Sabtu, 31 Oktober 2015

perselingkuhan marissa haque dan zumi zola

Sosoknya sangat tenang. Sikapnya pun kalem. Itulah yang tergambar dari Zumi Zola mantan artis yang kini 
menjabat sebagai Bupati Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi adalah yang diusung dari partai P*N.  
Sebelum menjabat seorang Bupati , nama Zumi Zola dahulunya terkenal sebagai artis sinetron.
Sebenar nya ada sebuah kisah kelam yang tersimpan dalam memori sang Bupati yang  sekarang  ini  telah ramai menjadi perbincangan di dunia maya bahkan media elektronik. 
Namun walau demikian, Zumi Zola tidak  menunjukkan  sikap  panik  atau kalut  bahkan saat  tampil  di depan   publik. Namun, Dibalik wajah rupawannya itu , rupanya Sang Bupati memendam  sebuah  skandal yang besar.


Lain halnya dengan politikus  cantik  Marisa Haque.  Beberapa  waktu  yang  lalu,  ketika  gossip  yang menerpa dirinya  dan  Zumi  Zola  heboh  di  line massa,  Marissa  sangat  gencar  berkicau.  Entah  itu tweet tuduhan, sanggahan, pembelaan, atau balas memaki para pembully nya. 
Namun mengapa Zumi Zola tak melakukan apa yang dilakukan Marisa Haque?


Baik Zumi Zola dan Marisa Haque adalah mantan artis dan  publik igur  Namun Zumi Zola   nampaknya  ebih  mngerti akan vitalnya setiap ucapan yang ia lontarkan di media apapun. Termasuk media sosial.
Entah isu tersebut  benar  atau  bukan,  prahara  Zumi  Zola  dengan  Marissa  Haque  kini  tengah  gempar. Terlebih Zumi Zola sekarang memiliki profesi di pemerintahan (Bupati). Justru akan menyudutkan namanya di mata publik. Media nampaknya  tak  akan  berhenti  untuk  mengejar  Zumi  Zola  terkait berita  yang beredar di media online. Wartawan bersikukuh telah memiliki bukti-bukti  ampuh  yang  dapat  mencoreng nama baik Bupati ini ke pengadilan.

Nama Zumi Zola di dunia nyata mungkin akan tenggelam. Namun untuk media sosial khususnya Twitter, ia tetap dielu-elukan. Tak hanya parasnya saja yang tampan, namun sikapnya di media rakyat ini juga menawan.
Isu yang beredar menyebutkan terjadinya skandal perselingkuhan antara  dua  artis  beda  zaman  itu, Zumi Zola dan Marissa Haque , selama ini ternyata mereka berdua memiliki  sekelumit  kisah yang menggemparkan yang selama ini tidak terendus oleh media massa. 

Mereka berdua memang berada dalam naungan satu partai politik. Cerita ini terjadi saat Marissa Haque  sedang  berada  di   Provinsi  Jambi,  tepatnya  di  Kabupaten  Tanjung  Jabung  Timur, dimana  Zumi  Zola  menjadi menjabat bupati  disana. Marissa Haque berada disana dalam rangka sosialiasi kepada kader –kader  P*N,  partai  yang  baru  menggusungnya sebagai Caleg  yang kebetulan memiliki basis kuat di daerah itu. 

Sebagai seorang istri, Siapapun tahu, Marissa  Haque merupakan  tipe  istri  yang  sangat  setia  pada suaminya. Walaupun mereka berdua jarang bertemu karena sibuk dengan karir dan aktivitas mereka yang padat.  Namun Marissa selalu berprinsip, tidak akan ada lelaki lain yang menyentuh hati dan tubuhnya, kecuali sang suami, Ikang Fauzi, yang sangat dicintainya. Dan sebelum kisah menggemparkan  ini   terjadi,  Icha  (sapaan Marissa  )  selalu  menjaga  kesetiaannya.  Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain pun merupakan pantangan baginya.
Tetapi begitulah kejadian itu terjadi, Icha. Panggilan Marissa Haque  yang sekarang berkarir politik
dan bergabung dengan partai P*N,  saat itu  masih sering berkeliling ke daerah-daerah,  khususnya pedalaman Sumatera .Tujuan dari partia nya adalah  mencari  wilayah  dapil  yang  tepat agar dia bisa melenggang menjadi anggota legislatif.  Kisah  ini  terjadi  saat  Marissa Haque sedang  melakukan kujungan Ke  Tanjung  Jabung  Timur,  dimana  Zumi Zola , yang  juga  berasal dari kader partai yang sama menjadi Bupati disana..
Marissa Haque dan  beberapa  kader  partai  sampai  di Tanjung Jabung timur dari Jakarta . Mereka langsung berkunjung ke rumah Bupati Zumi Zola dan  disambut  hangat oleh  Zumi  dan  keluarga. Setelah makan dan beramah tamah. Sore harinya mereka mengunjungi kantor cabang partai di daerah tersebut. Sebagai sesama mantan artis, yang sekarang berkecimpung di  dunia  politik. Icha dan Zumi memang kerap menjadi “pemanis” partai, karena mereka berdua berasal dari background artis ibukota yang tentu sudah terkenal

Walau keduanya terpaut usia yang jauh ,   namun  karena  sama sama  berpendidikan  mereka  saling  nyambung berbicara. Baik dalam hal dinamika politik maupun hal- hal  lain. Bahkan mereka  kadang  ngobrol dan berdiskusi sampai larut malam.
Pada awalnya hubungan mereka biasa-biasa saja, sebatas teman satu partai. Namun sebenarnya, Diam-diam  Zumi  sebenarnya  kagum  pada kecantikan dan kecerdasan Marissa Haque Wajah Marisa Haque memang cantik, semaikin bertambah usia malah semakin cantik, garis di wajahnya memancarkan kecantikan wanita keturunan India - Madura itu. Kecerdasan Marissa Haque dalam berbicara pada maupun penampilannya yang modis makin menambah kecantikan wanita itu.
Walau berpakaian sopan dan tertutup namun sex appealnya memancar membuat tidak sedikit lelaki yang mengagumi kecantikan seorang Marissa Haque. Termasuk Zumi Zola Walau  bisa  dikatakan tidak akan mungkin dapat berbuat macam-macam  dengan  wanita  tangguh  bernama  Marissa Haque itu. 


Keanggunan, kecantikan dan ke ayuan seorang Marissa Haque ternyata membuat sang Bupati jatuh hati, entah kenapa setiap memperhatikan wanita yang sebenarnya sudah tidak muda lagi itu, semakin ingin pula hasrat sang Bupati untuk berupaya lebih dekat dengan wanita itu. Zumi Zola sering curi curi pandang pada Marissa saat bicara, duduk . pokok nya setiap bertemu wanita itu, pandangan Zumi tidak bergeming untuk tidak menatap Marissa Haque 


 Hingga pada Suatu  malam,  Marissa Haque  dan  beberapa  kader  P*N  lainnya pulang  dari  kunjungan  ke daerah Rimbo Bujang  untuk  mensosialisasikan  kegiatan  partai  dan  strategi  merebut  suara  di daerah sana,  Saat  itu  malam  cukup  larut,  Sebelumnya  mobil  yang  mereka  tumpangi  singgah di kantor partai cabang Jabung timur untuk menurunkan beberapa penumpang.

Ternyata di kantor itu, Entah kebetulan atau tidak, Bupati  Zumi  Zola  sedang  berada  disana  dengan beberapa  kader  lainnya.  Setelah  menurunkan  beberapa  penumpang  dan  hendak  balik  ke penginapan ternyata ban mobil mereka bocor. 

Karena waktu sudah larut  malam  dan ditambah menunggu supir  mengganti  ban  mobil, Zumi menawarkan untuk mengantar Marissa Haque, pulang  ke  penginapan  nya  yang  terletak sekitar 2  kilo lagi   dari  kantor  tersebut.  Mulanya  Icha  enggan  menerima  tawaran  Zumi,  namun menurut saran  rekan - rekannya yang lain, tidak apa-apa  jika  Zumi  mengantar  Icha  karena  hari sudah larut malam, dikarenakan juga Marissa Haque  merupakan  tamu  spesial  kader partai P*N di Tanjung Jabung, jadi Marissa dipersilahkan untuk istirahat saja di rumah penginapanya yang sudah  di  tempatinya  selama  2  hari  ini.  Sementara  kader  partai  yang lain tidak apa apa menunggu di kantor sampai ban mobil selesai diganti.

Setelah mendengarkan saran  beberapa petinggi partai  yang menyarankan  agar  Marissa  sebaiknya pulang duluan  diantar  sang  bupati.  Dengan  perasaan segan, Icha akhirnya menerima tawaran Zumi Zola untuk diantar  ke rumah penginapannya,

 “Mbak Icha dengan siapa menginap disana?” tanya Zumi di tengah perjalanan.
“Sendiri pak Zumi,  di rumah Bu Warmi, kader kita juga. Jawab Marissa Haque.
“Wah, Jangan panggil saya pak gitu dong  mbak  Icha, Mbak kan lebih senior dari saya... Panggil aja  nama saya. Kan saya lebih muda dari mbak Icha” ujar Zumi 
“Ah, pak Zumi bercanda, bapak kan seorang Bupati, masa disamain dengan Zumi Zola yang dulu ,,,” ujar Icha sedikit grogi.
“Ahh..., Gak usah sungkan mbak Icha, kita kan bukan sedang jam kerja” sahut Zumi memotong ucapan Marissa haque.
Marissa Haque hanya tersenyum, senyum yang membuat Zumi Zola  merasa bahwa wanita itu benar-benar mengaggumkan.


“Kalau gak keberatan mari saya traktir makan dulu gimana mbak,  mbak Icha belum makan malam kan..?” Tawar Zumi.
",Nggak usah Zumi,.. eh  Pak Zumi maksud saya... hehehe.. lain kali saja ya pak ..?” ujar Marissa
 Haque menolak halus.
“Ya, sudah.. Ngomong ngomong larut malem gini, Mbak nggak  suntuk  sendirian ? ”  kembali Zumi berpura-pura tidak tahu, sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Nggak pak... saya kan bisa baca buku dan browsing internet ... , Oya besok saya mau ke bengkulu.., mungkin sore  saya  berangkat  pakai  pesawat  pak”  jawab  Marissa  Haque mencoba mengalihkan pembicaraan.
“ Ada keperluan apa ke bengkulu mbak?” tanya Zumi
“ kata pak H**a, kemungkinan saya ditempatkan di daerah pemilihan bengkulu, Jadi disini cuma silaturahmi dan pengenalan dengan rekan-rekan kader kita disini...” terang Marisssa Haque
“ Kenapa gak disini aja mbak? Orang cantik kayak mbak pasti dapat banyak suara disini... Lagian mbak Icha kan public figur, dikenal dan disukai tua dan muda” ujar Zumi memuji.
“ Ah, pak Zumi bisa aja, saya kan sudah tua dan gak cantik lagi..” ujar Marissa Haque tersipu oleh pujian Zumi. 
“ Siapa bilang mbak Icha gak cantik lagi??.. Mungkin  yang  bilang  begitu  udah  gak  waras  kali...., hehehehe” ujar Zumi Zola yang disambut Icha dengan tertawa pula.
“ Nah, Sudah sampai mbak. Boleh saya masuk” ujar Zumi sumringah

Marissa Haque awalnya ragu- ragu,  karena  hari  sudah  larut  malam,  namun karena memandang Zumi Zola sebagai seorang bupati membuatnya terpaksa menerima tawaran Zumi. 
Meskipun terpaksa, Marissa yang merasa tertolong, menerima tawaran Zumi, yang masuk kedalam rumah.  Saat itu, kebetulan ibu – ibu  rombongan  partai yang  serumah  dengan  Marissa  belum pulang hingga hanya mereka berdua dirumah itu. 
Saat itu, Marissa  Haque  memakai  baju  yang  longgar dan mengenakan celana semi legging berwarna hitam. Setiap kali Zumi  memandangi  wanita  cantik  itu  dari  belakang, sang Bupati menelan ludah , Body  artis paruh baya  itu  memang masih sangat bagus dan amat  terawat, tinggi lagi..., putih..., dan pantat nya masih kencang dan berbentuk bahenol...  Apa lagi saat Zumi mengintip ke dalam, Marissa Haque  terlihat  sedang  membungkuk  mengambil  minuman  dari dalam lemari  es, menampakan garis celana dalamnya.


“ Edan.. benar - benar eindahan yang tersembunyi... ” gumam Zumi Zola dalam hati. 
“ Mau minum apa pak Zumi? Disini cuma ada susu coklat kotak dan teh kotak? “ tawar Marissa    Haque. Suara yang membuyarkan lamunan Zumi.
“ terserah apa aja deh mbak.. apa aja boleh “ ujar Zumi mencoba kembali bersikap kalem.

Malam yang terasa dingin membuat Zumi makin tergoda akan kecantikan wanita itu. Timbul rencana yang sudah direncanakannya sedari tadi, Bagaimana cara menikmati tubuh  si politisi cantik Marissa Haque yang masih  merupakan seorang  artis  cantik  yang  menjadi Idaman banyak pria. 
Zumi sengaja mengajak Icha ngobrol sambil berdiskusi, sambil memandangi dalam -dalam wajah Marissa Haque nan cantik. 

Selama mengobrol itu, Zumi berpikir  bagaimana  caranya  dia  bisa  menjalankan  rencananya. Beruntung saat itu sudah larut malam sehingga tak banyak orang yang berkeliaran. Zumi memutar otak bagaimana bisa bercinta dengan Marissa Haque malam itu. 
“ Ehm,.. mbak Icha...  bisa minta tolong ambilkan saya air putih ? “ ujar Zumi
“ Bapak mau air putih ? Boleh..., saya ambilkan ya pak... “ ujar Marissa haque tersenyum .

Melihat Marissa berbalik membelakanginya hendak menuju kebelakang,dengan sigap Zumi langsungmembekap Marissa Haque dari belakang dengan saputangan yang sudah ditetesinya klorofoam. 
Belum sempat dirinya menyadari apa yang terjadi, Seketika Marissa Haque merasakan pandanganya meredup, diikuti. tubuhnya terasa lemas dan akhirnya Marissa Haque pun tak sadarkan diri, 
Melihat wanita itu sudah  tak  sadarkan  diri ,  Zumi  segera menangkap  tubuh  pingsan Marissa dan segera menggendong tubuh Marissa yang tak  sadarkan  diri  itu  dan dengan gerakan cepat Zumi  memasukannya  kembali Marissa Haque ke dalam mobil. Tanpa tunggu lagi Zumi langsung tancap  gas  meninggalkan  rumah  itu  membawa Marissa Haque menuju salah satu ke rumahnya. Kebetulan sekali malam itu kawasan rumah tempat Marissa Haque tinggal   sedang sepi selain penghuni rumah belum datang, suasana kampung itu pun sepi karena sudah larut malam. 
Sungguh suatu kebetulan yang mempermudah rencananya..

Sekitar lebih 5 kilo mengemudikan mobilnya, Zumi pun sampai dirumahnya.  Rumah  itu  kosong. Semacam Villa, biasa dipakai Zumi untuk mengencani wanita-wanita selingkuhannya.
Setelah memasukan mobil ke garasi dan menutup pagar,.  Zumi menggendong tubuh Marissa Haque yang masih dalam keadaan pingsan itu kedalam  rumah  lalu  membawa  nya kedalam sebuah kamar dan membaringkan tubuh wanita itu di ranjang.
Untuk sementara Zumi merasa deg-degan  juga,  walau  rencana  nya  berhasil. Dada  Zumi semakin berdegup kencang  melihat  Marissa  Haque terbaring  tak  sadarkan  diri  di hadapannya. Wanita cantik itu sekarang terbaring pasrah di ranjang kamarnya. 
Walau dalam keadaan tak sadarkan diri Wajah Marissa Haque masih tampak cantik dan menggoda.

Untuk beberapa saat, Zumi diam terpaku menatap si cantik Marissa Haque yang telah berada dalam 
genggamannya.
 “ Memang masih cantik wanita ini..” gumam Zumi dalam hati. Matanya tak lepas memandangi  Marissa Haque yang tidur tak sadarkan diri itu,  akibat obat tidur yang dihirupnya.

Hanya sebentar Zumi diam, setelah itu Zumi mengambil Handy cam yang sudah disiapkannya dan 
meletakannya di meja kamar itu, Zumi mengatur dan memasang tombol rec dan objek diarahkan ke 
arah ranjang tempat Icha tertidur.

Setelah itu Zumi mulai membuka baju kemejanya satu persatu dan lalu menghampiri Marissa Haque, pertama dia setelah  melepas    jilbab  Marissa  Haque ,   Lalu Zumi   menarik  kedua  tangan wanita itu keatas ,  dan  menggeser  kaki  wanita  itu  dengan  posisi  menyilang,  hingga  posisi  tubuh  wanita seperti huruf x dengan keadaan tak sadarkan diri. 

Tanpa berkata apa-apa  lagi,  Zumi  langsung  menciumi pipi Icha  yang masih tak menyadari  ketika bibir Zumi  menempel ke bibirnya.  

" Makin tua kok makin bikin nafsu yahh... Gumam Zumi  menatap Marissa Haque  yang terlelap tak sadarkan diri,    beberapa saat kemudian Zumi mulai mendekatkan mulutnya ke mulut Icha, Zumi mulai menciumi bibir merekah Icha. Lidah Zumi menelusup ke celah bibir Icha dan terus bergerilya  menggelitik hampir semua rongga mulut wanita itu

Posisi Icha yang tak sadarkan diri itu membuat Zumi makin lancang saja untuk menjamahi setiap lekuk tubuh Icha. Zumi meremas, memeluk dan mengusap semua aurat dan bagian terlarang tubuh wanita itu dengan penuh nafsu membara.  

Mendapati kuatnya rangsangan yang melanda syaraf nya akibat  serangan bertubi Zumi menjamahi tubuhnya itu membuat Icha mulai bereaksi....., lambat laun terdengar desahan dari mulutnya

“ Ohh... Siapa inii hhh... Ohhh...” desah Icha merasakan cumbuan Zumi yang terasa merangsangnya,apalagi  saat t tangan  Zumi sekarang sudah  berada di daerah sensitifnya, Zumi mengelus  selangkangan Icha hingga bulu tengkuknya terasa merinding.
" Iiiihhhh... Jangan sentuuhh.. Oohh.." Rintih Marissa Haque lirih 

Perlahan Marisa Haque mulai membuka  kedua  kelopak  matanya, Saat menyadiri dirinya didapatinya sedang berduaan dan tengah dicumbu  oleh  Zumi  Zola. Icha baru sadar  dari tidurnya,,,,. 
" Hehh... apa apaan ini.. Zumii.. Jangann lakukan..!!!?? Lepaskaaaann Uuhhh.." Ronta Icha lemah

Namun nikmat rangsangan itu terlanjur membuatnya terbuai. Rangsangan itu sudah sampai ke ubun-ubun nya, namun Icha masih berusaha untuk melawannya.

