapan dengan cermin dan tangan nya bertumpu
memegang wastafel.
“ jangan aneh
aneh deh .. “ tolak nya halus, namun patuh juga dengan instruksi ku itu. Aku
memeluknya dari belakang dan langsung kucumbu pundak
nya, berikut kujilati daun telinga nya dan bersamaan juga kuremas bukit kembar nya
dari belakang. Tubuh Buk Endang langsung menggelinyang saat kuremas payudaranya
itu,
“ Uuhh..
Adduhh.. Pelan pelan... Ooh.. Gellyyh.. “ desah nya mendesis tertahan, aku
makin menggila mendengar desahan nya itu, kulepaskan satu kancing baju nya dan
kuremas mangkuk BH nya itu dengan gerakan tak beraturan, hingga terdengar Buk
Endang meringis merasakan pijatan tanganku meremas kedua bukit kembar nya. tak
puasa sampai disitu aku singkap rok- nya keatas dan dengan cepat tangan ku menjalar menuju selangkangan nya,
disana kupijat dan kuelus daerah kewanitaan nya dengan gerakan kasar, pertanda
aku gemas.
Aku terus memijit bagian kemaluan nya yang tertutup celana dalam
itu,
“ uuhh...
Bryannnnhh.. aaahh.. “ desahnya sambil mengadahkan kepalanya keatas.
“ enak yaa..
oucchh.. Bukk.. aku lepas kancut mu ya.. “ pinta ku, tanpa persetujuannya aku
menurunkan
celana dalam nya hingga sebatas lutut . Posisi
tubuh Buk Endang ku arahkan menjadi
setengah nungging. Pada saat itu pula aku mengelusi mengelusi bokong Buk Endang
sekaligus meremasi nonok nya. Ku mainkan jari ku pada kelentit nya. Setelah kuremas-remas bulu jembut vagina nya dan .. “ serrr.. “ akhirnya
kumasukan jari tengahku ku ke dalam lubang vagina nya .
“ Oooo.. hhh..
Bryaann.. Ohh... enaaakkk... shhhh.. “ desahnya megap megap saat jari tengahku
ku colokan dalam kelamin nya.
Kurasa jari ku
diremas oleh dinding vagina Buk Endang . tanganku yang satunya memeluk pinggang Buk Endang, dan dari saat
kuperhatikan Buk Endang di cermin tampak wajahnya begitu berbirahi dan hot. Kurasakan tidakan ku ini mulai melanda birahiku dan semakin hebat akibatnya.
Aku merasakan nonok Buk Endang mulai
membasah. Cairan birahi nya mulai mengalir
keluar di lubang vagina dosen setengah baya ini.
Buk Endang terus mengerang penuh kehausan. Di lain pihak kontol ku terasa sudah ngaceng
serasa mau meledak keluar dari celanaku.
Dan saat nya jari ku cabut dari nonok nya. Kemudian kubuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku
“ Bryaannhh..
jangan disini.. nanti ketahuann ..” bisik Buk Endang lirih mengetahui aku akan
menyetubuhi nya di WC itu. Tapi kurasa Buk Endang juga begitu gatal untuk
disetubuhi di tempat itu.
“ Bentar aja
Bu.. aku nggak tahan... aku masukin ya.. ?? kangkangkan dikit pantat mu.. “ ujarku ku sangat
tak sabar menyodok pantat nya dari belakang. Buk Endang patuh dan melebarkan kangkangan kedua kakinya. Hingga celana
dalam nya yang masih berada di lututnya juga ikut melebar selebar batas celana
dalam nya.
Aku
menyejajarkan kontolku ke belahan vagina nya, untuk membantu ku kusibak kan
belahan pantat Buk Endang yang bahenol itu. setelah kurasa pas aku mencoba
menyodok vagina Buk Endang.
“ Blesss ..
Uuhh.. “ bunyi penisku masuk bercampur cairan cinta yang keluar dari kemaluan
Buk Endang...
Buk Endang langsung
menggelinjang.
“ Ooohh..
Bryannn hh.. “ jeritnya tertahan saat kontolku amblas dalam vagina nya. Kontol ku tanpa kesulitan menembusi memek nya. Nafsu
birahiku yang menyergap membuat
ku terbakar
hingga melumpuhkan nalar sehatku. Kuberanikan
mengentoti dosen senior ini dalam kamar mandi kampus.
Kudorong
pinggulku membuat kontol ku keluar masuk nonok Buk Endang dengan penetrasi
lambat, sambil menikmati enaknya jepitan vagina dan pantat Buk Endang yang
menjepit kontol ku. Refleks kurasakan Buk Endang menggoyangkan pantat nya. agar kontol ku lekas
meruyak ke bagian terdalam vagina nya yang pasti sudah demikian gatal merasakan
besarnya diameter kontol ku.
Irama nafas aku
dan Buk Endang bertautan turun naik, memacu gairah yang kami rasakan.
‘ooh.. uuhh..
Ahh.. Ooohh..” desah kami seirama, kami saling menggenjot dalam posisi berdiri.
Dari cermin tampak wajah Buk Endang begitu bernafsu dan terlihat jelas dilanda
prahara kenikmatan dengan posisi itu.
Kami bagai dua
insan yang penuh gairah , berpacu untuk meraih orgasme dalam ruang toilet itu. Aku merasa tak tahan, lalu dengan sangat cepat aku memompa kontoku dalam kemaluanku. Buk Endang sendiri sepenuhnya menyambut nya. Pantat nyaterus
bergerak maju mundur mengimbangi kecepatan pompaan kontol ku.
Persanggama-an kami tidak
berlangsung lebih dari 5 menit. Setelah
kurasakan setiap persendianku begidik bermuara pada penisku, ingin menyemprotkan
lahar panasku.
“ Uhh.. Uuh..
Uuuuuugghhh.... “ jerit ku dan Buk Endang bersamaan, Kami
sama-sama menumpahkan cairan-cairan kami. Ku tembak kan peju ku sebanyak banyak nya menyemprot-nyemprot rahim Bu Endang.
Aku meraih orgasme dalam sensasi birahinya bersetubuh sambil berdiri. Aku merasa sangat puas.
Demikian besar kepuasan orgasme yang aku dapatkan dan rasakan melebihi
orgasmeku yang secara rutin ku semprotkan
dalam rahim Buk Endang sebelum nya.
Aku pun melenguh
kelelahan begitu juga Buk Endang, kami
berdua sejenak mengatur nafas kami yang ngos ngos an sehabis bersenggama.
“ Udaah ya
Bryaan.. cabut punya kamu.. “ rintih Buk Endang, masih dalam posisi setengah
menungging.
“ Ya Bu..
makasih ya.. “ ujarku mengecup pundak nya , kemudian mencabut penisku dari
dalam vagina Buk Endang.
Buk Endang
merintih tertahan saat kucabut kontolku. Posisi nya masih setengah
nungging dan tangannya bertumpu pada
wastafel.
Aku kemudian
merapikan kembali celanaku. Sementara Buk Endang berajalan menuju WC, mungkin
mau mencuci nonok nya yang sudah kesembur peju ku.
“ Bu.. aku
cabut dulu ya.. bye..” ujarku padanya dari luar pintu kamar mandi.
“ Pergi cepat
gi.. nanti ada orang masuk kemari bisa berabe lho.. “ terdengar suara Buk
Endang dari dalam kamar mandi. Mendengar itu aku pun meninggalkannya dan keluar
kamar mandi dengan senyuman penuh kepuasan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar