Tuti Khairani Harahap S.Sos M.Si,Itu nama lengkap berikut gelar akademisnya. Dia seorang perempuan berdarah tapanuli selatan yang mempunyai tubuh yang sintal dan montok. Ke sintalan tubuhnya, walau selalu tertutup balutan busana yang tertutup itu bagai memiliki daya tarik tersendiri, Menggoda setiap pria, mulai dari rekan rekan nya sesama dosen atau bahkan para mahasiswa.
Namun sikap do’i jauh dari kesan ramah bahkan terkesan angkuh saat berbicara, Kalau mendengar cara bicaranya, do’i terkesan merasa paling pintar, walau memang di usianya yang baru 30 tahun sudah meraih gelar magister alias S2.
Sebenarnya sudah banyak lelaki yang mencoba mendekatinya, Terutama dosen-dosen yang masih lajang, Namun sepertinya Buk Tuti memiliki kriteria sendiri dan terkesan susah untuk didekati. Entah pria yang bagaimana yang diidamkannya sebagai pendamping hidupnya, Padahal dengan usia nya yang melewati kepala tiga itu do’i masih belum juga terfikir untuk menikah.
Bahkan sepertinya dia tidak memberi kesempatan pria pria itu mendekatinya. Do’i selalu sibuk dan larut dengan kesibukanya mengajar dan belajar. Membuat dosen-dosen pria sebayanya malas mendekatinya dan bahkan ada yang frustasi karena dosen cantik yang sarat gelar akademik itu amat susah ditakluk kan.
Sebenarnya sudah banyak lelaki yang mencoba mendekatinya, Terutama dosen-dosen yang masih lajang, Namun sepertinya Buk Tuti memiliki kriteria sendiri dan terkesan susah untuk didekati. Entah pria yang bagaimana yang diidamkannya sebagai pendamping hidupnya, Padahal dengan usia nya yang melewati kepala tiga itu do’i masih belum juga terfikir untuk menikah.
Bahkan sepertinya dia tidak memberi kesempatan pria pria itu mendekatinya. Do’i selalu sibuk dan larut dengan kesibukanya mengajar dan belajar. Membuat dosen-dosen pria sebayanya malas mendekatinya dan bahkan ada yang frustasi karena dosen cantik yang sarat gelar akademik itu amat susah ditakluk kan.
Sikap nya jutek dan merasa pintar ini berlanjut saat do’i memberi perkuliahan. kalau do’i yang memberi materi perkuliahan, banyak mahasiswa baik lelaki maupun wanita yang pada sakit hati mendegarkata-kata judes dan cenderung kasar dan merendahkan kami, para mahasiswa.
Kata kata remehan acapkali meluncur seperti tidak berbandrol dari bibir mungilnya. Seolah tidak memikirkan apa yang dia ucapkan itu akan membuat para mahasiswa dan mahasiswi tersinggung dan jika ada mahasiswa yang mengritik atau meluruskan pendapatnya, do’i langsung memasang wajah tidak senang dan mahasiswa itu akan terus jadi sasaran cibiran nya.
Kata kata remehan acapkali meluncur seperti tidak berbandrol dari bibir mungilnya. Seolah tidak memikirkan apa yang dia ucapkan itu akan membuat para mahasiswa dan mahasiswi tersinggung dan jika ada mahasiswa yang mengritik atau meluruskan pendapatnya, do’i langsung memasang wajah tidak senang dan mahasiswa itu akan terus jadi sasaran cibiran nya.
Secara fisik do’i sebenarnya berparas cantik namun dibalik kecantikan itu tersimpan aura jutek dan angkuh.Jika digambarkan kira-kira wajahnya mirip artis sinetron Prisa Nasution , yang sama sama berdarah tapanuli.
Ciri-ciri fisik do’i dapat digambarkan sebagai berikut : tubuh nya sekal padat dengan tinggi kira-kira 158 cm. Wajahnya bulat, tatapan matanya tajam , Do'i selalu mengenakan jilbab dengan ekspresi wajah angkuh yang akan selalu terpasang pada wajahnya setiap hari.
Bibirnya mungil dan merah merekah. Giginya rata dan kecil-kecil. Kulitnya putih bersih dan halus.( bisa dilihat dari wajah,tapak tangannya, bagian tubuhnya yang terbuka).
Walau wajahya tergolong sedang, namun kalo bicara masalah body, do’i bisa dibilang amat montok dan sexy , terutama pada bagian ( wooww ).... pinggulnya yang bulat serta sepasang pantat
yang montok, kencang dan bisa dibilang bahenol..!!apalagi jika do’i memakai sepatu hak tinggi alias highel.
Pantatnya yang bulat padat itu menungging indah melengak lenggok saat do’i sedang berjalan. Walau selalu megenakan pakaian serba tetutup, namun tak dapat menyembunyikan lekukan tubuhnya yang padat dan montok. membuat setiap lelaki menahan ludah bila berdekatan dan berpapasan dengan do’i. Apalagi saat memperhatikan doi saat berjalan dari belakang.. hmmmm...
Di kampus kami do’i terkenal sebagai dosen yang killer walau statusnya hanya sebagai asisten dosenSetiap orang yang tidak disukainya harus puas menerina nilai E alias tidak lulus. Karena sikap do’i yang otoriter dan terkesan arogan itu membuat sebagian mahasiswa yang bandel, terutama pria, seperti aku jadi terancam untuk mengulang mata kuliah yang diajarnya karena aku dan teman-temanku yang sama sama mengambil mata kuliah buk tuti masuk kelas tidak beraturan. Kadang terlambat setengah jam, hingga buk tuti sering menatap ku dengan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.
Walau do’i selalu mengenakan pakaian tertutup dari kepala hingga ujung kaki, namun tetap tidak dapat menyembunyikan keindahan tubuh do’i yang padat menggoda itu. Hal ini dikarenakan doi selalu
mengenakan pakaian yang ketat alias nge press hingga memperjelas setiap bentuk dan lekukan tubuhnya yang padat berisi.
Kisah ini dimulai saat aku terlambat masuk mata kuliah yang dipegang do’i. Sebelumnya aku dan teman-temanku yang terkenal sebagai biang onar di kampus kami sedang mabuk-mabukan di kantin belakang. Ya, aku dan geng ku terkenal sebagai macan kampus di universitasku. Karena kami adalah para mahasiwa lama yang sering mengulang mata kuliah. Setelah puas ketawa-ketawa aku teringat bahwa hari ada perkuliahan.
“ weitss... bro, gua lupa mau masuk mata kuliah ekologi.. shit,,, udah dua empat kali pertemuan gua gak pernah masuk.. “ ujarku menepuk jidat sendiri.
“ jam brapa ini bro...? Udah pada masuk dari tadi tuh...” ujar temanku.
“ gua masuk aja ah.... Cuma bikin absen doang kok... sambil cuci mata.. liat dosen nya yang bohay itu kabar kabar nya... abis tu gua kesini lagi.. okey? “ bujukku pada mereka.
“alasan lu.. bilang aja mau tongkoring Buk Tuti.. parah lo... terserah lo dah... kami nunggu disini ya.. jangan lama-lama brot... kalo gak kami habisin ni ... gimana..? “ ejek salah seorang temanku lagi.
“ iya broo... tenang.. just ten minute...” ujarku berdiri dan berjalan menuju kelas yang tak jauh dari kantin. Dengan mata merah dan sisa mabuk aku menuju ke ruang kuliahku aku memasuki ruang kuliah dengan santai.
Saat itulah Buk Tuti Khairani, dosen mata kuliah Ekologi sedang berdiri di depan kelas dengan posisimembelakangiku. Sedikit iseng aku melirik pantat montok dosen itu,... wowww... terlihat garis celana dalamnya dari balik celana dasarnya yang bewarna hijau tua. Warna yang sama dengan blazer kerjanya . otak ku mulai ngeres , dan spontan darah lelaki ku berdesir karena dosen montok ini cukup sering membuat berfantasi untuk menidurinya
Aku menuju bangku yang kosong, yakni barisan paling belakang. terlihat Buk Tuti menatap ku tajam dengan raut wajah tidak senang. Namun karena mungkin sudah kesal dan geram, do’i tidak memperdulikan aku dan melanjutkan perkuliahan. Dengan pengaruh ganja yang masih terasa, aku hanya melongo menatap do’i memberikan perkuliahan , fantasi jorok ku mulai bekerja, melihat wajah, body dan parasnya Otakku langsung ngeres. Saat itu aku berhalusinasi bagaimana seandainya jika tubuh montok dan semok itu dapat kujamahi dan kutelanjangi.. Pasti seru..!! Penasaran rasanya melihat bagaimana tubuh montok itu ditelanjangi.
Setan dalam otak ku langsung berbisik, bagaimana jika dosen itu dapat kuperdaya, disekap dan diperkosa, seperti dalam film2 semi blue yang sering kutonton,
Semakin aku menghayal, semakin bulat tekad ku ingin memperdaya dosen itu!... harus bisa... sepanjang perkuliahan aku menatapnya dalam dalam. otak ku berfikir dan berkhayal bagaimana caranya hariini aku dapat menjebaknya.
Do’i tidak sadar terus aku perhatikan. Sampai perkuliahan selesai. Saat itu aku sudah memikirkan rencana tersebut. Segera aku tinggalkan kelas dan menuju ke kantin tempat semula dan bersiap menjalankan rencana yang tersusun rapi dalam otak ku......
Parkiran kampus..... aku berada di dalam mobil, mengawasi orang orang yang akan naik bus kampus.tekad ku sudah bulat, seperti yang aku rencanakan... yaitu menculik Tuti Khairani sepulang dia dari kampus.
Dibalik kaca film yang tak terlihat dari luar, kulihat Buk Tuti melangkah menuju halte bus yang berada tak jauh dari tempat parkiran mobil. Segera aku turun dari mobil dan berlari menghampiri do’i,
“ Buk.. Buk Tuti ..tunggu..!!” ujarku menghampirinya. Tampak Buk Tuti berhenti dan menoleh padaku yang berlari kecil menyusul dibelakangnya
“ ada apa ? “ ujarnya dengan nada ketus dan memadang penuh selidik
“ ibuk mau pulang ya.. bareng saya aja .. “ ujarku padanya
“ gak usah, saya pulang sendiri... makasih....” ujar doi ketus dan segera berlalu dihadapanku.
“ Buk.. Buk Tuti ..tunggu..!!” ujarku menghampirinya. Tampak Buk Tuti berhenti dan menoleh padaku yang berlari kecil menyusul dibelakangnya
“ ada apa ? “ ujarnya dengan nada ketus dan memadang penuh selidik
“ ibuk mau pulang ya.. bareng saya aja .. “ ujarku padanya
“ gak usah, saya pulang sendiri... makasih....” ujar doi ketus dan segera berlalu dihadapanku.
Aku tak putus asa, kali ini dengan berani kuhadang saja langkahnya.
“ kita kan satu tujuan Buk, Ibuk ke daerah gobah kan? kita barengan aja, naik mobil saya .. daripada ibuk nunggu bus kampus, lama kan.. kan harus nunggu terisi penuh dulu baru bus nya bisa berangkat “ bujukku kembali, berusaha bersikap sesopan mungkin untuk meyakinkanya.
“ kita kan satu tujuan Buk, Ibuk ke daerah gobah kan? kita barengan aja, naik mobil saya .. daripada ibuk nunggu bus kampus, lama kan.. kan harus nunggu terisi penuh dulu baru bus nya bisa berangkat “ bujukku kembali, berusaha bersikap sesopan mungkin untuk meyakinkanya.
“ tumben kamu baik dan ramah.. kamu Brian kan ?, mahasiswa semeseter 6 yang sering terlambat masuk itu..?” ujarnya penuh selidik lagi
Aku menangguk, ternyata dosen ini mengingat diriku, namu aku langsung memutar akal,
“ lagian gini buk... saya kan sering tertinggal mata kuliah ibuk... saya mau mengejar ketertinggalan saya.... ibuk mau kan? “ ujarku berusaha meyakinkannya.
“ saya mau berubah buk... biar nggak ngulang-ngulang mata kuliah terus.. kan capek juga buk.. harus nunggu tahun besok lagi” tambahku.
“ Tumben tumbenan .. yakin kamu?" Ujarnya penuh selidik menatapku tajam.
" Yakin lah buk.. Saya ini memang mau berubah buk.." Ujarku .
" ..hmmm... baiklah.. saya hargai tawaran kamu... “ ujar Buk Tuti mangut mangut.
“ iya buk... kalo nunggu bus pasti nunggu penumpang penuh baru berangkat... “ ujarku meyakinkan nya.
“ hm... Iya deh... Dimana mobil kamu ?” ujarnya setuju dengan tawaranku. Agaknya dia memang malas naik bus kampus yang penuh dengan sesak mahasiswa itu.
“I’ve got her..” bathinku. Tak berlama-lama aku mengajaknya menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari sana. Kubukakan pintu untuk do’i dan mempersilahkannya duduk dibangku depan.
“ makasih... ‘ kata do”i memberiku senyuman manis dari mulut mungilnya.... sesuatu yang langka...
Perlahan kujalankan mobil keluar dari pekarangan kampus.
Diperjalanan aku sengaja mencari rute jalan memotong, yaitu lewat pintu belakang kampus. tempat yang cukup sepi dilalui kendaraan, dengan alasan menghindari macet. Do’i percaya saja dan terlihat tidak mencurigaiku. Sesampai di jalan yang di kelilingi banyak batang pohon akasia, dan tidak terlihat ada kendaraan melintas, aku mencoba menawarkan minuman kaleng, yang didalamnya telah kumasukan obat perangsang dengan cara memasukan cairan itu melalui jarum suntik dibagian tas kaleng,
Diperjalanan aku sengaja mencari rute jalan memotong, yaitu lewat pintu belakang kampus. tempat yang cukup sepi dilalui kendaraan, dengan alasan menghindari macet. Do’i percaya saja dan terlihat tidak mencurigaiku. Sesampai di jalan yang di kelilingi banyak batang pohon akasia, dan tidak terlihat ada kendaraan melintas, aku mencoba menawarkan minuman kaleng, yang didalamnya telah kumasukan obat perangsang dengan cara memasukan cairan itu melalui jarum suntik dibagian tas kaleng,
“ Ibu mau minum? “ kataku sambil menyodorkan minuman kaleng yang terletak di dashboard mobil padanya.
“ boleh, terimkasih ya Brian...” ujarnya menerima minuman kaleng yang aku sodorkan.
Dari sudut mata, kuperhatikan moment yang mendebarkan itu, Buk Tuti mulai membuka minuman kaleng itu, namun dia belum meminumnya.
“ saya minum ya Brian..” ujarnya yang langsung kubalas dengan anggukan.
Terlihat Buk Tuti mulai menempelkan bibirnya ke ujung atas kaleng minuman itu, dan menegaknya. Cukup banyak kurasa, aku berusah bersikap setengang mungkin walau dadaku deg-degan.
Tak lama kemudian Buk Tuti terlihat selesai meminum minuman itu, sisanya dia letakan di bawah handle pintu. Mulanya ekspresi nya biasa saja. Aku mencoba mengajaknya bicara,
“ biasanya pulang ke rumah dijemput siapa bu” tanyaku,
“ naik bus..” ujarnya pendek,
Aku mengontrol kecepatan mobil di 20 km, untunglah jalan itu kondisinya tidak terlalu bagus jadi Buk Tuti tidak curiga padaku yang membawa mobil dengan pelan.
Terlihat buk tuti mulai menguap beberapa kali.
“ AC nya terlalu dingin ya buk... “ pancing ku.
“ iya nih, mata saya jadi cepat mengantuk dibuatnya” ujarnya sambil kembali menguap
“ kecilkan aja AC nya Brian...” ujar Buk Tuti
“ ini udah yang paling kecil buk, mungkin ibuk kecape’an mengajar di kelas, kalau Ibuk mau tidur, tidur aja..” pancingku
“ ah, nggak lah Brian.. kalau saya tidur emang kamu tau rumah saya..” ujarnya, keliatannya dia masih sadar. Namun suaranya sudah mulai melemah dan matanya sudah mulai terlihat sayu.
aku yakin Buk Tuti sudah hampir tidak sadarkan diri, akibat reaksi obat perangsang itu. Aku pun mulai melajukan mobil dengan kecepatan normal., hingga sampai di ujung jalan dan bertemu aspal, aku mulai memacu mobil dengan kecepatan 40 km.
“ pelan-pelan aja Brian..hoammm.. kok kepala saya berat ya... “ ujar Buk Tuti.