" Zuuumii..hhh... apa yang kamu lakukaann..hhhh... Ouuhh... Ngghh.." Desah Icha

Setelah berapa saat menahan dera kenikmatan yang melandanya,  tiba -tiba kesadaran Marissa Haque timbul, saat merasa Zumi mencoba melepaskan celananya. Di dorongnya tubuh Zumi dan berusaha melepaskan diri dari cumbuan Zumi.

“Astaga Zummii..!!!!, apa yang kamu lakukann??!!  ... , ini ..ini... nggak  pantas  kita  lakukan..!”  kata Icha terbata-bata.


Zumi Zola memang melepas ciumannya di bibir wanita itu, namun kedua  tangannya  kembali menjamahi  tubuh  molek Icha yang tinggi dan padat berisi itu

” OOOOHHH, Hentikaan Zummiii ... Jangannn .. SSShhhh.. Owwhh..!!” desah Marissa Haque 
megap-megap menahan rangsangan yang mejalari sekujur tubuhnya.


“Kenapa nggak pantas mbak Icha? toh aku sama dengan suamimu,  sama-sama  mencintaimu,”  ujar Zumi terdengar seperti desahan sambil terus menjamahi tubuh wanita itu.


“jangan diterusin pak zumi...hhhhh.... pleaseeeeeaseee  Kumohooon hentikaan... .  hhhh..” desah Icha terbata bata mengatur nafas melawan sensasi hebat yang sedang menjalari tubuh dan 
sukma nya. Namun Zumi tetap tak mau beranjak dan menghentikan aksi nya.
Zumi kembali mendaratkan ciuman di tubuh wanita itu. Ia menjilati dan menciumi wajah Icha  lalu 
merembet ke leher dan telinga Icha. Awalnya Icha memang bersikap pasif dan diam sambil terus berusaha menolak setiap rangsangan yang dilakukan Zumi padanya,  namun  perlahan  tapi  pasti Icha merasakan nafsu birahi semakin kuat menguasai akal sehatnya. Dalam fikirannya, Icha harus mengakui, Pria yang sedang menindih tubuhnya itu sangat pandai mengobarkan birahinya. Rangsangan yang diterima Icha bertubi tubi pada lehernya benar-benar  telah  membuatnya  terbakar  dalam   kenikmatan. Bahkan saat becinta dengan suaminya akhir-akhir  ini  Icha  belum  pernah  merasakan  rangsangan seksual sehebat ini.
Zumi Zola sendiri nampaknya juga makin terangsang. Icha dapat merasakan dengusan napas Zumi yang menyapu  leher  nya.  Sementara  Icha  sendiri  semakin  tidak  kuat  untuk  menahan  erangan. Wanita  cantik itu pun mendesis-desis  untuk  menahan  kenikmatan  yang  mulai  membakar kesadaranmya.   Setelah itu tiba-tiba  tangan  Zumi  mulai  membuka  kancing  baju Icha satu persatu. Tak ayal lagi, buah dada Icha yang tidak begitu besar namun masih montok itu terbuka di
depan  Zumi. Saat sadar satu persatu kancing bajunya lepas, secara refleks Icha berusaha berontak.


“Sudah Zummii hh..  Cukuuupp !!!,  Pak Zummiihh....  jangan  sampai kesitu.!!.  
Aku takut...,  Sadarlah ..  Kumohonnhhh.”  Jerit  Marissa  Haque  sambil  meronta  dari  pelukan  Zumi Zola.

“Takut dengan siapa mbak Icha?, toh nggak ada yang tahu kita disini. Percayalah denganku.. biarkan aku menikmati tubuh indahmu malam ini...,”  jawab  Zumi Zola  dengan napas  yang semakin memburu dan terus melanjutkan aktifitasnya.


Seperti tidak perduli dengan protes Icha, Zumi   merenggut baju Icha dan melemparkan nya kebawah ranjang. Setelah itu Zumi kini ganti sibuk melepas BH Icha,  Meskipun wanita itu masih berusaha meronta, namun itu tidak berguna sama sekali. Sebab tubuh Zumi mendekapnya sangat erat.

Kini, dipelukan Zumi, buah dada Icha terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun. Marissa Haque tetap berusaha menutupinya dengan mendekapkan lengan di dadanya, tetapi dengan cepat tangan Zumi memegangi lengan Icha dan merentangkannya kembali.


Setelah itu Zumi merebahkan Icha kembali di tempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Zumi melumat salah satu buah dada wanita itu, sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas buah dada yang lainnya. Bagai seekor singa buas Zumi menjilati dan meremas buah dada Icha yang kenyal dan putih itu.
“ Oooooohhhhhnnggg..hhhh...” teriak Icha melolong kenikmatan. Kini Icha tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeramnya. 
Tubuh indah  Icha menggeliat-geliat  seperti cacing kepanasan  karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Zumi menjilat dan melumat puting susunya.

“Mbaak, da.. dadamu putih dan in.. indah sekali. Aa.. aku makin nggak ta.. tahan.., sayang..,” kata Zumi terputus-putus karena nafsu birahi yang semakin memuncak.
“ Oooohh.. Zummmii ... Owwwwhhh...” hanya rintihan itu yang terdengar dari mulut Icha.

Kemudian Zumi  menciumi perut dan pusar wanita itu. Dengan lidahnya, ia pandai sekali
menggelitik buah dada hingga perutnya. Sekali lagi Icha hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa diduganya, rupanya dengan cepat Zumi sudah melepaskan celana dan berikut celana dalam wanitanya dalam satu tarikan. 
Lagi-lagi Icha berusaha melawan, tetapi apa daya tenaga lelaki itu jelas lebih  unggul  dari tenaga Icha, dengan mudah ia menaklukkan perlawanan Icha.

Marissa Haque hanya bisa pasrah saat Zumi Zola sudah menelanjangi tubuhnya, Icha ngos ngosan mengatur nafas karena kalah adu tenaga dengan Zumi tadi, Icha mulai ketakutan , membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. apalagi melihat tatapan Zumi yang berada dihadapannya , begitu tajam dan buas, bagai serigala yang siap menerkam tubuhnya, Icha pun begidik ngeri membayangkannya

Sekarang tubuh Icha yang montok dan berkulit putih itu benar-benar telanjang total  di hadapan  Zumi. Sungguh, Icha belum pernah sekalipun bertelanjang seperti ini di hadapan lelaki lain, kecuali  di hadapan suaminya. Sebelumnya Icha juga tidak pernah berpikir melakukan perbuatan seperti ini dengan pria yang bukan suaminya.  