Mendengar itu aku menyalakan tape, kupilih lagu instrumen, yang akan membuat do’i makin terlelap. Ternyata benar, do’i mulai terhanyut mendengar alunan musik instrumentalia saxophone itu.
Aku mencoba mengetest sejauh mana tingkat kesadarannya,
“buk, bisa tolong pasang safety beltnya..? kita memasuki keramaian, takutnya nanti dilihat polisi ” ujarku
Buk Tuti hanya diam, matanya belum tertutup, tapi setengah terpejam. Aku mengetest lagi dengan menyentuh bagian pahanya, kuusap beberapa kali lututnya yang terbalut celana panjang katun itu, terlihat dia tersentak sebentar.
“ kenapa Brian...?” ujarnya dengan suara berat.
“ maaf buk, tolong dipasang safety belt nya nanti kita bisa kena tilang” ujarku mengingatkan.
“ oh.. pasang safety belt..” ujarnya. Dengan malas-malas do’i mencari tali safety belt yang terletak disebelahnya. Setelah bertemu, do’i terlihat kesulitan memasangnya.
Melihat itu aku mencoba mengambil kesempatan,
Melihat itu aku mencoba mengambil kesempatan,
“ susah masang nya ya buk... saya bantu boleh..” ujarku.
´iya nih, susah memasangnya Brian... bantu dong..”ujar Buk Tuti masih terlihat malas malasan
Kuraih tali safety belt dan saat membantu memasang pada tempatnya sengaja kuremas tangannya dan secepat kilat setelah terpasang kuelus lagi pahanya
“ Heii ... apa-apaan sih kamu Briann..??!! ” ujarnya risih dan memelototiku. Suaranya terdengar sedikit parau dan lemah
Saat itu mobil yang kukendarai sudah hampir sampai ke rumahku yang kosong.
“ kenapa buk..?” ujarku pura-pura bodoh
“ Kenapa kamu tadi pegang pegang paha saya..?? jangan macam-macam ya sama saya.. ” ujarnya sedikit marah.
Ternyata alam sadar do'I masih bekerja. Walau matanya sudah sayu menahan beban kantuk
" Sorry, nggak sengaja buk... “ ujarku sekenanya. Sementara Mobil sudah sampai didepan pagar rumahku.
“ buk, tunggu sebentar di mobil ya.. ada yang mau saya ambil dirumah saya sebentar” ujarku.
“ Loh, kok kita bisa kesini Brian... ?? antar saya pulang ah.. “ ujarnya menolak
“ Cuma sebentar buk, ini rumah saya... Ibuk tunggu aja dimobil, biar saya aja yang masuk.. sebentaar aja.. ya..” ujarku meyakinkannya
“ Tapi jangan lama-lama kamu ya..” ujarnya ketus.
Aku pun keluar dari mobil, setelah memastikan buk tuti mengenakan safety belt, tanpa disadarinya dengan keadaanya yang setengah sadar itu, sulit baginya untuk membuka ikatan safety belt yang menahan tubuhnya.
Aku lalu membuka pagar, lebar-lebar. Berikut membuka garasi mobil. Rumah ini adalah pemberian orang tuaku. Untuk tempat tinggal aku yang kuliah jauh dari kedua orang tua.
Setelah beberapa saat aku kembali ke mobil, kudapati Buk Tuti tengah tertidur. Aku masuk kedalam mobil dan perlahan kumasukan mobil kedalam rumah hingga masuk ke garasi.
Setelah itu aku keluar dari mobil dan menutup pagar berikut pintu garasi, hingga keadaan di garasi
menjadi gelap. Lalu aku bergegas membuka pintu samping rumah, yang terhubung dengan garasi.
Setelah pintu rumah terbuka, aku membuka pintu mobil depan, tempat Buk Tuti berada, tampak Buk
Tuti membuka matanya, wajahnya tampak ketakutan melihatku yang datang menghampirinya, mungkin do’i terbangun karena suara saat aku menutup pagar dan garasi, hingga do'i terbangun
“ Briann.. Apa apaan ini ...? Katanya cuma sebentar..? kenapa kamu bawa aku kesini... ??” Wajahnya terlihat cemas, masih dengan posisi terpasang safety belt.
Aku menyeringai, kutatap lekat lekat dosen montok itu, sekarang berada di cengkaramanku. Siap untuk melampiaskan nafsuku yang menggelegak ke ubun ubun sedari tadi.
Aku mendekat dan melepaskan safety beltnya, Buk Tuti kaget karena aku tiba-tiba aku mengampirinya dengan cepat.
“ Hei.. Mau kamu apa sih..?? “ ujarnya mendelik ketakutan. Namun aku hanya berusaha membuka safety belt dan setelah terlepas aku menggendong tubuh Buk Tuti dengan paksa mengeluarkannya dari mobil.
“ lepasin iihh.. Briannn !!!, lepaskannhh!!!, jangan kurang ajar kamuu... Briann..iihh tolooongg...!! ”Teriak Buk Tuti berusaha meronta lemah, tangannya berusaha memukulku.
Terjadi pergulatan sebentar, namun dengan tenagaku aku berhasil mengeluarkan nya dari mobil lalu memapah tubuh montoknya yang lemah itu kedalam rumah.
Karena kondisinya yang setengah sadar itu, buk tuti tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti terhadap perlakuanku. Walau terus meronta dan mencoba melepaskan diri, Aku terus memapah Buk Tuti dengan sedikit paksaan hingga sampai keruang tengah, suara jeritan minta tolong Buk Tuti yang lema membuatnya makin tidak berdaya.
Diruangan tengah, didepan TV, aku menghempaskan Buk Tuti diatas permadani. Raut ketakuan dari wajahnya bukan membuat ku kasihan, tapi makin membuatku bernafsu untuk menjamahi setiap lekuk tubuh montoknya itu.
“ toloong... apa yang kamu inginkan Brian.... Saya mau pulang Briann,,, lepaskan saya,,,” ujarnya terisak, air mata ketakutan terpancar dari wajah nya yang menggairahkan.
“ He he .... Pulang? Nanti kuantar pulang..., tapi sebelumnya mari kita bersenang-senang sejenak sayanggg..” ujarku memelototinya. Buk tuti makin ketakutan, kulihat dia coba menghindar ke sudut dinding. Wajahnya tampak panik.
Rumahku cukup besar, jadi suara rontaan buk tuti yang lemah, dalam kondisi seperti itu tidak akan terdengar oleh para tetangga.
Aku mulai membuka baju kaosku, berikut celana jeansku, hingga aku hanya mengenakan underwear saja. Buk Tuti makin ketakutan saat aku mulai mendekatinya,
“ Gila kamu Brian... Mau apa kamau haa...???!!.. jangan macam-macam ya !!!.. jangaann... Kamu mau perkosa saya Briannn.??? . tolongg...oohhh..!! ” jeritnya. Aku tak peduli dan lalu menyeret kaki Buk Tuti mendekat kearahku. Tubuhnya pun terseret. Kondisi nya yang sudah terkena obat perangsang itu melemahkan tenaganya. Hingga dengan mudah sekarang dia berada dibawah ku.
Sekarang posisi ku berada diatas nya , Kedua tangannya aku silangkan kan dan kutahan satu-satu dengan tanganku. Kemudian aku mulai menindih Buk Tuti yang masih berpakaian lengkap itu, aku memburu wajahnya dengan ciuman. Hingga buk tuti meronta-ronta
“ Jangaaan.... !!! tolongg.. !!! lepasssskann,,,.... akuuu!!! Ooooohh .. kamu gilaaa Briaaannn brengsekk.. Kamuuu.. Hhhh.. !!!” ujarnya. Buk Tuti terengah engah, berusaha memalingkan wajahnya dari tatapanku, namun ini makin menguntungkanku, aku menjadi lebih leluasa menciumi pipi dan wajah cantiknya.
“ hahahahha... nikmati aja cantiikk,,,, pasrah aja kenapa..??” sahutku makin beringas menciumi pipi dan sekarang memburu bibirnya. Setelah dapat dengan cekatan kuciumi bibir mungilnya
“ Ohh,mmphhh,, mmhh,,,sssshh” bunyi bibirnya yang kuciumi. Aku terus mengulum bibir mungil itu, nafas Buk Tuti terdengar turun naik, saat kulumat bibirnya. Aku terus menggelitik rongga atas mulutnya dengan lidahku, hinggga Buk Tuti sulit bernafas. Kemana bibir nya lari terus kukejar, hingga lama kelamaan Buk Tuti membiarkan saja perlakuanku. Malahan sekarang do’i mulai membalas pagutan bibirku, hingga kami melakukan frech kiss yang hot, sekarang yang terengar hanya desahan nafasnya yang memacu.
Melihat do’i sudah pasrah aku pun makin gila memburu bibirnya, hanya aroma hangat nafasnya yang tak beraturan kudengar,
“Mpphh.. mmhh.. Ssshhh... uhh.. “ kurasa do’i sudah mulai terangsang akibat ciumanku. Setelah puas menciuminya, tanganku mulai ku arahkan di payudaranya yang masih ranum dan tertutup busana. Kuraba tonjolan itu dengan lembut dan Buk Tuti hanya bisa mendesah pasrah.
" Ooouuhhh... Hhmmm..."
Gelora nafsuku semakin membara, saat kurasa Buk Tuti sudah terjerat nafsunya dan kehilangan akal sehatnya akibat dahsyatnya pengaruh obat perangsang yang diminumnya.
“ Uuhhhh... Nghhh...Ouwww....hh “ desahnya saat payudaranya kuremas, Buk Tuti tampak sudah pasrah dan tak berdaya menuruti apa keinginanku begitu saja, Kemaluanku sudah terasa menegang dan langsung saja kulepaskan jilbab buk tuti, do’i pasrah dan tanpa perlawanan saat jilbab nya kutanggalkan dari kepalanya, tampak rambutnya masih terikat kebelakang, model sanggul.
Aku sekarang dapat melihat buk tuti tanpa jilbab, cantik dan sikap kepasrahan yang tampak sekarang ini makin membuatku bernafsu untuk bercinta dengan dosenku ini, walau dosen cantik ini berada diluar alam sadarnya. Aku kembali mendekatinya dan menciumi sekitar lehernya yang putih ,
“ uuhhhh... “ desah Buk Tuti lirih saat kuciumi lehernya. Malahan sekarang Buk Tuti mengadahkan kepalanya keatas, seolah mempersilahkan ku untuk terus mencumbu nya. setelah puas mencumbui lehernya ,ciumanku mulai turun ke dadanya
" Briiaann ..hhh... Ahhh... Ouuhhh..."
Desahan demi desahan begitu jelas terdengar keluar dari mulutnya. Semakin dia mendesah, semakin buas kususuri lekuk tubuhnya dan menciuminya. Setelah kulihat do’i menikmati setiap sentuhanku, mulai ku buka kancing bajunya satu-persatu hingga terlihat BH dan dadanya. Lalu bajunya kulepaskan dari tubuhnya tanpa perlawanan, dari matanya nampak do’i sudah terbakar gairah, yang mengalahkan akal sehatnya, nafasnya terdengar memburu, , lalu aku berbaring disampingnya dan tangan ku mulai kumainkan di dadanya. Mulai ku elus-elus dengan kasih sayang penuh nafsu.
“ enak kan sayang..” godaku.
“ AHHHH....SHHH..” desah Buk Tuti yang terlihat menggigiti bibir mungilnya.
Saat tanganku bermain di lingkaran buah dadanya. Pelan-pelan kunaikan cup BH nya keatas hingga kedua buah dadanya yang telah menegang itu terlihat. Aku mulai meremas-remas gundukan bukit indah itu sambil sesekali memainkan remasanku di puting susunya.
“montok banget susumu buk..” bathinku.
\Tubuh Buk Tuti mulai gelisah, menggeliat ke kiri dan kekanan, merasakan nikmat nya pijitan tanganku dibuah dadanya. Napasnya terasa memburu , tiba-tiba saja Buk memutar posisinya menyamping hingga berhadap hadapan dengan wajahku .Mulutnya memburu bibirku, secepat kilat kurasa Buk Tuti mengulum bibirku dengan buas. Malahan sampai menggigiti bibirku.
“mpphhh.. mmhhh.. ” terengar desahan penuh nafsu di sela bibir buk tuti yang berpagutan dengan bibirku. Kami berdua saling cium, saling jilat dan aku memburu kemana bibir buk tuti bergerak.
Setelah puas tanganku memainkan tonjolan nan indah itu, kini tanganku merambat kebawah menelusuri bagian selangkangannya. Kurabah-rabah bagian sensitifnya denga lembut,
“ Ouuhhhh....hhh… Ahhh... “desahan Buk Tuti semakin menjadi jadi, aku semakin gemas, terus kuelus-elus bagian kewanitaan yang merupakan g spot dari semua syaraf rangsangnya itu dengan gerakan kombinasi, lembut dan kecang.
Desahan Buk Tuti makin menjadi jadi,
“AHHH...OOHHH.... SHHH....” desahnya erotis. Setelah puas mengerjai selangkangannya, lalu, kulepaskan pengait depan celana panjangnya dan kuturunkan resleting celananya. Tampak celana dalam Buk Tuti yang berwarna putih mencuat keluar. Lalu dengan tergesa Kuturunkan celana panjangnya hingga lepas dari kedua kakinya. nampak wajah Buk Tuti kemerahan,
Sekarang do’i hanya mengenakan celana dalam saja. Masih ada BH nya, namun sudah kubuka kedua cupnya. Wajah pun tuti tampak memerah, antara menahan malu dan nafsu yang melanda nya.
Sungguh sexy dan menggairah melihat tubuh semok buk tuti terlentang dengan erotis di atas permadani dengan posisi menantang, berbeda dengan selama ini kulihat do’i selalu berpakaian tertutup. Wajar saja dia menutup tubuhnya. Karena tubuhnya begitu montok, padat berisi, kulitnya putih bersih, tanpa cacat. Pantas saja body nya putih, karena jarang terkena matahari. Kedua tungkai pahanya padat berisi. Buah dadanya ranum dengan puting kemerahan, di bagian bawah celana dalam putih itu, yaitu tepat di daerah kewanitaannya tampak basah, membuat nafsuku makin menggelegak dibuatnya,
Aku memegangi salah satu pahanya dan Kemudian aku merunduk , menciumi paha putihnya. Terus kuciumi keatas hingga sekarang berada di selangkangannya. Kuciumi bagian itu berulang kali, hingga terdengar do’i mendesah panjang
“ OOOOOHHHH.... BRIANNNHHH... UGGHHH...!!!” desahnya panjang saat daerah paling sensitifnya yang masih tertutup celana dalam itu kukecup berulang kali. Kedua tanganku mengangkangkan ke dua pahanya agar lebih leluasa mengecup daerah itu.
Buk Tuti menggeliat geliat menahan rangsangan yang melandanya.
Kuraba-raba bagian sensitifnya dan...
“ Ahhh…” desahan Buk Tuti semakin menjadi2. Lalu kemudian aku mulai tak sabaran terus mengerjainya aku lalu turunkan celana dalamnya,
“Jangan Briannnhh...., gak mauuuhhhh..” Ucapnya lirih berusaha menahan tanganku.
Saat itu aku berhenti melorotkan celananya sambil menatapnya.
“Memang kenapa Buk..?” Tanyaku.
“saya.. takut Brian.. nanti ada yang tau kalau saya beginian sama kamu...” ujarnya menatap ku terbata-bata dengan raut wajah ketakutan namun memerah seperti menahan gejolak nafsunya.
“Tenang aja lah sayang, gak ada yang tau kita berduaan” jawabku tak memperdulikannya.
Tanganku mulai melanjutkan aksi mencopot celana dalamnya. Aksi ku mendapat hambatan tangan Buk Tuti yang berusaha menahan tanganku untuk tidak lebih jauh menelanjanginya , namun itu sia-sia.
Celana dalam berwarna putih itu telah berhasil ku lorotkan ke bawah hingga vagina Buk Tuti yang berbulu lebat itu mencuat.
Ck..ck..ck.. Sungguh rimbun bulu-bulu tumbuh di kemaluannya itu. dan kini ku buka celana dalamku dan tampak rudalku yang besar terlihat jelas.
Buk Tuti terkaget menatap rudalku yang begitu tampak mengerikan besarnya. Ku basahi penisku dengan minyak liontin yang sudah kusiapkan dan kini mulai kukangkangkan kedua pahanya untuk memudahkan rudalku bercumbu dengan vaginanya, walau buk tuti merengek-rengek berusaha mencegah ku, namun aku tahu akal sehatnya pasti akan kalah dengan nafsu menggelegak, sekarang pinggulku sudah berada sejajar dengan lobang kawinnya yang menganga indah siap untuk dimasuki,
Benda indah itu tampak telah basah, bulubulu yang keriting hitam cukup lebat, nampak ada cairan cinta diantara bulu-bulu keriting indah itu, pertanda nafsu do’i sudah di ubun-ubunnya.
Aku menahan kedua pahanya tetap pada posisi mengangkang dengan kedua pahaku pula. Sekarang aku bersiap-siap menusukan rudalku ke dalam bagian kewanitaannya.
“ Jangan Briaaaaaan..!!! jangan dimasukiinnn .. AHHHHH..” Awwww..... Sakiiiittt Briannnhh....” Jeritnya histeris saat aku menyodokan penisku kedalam vagina nya.
Berulang kali aku terus berusaha menembus kemaluannya namun sangat terasa susah. kali ini kubantu dengan ludahku dan kusuap ke mulut vagina Buk Tuti.
“ UGGHHHHH.. Briaaaan, Sakiiiiit.,,,,.!!” keluhnya.
Ku tak pedulikan perkataannya, ku tekan perlahan lahan dan “plooozzz.......”, penisku terasa menerobos masuk keliang kewanitaannya.
“AHHHHHHH..!!!” desahan Buk Tuti semakin keras. Wajahnya panik, menahan sakit di selangkangannya.
Kurasakan denyut rongga-rongga vagina Buk Tuti mencengkram erat kepala kombetku, Dan... Ohhh, ternyata vagina Buk Tuti amat sempit . mengeluarkan darah di sela pinggir lobang kawinnya itu. dan tampak do’i meringis kesakitan.
Aku pun mulai mengerakkan penisku maju dan mundur dengan perlahan-lahan guna mengoyak lapisan demi lapisan selaput dara do'i.
Desahan, erangan, keluhan, rintihan mulai terdengar dari mulut dosenku yang super hot itu.
" Awwwhh...Ouuhh.. Ohhh.... Ngghhh.. "
Aku terus menghujamkan penisku ke bagian yang lebih dalam. Hingga sedikit demi sedikit kurasa 7 lapisan selaput daranya mulai terkoyak.
Sementara Buk Tuti meringis kesakitan, tangannya mencengkram kuat kedua lenganku. Mata nya terpejam menahan sakit bercampur nyeri.
Lama-kelamaan penisku mulai amblas kedalam lobang kawinnya. Cairan nafsunya membantu penisku menerobos kebagian lebih dalam dan secara bersamaan ku peluk dia dan kulumat bibirnya.
" Oohhh... Rapet banget vegy mu Buukk.." Bathinku.
Hanya 5 menitan ku nikmati isi vagina dosenku itu, ku rasa diriku ingin mencapai klimaks. Jepitan dinding vaginanya membuat penisku seperti diremas-remas dari dalam. Kepalaku mendongak keatas menikmati sempitnya lobang kawin Buk Tuti. Ku perbuas ciuman ku dan kuarahkan lidahku ke leher mulusnya. Buk Tuti terlihat masih terus menahan sakit dan nikmat yang menyatu di persenggamaan kami. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanya dan ....
“AHHHHH…!! “ Akupun mencapai klimaks, akhirnya kusemprotkan lahar ku dalam lobang kawinnya itu.
Kurasa pejuku begitu banyak muncrat dalam lobang vagina Buk Tuti. Ia hanya bisa menatapku dengan kaget, dan menggigiti bibirnya saat merasakan setiap semburan lahar panasku yang kini mulai dirasakannya menembus masuk diperutnya.
Nafas kami berdua terengah-engah, aku memejamkan mata menikmati orgasme yang barusan kurasa. Enggan rasanya melepaskan penisku dari dalam vaginanya. Demikian juga dengan buk tuti, yang tengah memejamkan mata, menikmati hangatnya sprema ku bersemayam dalam rahimnya. Nafasnya turun naik,
Aku masih diatasnya dan memeluknya tanpa peduli kekawatirannya bila nantinya dia hamil. Aku menciuminya dan mulai kubelai dan berkata:
“Ibu masih perawan ya..?” tanyaku
Buk Tuti hanya terdiam dan melihatku. Do’i terlihat terisak sedih . Sekitar 2 menit kami saling menatap, lalu do’i berkata:
“Setelah ini berlalu, gimana kalau terjadi apa2 denganku..?” ucapnya dengan nada menyesal
“Aku akan bertanggung jawab kok sayang, percaya padaku, asal hanya aku yang melakukan ini ke ibu.. ” jawabku sembari menciumi keningnya yang basah oleh keringat.
Sepasang mata do'I menatapku penuh harap.
Kami pun saling berpelukan
“ Kamu janji Brian,,, mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Asal kamu tahu Brian.. Kamulah pria pertama yang menodaiku..” isaknya.
“ iya sayang... boleh kan aku panggil sayang..” rayuku.
Buk Tuti terlihat terharu dan mendekapku.
“ Jangan tinggalkan aku ya Brian.. “ ujarnya terisak.
Setelah merasa penisku mulai menyusut, aku mencabut penisku dalam lobang kawin buk tuti dan aku tidur disamping Buk Tuti dan memeluk do’i dengan perasaan puas tak kentara. Akhirnya tujuanku untuk menikmati tubuh dan keperawanan dosen killer ini tercapai juga.
Kemudian kurasa do’i tertidur di pelukanku karena kecape’an. Melihat do’i tidur pulas aku beranjak dari samping tubuh Buk Tuti yang masih bugil. Aku lalu menggendong Buk Tuti yang masih tertidur itu kedalam kamarku dan kubiarkan do’i tertidur pulas.
Aku tinggalkan do’i dikamar menuju ruang tengah sambil merokok dan minum vitamin. Sungguh nikmat sekali bercinta dengan seorang wanita yang masih ting ting, yang belum pernah disentuh oleh pria manapun seperti Buk Tuti. Kadang ada juga rasa kasihan terbesit. Namun semua sudah terjadi, walau usianya lebih tua daripadaku dan walau dia tidak modis. Tidak seperti gadis – gadis kampus yang sering ku kencani. Namun ada sensasi tersendiri bagiku dapat bercinta dan memerawani dosen ku ini. Rasa penasaranku terobati sudah. Aura kecantikan, kemulusan dan kemontokan tubuhnya memang sungguh mempesona. aku memang tidak akan pernah mau bertanggung jawab, apalagi menikahinya aku hanya berniat menjadikan dia sebagai pelampiasan nafsuku saja. Kadang aku tersenyum sendiri, merasa beruntung menjadi lelaki yang bisa memerawani dosen killer itu. Setelah menegak vitamin aku ke kamar mandi membersihkan badan lalu makan,
Setelah selesai mandi aku kembali masuk kekamar dan mendapati Buk Tuti sudah terbangun, saat aku masuk do’i menatapku tajam, penuh kebencian. namun tatapannya akhirnya terlihat kosong dan terus menangisi apa yang diperbuatnya bersamaku beberapa saat yang lalu sambil tergolek diatas ranjang.
Tampaknya pengaruh obat perangsang itu telah habis. Namun fikiran isengku untuk kembali mencicipi lubang cinta yang masih legit itu kembali muncul. Diam-diam aku mengambil sisa obat perangsang tadi .
“Buk Tuti sayang... jangan nangis terus lah...” ujarku mendekatinya.
Sontak dia dengan kasar menepis tanganku yang menyentuh bahunya.
“ jangan sentuh aku Brian.. kamu jahat..!! huuhhuu..” terdengar isak tangisnya kembali.
“ oke oke,,, aku minta maaf Buk... “ ujarku coba membujuknya.
“ Brengsek kamu..!!! kamuu telah menodai sayaa,,, “ ujarnya terbata bata.
“ udahlah... kalau Ibuk masih begini, saya tinggalin disini nih... “ ancamku
“jangaann jangaan... mana pakaian saya Brian ? “ujarnya ketakukan.
Aku mengambil bh dan celana dalam nya yang masih tergeletak di ruangan tengah, lalu melemparkannya ke do’i. Buk Tuti langsung memungutnya. Tubuhnya yang telanjang ditutupinya dengan alas kasur.
“ Tuh pakai..” ujarku.
“ kamuu keluar dulu Briaann...” ujarnya malu
“ halaahh.. pake malu malu.. gua udah liat semuanya kok...” ejekku
Wajah Buk Tuti memerah malu. Akhirnya dipasangkan juga BH nya.
Sementara do'I sibuk memasang pakaian dalamnya diam diam aku memasukan pil obat perangsang ke dalam cerek berisi air putih di meja sebelah ranjang saat Buk Tuti sibuk memasangkan celana dalamnya didalam alas kasur.
“ baju saya mana Brian?” ujarnya.
“ baju nya udah robek .. aku cari dulu baju lain ya... nih minum dulu, apa gak capek abis bercinta? Ujarku sinis. Watak Buk Tuti ini memang keras. Udah dikasih enak masih juga ketus.
Buk tuti terdiam saja mendengar pelecehan itu. Lalu aku meninggalkannya dikamar. Setelah berada diluar kamar , kuintip kembali tampak Buk Tuti yang hanya berbikini sedang duduk diatas ranjang sedang menuangkan air di cerek ke gelas dan meminumnya... dalam hati aku bersorak karena dosen cantik itu masuk dalam jeratanku kembali. Aku tinggal menunggu reaksi dari obat itu.
Lalu aku kembali masuk ke kamar, kudapati Buk Tuti sedang duduk diatas ranjang, menyadari aku mengampirinya cepat-cepat do’i menutup tubuhnya dengan alas kasur. Tampak raut muka cantiknya mulai gelisah dan seperti orang kepanasan. Aku hanya diam dan menatapnya tajam. Melihat itu Buk Tuti tampak risih.
“ apa yang kamu lihat..? mana pakaianku Brian?.. aku mau pulang !!!! “ ujarnya
“ aku tahu kamu capek.. istirahat dulu disini, nanti kuantar pulang” ujarku.
“ nggak mauuuu..!! saya mau pulang sekarang..!! mana sih pakaian saya?”bentaknya. Aku membiarkan saja dan menunggu reaksinya.
“ iya tapi mandi dulu gih... habis mandi baru kuantar, gak mau bersihkan badan apa..? ” ujarku tetap tenang.
“Hiihh... dimana kamar mandinya...?!” ujarnya geram.
Buk Tuti bangkit dari tempat tidur dengan alas kasur yang masih dililitkannya guna menutupi tubuhnya. aku membiarkan saja do’i berjalan tertatih tatih, dan aku membuka pintu kamar dan menunjukan jalan ke kamar mandi.
Sesampai di pintu kamar mandi, saat Buk Tuti hendak membukanya dengan cepat kupeluk tubuh do’i dari belakang, Buk Tuti terkejut dan berusaha meronta,
“ Briannnhhh.. kenapa lagi siihhh kamu iniii.. lepassiinn sayaaa.. ihhh...” ujar nya, namun rontaanya lemah hingga tubuhnya kembali dalam dekapanku.
“ heeh.. heii.. bukk... biar kumandiin kamu ya...”ujarku berusaha menarik alas kasur yang menutupi tubuhnya, dengan kasar kutarik, sempat terjadi pergulatan, namun tenaga buk tuti yang lemah itu tak mampu mempertahankan alas kasur itu hingga Buk Tuti kembali mengenakan BH dan celana dalam lagi.
“ ohh... jangann Brian.. oh.. lepasinn.. !!” ujarnya saat tanganku sudah berada di selangkangannya dan kusap usap tanganku disana. Sementara tangan yang satu meremas salah satu buah dadanya yang terasa kembali mengeras.
“ buuka.. yaaaa... Kita mandi bareng sayaangg.. “ ujarku tanpa kesulitan melepas tali BH nya.
“ oohh... Briaaan. apa apaaan kammuuu...” ujarnya mendesah seperti bergairah kembali. Lalu setelah BH nya terlepas aku membalikan tubuhnya berhadapan denganku. Mata Buk Tuti dan wajahnya sudah penuh dengan nafsu, seiring irama nafasnya yang ngos ngos an menahan gairahnya yang muncul kembali akibat pengaruh obat perangsang yang diminumnya.
Aku merangkul tubuhnya dan kudekatkan bibirku menyentuh bibirnya, kukecup dan kuciumi beberapa kali, kali ini Buk Tuti yang kembali telah terpengaruh obat perangsang itu membalas melumat bibirku, kurasa nafasnya berpacu membalas ciuman ku di bibirnya, aku menyandarkan buk tuti kedinding lalu kulepaskan ciumanku sejenak.
" Bri aan..hh.. Kamu apain aku..hhh..??" Ujar Buk Tuti nampak terengah engah setelah bibirku dan bibirnya terlepas. Aku mulai berjongkok lalu melepaskan celana dalamnya. Kali ini tanpa perlawanan, celana dalam itu dengan mudah kuloroti dari kedua pahanya, kembali vagina mungil Buk Tuti yang berbulu lebat itu terpampang dihadapanku.
Aku kembali berdiri dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Disana terdapat sebuah bak, kloset duduk dan shower. Do’i tampak patuh. Aku pun menyalakan air di shower dan air itu mulai menyirami tubuh kami berdua, kami lalu mandi berdua. Diguyur oleh siraman air
" Cuma mau ngajak mandi berdua kayak gini aja kok gak mau .." Ujarku.
Buk Tuti tampak menggigil saat air menyirami tubuh bugilnya yang kupeluk dari belakang aku memeluknya dengan erat dari belakang sehingga tangannya tertutup lingaran lenganku,
Aku mengambil sabun cair dan menuangkannya ke tanganku. Ku oles sabun itu ketelapak tanganku hingga rata. Kemudian perlahan kubuka posisi kedua tangannya yang menutupi teteknya yang bugil itu, dibawah guyuran air aku mengoleskan sabun ke susu Buk Tuti , dengan penetrasi lembut. Kedua tanganku mengaduk kedua susunya yang terasa licin karena olesan busa sabun itu.
“ Shh.... oohh.... Gellii Briannhhh.... Aduuhh... sshhhh...!!! “ rintih Buk Tuti . Do’i mencoba mencegahku.
“ Nikmati aja sayanghh...” bisik ku ke telinganya sambil mengulum salah satu daun telinganya. Membuat tubuh Buk Tuti menggelinyang kegelian. Setelah beberapa do’i tampak pasrah dan hanya terdengar rintihan kenikmatan olehku. Aku mulai meremas-remas dan memijat payudara do’i dan memilin putting susunya.
“ Nikmati aja sayanghh...” bisik ku ke telinganya sambil mengulum salah satu daun telinganya. Membuat tubuh Buk Tuti menggelinyang kegelian. Setelah beberapa do’i tampak pasrah dan hanya terdengar rintihan kenikmatan olehku. Aku mulai meremas-remas dan memijat payudara do’i dan memilin putting susunya.
“Ouuhhh.... Geli Briannn….ohhhhh…hhhhhh ….shhhhhhhhh” rintihan Buk Tuti terdengar terus, mendesah dan mendesis, kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi. Mendengar rintihannya sungguh membuat gairahku makin bergelora. saat bersamaan aku mulai menciumi leher dan kuping Buk Tuti sedangkan jariku yang penuh dengan sabun cair mulai menuju lobang surgawi Buk Tuti. Aku mulai meraba dan mengucek lobang indah itu dengan jariku.
“ Oooooooohhhhh....” Buk Tuti melenguh panjang saat jariku bermain mengobel lubang kenikmatannya. Setelah puas meraba lubang kencingnya itu hingga licin dan berbusa, aku lalu mencolokan satu jari tengahku kedalam vagina Buk Tuti.
“ Sleeppp.. “ Jari tengahku yang telah licin itu masuk tanpa hambatan kedalam vagina Buk Tuti diiringi jeritan panjang Buk Tuti. Jari itu aku keluar masukkan ke dalam liang senggama buk tuti dengan gerakan cepat. Aku juga merasakan penisku itu mulai mengeras sehingga membuatku semakin terangsang.
“Ohhhhhh….Briannn …Ihhhh.... Geliiii akuu...…shhhhhhh” desah Buk Tuti menggila.
“ enak yaa sayang kuu.. uhhh... ayo sayang.. kangkangkan dong dikit pantatnya..” ujarku penuh nafsu. Tanpa persetujannya aku membantu meregangkan kedua pantat buk tuti. Setelah pantat montok itu terkuak, maka kusejajarkan penisku yang telah berdiri mengancung tegak sedari tadi kearah lobang kawin Buk Tuti dari belakang, aku juga ingin menuntaskan birahiku yang sudah sampai keubun-ubun.