Tetapi kini, Zumi Zola sang bupati Jabung Timur  itu telah  berhasil  memperdayainya  untuk bercinta tanpa dapat dicegahnya lagi,  walau sadar bahwa tubuhnya telah berhasil ditelanjangi pria itu, Icha pasrah saja tanpa daya. tenaganya untuk berontak dikalahkan oleh nafsunya yang menggelak

“Zumi, untuk yang satu ini jangan ya..., aku mohon .... aku tidak ingin  merusak keutuhan  perkawinanku..!” pinta Icha sambil meringkuk di atas tempat tidur, untuk melindungi buah dada dan vaginanya yang kini tanpa penutup.

“Mbak Icha sayang,....aku sudah terlanjur terbakar.., aku nggak kuat lagi, sayang... Please, aku.. mohon, sekali ini saja... kita lakukan... aku janji tidak melakukan lagi dan menjaga utuh rahasia kita ini, hanya kita berdua yang tahu... ” kata Zumi menghampiri Icha yang masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.

Marissa Haque menatap pria itu dengan tatapan kosong. Perasaannya bercampur aduk antara tidak 
rela tubuh nya dijamahi pria itu dan rangsangan yang terlanjur timbul dalam fikirannya. 

Marissa masih menggelengkan kepalanya saat Zumi kembali mendekatinya. Dan Entah karena obat
tidur yang bercampur obat perangsang itu atau karena juga sudah terbakar birahi, Icha diam saja 
ketika Zumi kembali menggarap tubuhnya. Bibir dan salah satu tangan sang bupati itu  kembali menggarap kedua buah dada wanita itu, sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan hingga selangkangan kaki Icha. Mata Icha benar-benar merem-melek merasakan kenikmatan itu. 

" Oowwhh... Ngghhh.. Ssshhh" desah Icha Marissa Haque saat Zumi zola kembali mencumbu tubuh nya, lama kelamaan  Icha tidak tahan dan  membiarkan  Zumi terus menjamahi tubuhhya.  Sementara napas Icha juga semakin terengah-engah menahan sensasi yang ditimbulkan Zumi.
Tiba tiba saja Zumi Zola beranjak dan dengan  cepat melepas celana dan celana dalam, sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Hingga kini mereka sama –sama telanjang bulat-bulat. 

“Ya ampun, aku tidak dapat percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar dengan lelaki yang bukan suamiku,” bathin Icha dalam hati ketakutan, dadanya deg deg an melihat tubuh Zumi Zola yang telanjang di hadapannya Tubuh Zumi Zola yang memang atletis. perutnya langsing dan berkotak kotak, ototnya sempurna bahkan lebih tinggi dan pastinya lebih muda  dibanding  Ikang Fauzi suaminya yang sudah berumur.

Tetapi yang membuat dada Icha berdegup lebih keras adalah benda yang berada tepat di tengah di selangkangan Zumi. Benda tumpul berwarna coklat tua itu dan kini tegak mengacung. Panjangnya tidak kurang dari 17 cm, atau hampir dua kali lipat dibanding milik suaminya, sementara besarnya sekitar 2 sampai 3 kali lipatnya.Woooww..Icha hampir tidak percaya ada penis sebesar dan sepanjang
itu. Perasaan Icha bercampur baur antara ngeri, gemas dan penasaran.
Icha pasrah dan diam saat Zumi kembali mendekap tubuh nya. Darah Icha seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Zumi  menempel erat di dadanya.  Ada sensasi hebat  dan hangat yang melandanya,  ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhnya.
“ Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain selain suamiku....” Bathin Icha memejamkan mata menikmati kehangatan cumbuan Zumi yang menciumi sekujur tubuhnya, sementara tangan Zumi  
juga  tidak kenal lelah meremas-remas buah dada Icha yang semakin kenyal.  Saat itu Icha   merasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat itu.  Icha hanya dapat merintih dan mengerang merasakan kenikmatan itu.
Tiba tiba Icha tersentak saat merasakan ada benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginanya. 
Ternyata Zumi nekat memasukkan jari tangannya ke celah vagina Icha. Zumi memutar-mutarkan telunjuknya di dalam lubang vagina wanita itu, sehingga Icha benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang mendera. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks Icha memutar-mutarkan pantatnya. Toh, Icha masih berusaha menolaknya.
“Zummiihh, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup di luaran saja..iiiihhhh...!” pinta Icha memelas menahan rangsangan hebat melanda tubuh.
Tetapi lagi-lagi Zumi tidak menggubrisnya. Ia selanjutnya menelusupkan kepalanya di selangkangan Icha, lalu bibir dan lidahnya btanpa henti melumat habis vagina Icha. 

Tubuh dan jiwa Icha tergetar hebat mendapat rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itutanpa sadar tangan Icha membuka lebar kedua pahanya dan menjambak rambut Zumi yang masih terengah-engah di selangkangannya. Kini Icha benar-benar telah tenggelam dalam birahi.
“ Ooooooohh.. Zuummiii.... Oooooohhh.... Mmmhhh.. Uuugghhh..”  Teriak Icha megap megap  saat   lobang kemaluannya disapu oleh lidah Zumi yang nakal terus menjilati liang senggama wanita itu. 
Sukma Icha serasa lepas dari raga merasakan kenikmatan tiada tara, Icha melepaskan kenikmatan itu dengan berteriak dan merintih dan menyebut nama Zumi Zola.

“ Zuummii..Ooohh... Zummmii..hhh... enaaaaaak Zummm...hhhhhh... terussss... mmmhhh.... oww Uuuhhh..” desahan desahan kenikmatan terus terdengar dari mulut Marissa Haque yang benar benar tenggelam dalam lautan birahi itu.

Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasai Icha, dengan tiba-tiba, Zumi melepaskan tubuh Icha dan berdiri di tepi tempat tidur. Zumi mengocok-ngocok batang penisnya  yang  berukuran luar biasa tersebut.

“Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekarang ganti Mbak Icha yang aktif..!” perintah Zumi Zola.

“Aku .. aku nggak bisa Zumi ...  Lagian aku masih takuut..!”  jawab Icha  yang sudah terangsang  hebat itu dengan malu-malu.
“Oke kalau gitu pegang aja iniku, mbak..!” ujar Zumi sambil menyodorkan batang penis besar itu ke hadapan Icha.
Dengan malu-malu dan ketakutan Marissa Haque memegang batang yang keras dan berotot itu. Dada Icha berdebar-debar dan darahnya terasa berdesir ketika  tangannya  mulai memegang penis Zumi. Sejenak Icha sempat membayangkan,  bagaimana nikmatnya jika  penis yang  besar dan keras itu dimasukkan ke lubang vagina perempuan.
“Besaran mana dengan milik mas Ikang mu..?” goda Zumi.
Icha tidak menjawab walau diam- diam  dalam hatinya mengakui,  penis Zumi jauh lebih besar dan lebih panjang dibanding milik suaminya.