Aku mencabut jariku dari liang senggama Buk Tuti dan ku angkat pantat buk tuti sedikit. Setelah itu aku mengoleskan sabun cair dan meratakannya di kontolku dan juga kuoleskan di sekitar daerah vagina Buk Tuti. Tubuhnya menggelinyang. Setelah itu aku mulai menyejajarkan penisku dan kuarahkan pada kemaluan do’i dari arah belakang..
Aku mencabut jariku dari liang senggama Buk Tuti dan ku angkat pantat buk tuti sedikit. Setelah itu aku mengoleskan sabun cair dan meratakannya di kontolku dan juga kuoleskan di sekitar daerah vagina Buk Tuti. Tubuhnya menggelinyang. Setelah itu aku mulai menyejajarkan penisku dan kuarahkan pada kemaluan do’i dari arah belakang..
BLESSSSSSSSS ……….. Kontolku masuk tanpa permisi dan kesulitan dalam lobang vagina Buk Tuti. Busa sabun yang kuoleskan di penisku dan di sekitar lobang vagina Buk Tuti memudahkan kontol ku menerobos masuk kedalam nya
“OOOOOOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHHH………………..” pekik Buk Tuti menyambut masuknya penis ku ke dalam tubuhnya.
“Euhhhhh….euhhhhh…euhhhh…euhhhhhh…euhhhh” desah Buk Tuti membuat nafsuku semakin menggelegak Aku berinisiatif menggerak-gerakkan tubuhku naik turun menggenjot penis didalam kemaluan Buk Tuti sambil berpegangan pada dinding kamar mandi.
Gerakan maju mundur ku makin lama semakin bergolak tak teratur seperti juga gairah kenikmatanku yang terus semakin bergelombang naik.
“Heeeehhhhhh ….Heehhhhh ….Heeehhhhh ….Heeehhhhh…” aku mencoba menaikkan tempo gerakanku seperti gerakan slow motion di filem-filem.
Buk tuti lama kelamaan terasa mengimbangi gerakanku dengan menggoyangkan pinggulnya sedangkan tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi. Aku juga semakin gencar meremas-remas payudara Buk Tuti dari arah belakang .
“Oooohhhh ….ohhhh….ohhhhh….ohhhh….ohhhh…..ohhhhh” desah Buk Tuti seolah berpacu dengan gerakanku yang semakin liar dengan rangsangan dari beliau
“ SAYA MAUU Nembaaakk... …..OHHHHHHHHHHHHHH” Buk Tuti menjerit panik saat mendapat orgasme nya.
“ cepat kali nembak nya sayangghh.. hh.. ??? “ desahku makin memacu penetrasi pinggulku.
Buk Tuti berhenti menggerakkan tubuhnya, tampaknya do’i ingin menikmati gelombang orgasmenya , walau dengan nafas agak tersenggal-senggal.
Aku masih menggerak-gerakkan pinggulku sehingga penisku tetap naik turun di dalam liang senggama do’i, tanganku ku silangkan di dadanya sambil meremas kedua payudaranya dengan lembut. Kuciumi tengkuk dan punggungnya berulang ulang melengkapi kenikmatan yang kurasakan.
Aku meminta Buk Tuti memutarkan badan supaya posisi kami menjadi saling berhadapan dengan penisku masih ada dalam kemaluannya. Kami berciuman sambil aku memeluknya, sedangkan tangan beliau melingkar dipinggangku. Melihat itu kuangkat sedikit pantatnya hingga kubuat posisi menggendong Buk Tuti,
“Ohhhhhhhh…. Saya takut jatuh Briann ….” Bisik Buk Tuti Sambil melenguh nikmat
“Belitkan kedua kaki Ibu ke pinggang saya sebagai pengait supaya tidak mudah jatuh” Perintahku.
Buk Tuti segera mengaitkan kakinya melingkari pinggangku dan tangannya memeluk leherku, sedangkan kepalanya dia sandarkan di bahuku. Setelah yakin do’i menempel dengan benar pada tubuhku, aku menyandarkan do’i kedinding kamar mandi sebagai tumpuan.
Buk Tuti segera mengaitkan kakinya melingkari pinggangku dan tangannya memeluk leherku, sedangkan kepalanya dia sandarkan di bahuku. Setelah yakin do’i menempel dengan benar pada tubuhku, aku menyandarkan do’i kedinding kamar mandi sebagai tumpuan.
Sementara kedua kaki do’i mengapit pinggangku, Pelan-pelan pula aku menggerakkan pinggulku sendiri maju dan mundur.
“ Blessss.... “ penisku kembali menemukan lubang cinta nya Buk Tuti.
“Ohhhhh….ohhhhh….ohhhhh…ohhhh….Briaannnn..aaahhhh…ohhhh….ohhhh….ohhh……enaaak” Desah Buk Tuti menjerit kenikmatan merasakan sodokan kontolku yang keluar masuk lobang senggamanya. Apa yang dirasakannya pasti sama dengan apa yang kurasakan saat ini. Vaginanya terasa licin. Namun jepitan-jepitan oleh rongga senggamanya dari dalam masih terasa meremas kontolku dari dalam.
Aku terus menyetubuhinya yang digendong dalam pangkuanku
Aku terus menyetubuhinya yang digendong dalam pangkuanku
“Ahhhh ….Mmmmmppphhhhhhh……oohhhhhhh…..mmppppphhhh…” Kami meneruskan bersetubuh sambil terus berciuman.
Setelah seluruh batangku amblas , Aku memeluk Buk Tuti dengan kedua telapak tangan pada buah pantat do’i. Kemudian dengan perlahan-lahan aku meluruskan kaki sehingga secara otomatis do’i terangkat ke atas oleh dorongan penisku pada kemaluannya seperti sate dengan tusuknya. Tubuh Buk Tuti tampak terguncang guncang akibat sodokan pinggulku menghajar lubang cintanya. Aku terus menumpukan kekuatan pada pinggangku untuk terus menyetubuhinya sambil berdiri. Buk Tuti terlihat hanya pasrah dan menikmatinya. Mulutnya mencari mulutku dan mengulum bibirku dengan hot.
Makin lama ciuman kami makin panas, bibir kami saling melumat dan permainan lidah yang semakin liar. Penisku dengan gerakan perlahan tapi pasti terus menyodok-nyodok ke dalam liang senggama do’i. Sambil kedua tanganku bertumpu pada kedua pantatnya yang bahenol,
“Ohhhhhh….ohhhhh….ohhhhhh….aaaahhh….ohhhhh….Briaannnn…. Enakkk..Briannnnn..... aduuuh hhhh…” Buk Tuti mengerang nikmat tanpa berbuat apa-apa karena aku mengambil alih kendali.
“Buuukk…. Saya mau keluarrrrrr.. Oouugghhh...” aku mulai mengerang.
SROOOOOOTTT …SROOOTTT…….SROOOTTTT …semprotan demi semprotan air mani ku membanjiri rahimnya
“A..a..aahhhh..a..a..aahhhh…” Buk Tuti mengerang tertahan , Aku rasakan tubuh Buk Tuti bergetar keras, semakin memeluk ku dengan erat. Sedangkan vagina nya terasa berdenyut-denyut meremas remas batang pelerku.
“ Ohh.. nikmatnyaaaa...” jeritku melepaskan semua kenikmatan yang kurasakan.
Aku lalu menciumi dan membelai-belai wajah dosenku itu yang terlihat cukup kelelahan setelah bersetubuh denganku itu. Otot-otot liang senggama Buk Tuti terasa memijat-mijat penis ku yang juga sedang kelelahan.
Setelah penisku terasa lunglai, aku menurunkan Buk Tuti dari gendonganku dan mulai mengatur nafas menikmati orgasme yang nikmat itu. Sementara Buk Tuti tak sanggup memandang wajahku. Matanya terpejam, mungkin mmenikmati semprotan spermaku dalam lubang cintanya. Kami berdua berusaha mengatur nafas masing – masing.
“ mandi yuk sayang” ujarku mesra. Buk Tuti hanya menganggukan kepalanya dengan lemah.
Setelah itu aku melumuri tubuh ku dan Buk Tuti dengan sabun, kami pun mandi membersihkan badan. Buk Tuti diam saja saat kusabuni sekujur tubuhnya, Buk Tuti tampak sedang membersihkan vagina nya dengan sabun. dan setelah itu aku membilasnya kembali. Setelah selesai mandi aku menggiring Buk Tuti kembali ke kamar.
Buk Tuti yang sudah pasrah itu hanya bisa patuh menuruti tiap perintahku, matanya telah sembab, menahan penderitaan. Aku memberinya handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
“ sekarang saya mau pulang Brian “ pintanya memelas.
“ ya nanti saya antar, sekarang istirahat saja dulu “ ujarku malas-malasan
Buk Tuti terdiam, mau tak mau do’i pasti merasa kelelahan, apagagi percintaan kami hanya selang beberapa jam itu terjadi 2 kali.
“ selangkangku sakit brian.. “ isak nya menatapku dengan penuh menghiba.
“ itu pertama aja sakitnya. Gak apa apa itu... bawa rilex aja” ujarku sekenanya.
“ kamu jahat...” ujarnya sedih. Do’i hanya mengenakan handuk saja sat itu.
Aku mencoba mendekatinya, lalu merangkul nya. Buk Tuti tidak lagi meronta namun hanya membiarkan aku mendekapnya.
“ antar saya pulang Brian... “ rengeknya di pelukanku.
Aku pun mendegus, tapi tidak apa-apa lah diantar dia karena kulihat jam sudah menunjukan jam delapan malam. Aku keluar kamar dan mengambil pakaian do’i yang kusembunyikan di luar.
“ Ini pakaiannya.. “ ujarku datar sambil memberikan baju, celana dan jilbab do’i.
Buk Tuti segera mengambilnya dari tanganku lalu dengan segera pula do’i memasangkan kembali BH dan celana dalamnya. Semua nya do’i lakukan didepanku, tanpa malu-malu dan risih lagi. Mungkin do’i sudah tidak malu lagi karena sudah dua do’i kubuat orgasme hari ini.
Setelah itu Buk Tuti mengenakan celana, blazer dan jilbabnya, sungguh cantik dosen ini. Mirip artis lawas yang juga jadi incaranku,Marissa Haque. He He He...
Akhirnya aku dapat melihat bahkan menikmati tubuh padat nan mulus itu, yang selama ini selalu aku khayalkan saja karena do’i selalu mengenakan pakaian yang menutup auratnya.
Terlihat Buk Tuti merapikan jilbabnya di cermin, wajahnya masih terlihat lelah, mata nya sembab menahan air matanya yang mungkin sudah mengering.
“ sudah .. ? ayo kita berangkat, mau makan dulu..?”
“ gak usah.. “ ujarnya ketus. Aku nyengir saja mendengarnya. Wanita ini memang menggemaskan. Galak tapi memikat.
Kami pun keluar dari rumah , menuju garasi mobil dan aku meluncurkan mobil meninggalkan rumahku.
Hari sudah gelap. Sepanjang perjalanan Buk Tuti hanya diam termenung meratapi nasibnya yang kuperdaya dan kuperkosa hari itu. Do’i hanya duduk diam seribu bahasa dalam perjalalanan, do’i hanya bicara saat aku menyanyakan arah menuju rumahnya
Hari sudah gelap. Sepanjang perjalanan Buk Tuti hanya diam termenung meratapi nasibnya yang kuperdaya dan kuperkosa hari itu. Do’i hanya duduk diam seribu bahasa dalam perjalalanan, do’i hanya bicara saat aku menyanyakan arah menuju rumahnya
“ disini saja Brian.. saya nge kost, mobil gak bisa masuk di gang itu.” Ujar Buk Tuti saat kami berbelok di sebuah simpang. Aku pun menghentikan mobil. Memang simpang yang dimaksud adalah sebuah gang kecil yang hanya pas untuk satu atau dua motor saja.
“ aku antar ke rumah mu ya” ujarku membuka central lock pintu mobil
“ ngg, nggak usah.. saya bisa sendiri “ ujar Buk Tuti menolak tawaranku. Tapi aku tak tinggal diam. Karena aku ingin tau dimana tempat tinggal do’i.
“ saya antar saja lah..” kebetulan di dekat simpang itu ada orang berjualan nasi goreng.
" Saya mau beli nasi goreng itu, ibu mau? " Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Nggak .. Saya udah kenyang.. Sudahlah Brian biarkan saya pulang.." Ujarnya menatapku kesal.
" Sudahlah.. Pokoknya kita makan nasi goreng dulu " tegasku padannya
Aku keluar dari mobil dan menghampiri tukang nasi goreng dan memesan 2 bungkus nasi goreng untuk ku dan Buk Tuti, karena aku pun merasa lapar sehabis bercinta dengan do’i dua ronde tadi. Buk Tuti pun mengikutiku keluar dari mobil dan kami pun berdiri di gerobak abang penjual nasi goreng itu.
" Nasi goreng nya 2 dibungkus ya bang" ujarku pada abang penjual nasi goreng
" Baik dek.. Ditunggu ya.." Kata nya.
“ tunggu sampai selesai ya.. saya tahu Ibu pasti lapar” bisik ku sambil menggenggam tangan Buk Tuti. Do'I kaget dan buru-buru melepaskannya
“ Brian..! gak enak diliat orang ‘ tepisnya setengah berbisik, Aku hanya nyengir. Yang penting dia patuh menunggu sampai abang nasi goreng itu selesai membungkus nasi.
“ pacarnya ya Neng Tuti.. ?” goda tukang nasi goreng itu pada buk tuti.
Buk Tuti agak kikuk mendengarnya dan bingung harus menjawab apa.
“ i iya bang..” ujar Buk Tuti akhirnya menjawab malu-malu.
“ cocok ya.. neng Tuti nya cantik, mas nya ganteng ‘ ujar tukang nasi goreng itu menggoda kami.
“ ah abang bisa aja.. “ ujar Buk Tuti salah tingkah. Karena mungkin saat aku menggenggam tangan Buk Tuti abang nasi goreng itu memperhatikan kami .
“ akhirnya neng Tuti punya pacat juga ya... selama ini abang liat gak ada yang ngeapelin ‘’ ujar tukang nasi goreng itu lagi.
“ masak iya sih bang..? “ tanyaku
“ iya dek.. neng Tuti ini sibuk kerja terus kayaknya” sambungnya.
“ ah.. abang ini kepo deh ...” tukas Buk Tuti cemberut.
“ tapi saya senang kalau neng Tuti ini punya pacar, sayang aja cantik cantik, pintar lagi ... jangan belajar terus neng.. nanti cepat tua..” kelakarnya selesai membungkus nasi goreng itu. Aku pun tertawa mendengar guyonannya.
“ denger tuh sayang..” tukasku. Sengaja aku katakan kata “sayang” agar menegaskan bahwa do’i memang pacarku. Buk Tuti melotot padaku. Aku dan si abang nasi goreng tertawa geli melihat ekspresinya. Setelah membayar nasi goreng kami pun berjalan ke gang itu menuju kost an buk tuti, di sela perjalanan abang nasi goreng masih sempat juga menggoda,
“ mantap dek... lanjutkan “ teriaknya dari kejauhan.
“ kamu bikin saya salah tingkah saja Brian “ ujar Buk Tuti bersungut sungut kesal .
“ ah.. nyantai aja.. gak dengar abang nasi goreng aja bilang kita cocok ha ha ha “ ujarku.
“ kamu gak tinggal disini, nanti saya yang digunjingkan oleh mereka pacaran sama anak yang lebih muda” tukas Buk Tuti . Sambil terus melewati gang itu kami terus berdebat.
“ ngapain dipikirin...” potongku menjawil pantatnya, yang disambut pukulan ringan Buk Tuti ke bahuku.
“ jangan macam-macam disini Brian... ini jalan umum tau..?!! “ ujanya marah bersungut sungut. Sebenarnya aku senang melihat do’i marah dan melotot, makin cantik wajahnya.
Akhirnya kami sampai di kostan Buk Tuti ,. Sebuah rumah petak kecil yang berdempetan dengan tiga rumah lainnya. Saat itu suasana sedang sunyi. Mungkin tetangga Buk Tuti lagi berada didalam rumah, atau lagi ngamar dengan pacar nya.. maklum anak kost..
Kami memasuki kostan Buk Tuti ,
“ siapa yang sering bertamu disini bu..? “ tanyaku.
“ Nggak ada, paling teman – teman kamu lah.. dan beberapa mahasiswa.. kamu sih, bilang-bilang kita pacaran. Kalau ditanya tetangga nanti bilang kamu mahasiswa saya lagi bimbingan proposal ya..” tuturnya.
“ ya deh... pencitraan kali..” sungutku.
Aku duduk diruang tamu buk tuti, disitu terdapat sebuah sofa sederhana dan meja tamu. Ada dua kamar dan satu lorong menuju dapur di sini. Buk Tuti tampak bingung harus berbuat apa,
“ nah, kamu sudah tau kan tempat tinggal saya.. “
“ sekarang pulanglah.. nanti menimbulkan fitnah lagi “ ujarnya mencoba mengusirku
“ nanti dululah sayang.. aku capek.. mau duduk dulu.. bikinin dong kopi atau apa kek..” ujarku menyandarkan kepala di sofa.
“ atau ambil kek piring biar kita makan tu nasi goreng.. kan sengaja kubeli 2 .. buat kamu dan aku..” ujarku
“ kamu ya.. memang punya seribu satu alasan Brian.. Please... saya capek.. mau istirahat ..” sahutnya berkeras menyuruhku pulang.
Setelah kami berdebat sebentar, Akhirnya Buk Tuti mengalah juga segera dia beranjak menuju kebelakang. Aku mengintip dari sudut mata, do’i menuju ke arah belakang. Ke ruang yang dibatasi dengan kain pintu. Diam- diam aku mengunci pintu depan kost an Buk Tuti dan diam-diam aku mengendap menuju kebelakang.
Aku masuk sampai kedapur, menyibak pelan-pelan tirai pembatas pintu, dan kudapati posisi Buk Tuti membelakangiku, seperti sedang membuat atau mengaduk minuman. Ternyata do’i sedang menyiapkan gelas dan mengisinya dengan bubuk kopi dan gula. Fikiran kotor ku muncul. Akhirnya aku memutuskan mendekatinya, tampaknya buk tuti tidak menyadari kehadiranku hingga aku sudah ada dibelakangnya dan memeluknya dari belakang. Buk Tuti tersentak dan mencoba menghindar. Tapi aku terus merangkulnya dengan erat sambil mendekatkan mulut ke telinganya,
“Kamu terus bikin kopi ini. Anggap saja tak ada siapapun di belakangmu,” bisiku
“ Brian.. Sudahlah... cukup.. aku capek...kamu gak puas-puas ihh.. “ ujarnya masih berusaha melepaskan diri . namun aku tetap tidak melepaskannya. Malah sekarang kedua tangan ku meremas-remas lembut kedua payudaranya yang masih tertutup pakaian kerja itu. Belum sempat Buk Tuti bereaksi Salah satu tanganku dengan cekatan membuka resluiting buk tuti , hingga celana panjang berbahan katung lunak itu melorot kebawah. Dan tanganku langsung menuju ke selangkangan Buk Tuti, aku mengelus, memijat dan meraba selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam itu,
“ Uhh... Shhhh... sudahlah briannhh... mphh... “ desah Buk Tuti berusaha mengatupkan pinggulnya saat selangkangan nya kuelus. Tanganku terjepit oleh kedua pangkal pahanya. Aku makin mengganas, kutekan jari tengahku sambil mencolek colek selangkangan nya dengan buas. Akhirnya Buk Tuti tak dapat menolak lagi. Pahanya perlahan lahan terbuka Do’i hanya menggeliat dan mengerang tertahan,
" Udahhh Briannn... Janganhhh lakukannhh..... Lepaskan akuuuu ... Mmmmm mm" terdengar rintihan Buk Tuti. Aku itu tidak mempedulikannya dan terus mengelus elus selangkangan dosen motok itu itu tanpa dapat dicegahnya.
Secepat kilat kemudian aku berlutut di belakang Buk Tuti. Aku menjulurkan tanganku merogoh lewat bagian bawah . Buk Tuti menggigil ketika tanganku menarik turun celana dalamnya. Mungkin Buk Tuti merasakan angin meniup pantatnya yang telanjang kini.
“Kakimu direnggangkan... Aku ingin lihat memek mu….” perintahku pada nya, menahan nafas melihat kemaluannya yang indah itu sambil jongkok.
Buk Tuti kelihatannya sudah menyerah, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, aku menyaksikan pemandangan menakjubkan. Di pangkal paha dosen montok itu tumbuh rambut yang rimbun kemaluannya,
Tanganku menguakkan bongkahan pantat Buk Tuti yang bulat dan lidahnya hingga menyentuh anusnya. Buk Tuti menggeliat, air di termos tumpah sedikit keluar gelas. Lagi-lagi tumpah ketika ia merasakan lidahku sekarang itu menyusuri celah di pangkal pahanya.
Aku menguakkan bibir vaginanya, menampakkan lorong sempit berwarna merah jambu dan lembab. Buk Tuti berhenti mengaduk kopi saat lidah ku menyeruak ke liang vaginanya. Tubuhnya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Do’i tak kuasa menahan erangannya ketika bibir ku mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya.
“Uhhhhh... Briiyyaannhhh..…” pinta nya memohon.
" diam.. pelan-pelan suaramu!!!” bisiku sambil berdiri. Namun, tangan kiriku tetap terus mengucek-ngucek kelamin Buk Tuti.
“Ayo, terus aduk kopinya. Aku mau ngaduk punyamu juga…” lanjutku, merasakan sensasi gila ini.
“Aihhhh…eungghhhh….mmhh...” Buk Tuti mengerang, saat jari jari ku itu menusuk jauh ke pusat kewanitaannya.
“ enak ya sayangghh.. nikmatin aja yahhh.... “ deru nafasku memacu menahan gemas, sambil menggerakkan jariku dengan cepat menggesek belahan vagina Buk Tuti yang terasa mulai basah dengan napas terengah-engah.
“Mmmfff….nnghhh…” terdengar desahan lirih dari mulut do’i membuatku makin bersemangat mengaduk vaginanya dengan tanganku.
Kelihatan nya do’i telah pasrah…menyerah..sementara lenguhan dan erangan lirih keluar dari bibirnya yang mungil “eemmhh…ouummhh..”persis erangan anak kucing.
Tangan kiri ku membekap pangkal paha Buk Tuti, lalu sekarang giliran jari tengahku yang beraksi menekan klitoris dosen sexy itu. Gerakan memutar di atas bagian paling sensitif itu membuat Buk Tuti berteriak teratahan. Nampak sekali do’i tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.
Buk Tuti terus mendesah, apalagi sekarang aku kembali berdiri di belakangnya dan menyibak kain jilbab putihnya dan melepaskan jilbab itu, lalu melepaskan pengikat rambutnya sehingga rambut tuti menjadi tergerai. Lalu tangan kiriku menyusup ke balik pakaian Buk Tuti, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susu BukTuti, yang telah tegang itu …
“Ayo sayanghh….ahhhh…jangan bohongi dirimu sendiri…nikmati…ahh….nikmati….” bisiku ke telinganya,
“ Ennghhhh.. Ohhhhh......!!! “
Buk tuti memohon agar aku menghentikan perlakukanku itu namun kemudian berganti menjadi rintihan keenakan saat dia kukerjai seperti itu.
Aku terus memaju mundurkan jari ku yang terjepit vagina Buk Tuti. Do’i menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa sakit dan ngilu. Tapi ia tak mampu. Akhirnya do'i mendesah dan akhirnya menjerit kecil saat ia meraih puncak kenikmatan. Tubuhnya langsung lunglai, tapi aku terus beraktifitas di belakangnya .Terus mengaduk vaginanya dengan kecepatan penuh.
Mataku terpejam menikmati indahnya sensasi ini. Gigiku gemelatuk menahan indahnya fantasi itu. Aku menggeram panjang, tanpa sadar aku menekan jariku dalam dalam ke vagina Buk Tuti. hingga do’i terpekik lirih karena merasakan nyeri bercampur kenikmatan. tangan kananku makin mencengkeram payudara Buk Tuti yang terasa padat dan makin megeras.
Kulihat Buk Tuti masih dibuai gelombang kenikmatan,dan aku makin kencang mengobok vagina nya yang terasa basah hingga memudahkan jariku keluar masuk didalamnya.
Tak lama kemudian terdengar Buk tuti menjerit tertahan.
Aku sendiri merasakan sensasi aneh dan aku baru merasakan saat bagian dalam vagina dosen cantik itu serasa menyemburkan cairan.
Aku sendiri merasakan sensasi aneh dan aku baru merasakan saat bagian dalam vagina dosen cantik itu serasa menyemburkan cairan.
Buk Tuti merintih, mirip suara anak kucing, Otot vaginanya megejang, serasa bagai lahar yang akan menyemburkan magma yang panas. Diiringi rintihan panjang sambil mengigit bibirnya Buk Tuti merasakan orgasme yang hebat. Melihat do’i sudah orgasme, aku tersenyum puas, perlahan kutarik keluar tanganku yang basah oleh air kewanitaan milik Buk Tuti yang mengucur dari sela kewanitaan nya.
Aku menarik jariku dari dalam vagina Buk Tuti dan menyodorkanya ke hidung do’i
“ wanginya pejumu sayang..... “ ujarku. Buk tuti terlihat mengatur nafasnya
Aku kemudian menjilat jariku yang penuh dengan lendir peju buk tuti yang terasa asin namun gurih itu.
Begitu gelombang kenikmatan berlalu, aku mengatur nafasku begitu pula Buk Tuti, kesadaran kembali memenuhi ruang pikirannya. Do’i terisak dengan tangan bertumpu pada meja dapur.
“Sudah, nggak usah nangis! Kamu harusnya berterima kasih karena kuberitahu nikmatnya seks. Sudah, cepat selesaikan kopi itu dan bawa ke kamarmu. “ perintahku.
“ Dan, ... Kamu harus pakai pakaian dalam saja, biar tambah sexy" ujarku dengan tekanan keras. Usai berkata itu, aku tersebut melepaskan blazer dan baju, pakaian yang terisa di badan Buk Tuti. Jadilah kini dosen berparas cantik, berbody montok itu hanya mengenakan bh dan celana dalam berwarna putih yang sudah kupasangkan kembali menutupi pantat montok nya.
Buk Tuti diam saja saat kupreteli pakaiannya. Mungkin nafsunya sudah tersulut dan ingin merasakan sensasi yang lebih jauh lagi bersamaku malam itu.
Buk Tuti melanjutkan mengaduk kopi, dengan seggugukan tangisan. Tapi apa daya ia hanya seorang wanita yang terperangkap antara kerakutan dan sensasi sex yang dialaminya sekarang bersamaku . Buk Tuti membiarkan aku mencumbui tubuhnya dari belakang.
“ tunggu lah di kamar Brian.. nanti saya susul .. ‘ ujarnya pelan.
Aku pun bergegas ke salah satu kamar Buk Tuti . Disana terdapat sebuah kasur berikut dipan nya. Aku menunggu do’i datang dan membayangkan akan bercumbu. Memadu cinta dan nafsu lagi dengan Tuti Khairani, dosenku yang cantik, montok dan menggairahkan itu kembali...Ohhhh.....
PART II : KEMBALI BERCINTA DENGAN TUTI KHAIRANI
PART II : KEMBALI BERCINTA DENGAN TUTI KHAIRANI
Seminggu setelah kejadian aku berhasil memperdaya dan memperkosa Tuti Khairani, dosenku yang montok itu, Ada rasa kangen dalam diriku untuk dapat mencicipi tubuh montoknya.
Hasrat itu tak terbendung, bayangan tubuh telanjang nya yang montok, rintihan dan desahannya saat orgasme membuatku nekat ingin merasakan indahnya tubuh dosen itu.
Maka pada hari itu, pagi – pagi aku sudah datang ke kantor akademis kampus, dengan harapan bisa bertemu dengan Buk Tuti yang biasa datang pagi-pagi sekali ke kampus. Dan... Aku mencarinya ke ruang jurusan, tepat dugaanku, do'I sudah berada di sana!. aku mendapati do'I tengah membetulkan jilbabnya di depan cermin.
Buk Tuti sedang tertunduk saat mataku mengintip saat ia tengah mengancingkan bajunya. Perempuan sintal bertinggi 160 cm ini amat montok. Bagiku Buk Tuti terlihat makin menggairahkan, walau dengan pakaian tertutup seperti ini sekalipun. Pantatnya yang bulat dan sekal itu amat menonjol, apalagi saat do’i memakai sepatu hak tinggi. Saking montoknya, celana dalamnya membekas pada roknya, membentuk segi 3 yg amat ketat
Wajahnya yang galak membuatku makin bergairah dan bernafsu terhadapnya. Keinginanku mencicipi kemaluannya pada pagi itu jadi semakin menggebu.
Tampak Buk Tuti menyadari kehadiranku dengan sudut matanya. Buk Tuti langsung pucat ketakutan melihatku sudah berada disana dan hanya berdua tanpa ada orang lain... Tubuh nya langsung berbalik kea arahku.
Tampak Buk Tuti menyadari kehadiranku dengan sudut matanya. Buk Tuti langsung pucat ketakutan melihatku sudah berada disana dan hanya berdua tanpa ada orang lain... Tubuh nya langsung berbalik kea arahku.
“ Brian ! ngapain kamu pagi-pagi kemari??? Ada urusan apa?? “ bisiknya panik.
“ Aku kangen kamu sayang “ ujarku
“ Gila kamu.. Kamu tahu kan ini kampus!! Jangan sampai orang lain tahu hubungan kita! “ bisiknya lagi.
Aku mendekatinya, Buk Tuti pun mundur beberapa langkah.
“ Gak usah ketakutan gitu sayang... suasana masih sepi... Gak bakal ada yang melihat kita” ujarku.
Wajah do'I makin ketakutan saat aku terus mendesaknya.
“ Ta.. Tapi jangan disini Brian..” tolaknya.
“ jadi dimana ? “ desak ku
“ Ayo ikut saya... mari kita bicara di ruangan sidang saja.. di lantai 3 “ ujarnya
“ Tapi kamu nyusul saya aja dibelakang, jangan sampai ada yang tahu kamu mengikuti saya ya..!! “ tambah nya sambil memelototkan matanya yang indah
“ Lebay deh kamu, ya sudah.. mari kita ke ruanganmu “ ujarku.
Buk Tuti pun bergegas keluar dari kantor jurusan dan menaiki tangga, aku pun mengikutinya dengan jarak beberapa meter dibelakang.
Saat do’i naik tangga jelas kali betapa sexy dan bohay nya body do’i saat pinggul indahnya melenggok dari belakang .aku menikmati dan membayangkan akan mencicipi body montok itu. Sungguh sempurna bodynya .. gumamku, ‘ gak sia-sia aku aku jadi orang yang pertama mencicipi wanita ini”
Tiba tiba Buk Tuti berhenti beberapa tangga di atasku, hingga aku bisa mengintip dari bawah rok panjangnya. tampak betisnya yang putih. Saat itu doi’i memakai rok panjang namun ada belahan dibagian belakang. Cukup panjang juga belahannya. Hingga aku dapat melihat celana dalamnya berwarna putih itu dari bawah,
Tiba tiba Buk Tuti berhenti beberapa tangga di atasku, hingga aku bisa mengintip dari bawah rok panjangnya. tampak betisnya yang putih. Saat itu doi’i memakai rok panjang namun ada belahan dibagian belakang. Cukup panjang juga belahannya. Hingga aku dapat melihat celana dalamnya berwarna putih itu dari bawah,
“ Ck..ck ck.. “ gumamku dengan jantung berdebar, hal ini makin merangsangku. Buk Tuti tak sadar selangkangannya kuintip. Kurasa pagi itu Buk Tuti makin merangsangku .
Tiba-tiba entah mengapa do’i kembali berhenti dan melihatku ke bawah . Tanpa disadarinya dia telah melebarkan kakinya hingga 2 batang paha super mulus teronggok menantang.
Buk Tuti menatapku beberapa saat. Kontolku mengeras. Kutarik risletingku, lalu kukeluarkan kontolku, hampir mengintip dari celah celanaku. Saat itulah Buk Tuti membalik memalingkan muka, bergegas menuju ruangannya dengan sedikit mengomel kesal. Jalannya yang tergesa membuat kainnya terangkat, betisnya yg mulus tersingkap, hingga pahanya yang mulus tampak jelas bagiku yg berada di bawahnya.
Buk Tuti membawaku masuk ke ruangan yang biasa dipakai untuk sidang skripsi. Letaknya di lantai 3 kantor akademis. Ruangan ini jarang dipakai karena dipakai hanya pada saat ujian skripsi atau seminar.
Sesampai didalam ruangan, Aku memburunya masuk kedalam. kudapati Buk Tuti berdiri menatapku dengan sorot mata memendam birahi. Namun do'I berbalik memunggungiku, berjalan menuju jendela. Langsung kuburu dia dan Kupegang tangannya dan sekali sentak seluruh tubuhnya jatuh dalam rengkuhanku. Buk Tuti menggeliat.