“Jangan ah, .? aku ndak bisa apa-apa  Zumi ,”  kata Icha namun anehnya  tangannya tetap  sambil  menggenggam  batang  penis Zumi.
“Oke, biar gampang, dikocok aja, sayang. Bisakan..?” jawab Zumi lembut.
Dengan dada berdegup kencang, Icha mengocok perlahan-lahan penis yang  besar milik Zumi. Ada sensasi tersendiri yang dirasakan wanita itu ketika mulai mengocok batang dan buah zakar Zumi yang panjang tersebut.tangan Icha hampir tidak cukup menggenggamnya. Icha berharap dengan mengocok penis Zumi, sperma pria itu cepat muncrat, sehingga ia tidak dapat berbuat lebih jauh terhadap dirinya.
Zumi kini telentang di samping wanita itu sambil memejamkan matanya ketika tangan Icha mulai 
naik turun mengocok batang zakarnya. Napasnya mendengus-dengus,  tanda kalau  nafsunya mulai meningkat lagi.Icha sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi dan kekar Zumi di hadapannya 
seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba  Zumi memutar tubuhnya,  dia berada di bawah dan Icha berada diatasnya namun dengan posisi 69 sehingga kepalanya kini tepat berada di selangkangan Icha, sebaliknya kepala Icha juga menghadap tepat di selangkangan Zumi. 
“ Zumi.. aku ndak bisa beginian.....” sahut Icha . 
Padahal sebenarnya mengerti maksud pria itu, namun Icha masih malu untuk melakukannya. Zumi tak menjawab, dan malahan langsung melumat lubang kemaluan Icha. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vagina Icha. Sontak Icha kaget saat lidah Zumi  beroperasi menjilati lobangvagina nya, dan akhirnya Icha tanpa disadari nya memburu penis Zumi dan langsung mengoral penis pria itu dengan mulutnya.
“ Aaahhhh...!!!!” desah Icha mengerang dilanda kenikmatan beruntun, saat merasa sensasi mengulumpenis gede milik Zumi Zola dan secara bersamaan merasakan kenikmatan saat lobang vagina nya di 
oral balik oleh Zumi Zola.
Mereka berdua berkelejotan, napas mereka berdua juga semakin memburu. Icha yang semula malu 
malu sekarang menunjukan sifat asli nya, dengan rakus dia mengoral dan mengemut penis Zumi Zolamaju mudur tanpa canggung lagi, Marissa Haque yang alim berubah menjadi binal dan haus dengan sensasi seksual yang membuatnya terus menuruti hawa nafsunya  yang menggelegak sedari tadi. Rasa jijik dan malu nya telah hilang, bahkan dia begitu bernafsu dan tampak mulai terobsesi pada penis pria yang semula menjebaknya itu. yang ada dalam fikirannya sekarang adalah 
bagaimana dapat mencapai pucak kenikmatan dari sensasi itu walau bukan bersama suami nya.
Setelah beberapa saat mereka saling mengoral kemaluan, Zumi menghentikan  aktifitasnya, lalu dengan cepat  merubah  posisi  dengan  menindih  Icha. Dari  kaca lemari yang terletak  di sebelah tempat tidur,  Icha dapat melihat   tubuh bahenolnya seperti tenggelam di ranjang empuk ketika tubuh Zumi yang kekar mulai menindihnya. Icha deg-degan melihat adegan yang mereka lakukan melalui kaca lemari  itu...................

Tubuhnya yang telanjang digumuli oleh lelaki yang juga sedang telanjang, dan lelaki itu bukan suaminya!!. 
Zumi kembali melumat bibir Icha. Kali ini teramat lembut. Icha bahkan tanpa malu lagi mulai membalas ciumannya. 
“ Zuummiihh.. Mpphh...uuhhhh.....“ Lidahnya dijulurkan untuk menggelitik rongga mulut Zumi Zola yang terpejam merasakan serangan lidah Icha yang tak kalah liar,sementara tangan kekar Zumi masiherat memeluk tubuh Icha, seperti tidak akan dilepaskan lagi.

Bermenit-menit mereka berdua terus berpagutan, berciuman saling memompa birahi masing-masing. Peluh  mengucur deras dan berbaur di tubuh mereka. Dalam posisi itu tiba-tiba Icha merasakan ada benda yang kenyal mengganjal di atas perutnya. 
“Iiihhh,..” Icha mengerang manja, dan semakin terangsang luar biasa ketika disadarinya benda yang
terasa hangat yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Zumi Zola......
Dan Tiba-tiba pula Icha  merasakan batang  zakar Zumi itu mengganjal tepat di depan bibir lubang kemaluannya. Rupanya Zumi nekat berusaha memasukkan batang penisnya ke vagina Icha. 
Icha pun tersentak.
“Zummihh.. Jangan dimasukkaaaaaan..!!! Jangan dimasukkaaaaan..!!!!” rintih Icha sambil tersengal-sengal menahan nikmat. 
Icha sendiri tidak tahu apakah permintaanya itu tulus, sebab di sisi hatinya yang lain sejujurnya dia

juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk ke lubang 
vaginanya.
Namun Zumi tahu itu hanya perkataan di bibir wanita itu saja, padahal lobang kawinnya sudah gatal 
pengen dicoblos.
“Oke.. kalau nggak boleh dimasukkan, kugesek-gesekkan di pinggir bibirnya saja,  yah..?”  jawab Zumi juga terengah-engah.