"Brian.. Kenapa kamu pagi pagi sudah minta..." Ujarnya memelas takut.
"Brian.. Kenapa kamu pagi pagi sudah minta..." Ujarnya memelas takut.
" Udahlah... Sebentar aja.. Aku lagi kepengen nih.." Ujarku .
" Kamu tu gak sabaran ya... Kenapa, pagi pagi begini... please..jangan dimasukin yahhh" pintanya coba berontak, namun dengan kuat kupegangi tubuhnya agar tidak lepas.
Perempuan berjilbab ini memang wangi tubuhnya. Dalam dekapanku do’i meronta kuat hingga kusudutkan do’i ke tembok. Kubuka resleting celanaku berikut kukeluarkan kontolku dan kutekan kontolku tepat pada selangkangnya hingga membuatnya jengah akibat peting yang kulakukan.
Perempuan berjilbab ini memang wangi tubuhnya. Dalam dekapanku do’i meronta kuat hingga kusudutkan do’i ke tembok. Kubuka resleting celanaku berikut kukeluarkan kontolku dan kutekan kontolku tepat pada selangkangnya hingga membuatnya jengah akibat peting yang kulakukan.
" Briaan.. Kamuu.. Uhh... "
Kupaksa Buk Tuti menatapku tapi ia memalingkan muka dengan mata terpejam & bibir terkatup. Tak ada suara keluar dari mulut tipisnya. Hanya tarikan nafas tertahan menahan malu karena birahi dengan lelaki yang sudah mendidurinya. Tiap kutekan kontolku tepat pada selangkangnya, kupastikan kontolku terasa olehnya. Kupaksa Buk Tuti menatapku agar tahu birahiku padanya bukan hanya sex semata.
Buk Tuti menunduk, melihat itu perlahan kuangkat roknya keatas dan tanganku menjalar di pahanya. hingga berlabuh tepat di liang kewanitaannya. kuelus selangkangannya dengan lembut.
" Oohhh... " Rintihnya sambil memicingkan mata. rontaannya mulai melemah, ia terlihat mempersilahkan tanganku menjamah selangkangannya. kurasa semakin lama selangkangnya makin melebar. Ia membiarkan jari ku masuk melalui karet celana dalamnya, terdengar desahan lirih pertanda dia menikmatinya dari mulut Buk Tuti.. Dosen perawan tua yang telah kurenggut seminggu lalu keperawanannya.
" Ouuuuhh..Briaann..hhhhh..." Desahnya mesra.
Tubuhnya makin terangkat tinggi, kaki kirinya mengangkang hingga sepatu hak tingginya hampir lepas, menampakkan tumitnya yg montok dengan jari kaki bulat lentik dan kuku terawat. Membuat kontolku mengejang makin keras cepat pada selangkangnya. Seperti bersetubuh tapi masih berbaju. Saat mata Buk Tuti mulai merem melek merasakan permainan jariku mengobok selangkangnya, mendadak kutarik rok bawah nya ke atas sampai pinggulnya. Tubuhnya kuangkat agak tinggi, lalu kuturunkan celanaku hingga tampak kontolku. kemudian kulorotkan celana dalam Buk Tuti hingga lepas sampai selututnya.
Buk Tuti tiba-tiba menamparku saat kucoba memasukkan kontolku pada kelaminnya yang mulus. kuraba kelaminnya yang terasa ditutupi bulu jembut yang lebat itu.
“Jangan dimasukin Briaaaan!, Gila kamu !!” kata Buk Tuti dengan ketus.
" Hei, kamu harus mau melayaniku pagi ini sayang!, bentaaar ajaa ... “ kataku seenaknya tapi penuh gairah terhadap dosen hot ini.
“ Jangannn Ihhh,... “ bisiknya dengan nafas terengah engah.
Buk Tuti mengatupkan paha kuat-kuat. Kuremasi belakang pantat montoknya, hingga
merabai pahanya. Buk Tuti menarik nafas, selangkangnya terbuka langsung kuhunjam kontolku dalam vaginanya.
Buk Tuti mengatupkan paha kuat-kuat. Kuremasi belakang pantat montoknya, hingga
merabai pahanya. Buk Tuti menarik nafas, selangkangnya terbuka langsung kuhunjam kontolku dalam vaginanya.
"Ouuuuhhhh...." Desahnya tak berdaya membendung kontolku masuk ke dalam vaginanya, Buk Tuti terlihat telah pasrah kuentot pagi itu. Kudorong kontolku ke memeknya, agak susah dan terasa sesak sebab memek do’i masih seret dan sudah seminggu tidak dikasih jatah. Selama ini Buk Tuti memang belum pernah pacaran dengan siapa pun. Kembali kudorong kontol ke memek dosenku itu. Batang pahanya yg putih mulus memacuku. Vaginanya berdenyut menampung batang kontolku. Buk Tuti menatapku dengan takjub tiap kali kuhentak kuat kontolku dalam kelaminnya, meskipun dia sudah beberapa kali ngentot denganku.
Makin lama sodokanku makin cepat. Buk Tuti masih menahan malu meluapkan birahinya. Kupegang kain jilbabnya, kutarik kuat kepalanya ke belakang. Kubenamkan kontolku dalam-dalam di liang kemaluan Buk Tuti, lalu maniku muncrat deras.
" Iiiihhhh.....!!! " Buk Tuti merintih. Kusemburkan maniku beberapa kali, lalu pelan kucabut kontolku sambil menggerakkan kontolku keluar masuk dalam kemaluan dosenku ini, memberi Buk Tuti sensasi nikmat sexual.
Saat kutarik lepas kontolku, Buk Tuti jatuh terduduk lemas. Dia jongkok, berusaha mengeluarkan tumpahan maniku mengaliri vaginanya. Tuti menatapku tajam dg pandangan marah . Dilemparnya celana dalamnya yg ternyata telah robek.
Saat kutarik lepas kontolku, Buk Tuti jatuh terduduk lemas. Dia jongkok, berusaha mengeluarkan tumpahan maniku mengaliri vaginanya. Tuti menatapku tajam dg pandangan marah . Dilemparnya celana dalamnya yg ternyata telah robek.
‘ Gilaaaaaa kamuuuu !! “ jeritnya tertahan dengan tatapan penuh kebencian. Aku cuek memungut celana dalamnya yang dilempar ke aku lalu melipatnya dan kumasukan kesaku celana.
“ Ntar kubeliin lagi deh celana dalammu.. kalau perlu yang lingering !! yang mahal.. biar kamu makin sexy “ ujarku terkekeh
Buk Tuti tak menjawab, dia terlihat terisak sambil mengatur nafas. Aku tersenyum penuh kemenangan.
“Nanti kita pulang bareng ya sayang... kita ke Mal, beliin pakaian dalam dan baju kamu... atau sekarang,,,, bolos aja kita” bujukku lagi.
Buk Tuti masih tidak menjawab,
“peduli amat”, yang penting aku sudah merasakan orgasme pagi ini, bathinku.
Aku segera berkemas. Sebab, sudah terdengar suara ramai orang yang datang. Sebelum pergi tak lupa kukecup bibir tipis dosenku ini. Sambil membantunya berdiri dan merapikan kembali pakaiannya.
“Nanti malam kita ulangi lagi ya sayang.,”kataku. Buk Tuti tidak menjawab dia hanya terisak sebelum kutinggalkan.
“ Kutunggu telfonmu ya.. kalau nanti bolos kabari aja ..” ujarku mengedipkan mata pada do’i.
Aku melangkah meninggalkan ruangan itu, baru aku sampai dilantai bawah, tiba-tiba nada masuk sms hanphone ku berbunyi. Kubuka pesan tersebut ternyata dari Buk Tuti
“ kamu bawa mobil? Tunggu saya di mobil kamu “ bunyi pesan itu
Aku terseyum girang dan membalas sms itu
“ oke sayang. Kutunggu di parkiran mobil “
Kemudian aku bergegas menuju parkiran mobil. Suasana di kampusku saat itu masih sepi, masih sedikit mahasiswa dan dosen yang datang.
Saat berada didalam mobil, tak lama kemudian buk tuti datang menuju ke mobilku dengan tergesa gesa Akupun membuka kunci otomastis dan Buk Tuti masuk ke mobilku dan duduk dibangku depan,
“ Gila kamu ya Brian... kalau sampai ada yang tahu tadi bisa kena kita berdua..!!! , saya kenak pecat kamu di DO” ujarnya melotot.
“ santai sayang.. buktinya kita gak ketahuan kan” ujarku sekenanya.
Buk Tuti yang kesal itu segera mencubitku. Namun dengan cepat kutangkap tangannya dan mengarahkan tangannya ke selangkanganku.
“ Nih, cubit ...” ujarku menahan tangannya di selangkanganku sambil tersenyum geli
“ Ihh.. kamu ini .. Sempat sempatnya.. Dasar genit..!! lepasin ah... !! “ ujarnya mencoba menjauhkan tangannya yang berada di selangakanku sambil mengomel kesal.
Namun aku malah membuka resleting celana dan mengeluarkan kontolku dan memaksa tangan Buk Tuti itu menggengam kontolku
“ Heii,, Brian...! Jangan gila kamu ya...! nanti nampak sama orang nggak mau ahhh..” ujar Buk Tuti panik sambil berusaha melepaskan tangannya yang kupegang
“ tenang sayang.. pegang aja kataku. Gak bakalan nampak dari luar” ujarku. Karena memang mobil ku ini sengaja kupasangi kaca film yang hitam hingga orang tidak dapat melihat orang yang berada di dalam mobil.
Aku mengarahkan tangan Buk Tuti untuk mengocoknya pelan-pelan.
Buk Tuti terlihat menyerah dan mulai terbiasa mengocok kontolku
" Dasar..! Kamu ini... Stress...!! " Ujarnya kesal, namun tangannya terasa mengocok kontolku dengan ritme cepat.
“ Eehh.. pelan pelan aja say.. nanti aku muncrat lho..” godaku melihat Buk Tuti sudah patuh dan mulai menikmatinya.
“ jangan mucratin dulu... Awas ya kamu .. kalau mau muncrat tu bilang-bilang” ujarnya ketus sambil terus mengocok kontolku. Aku tertawa mendengarnya. Buk tuti bersungut melihat aku menertawainya.
“ punya kamu gede banget ya brian... kok bisa segede ini?” ujar Buk Tuti penasaran sambil terus mengocok kontolku dengan penetrasi lambat.
Aku hanya tertawa mendegarnya
‘ tapi kamu suka kan.. hayoo jangan bilang nggak..” godaku dibalas senyuman yang dipaksa Buk Tuti
“ Nah sekarang kita jalan ya.. pegangi aja itu terus.. biar saya nyaman nyetir nya” ujarku
“ Stress kamu.. hati-hati tuh kamu nyetir nya... ” ujar buk Buk Tuti
Tampaknya do’i sudah mulai menikmati setiap sensasi bercinta yang kuajarkan padanya.
Aku mulai memundurkan mobil dan meninggalkan parkiran kampus, sementara Buk Tuti terus menggenggam kontolku.
Matanya clingak clinguk dan was was memandang ke luar kaca. Do'I tidak melihat tapi tangannya terus mengocok, membuatku makin terbakar gairah.
“ sayang .. kita hotel dulu yuk.. ‘ ajak ku.
“ ke hotel mana..? nanti kelihatan sama orang lain, jangan ah.. kerumah kamu saja..” tolak nya.
“ ke hotel ajalah.. biar sambil istirahat.. sambil berduaan” ujarku sambil terus mengemudi
“ terserah kamu lah..” ujarnya datar.
“ tapi nanti dulu.. kamu janji mau beliin celana dalamku, aku risih gak pake celana dalam Brian....” ujarnya protes. Membuatku tertawa terpingkal.
“ kamu sih, kasar... sampai celana dalamku robek” sungutnya kesal.
“ha.. ha.. ha.. ya deh sayang. Aku beliin. Tapi Mal kan belum buka, tapi aku tahu kok toko tempat jual bikini yang bagus” ujarku terkekeh
“ terserah kamu, pokoknya saya mau celana dalam ..!!” ujarnya tegas.
Aku pun melajukan mobil mencari toko pakaian dalam. Sepanjang perjalanan kadang aku menciuminya. Saat terkena lampu merah, kami bercipokan menunggu datang giliran lampu hijau. Sebuah sensasi yang membuat Buk Tuti terlena dan menikmatinya. Begitu lampu hijau kami menyudahinya, kulihat Buk Tuti tersipu malu, tapi hal inilah yang makin membuatku penasaran dan gemas pada wanita yang baru kuperawani beberapa hari yang lalu ini.
Sikapnya yang pada awalnya menolak namun lama-lama mau ini membuatku gemas pada dosen yang resmi jadi pacar atau pelampiasan nafsuku itu.
Akhirnya aku memarkirkan mobil di toko pakaian dalam yang cukup terkenal, kami menyudahi aktivitas sex in drive. Aku kembali memasang celanaku dan Buk Tuti merapikan pakaiannya.
Di sana aku membelikan Buk Tuti 3 pasang pakaian dalam, yang sengaja kupilihkan, BH dan celana dalam. Satu berwarna putih, warna kesukaan dan permintaan do’i , dipilihnya yang berenda. Lalu kupilihkan warna hitam, karena menurutku warna itu sexy,bentuknya transparan dan berenda. Sungguh sexy. Terakhir kupilih warna motif macan tutul, yang model g string kecil. Buk Tuti tak keberatan. Kami bagai sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Aku sendiri heran kenapa Buk Tuti yang tadi pagi kuperkosa marah-marah, sekarang malah bermanja manja denganku. Setelah membayar aku dan Buk Tuti kembali masuk ke mobil.
“ Bagus kan pilihan ku.. dipake ya Bu.. jangan sampe nggk.. model terbaru tuh. ? ujar ku pada nya
“ iya .. iya ... “ sahutnya.
“ sayang.. kamu pernah gak nonton film blue? “ tanyaku saat perjalanan ke hotel
“ pernah lah... tapi gak sering cuma beberapa kali aja..” ujar Buk Tuti malu.
“kenapa emang nya..?” ujarnya.
“ walah.. kukira kamu selama ini benar-benar alim sayang” ujarku sambil merangkulnya. Kepala Buk Tuti disandarkannya ke bahuku sambil aku terus menyetir mobil.
“ sebenarnya aku penasaran setelah nonton itu “ cerita Buk Tuti, mengakuinya dan sambil tertawa kecil
“ kayak apa sih rasanya.. ternyata awalnya sakit juga ya Brian? ” ujarnya melanjutkan
“ setelah itu... ‘ pancingku sambil tanganku meremas satu susunya
“ aw.ww... gatal ..! ‘ujarnya kaget. Aku tertawa melihat ekspresi dosen montok itu.
Muka do’i merah dan tiba-tiba balas meremas selangkangku.
“ eitsss.. siapa yang gatal sekarang..? “ balasku.
Kami berdua sama-sama tertawa menikmati moment itu.
“ kamu pernah nonton film blue yang ceweknya ngisap punya cowoknya “ tanyaku lagi.
“ pernah.. tapi gimana ya rasanya” ujar Buk Tuti polos.
“ pernah.. tapi gimana ya rasanya” ujar Buk Tuti polos.
“ Kamu mau coba sama punyaku say..?” pancingku lagi
“ ih... jorok...” ujar Buk Tuti melengos
“ jorok..? tapi coba ibu perhatiin, cewek di film itu gimana? Menikmatinya kan? “ ujarku.
“ iya..” ujarnya polos. Tangannya masih tetap di selangkanganku dan mulai meremas-remasnya.
“ nanti kuajari ya sayang..” ujarku lagi
“ kita kemana brian?” tanya Buk Tuti mengalihkan pembicaraan
“ ni udah mau sampai ke hotel nya” ujarku mantap.
Mobilku memasuki sebuah hotel bintang lima. Setelah sampai diparkiran aku mengajaknya turun,
“ ayo turun.. “ ajaku
“ ngg.. saya takut Brian.. saya gak pernah begini beginian” ujar Buk Tuti terlihat risih saat kuajak keluar dari mobil.
“ nanti kalau teman-teman saya sesama dosen melihat kita berdua disini gimana ..? jangan disini deh ..” rajuknya.
“ gak bakal sayangku” bujuk ku mendekat ke wajahnya dan menciumi pipinya.