Tanpa persetujuan Marissa Haque, Zumi kembali memasang ujung penisnya tepat di celah kemaluan Icha. Sungguh Icha merasa deg-degan luar biasa ketika  merasakan kepala penis itu menyentuh bibir vaginanya. 
Namun karena batang zakar Zumi berukuran besar, Zumi sulit memasukannya ke dalam celah bibir vaginanya. Padahal, jika dia bersetubuh dengan suaminya, tidak sesulit ini.
Dengan sedikit dorongan akhirnya ujung kemaluan Zumi berhasil menerobos bibir kemaluan Icha 
yang menggeliat hebat ketika ujung penis besar itu mulai menerobos masuk. 
“ Ugghh.. sakit Zummi..dorong pelan pelann sajaaa..” rintih Marissa Haque. Walaupun mulanya Icha merasa sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tiada tara. 
“ Katanya tadi jangan dimasukin..” goda Zumi melihat wanita itu sudah tak tahan untuk disetubuhi. 
Marissa Haque tak menjawab, hanya bereaksi dengan membimbingnya masuk ke dalam lobang 
kawinnya yang terasa telah berdenyut hebat sedari tadi,  Zumi tersenyum penuh kemenangan, malah dia berlagak seolah tidak mau memasukan penisnya dalam lobang vagina wanita itu, Zumi hanya menggesek - gesekkan kepala kombet nya ke bibir vagina Marissa Haque . Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang Icha rasa benar-benar membuatnya hampir teriak histeris. 
“ UUGHHHHHHHHH,,,,,,,!!!!!!!” jerit Icha tertahan.
Zumi terus menerus memaju-mundurkan batang penisnya sebatas di bibir vagina Icha. Keringat mereka berdua semakin deras mengalir, sementara mulut mereka terus berpagutan.

“Ayoohh.., ngoommoong Saayaang, giimaanna raasaanyaa..?” kata Zumi tersengal-sengal.

“Masukin Zumiiihh.. jangan permainkan sayaaa...!” akhirnya Icha tidak tahan dan merengek agar 
penis Zumi mencoblos lobang kawinnya yang terasa gatal dan siap dimasuki penis Zumi.. 
Kali ini Icha membuka kedua pahanya dan menekan pantat Zumi yang masih menggesekan penisnya pada kemaluannya yang terasa sudah berdenyut-denyut.

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba batang kemaluan  Zumi telah amblas semua ke vagina Icha. "Blesss..,"perlahan tapi pasti batang penis Zumi yang tegak menjulang itu melesak ke dalam lubang 
kemaluan Icha. Vagina Icha terasa penuh sesak oleh batang penis Zumi yang besar itu.
“Zuummiihh..! maassuukiin seemmuaaa..?” jerit Icha sambil memejamkan mata menahan sakit merasakan penis gede itu menerobos belahan vagina nya.
“Iya Saayang. Aku juga nggak tahhann..!” ujar Zumi memejamkan mata menikmati kedutan dinding
vagina wanita itu mencengkram penisnya dari dalam. Zumi sengaja membiarkan penisnya didalam guna menikmati sensasi itu sambil terus menekan pantatnya guna ke lobang kawin Icha lebih dalam lagi
Batang penis itu amblas semua di vagina Icha, yang hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan. Sementara karena tubuhnya yang berat, batang penis Zumi semakin tertekan ke dalam vagina Icha dan melesak hingga ke dasar rongga vaginanya. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar Zumi menggesek-gesek dinding vaginanya Icha.

" OOHHH.. UUUMMMPPHHHH... OWWWHHH... YEAAAHH..!!!!"
Tanpa sadar Icha yang sudah terangsang hebat pun mengimbangi sodokan Zumi dengan menggoyangkan pantatnya. Melihat itu Zumi pun mulai menggenjot vagina wanita itu maju mudur, Tubuh Icha yang tinggi, padat dan sekal itu seperti timbul-tenggelam di atas kasur busa ditindih oleh tubuh Zumi. Semakin lama, genjotan Zumi semakin cepat dan keras, 
Sehingga membuat badan Icha tersentak dengan hebat. 

“Clep.., clep.., clep.., clep.., begitulah bunyi batang zakar Zumi yang terus memompa selangkangan dan lobang kawin  Icha, yang pasrah total diperlakukan demikian.
“Teerruss Zummiihh Owhh..! Oowwhh....Aakuu.. nddaakk.. Ohh ..!” erang Icha berulang-ulang.

Sungguh sebuah permainan seks yang nikmat. Icha sendiri sudah tidak berpikir lagi tentang kesetiaanterhadap suaminya. Zumi Zola benar-benar telah  menenggelamkannya  dalam  gelombang kenikmatan.
Tidak berapa lama kemudian, Icha merasakan rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Badannya menggelepar-gelepar di bawah  gencetan tubuh Zumi. 

Seketika itu seperti tidak disadarinya,Icha mencium lebih berani bibir Zumi dan memeluknya erat-erat.
“Owwhhh.. aakkuu.. haampiirr.. mauu keluaaarrr Owwwwhhhhhhhh..!” desah Icha ketika gelombang kenikmatan hampir melandanya.

Zumi tahu Icha hampir orgasme, diapun semakin kencang menghunjam-hunjamkan  batang kejantanannya ke selangkangan Icha. Saat itu tubuh Icha makin meronta-ronta  di bawah  dekapan Zumi yang sangat kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian Icha benar-benar mencapai klimaks!

“Kaalauu.. mau orrgassme.. ngoommoong.. Saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaass..!” desah

 Zumi disela genjotannya memborbardir lobang kawin Marisa haque
“Oohhh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaaaaks.. iiihhhhhhhh..!” jawab Icha.
Seketika dengan refleks tangan kanan Icha menjambak rambut Zumi, sedangkan tangan kiri Icha memeluk Zumi erat-erat.  Pantat Icha dinaikkannya ke atas agar batang kemaluan Zumi dapat menancap sedalam-dalamnya.
Setelah kenikmatan puncak itu, tubuh mereka berdua melemas dengan sendirinya. Zumi juga menghentikan genjotannya.
“Aku belum keluar, Mbak Icha Sayang. Tahan sebentar, ya..! Aku terusin dulu,” ujar Zumi lembut 

sambil mencium pipi Icha.
Icha hanya mengangguk pelan, tubuhnya terasa lemah lunglai merasakan kenikmatan yang luar biasa bercinta dengan Zumi Zola, sang bupati yang ganteng dan perkasa,
Meskipun Icha rasakan sedikit ngilu, ia biarkan Zumi memompa terus lubang vaginanya. Karena 
lelah, Icha pasif saja ketika Zumi masih terus menggumulinya. Tanpa perlawanan, kini Icha benar-benar tenggelam digumuli Zumi...
“. Clep.. clep.. clep.. clep.” Bunyi sodokan penis Zumi kedalam Vagina Icha, yang melirik  ke bawah melihat kemaluannya tengah dihajar batang kejantanan Zumi.
“ Gila,batang zakar panjang seperti itu ternyata nikmatnya tidak terkira.”  Bathin Icha 
Zumi semakin lama semakin kencang memompakan penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dada Icha. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu tiba-tiba nafsu Icha bangkit kembali. Merasakan kenikmatan merambat lagi dari selangkangannya yang dipompa Zumi. Maka Icha balik membalas ciuman Zumi, sementara pantatnya kembali diputar-putarnya mengimbangi genjotan penis Zumi yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluannya.
“Ohh,,, enak banget bercinta denganmu Mbaakk.. Ohh... Kaamuu ingiin.. lagii.. Mbakk..?” tanya Zumi.
“Eehh..” hanya itu jawab Icha.

Kini mereka kembali menggelepar gelepar bersama.  Sama sama  berpacu  menggapai  indahnya orgasme .
Tiba - tiba Zumi bergulung,  sehingga posisinya kini berbalik,  Icha menjadi di atas,  sementara Zumi berada di bawah.
“Ayoohh gaannttiian..! Mbaakk Icha yang di atass..yaaa!” kata Zumi.


Dengan posisi di atas tubuh Zumi, pantat Icha  diputar-putarnya, maju-mundur, kiri-kanan, seolah mengocok batang penis Zumi  yang masih mengacung di lubang vaginanya. 
Dengan rona malu-malu Icha  juga ganti  menjilat leher dan  puting Zumi, yang  telentang di bawahnya, hanya dapat merem-melek karena kenikmatan yang dirasanya.

“Uuh.., enakkk...  sayaaangg ....kamu biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisaa..,” ujar Zumi 
sambil balas mencium dada Icha dan meremas-remas buah dadanya.
Hanya selang lima menit Icha berada di atas, lagi-lagi Icha merasakan kenikmatan  luar biasa  datang menderanya. Icha pun semakin kuat menghunjam-hunjamkan vaginanya ke batang  penis Zumi. Icha pun semakin erat mendekap Zumi dan  semakin liar membalas kuluman Zumi.
“Zummiiiii. aakuu.. haampiir.. orgasmee.. laggii.. Oowwhh..!”racau Icha terengah - engah  merasakan  indahnya orgasme kedua kalinya, Zumi langsung bergulung membalikan tubuh Icha kembali  kebawah, Dengan napas yang terengah-engah,

 Zumi yang telah berada di atas  semakin cepat memompa selangkangan Icha. Tak ayal lagi, rasa   nikmat tiada tara terasa di sekujur tubuh wanita itu. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan   berkumpul ke selangkangannya. Icha memeluk Zumi sekuat tenaga, sementara napasnya semakin tidak menentu.
“Kalauu maau orgasmee ngomong Sayang, biaar saya leepass..!” desah Zumi.

Karena tidak kuat lagi menahan nikmat, Icha pun mengerang keras.

“Teruss.., teruss.., akuu.. orgasmee Zumiii Ooooooooooooooowwh ..!” desah Icha melepaskan semua kenikmatan yang sedarit adi mendera bathinnya,  tubuhnya terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Zumi.
Belum reda kenikmatan klimaks yang Icha rasakan, tiba-tiba Zumi mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekap Icha erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangnya. Zumi benar-benar membuat wanita  itu  tidak dapat bergerak. Napasnya terus memburu. Genjotannya di vagina Icha juga semakin cepat. Kemudian tubuh Zumi pun bergetar hebat.
“Mbak Ichaaaaa.., akuu.. maauu.. keluuarr Ooogghh Mbaakk Ichaaaaa..!” erang Zumi tidak tertahan kan.

Melihat Zumi yang hampir keluar, pantat Icha diputar-putarkannya dengan cepat.dan tak beraturan Icha semakin erat memeluk pria itu. 
:"Crot.. croot.. croot..! Sperma Zumi terasa sangat deras muncrat dalam lobang vagina Icha!!! Zumi memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar benar menancap sedalam-dalamnya di lubang kemaluan Icha. 

" AWWWWW..HHHHHHH..OUUUHHH..." desah Icha kuat menikmati hangatnya sprema Zumi menyiram lobang kawinnya. Matanya terpejam dan wanita itu menggigiti bibirnya pertanda merasakan perasaan puas tidak kentara dari permainan cinta ini

Icha  memejamkan mata menikmati hangatnya cairan sperma yang mengucur dari penis Zumi dalam lobang vaginanya.
Sperma Zumi ternyata luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang vagina Icha terasa basah kuyup Bahkan karena saking banyaknya, sperma Zumi belepotan hingga ke bibir vagina dan pahanya. 
Selang berapa menit berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.
Untuk beberapa saat Zumi masih menindih Icha, keringat mereka pun masih bercucuran. Setelah itu Zumi berguling di samping Icha yang termenung menatap langit-langit kamar. Begitupun dengan Zumi.  Ada sesal yang mengendap dalam hati Icha,  kenapa harus menodai kesetiaaan terhadap perkawinannya yang awet selama 25 tahun, pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaan Icha.
“Maafkan aku atas semua ini mbak Icha.  Aku telah khilaf  dengan memaksamu  melakukan  perbuatan  ini,,,,”  ujar Zumi lirih.
Icha tidak menjawab. mereka berdua kembali termenung dalam alam pikiran masing-masing. Bermenit-menit kemudian tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua.
Rasa lelah, penat bercampur penyesalan berkecamuk di bathin Marissa Haque membuatnya hanya menitikan air mata. Zumi mendekap Icha mencium pipi wanita itu, 
“istirahat lah mbak Icha, “ ujar Zumi sambil kembali mengecup kening Icha.
Lelah memikirkan apa yang telah dan akan terjadi, Marissa Haque pun tertidur. Bathinnya lelah, fikirannya bercampur aduk antara kesal, marah. Namun ada hal yang tidak dapat dipungkirinya, yaitu dia begitu menikmati apa yang terjadi barusan. Antara dia dan Zumi Zola, pria yang menjebaknya dan membuatnya menggelepar merasakan kenikmatan bercinta yang dahsyat. 
Zumi membiarkan wanita itu tertidur pulas, Zumi pelan pelan bangun  dan bagkit dari atas ranjang, meninggalkan Icha yang tertidur. 
Zumi berjalan ke arah meja, dan mengambil kamera, yang tanpa disadari Icha merekam adegan percintaan mereka berdua.
Zumi tersenyum puas dan mengambil memory card kamera itu dan mengamankannya. Zumi menatapke arah wanita cantik yang tidur pulas di ranjang itu. Sejuta rencana berada di kepalanya. 
Dia ingin kembali bercinta dan menikmati tubuh wanita cantik yang bernama Marissa Haque itu. Copyan adegan ranjang mereka akan menjadi senjata  baginya. Agar Marissa Haque menuruti permintaa
nya.











Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Posting Komentar