“ ini hotel besar. Atau gini aja, kalau Ibu risih, kita berpisah aja dulu. Saya check ini, Ibu jalan aja duluan dan pura-pura duduk di lobby. Kita masuk hotelnya gak usah barengan. Nanti kalau saya udah check ini kamar dan udah tahu di kamar nomor berapa baru ibu susul .. gimana? “ ujarku menjelaskan.
“ iya lah brian” ujar buk tuti mengangguk pasrah.
“ tapi jangan kabur ya..” ujar memperingatkan.
“ gak .. lagian mau kabur kemana saya.. kan saya kesini sama kamu.. “ sungut nya.
“ gitu dong cantik.. “ ujarku senang karena Buk Tuti ini menjadi patuh padaku. Kembali kudaratkan ciuman di pipi dan bibirnya.
Kami keluar dari mobilku. Sesuai yang kurencanakan tadi. Begitu aku sudah check in Buk Tuti mengikuti ku masuk ke lift ,sesampai di lantai 8 aku dan Buk Tuti keluar dari lift dan menuju kamar yang di booking tadi.
Kamar ini sengaja kupesan type VIP dengan single bed .
Sekarang aku dan Buk Tuti berduaan saja di dalam kamar. Setelah mengunci pintu, kami langsung berpelukan. Kurasa Buk Tuti memeluk ku erat.
“ tenang sayang.. “ bisik ku.
“aku takut Brian.. tapi aku percaya kamu..” sahutnya.
Setelah beberapa saat aku melepaskan pelukannya,
“ buka jilbabnya dong sayang..” perintahku.
“ kamu mau langsung main sayang..” ujarnya tersipu malu. Aku hanya tersenyum kecil, Namun Buk Tuti patuh membuka jilbabnya hingga sekarang do’i tidak mengenakan jilbab lagi. Rambut nya dicepol kebelakang
“ ibu sadar gak sih... ibu itu cantik banget “ pujiku mengagumi kecantikan dosen ku itu.
“ ah.. kamu.. bisa aja.. banyak sih yang bilang he he .. tapi aku cuma kamu yang punya Brian sayang” jawabnya tanpa kusangka sangka.
“ gitu dong, Ibu panggil aku sayang juga..” ujarku. Kembali Buk Tuti menghempaskan tubuhnya di pelukan ku. Aku mendekap nya erat, kami tenggelam dalam perasaan sayang dan nafsu.
“ mari kita tidur-tiduran sayang.. capek juga ya, tadi pagi” ajaku membawanya ke ranjang.
“ mari sayang..” ujar Buk Tuti manja.
“ ee.. tunggu.. “ tambahku, aku merasa ada yang kurang, setelah kufikir aku baru mengerti.
“ ibu pake dong pakaian dalam tadi. “ ujarku
“ nanti lah Brian.. kita istirahat dulu” ujar do’i malas-malasan
“ gini, maksudku kita tidur-tiduran, tapi ibu pakai pakaian dalam aja, pakaian kerja nya dilepas aja “ ujarku lagi
“ ih.. kamu genit.. maunya..” ujarnya gemas
“ mana .. “ ujar nya. Aku memberikan bungkusan berisi pakaian dalam yang kami beli tadi padanya.
“kamu mau aku pake yang mana sayang” ujarnya sambil membuka bungkusan itu dan memperlihatkan 3 bungkusan plastik pakaian dalam padaku.
“ yang hitam ya..” kataku sambil mengedipkan mata.
“ oke deh sayang.. tapi cium dulu..” ujarnya nakal, memberikan pipi nya untuk kucium. Kurasa dosenku ini sudah benar-benar tergila gila padaku.
Aku pun menciuminya. Setelah aku mencium nya secepat kilat Buk Tuti mengarahkan kepalaku berhadapan dengan nya. Dan langsung mengajak ku bercipokan. Kembali bibir dan mulut kami saling hisap, saling jilat dan saling mengejar satu sama lain
‘ shh,, ooh... mphhh.. mhhhh....” desah Buk Tuti, mulutya memburu kemana mulutku pergi. Sepertinya do’i makin kecanduan permainan seksual.
“ sayanggghh... udahh... nanti gak jadi ganti bajunya” ujarku mengingatkan.
“ ohh iya... kamu sih... “ ujarnya terengah mengatur nafas.
Buk tuti melepaskan kulumannya di mulutku dan menuju kamar mandi.
Melihat itu aku pun menghela nafas, ternyata Buk Tuti telah kecanduan bercinta denganku. Akupun tak memungkiri begitu liarnya dan penuh gairah bercinta dengan Buk Tuti yang selama ini membuatku penasaran dengan pakaian nya yang tertutup dan sikapnya yang galak.
Aku rasa setelah beberapa kali bercinta nya sikap galak do’i menular saat bergumul di atas ranjang. He he he.. bodynya yang padat, putih bersih, mulus dan montok berisi itu seolah menjerat nafsuku untuk terus bercinta dengannya. Membuatku nyaman dalam dekapan tubuh montoknya. Aku amat beruntung dapat bercinta dengan do’i.
Kurasa selama ini libidonya tidak tersalurkan hingga datang seorang pria, yakni aku, yang berhasil menjamahinya tubuhnya yang konon, tidak pernah disentuh pria lain itu. Selain itu caranya yang pertama menolak namun akhirnya malah membalas dengan liar menjadi suatu sensasi yang dahsyat memancing birahiku.
Aku membuka seluruh pakaianku hingga hanya mengenakan underwear saja. Lalu aku berbaring ke atas kasur hotel yang empuk itu. Menunggu si dosen molek itu menyerahkan tubuh montoknya agak bisa kuremas, kujilat, kucumbu dan kujamahi setiap jengkal tubuh indahnya itu.
Tak lama kemudian Buk Tuti muncul dari kamar mandi, rambutnya diikat kebelakang. Tubuh montok itu hanya mengenakan bra hitam dan celana dalam bewarna sama dan juga berenda dan agak transparan, menampakan selangkangannya. Dari balik celana dalam hitam transparan itu nampak selangkangannya yang indah itu,
Wajah do’i memerah menahan malu, melihat mataku yang melotot mengaggunmi keindahan bodynya.
“ kesini dong sayang.. duh... sexy banget ..... ” ujarku takjub.
Buk Tuti malu-malu mendekat dan kemudian naik keatas ranjang.
“ Brian.. kenapa kamu suka sama saya? Bukannya usia saya terpaut jauh diatas kamu?” tanya nya. Jarak usia ku dengan Buk Tuti sekitar 7 tahun, aku berusia 23 tahun, Buk Tuti berusia 30 tahun.
“ Brian.. kenapa kamu suka sama saya? Bukannya usia saya terpaut jauh diatas kamu?” tanya nya. Jarak usia ku dengan Buk Tuti sekitar 7 tahun, aku berusia 23 tahun, Buk Tuti berusia 30 tahun.
“ banyak wanita sebaya kamu yang jauh lebih menarik dari aku. Kenapa kamu memilih aku?” tambahnya memberondongku dengan pertanyaan,
Aku mengela nafas,
“ ke sini sayang.. tidur disebelahku dulu” peritahku agar dia berbaring disampingku.
Buk Tuti pun membaringkan dirinya disebelahku. Aku menatapnya hingga kami bertatapan dalam posisi menyamping
“ Kamu itu cantik... laki-laki mana yang menyangkal.. kalau ada pasti mereka gila” ujarku.
“ kamu tidak berniat merusak saya saja kan Brian” ujar Buk Tuti,, rona wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sebuah keraguan
“ sayang... walaupun kamu lebih tua dariku, aku tidak malu berpacaran denganmu” ujarku mencoba menenangkan do’i.
“ pacar..? sejak kapan kita pacaran?” Tukas Buk Tuti heran, tapi sambil tertawa sinis
Aku pun mencoba menghiburnya
“ Ibu sudah pernah pacaran? “pancingku
“ dulu.. udah lama waktu sekolah SMA, kata orang itu cuma cinta monyet. Saya orangnya serius Brian, dari dulu saya belajar, belajar dan belajar hingga saya dapat meraih prestasi. “
“ jadi bagi saya belajar dan pendidikan itu segalanya, mana sempat pacaran, ada sih, beberapa pria yang coba mendekatiku, tapi aku tidak tertarik dan menganggap mereka teman” ceritanya lagi.
“ jujur, aku penasaran bagaimana rasanya pacaran. Aku berharap keperawanan yang sudah kujaga selama bertahu tahun ini akan kuberikan pada suami ku di malam pertama kelak. tapi aku tidak menyangka. Harus berakhir seperti ini. “ ujarnya mulai sedih.
“ kamu pria pertama yang menyentuhku Brian, bahkan merenggut kesucianku” tambahnya.
Aku sadar dia mulai larut dalam fikiran sedihnya.
“ tapi pacaran kan gak mengenal tua muda sayang..” ujarku berusaha menenangkan. Aku merangkul tubuhnya.
‘ aku tahu perbuatan yang kita lakukan ini dosa dan terlarang Brian. Tapi kamu... kamu... menjeratku.. hingga aku tak kuasa..... “ terdengar do’i mulai terisak. Aku memeluk dan mencium keningnya. Aku biarkan dia mencurahkan perasaannya, karena mau tak mau dia sudah menjadi milik ku. Setidaknya untuk saat ini.
“ udahlah kamu istirahat saja dulu.. gak seru suasananya. Aku pingin kita berduaan roamtis romatisan disina, kamu nya malah curhat” ujarku ketus.
Buk Tuti hanya diam. Tatapannya hampa dan menerawang.
“kalau masih bicara kayak tadi, aku pergi saja lah..” ujarku pura-pura kesal dan beranjak dari ranjang.
Tapi secepat kilat Buk Tuti meraih tanganku dan menahanku
‘’ mau kemana kamu..? jangan tinggalkan aku Brian.. ” rajuk nya memelas padaku
“ kalau ngomongnya seperti itu tadi aku gak suka ya...” ancamku
“ iya iya.. aku gak bicarakan itu lagi ..” jawabnya
“ bilang dulu, iya Brian sayang..” ujarku
Do’i tersenyum nakal
“ iya Brian sayang..”
“gitu dong” ujarku senang mengusap pipi nya.
Buk Tuti kemudian mendekatiku, Kurasa saat itu do’i mendekatkan wajahnya ke wajahku. Segera aku mencium aroma wangi dari tubuhnya hingga membuat jantungku berdetak.
Bahkan kemudian ia melanjutkan dengan mendekatkan bibirnya ke bibirku, membuat detak jantungku menjadi kencang. Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin dalam pula aroma wangi tubuhnya terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, kemudian mengalir dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah.
Buk Tuti terus melumat bibirku. Lalu tangannya pelan-pelan mengusap pundak ku dengan lembut, aku balas memeluk tubuhnya yang terasa montok dan padat. Kemudian tangan ku menelusuri setiap lekuk tubuh Buk Tuti dengan membelai dan mengelus kulitnya yang halus. Semakin lama tanganku merambat kebawah dan sekarang menuju selangkangannya.
Buk Tuti terus melumat bibirku. Lalu tangannya pelan-pelan mengusap pundak ku dengan lembut, aku balas memeluk tubuhnya yang terasa montok dan padat. Kemudian tangan ku menelusuri setiap lekuk tubuh Buk Tuti dengan membelai dan mengelus kulitnya yang halus. Semakin lama tanganku merambat kebawah dan sekarang menuju selangkangannya.
Aku menengok ke bawah, jantungku berdetak kencang. Tubuhnya begitu mulus dan putih. Saat tanganku menyentuh selangkangannya. Buk Tuti melenguh pelan, saat kuelus selangkangannya itu dengan ujung jariku.
“ Mpphhhh... Briaaannnhhh.....” desahnya manja disela mulut kami saling berpagutan. Terasa mulutnya menggingiti bibirku. Di balik celana dalam berwarna hitam berenda yang indah itu kurasa tersembul bongkahan bukit yang menggairahkan. Di tepi renda celana itu, tampak rambut yang menyembul indah melengkapi keindahan yang sudah ada.
Kulihat Buk Tuti tersenyum, saat kuelus selangkangannya. Do’i menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku. Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu. Sensasi yang menjelajahi aliran darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus bukit rimbunnya. Do’i tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit rimbun itu. Do’i kemudian melanjutkan tindakannya melumat bibirku dengan lembut. Bibirnya yang lembut serta napasnya yang wangi kembali membuatku dialiri sensasi yang memabukkan. Do’i rupanya sudah pandai mengatur ritme permainan dan tidak terburu-buru untuk segera menuju ke puncak kenikmatan.
Kulihat Buk Tuti tersenyum, saat kuelus selangkangannya. Do’i menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku. Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu. Sensasi yang menjelajahi aliran darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus bukit rimbunnya. Do’i tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit rimbun itu. Do’i kemudian melanjutkan tindakannya melumat bibirku dengan lembut. Bibirnya yang lembut serta napasnya yang wangi kembali membuatku dialiri sensasi yang memabukkan. Do’i rupanya sudah pandai mengatur ritme permainan dan tidak terburu-buru untuk segera menuju ke puncak kenikmatan.
Kemudian Buk Tuti mendorong tubuhku hingga berposisi berbaring di ranjang. Do’i lalu memposisikan diri berada diatasku.
“ Brian... aku mau mencoba memuaskanmu ..” ujarnya manja.
Dadaku berdegup kencang mendengarnya, seluruh syaraf rangsangku terpacu melihat Buk Tuti yang cantik itu berubah menjadi begitu binal seakarang.
Dadaku berdegup kencang mendengarnya, seluruh syaraf rangsangku terpacu melihat Buk Tuti yang cantik itu berubah menjadi begitu binal seakarang.
“ ya sayang..” ujarku datar, dan menunggu apa yang akan dilakukannya padaku.
Buk Tuti yang berada diatas ku itu mulai menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia menggigit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas. Aku hanya memejamkan mata menikmati cumbuan do’i padaku.
Kemudian do’i turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.
Kemudian do’i turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.
“ Ohhh.. Buuukk..” desahku merintih menahan nikmatnya jilatan lidahnya di tubuhku. Aku tak menyangka do’i pandai menyervisku seperti ini.
Semakin ke bawah do’i diam sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana dalamku. Sesaat ia mempermainkannya dari luar sambil menatapku dengan tatapan mupeng dan penuh birahi. kemudian kulihat do’i menarik celana dalamku. Buk Tuti tersenyum ketika menyaksikan penisku yang tegak dan ngaceng, seperti mercu suar yang siap memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya.
Tanpa kuduga tiba-tiba do’i kemudian mengulum penisku. Maka aliran hangat yang bermula dari permukaan syaraf penisku pelan-pelan menyusuri aliran darah menuju ke otakku.
Tanpa kuduga tiba-tiba do’i kemudian mengulum penisku. Maka aliran hangat yang bermula dari permukaan syaraf penisku pelan-pelan menyusuri aliran darah menuju ke otakku.
“ Ahhhh...” desahku. Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak terukur. Buk Tuti terus mempermainkan lonjoran daging kenyal penisku itu dengan kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang. Caranya mempermainkan barang kejantananku itu seperti orang yang sudah berpengalaman. do’i i dengan sangat lembut seolah tak ingin melewatkan seluruh bagian syaraf yang ada di situ. Cukup lama Buk Tuti melakukan itu.
Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik penisku dari dekapan mulut lembutnya. Giliran aku yang ingin membuat dia terbang ke awang awang. Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya. Semakin terperangahlah aku dengan keindahan yang ada di depan mataku. Di depanku bediri dengan tegak bukit kembar yang indah sekaligus menggairahkan. Di sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus. Menambah keindahan buah dada nya. Tapi aku tidak memulainya dari situ.
Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik penisku dari dekapan mulut lembutnya. Giliran aku yang ingin membuat dia terbang ke awang awang. Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya. Semakin terperangahlah aku dengan keindahan yang ada di depan mataku. Di depanku bediri dengan tegak bukit kembar yang indah sekaligus menggairahkan. Di sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus. Menambah keindahan buah dada nya. Tapi aku tidak memulainya dari situ.
Aku hanya mengelus putingnya sebentar. Itupun aku sudah menangkap desah halus yang keluar dari bibir indahnya.
“ SShhhh.... Oowwwwhh.... Briannhh... Sayannggh.. Terusssa sayanggh.. enakkk..” desahnya
Aku mulai menggeser posisiku dengan bersandar ke kepala kasur dan diikuti oleh Buk Tuti. Dengan posisi berada dibawah tubuhnya, Kumulai mengecup lehernya. Kulit lehernya yang halus licin seperti porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat. Buk Tuti mendesah terpatah-patah. Tanganku tak kubiarkan menganggur. Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang-kadang kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu. Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri lehernya, aku turun ke dadanya. Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu. Ia menjerit pelan. Tapi tak kubiarkan jeritannya berhenti.
“ SShhhh.... Oowwwwhh.... Briannhh... Sayannggh.. Terusssa sayanggh.. enakkk..” desahnya
Aku mulai menggeser posisiku dengan bersandar ke kepala kasur dan diikuti oleh Buk Tuti. Dengan posisi berada dibawah tubuhnya, Kumulai mengecup lehernya. Kulit lehernya yang halus licin seperti porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat. Buk Tuti mendesah terpatah-patah. Tanganku tak kubiarkan menganggur. Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang-kadang kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu. Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri lehernya, aku turun ke dadanya. Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu. Ia menjerit pelan. Tapi tak kubiarkan jeritannya berhenti.
“ Oohhhhh..... “ desahnya tertahan.
Kusedot puting itu dengan lembut. Ya, dengan lembut karena aku yakin gaya seperti itulah yang diinginkan do’i. Mulutku seperti lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya. Tapi tak kubiarkan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku tak tergarap. Maka tangankulah yang melakukannya. Kulakukan itu berganti-ganti dari buah dada satu ke buah dadanya yang lain.
Setelah puas aku turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya. Aku menurunkan posisi tubuh ku semakin turun kebawah. Lidahku mejelajahi perutnya hingga wajahku tepat berada si selangkangannya hingga kucium aroma yang khas dari barang pribadi seorang perempuan. Aroma dari vaginanya.
Kusedot puting itu dengan lembut. Ya, dengan lembut karena aku yakin gaya seperti itulah yang diinginkan do’i. Mulutku seperti lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya. Tapi tak kubiarkan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku tak tergarap. Maka tangankulah yang melakukannya. Kulakukan itu berganti-ganti dari buah dada satu ke buah dadanya yang lain.
Setelah puas aku turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya. Aku menurunkan posisi tubuh ku semakin turun kebawah. Lidahku mejelajahi perutnya hingga wajahku tepat berada si selangkangannya hingga kucium aroma yang khas dari barang pribadi seorang perempuan. Aroma dari vaginanya.
Semakin besarlah gairah yang mengalir ke otakku. Tapi aku tidak ingin langsung menuju ke sasaran. Cara Buk tuti membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, sabar dan pelan-pelan juga membawanya naik ke awang-awang. Maka dari luar celana dalamnya, kunikmati lekuk bukit dan danau yang ada di situ dengan lidah, bibir dan kadang-kadang jari-jemariku. Kusedot dengan nikmat bau khas yang keluar dari sumur yang ada di situ.
“Ooocccchh....Briaannn..Hhhh... Oooohhh... Sayanggghh.. hhh.. “ jerit nya megap megap.
Setelah cukup puas, baru kutarik celana dalamnya pelan-pelan. Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat. Bukit yang indah itu ditumbuhi rambut yang lebat.. Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan tapi merunduk indah mengikuti kontur bukit rimbun itu. Walaupun aku pernah beberapa kali mecicipinya, walau belum pernah menjilatinya, tapi aku tidak mengira seindah itu.
Suasana hotel yang tenang ini menambah fantasi liarku. Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya.
“Ooocccchh....Briaannn..Hhhh... Oooohhh... Sayanggghh.. hhh.. “ jerit nya megap megap.
Setelah cukup puas, baru kutarik celana dalamnya pelan-pelan. Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat. Bukit yang indah itu ditumbuhi rambut yang lebat.. Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan tapi merunduk indah mengikuti kontur bukit rimbun itu. Walaupun aku pernah beberapa kali mecicipinya, walau belum pernah menjilatinya, tapi aku tidak mengira seindah itu.
Suasana hotel yang tenang ini menambah fantasi liarku. Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya.
Maka Buk Tuti menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang vaginanya. Bau khas vagina yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya. Wajahku seakan dijepit oleh pangkal pahanya. Terkadang kuremas bongkahan pantat bulatnya hingga terdengar do’i mengerang dan merintih manja.
“ AHHHH.. BRIANNNNNHH.. OOHH.. ENAKKK..... OOHH..” Jerit Buk Tuti.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan Buk Tuti yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian lama.
Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan vagina nya dari sergapan mulutku. Ia menarik tubuhnya dari atas tubuhku.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan Buk Tuti yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian lama.
Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan vagina nya dari sergapan mulutku. Ia menarik tubuhnya dari atas tubuhku.
“ Briann.. aku gak tahan sayangghhh... masukinn... yahh.. “ rengeknya manja. Buk Tuti sekarang berbaring disebelahku dan menarik tubuhku berada diatas tubuhnya.
“ kenapa sayang.. gak tahan yahh..” godaku.
“ kamu jahat.. kamu harus tanggung jawab Brian..” ujar Buk Tuti menatapku dengan pandangan yang penuh nafsu membara
‘ tanggung jawab apa ..? “ godaku kembali.
Do’i tak menjawab, ronanya wajahnya memerah . kurasa do’i memegang penisku yang sudah tidak sabar mencari pasangannya itu.
Buk Tuti membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke dalam vaginanya. Aku pun pelan-pelan menyodokan batang penisku kedalam lobang cintanya,
“ Ugghhh.. tahan sayannngg, masih nyerii...” bisiknya tertahan. Aku mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar guna memudahkan batang pelerku kedalam bukit indah itu.
Terasa kepala kombet ku sudah mulai tertelan black hole nya. Aku terus menekan pinggulku kedalam,
“ masukkin sayannggg ahhhhh...” desah buk tuti mencengkram lenganku. Do’i memajukan pinggulnya seolah mau melumat batang pelerku. Dan..
“ Blesss...”
" Aaaaaaaaggghhh...."
Diiringi teriakan Buk Tuti, akhirnya penisku bablas ke dalam vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan kehangatan mengalir mulai ujung penisku dan mengalir ke setiap aliran darah. Ia memegangi pundakku dan menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan serupa spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga.
" Uuuhh...Ugghh.. Hhh..Ooohh.. Ahhhh.." Desah Buk Tuti saat vagina nya kugenjot dari atas.
Suara gesekan pemukaan penisku dengan selaput lendir vaginanya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang lebat dengan rambut kemaluanku yang rapi.
Suara gesekan pemukaan penisku dengan selaput lendir vaginanya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang lebat dengan rambut kemaluanku yang rapi.
" Ssshhhh...Hhhhh... Owwwwhh.. Mmmpphh.."
Suara-suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan penis dan selaput lendir vaginanya serta suara gesekan rambut kemaluan begitu nikmat sekali.
Matanya yang terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak sorot mata yang aku hapal seperti sorot mata yang tidak biasa kulihat saat bercinta dengan do’i. Sorot matanya seperti itu. Sorot mata nikmat yang membungkus perasaannya. Mungkin karena aku dan do’i melakukan ini dengan sama sama menikmati. Tidak seperti yang sebelumnya. Do’i ketakutan karena kuperkosa.
Matanya yang terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak sorot mata yang aku hapal seperti sorot mata yang tidak biasa kulihat saat bercinta dengan do’i. Sorot matanya seperti itu. Sorot mata nikmat yang membungkus perasaannya. Mungkin karena aku dan do’i melakukan ini dengan sama sama menikmati. Tidak seperti yang sebelumnya. Do’i ketakutan karena kuperkosa.
Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil meracau..
"Briaaannhh Oooocchh Briannn Ahhh...... Aku.. Aku akuu mau keluarr,Briannhhh.... !!!"
teriak nya suara nya terdengar berubah menjadi parau.
Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas, tapi matanya masih terpejam. Kemudian Buk Tuti melanjutkan gerakannya. Barangkali ia ingin mengulanginya dan aku tidak keberatan karena aku sama sekali belum merasakan akan sampai ke puncak kenikmatan itu. Sebisa mungkin aku juga menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal. Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi oleh penisku. Aku terus menghujamkan kejantananku keluar masuk lobang vagina nya yang sudah terasa makin licin, melancarkan penisku untuk menyeruak ke bagian lebih dalam.
Lobang vagina do’i memang masih terasa rapat dan singset. Otot vaginanya seakan mencengkeram dengan kuat otot penisku. Maka gerakan pinggulnya untuk menaik turunkan vaginanya menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Membuat penisku ditelan dan dipelintir di dalam kemaluannya itu. Dan sejauh ini aku belum merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak.
Bu Tuti memang luar biasa, aku heran do’i seperti tahu menjaga tempo permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia seperti tahu menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar. Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia meracau..
"Ah.. Ah.. Akuu kelluuarr lagiihh.. .. Ugggghhhh....!" Di susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.
Aku yang belum mencapai orgy terus melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Aku mulai menggenjotnya dengan cepat dan bertenaga. Tapi sesaat kemudian ia berbisik dengan mata yang masih terpejam..
"Pelan-pelan saja, Brian. Aku masih ingin orgasme". ujarnya
Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini gerakanku pelan dan lembut seperti permintaan Buk Tuti. Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar. Do’i menarik punggungku agar aku lebih dekat ke badannya. Aku maklum. Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain. Dan memang benar, begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat. Kurasa demikian juga dengannya, karena jeritannya berubah semakin santer. Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang menganga, seperti bibir vaginanya sebelum aku menusukkan penisku di situ.
"Briaaannhh Oooocchh Briannn Ahhh...... Aku.. Aku akuu mau keluarr,Briannhhh.... !!!"
teriak nya suara nya terdengar berubah menjadi parau.
Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas, tapi matanya masih terpejam. Kemudian Buk Tuti melanjutkan gerakannya. Barangkali ia ingin mengulanginya dan aku tidak keberatan karena aku sama sekali belum merasakan akan sampai ke puncak kenikmatan itu. Sebisa mungkin aku juga menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal. Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi oleh penisku. Aku terus menghujamkan kejantananku keluar masuk lobang vagina nya yang sudah terasa makin licin, melancarkan penisku untuk menyeruak ke bagian lebih dalam.
Lobang vagina do’i memang masih terasa rapat dan singset. Otot vaginanya seakan mencengkeram dengan kuat otot penisku. Maka gerakan pinggulnya untuk menaik turunkan vaginanya menimbulkan kenikmatan yang luar biasa. Membuat penisku ditelan dan dipelintir di dalam kemaluannya itu. Dan sejauh ini aku belum merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak.
Bu Tuti memang luar biasa, aku heran do’i seperti tahu menjaga tempo permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia seperti tahu menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar. Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia meracau..
"Ah.. Ah.. Akuu kelluuarr lagiihh.. .. Ugggghhhh....!" Di susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.
Aku yang belum mencapai orgy terus melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Aku mulai menggenjotnya dengan cepat dan bertenaga. Tapi sesaat kemudian ia berbisik dengan mata yang masih terpejam..
"Pelan-pelan saja, Brian. Aku masih ingin orgasme". ujarnya
Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini gerakanku pelan dan lembut seperti permintaan Buk Tuti. Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar. Do’i menarik punggungku agar aku lebih dekat ke badannya. Aku maklum. Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain. Dan memang benar, begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat. Kurasa demikian juga dengannya, karena jeritannya berubah semakin santer. Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang menganga, seperti bibir vaginanya sebelum aku menusukkan penisku di situ.
" Mmmhh.. Hhh.. Oowwwhh.."
Meskipun jeritannya agak bekurang karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, tapi aku semakin sering mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan. Hingga beberapa saat kemudian aku mendengar ia meracau seperti sebelumnya..
"Aku.. Aaaah.. Aku.. Uhhh.... Aku keluarr laggiii.. Ahhhh...!!!!!" jeritnya
Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak sorot matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..
"Aku.. Aku.. kamu kok belum keluar sayanghh.. ayo sayang .. semprot aku... genjot akuuuhh... terus sa.. ..yaangg hhhh.... " ujarnya dengan nafas terengah-engah. Do’i mencoba mengimbangi sodokanku yang semakin lama semakin cepat keluar masuk lobang kawinnya.
.Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak. Penisku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan melambungkanku ke awang-awang. Maka aku membenamkan penisku kedalam lubang vaginanya yang nikmat itu.
"Aku.. Aaaah.. Aku.. Uhhh.... Aku keluarr laggiii.. Ahhhh...!!!!!" jeritnya
Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak sorot matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..
"Aku.. Aku.. kamu kok belum keluar sayanghh.. ayo sayang .. semprot aku... genjot akuuuhh... terus sa.. ..yaangg hhhh.... " ujarnya dengan nafas terengah-engah. Do’i mencoba mengimbangi sodokanku yang semakin lama semakin cepat keluar masuk lobang kawinnya.
.Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak. Penisku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan melambungkanku ke awang-awang. Maka aku membenamkan penisku kedalam lubang vaginanya yang nikmat itu.
".. Uhhh.. Uhh.Uhhhhhh.... !!!! ". jeritnya.
Maka ketika lahar panas dari penisku benar-benar meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur vagina milik Buk Tuti, dengan diiringi teriakan nikmatku.
“ Oouuhhhh...!!!! “ jeritku panjang saat merasakan seluruh persendian ku seperti mengeluarkan semua tenagaku.
Buk Tuti begidik dan berteriak panjang pula saat kutumpahkan sperma ku dalam lobang kawinnya.
“ adduhh... enakkk sayannngghhh... Ouuhh..” rintihnya tertahan merasakan gelombang kenikmatan di seluruh tubuhnya.
Setelah itu kami mengatur nafas. Sekujur tubuhku terasa berkeringat. Buk Tuti memintaku untuk tetap berada di atas tubuhnya barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya meremas-remas rambut ku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan mengusap-usap buah dadanya yang saat itu basah karena keringat. Dan memang sensasi yang kurasakan luar biasa.
Aku sudah sangat dekat dengan Buk Tuti. Aku merasa dosenku ini seperti kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama. Aku merasa sangat dekat. Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik penisku yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang vaginanya. Tampak air muka Buk Tuti sedikit kacau. Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahinya. Aku berbaring disampingnya
Aku sudah sangat dekat dengan Buk Tuti. Aku merasa dosenku ini seperti kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama. Aku merasa sangat dekat. Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik penisku yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang vaginanya. Tampak air muka Buk Tuti sedikit kacau. Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahinya. Aku berbaring disampingnya
Sambil bergurau, aku menggodanya..
"Ibu.. Justru kelihatan cantik setelah bercinta"godaku.. Do’i hanya tertawa mendengar gurauanku.
“ iya sayang enak banget bercinta denganmu.. aku kecanduan sayang... Aku sedikit capai tapi merasa segar...", jawabnya dengan berbinar.
"Ibu.. Justru kelihatan cantik setelah bercinta"godaku.. Do’i hanya tertawa mendengar gurauanku.
“ iya sayang enak banget bercinta denganmu.. aku kecanduan sayang... Aku sedikit capai tapi merasa segar...", jawabnya dengan berbinar.
“ I love you Brian “ tambahnya mengecup pipiku.
Dosen killer itu sekarang resmi menjadi kekasihku. Sikapnya yang ini galak, akibat fikirannya yang terus menerus serius, terobati dengan kehadiranku. Yang akan selalu memberinya kenikmatan dan sensasi – sensasi kenikmatan seksual yang belum pernah dia rasakan selama 30 tahun dia hidup.
Begitulah, kini hampir setiap akhir pekan aku selalu bercinta dengan dosen ku Bu Tuti Khairani ini. Wanita perawan tua yang semula hanyalah seorang wanita yang terobsesi dengan karir dan menuntut ilmu hingga berubah menjadi wanita haus akan pelajaran-pelajaran seksual dariku. Pemerkosaan yang kulakukan ternyata membuka jalan ku mendapatkan apa yang ku mau dari Buk Tuti yang montok ini. Buk Tuti tampaknya sudah menyerahkan tubuh dan cinta nya padaku. Aku hanya berfikir bagaimana aku lepas dari do’i. Karena do’i kadang cemburu melihat aku dekat dengan wanita lain. Apalagi itu mahasiswinya. Pasti do’i mempersulit nilai perempuan-perempuan itu.
.
Buk Tuti tetap menjadi dosen yang dihormati oleh semua orang di kampus. Aku sedikitpun tidak ingin merusak citranya. Dan ia pun sekarang seorang yang professional, meskipun di luar kami sering bercinta, do’i pintar menutupi hubunganku dengannya. sebagai mahasiswanya dan ia membimbing bahkan mengejarkan tugasku dengan serius. Sesuatu yang sangat aku sukai. Bercinta dengannya bukan sekedar mendapat kepuasan libido, aku merasakan sesuatu yang lain. Entah apa itu.
To Be Continiue







Tidak ada komentar:
Posting Komentar